Presdir Bucin

Presdir Bucin
Curhat Dong Hans


__ADS_3

Sayangi mata kalian😄🧡


👨‍👩‍👧‍👦 : Ah elu thor, gegara lu up malem² nih jadi kebangun kita😑


Me: 😭 Hohoho mon maap.


Wokehlah lanjuttt.


Priippp, Protokol membaca.


Hati hati typo,


Nyalakan imajinasi kalian..


and


Happy Reading All 🧡🧡


_________________


Hanska menahan kepalanya dengan sebelah tangan, posisinya menghadap ke Deena, begitupun Deena menghadap suaminya.


Setelah Hanska menjadi penawar bagi Deena, akibat dosis af**diasiak yang Deena yakini berasal dari Laras hilang.


Pria itu segar kembali, walau pagi tadi pikirannya terkuras mengingat status Deena yang tak biasa.


Bagaimana pun Hanska akan mengorek tandas informasi mengenai istrinya, mulai dari masa lalu hingga keluarganya Deena.


Banyak pertanyaan muncul, seperti kenapa mertuanya menghilang dari kerajaan, bagaimana sekarang kondisinya dan kenapa tidak mencari Deena lagi dibanding membiarkan Deena tinggal di rumah Bakara.


Walaupun ber-resiko, namun Hanska akan dapatkan apapun yang ingin Dia tahu.


Harus turun tangan sendiri, Hanska akan mendatangi negara Mingzhun.


"Jelaskan." Titah Hanska mengambil sejumput rambut Deena dan menciumnya.


Buat Deena grogi aja nih pak su, mana tatapannya, behh.. buat meleleh.


Deena berdehem, menetralkan degub jantungnya yang meningkat dua kali lipat hanya karena tindakan kecil Hanska.


"Jadi tadi itu.."


Mengalir lah cerita mulai dari Deena keluar kelas sendiri, sebab Aleta langsung di susul oleh Dirga kekasihnya.


Lalu saat mau ke perpus meminjam buku, datanglah dua pria gila yang langsung mengejarnya tanpa alasan.


Membuat Deena panik saja mereka, tanpa sadar, Deena berlari ke area gudang lama.


Hingga bertemu Laras yang memberinya sebotol air mineral. Deena juga bercerita tentang rencana Laras yang gagal saat ingin mendorongnya, alhasil Deena mengelak dan sembunyi saat datang kumpulan mahasiswa.


Tak ada satupun yang Deena tutupi dari ceritanya barusan, semua, termasuk ada dua pria di dalam gudang dan saat pintu di buka, Laras sudah tak memakai apapun.


Tentu saja Hanska yang mendengar cerita istrinya menggeram marah, demi alek dia akan mematahkan kaki dan tangan pria mana pun yang melecehkan istrinya.


Membayangkan andai saja Deena yang berada di posisi Laras saja, sudah membuat Hanska ingin melebur kan keluarga Bakara saat itu juga.


Apalagi jika benar-benar terjadi? Bisa di pastikan keluarga Bakara beserta keturunannya lenyap dengan tragis oleh pria otoriter itu.


"Tak ada lagi kuliah, mulai besok kau bekerja denganku disini, tak boleh keluar tanpa seizinku." Titah Hanska mendekap istrinya bagai guling kesayangan, membuat Deena susah napas.


Deena langsung menggeleng. "Jangan dong, Dee kan juga punya impian Hans. Janji deh lain kali hati-hati." Bujuk Deena manja mengenduskan hidungnya ke dada Hanska.


"Tidak." Tolak Hanska.


"Ya ya.. pleaseee sayang bolehin, ga macem macem kok kan udah ada suami, nih cincinnya Deena pake terus." Bujuk Deena genit menggoda suaminya dengan menggambar pola-pola abstrak di dada Hanska, sambil menunjukkan jari manisnya yang tersemat cincin nikah mereka.


"Hanska.. bolehin ya, pleaseee." Bujukkan maut Deena memang tak ada yang bisa menolak, apalagi di tambah tatapannya yang bagai anak kecil itu.


Beuhh.. damagenya.


Deena menciumi dada suaminya. "Bolehin.. Dee mau balas perbuatan orang-orang yang jahat sama Deena." Masih tetap membujuk.


Halal dong yah, kan dah sah wkwkw 😭🤣


Hanska menggeram tertahan dengan godaan istrinya.


"Hmmm.." Jawab Hanska hanya mampu berdehem, dari posisi Deena tampak jakun pria itu naik turun.


Deena bahkan sampai terkikik geli, rayuannya menggoyahkan pertahanan Hanskaa.


"Yeyy.. makasih sayang!" Ucap Deena girang mencium sekilas rahang Hanska.

__ADS_1


Sial! kalau lupa setengah jam lagi ada meeting, tak ku ampuni kau Baby!


Batin Hanska kesal.


Apa diundur saja meeting senilai trilyunan itu? Ah tidak boleh, Hanska harus menjadi pemimpin yang kompeten.


Baiklah kali ini dia mengalah.


Dielusnya surai Deena lembut.


"Kenapa kau selalu melarang ku untuk menghancurkan keluarga Bakara?" Tanya Hanska saat Deena mengelus rahang kokoh suaminya.


"Apa karena kau merasa sebagai anaknya?" Tanya Hanska lagi.


Deena menatap dalam mata Hanska yang bagaikan permata benitoite itu. Hitam legam, namun tampak berkilau.


Dalam hati Deena bersyukur, dirinya bertemu dengan Hanska. Tidak di pungkiri Dia bangga mendapat suami mapan dan tampan, apalagi pancaran kharismanya pria itu, banyak plusnya.


Walau minus-nya adalah bersaing dengan wanita satu negara, wanita dewasa, gadis berbakat dan lain sebagainya. Deena gak insecure kok.


Iya, di mulut aja. Dalam hati mah juga udah insecure akut sampe kejang-kejang.


"Keluarga Dee loh gitu gitu, masih ada papa." Jawab Deena cemberut mencubit kecil dada polos suaminya.


Tubuh mereka hanya tertutup oleh bed cover hingga ke dada diapit oleh ketek.


Heh, andai saja kau tau mereka bukan lah keluargamu.


Batin Hanska memainkan rambut Deena.


"Kalau dia mati? bukannya keluarga Bakara itu sering menyiksamu?" Tanya Hanska menggulung rambut Deena.


Mengingat kembali kejamnya Bakara mencambuk sang istri.


"Tau? menyelidiki Deena ya?" Tanyanya memicingkan mata menatap sang suami.


Hanska menyentil ujung hidung Deena. "Wajar baby, ingat aku ini suamimu."


Jawab Hanska menutupi fakta bahwa Deena bukan anak Bakara, sebab belum saatnya.


Deena menggigit bibir bawahnya.


"Hmm Hans.." Gumam Deena menggantung.


"Kalau.. misalnya Dee dari masa depan, kamu percaya ga?" Tanya Deena hati-hati, sebelah pipinya Dia gembungkan diikuti telunjuk yang menusuk-nusuk.


Hanska menatap dalam mata Deena dengan sebelah alis terangkat.


"Oh ya? kalau gitu kau berasal dari tahun berapa? 3000? 3050? atau 4050?" Tanya Hanska yang biasa-biasa saja.


Bibir Deena cemberut. "Ga sejauh itu, cuma beberapa tahun aja."


Hanska tersenyum manut-manut. Diusapnya puncak hidung Deena.


"Kenapa bisa nyasar di tahun ini hmm?" Tanya Hanska gemas menjawab ucapan yang menurutnya kekanakan


"Biar nikah sama om om kan?" Jawab Deena bercanda.


Cetakk.


Hanska menyentil jidat Deena.


"Ceritakan, dulu kau diapain aja sama mereka." Pancing Hanska.


Deena mengetuk-ngetukkan dagunya berpikir.


"Curhat dong Hans." Ucap Deena.


"Dengan senang hati baby." Jawab Hanska tulus.


"Mulai dari mana ya.." Monolog Deena tampak berpikir.




"La..Laras pulang.." Ucap Laras saat memasuki rumah.



Sudah tampak berkumpul keluarganya di ruang tamu.

__ADS_1



Bakara yang melihat kemunculan putrinya langsung bangkit berdiri.



*Plaaakk*.



Terdengar suara tamparan nyaring dalam ruangan senyap walau sudah di isi oleh beberapa orang.



"Dasar sialan! anak gak tau diri! kerjaannya mempermalukan keluarga!" Teriak Bakara tepat dihadapan Laras.



Laras yang masih syok melihat kemurkaan papanya pun tertunduk takut.



"Pa..papa."



"Sayaang..!" Teriak Ratih tak suka anaknya di sakiti.



"Urus anakmu itu! membuat malu, mau taruh mana muka ku?!" Bentak Bakara tampak benar-benar murka.



"Bukan pa.. Laras di firnah hikss.." Tampak putrinya itu meneteskan air mata.



"Kamu tenang dulu sayang! gak mungkin Laras gitu, dia pasti di jebak." Bela Ratih mengusap surai anaknya lembut.



"Cih.." Bakara berdecih membuang muka kesamping, kesal melihat ibu dan anak itu.



"I..iya pa! La..Laras di jebak.." Elak anaknya tampak kasihan, sambil memegang pipinya yang tertampar oleh sang papa.



"Percaya sama Laras pa.. ga mungkin Laras kaya gini." Tambahnya memilu kan suara.



Kalau sudah begitu, Bakara jadi tak tega.



"Siapa yang berani memfitnah mu anakku?" Tanya Bakara merasa bersalah.



Tanpa siapapun tahu kecuali dirinya, Laras menyunggingkan senyum tipis, setipis benang.



"K..kak Deena pa." Jawab Laras menunduk takut, dalam hati sudah bisa memastikan kali ini Deena bakal, end.



**To Be Continue** \>\>\>



**Hayoo apa rencana kalian untuk melenyapkan keluarga Bakara**?



**Follow cerita ini, like and comment di bawah👇🏻👇🏻**


__ADS_1


**NEXT**!!!


__ADS_2