
Hello semua, bakalan rilis HELLO TUAN ARSEN!
Kyaaaa!!
Ettss tapi", tunggu Hanska dulu yee biar fokus dan ga ketuker" dah jalan cerita, nama tokoh dll nya.
Duh jadi ga sabaarrr💐
Mo info, part ini mengandung bahasa kasar yang ter tiiiitttt.
Oke ncuuuss lanjuuuttt. Sebelum itu seperti biasa, protokol membaca.
Nyalakan imajinasi kalian, hati-hati typo.. and Happy Reading semuaaa🧡🧡💐
___________________
"Wah! anak muda harus mencontoh kamu, berambisi besar namun tak menggebu dan teliti." Puji Abraham meneguk wine-nya.
Hanska tersenyum membalas balik. "Begitupun anda tuan, low profile, tapi dunia tahu siapa anda."
Tampak keduanya melanjutkan pembicaraan, tawa dan sindiran halus pun menghiasi obrolan mereka. Keduanya seakan tak peduli jam sudah menunjukkan waktu pulang kantor, obrolan mereka terus berlanjut.
Sampai suara Arga terdengar, obrolan mereka terjeda sejenak.
"Maaf jika saya lancang memotong pembicaraan anda berdua tuan." Ucap Arga sopan, lalu mendekat kearah Hanska.
"Tuan, nyonya..." Bisik Arga.
Hanska tampak menautkan alisnya dengan mata menajam saat mendengar informasi yang disampaikan oleh Arga.
Abraham yang berada di sebrang duduknya pun, melihat perubahan raut Hanska yang tampak menggeram walau samar.
Sebagai pebisnis, pria itu memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap apapun.
"Apa ada masalah?" Tanya Abraham saat Arga sudah kembali ke posisinya.
Hanska menoleh, raut mukanya kembali ramah.
"Maaf tuan, sepertinya obrolan kita terhenti sampai di sini. Terjadi sesuatu dengan istri saya." Jawab Hanska sopan.
Abraham mengangguk paham. "Wah beruntung sekali wanita yang menjadi istri kamu." Pujinya.
"Baiklah, kapan ada waktu beri tahukan saja pada asistenku." Tambah Abraham berdiri dari duduknya.
Hanska ikut berdiri mengulurkan tangannya. "Terimakasih atas kerjasamanya tuan Abraham." Ucap Hanska.
Abraham tampak menyambut uluran tangan Hanska ramah. "Senang berbisnis dengan anda." Jawabnya.
Setelah itu, keduanya berjalan keluar dengan beriringan. Setelah memastikan Abraham meninggalkan lokasi Hanska dengan cepat melajukan mobilnya menuju kantor.
*Plaak*.
Suara tamparan nyaring terdengar.
*Byurr*.
"Hahaha.. mampus lo bocah tengik." Suara tawa terdengar menggema didalam toilet khusus wanita itu.
"Emang enak!"
"Dasar b\*t\*h!"
"Jal\*ng sok sok an godain tuan besar." Hardik Yana.
*Misi berhasil nona, sekali mendayung dua pulau terlampaui*.
Setelah menekan tombol send di ponselnya, senyum licik muncul dari bibir gadis itu.
"Pak Hanska tuh punya gue! Calistanya aja yang bodoh, sok jual mahal." Ejek Sinta, si manager perempuan.
__ADS_1
*Dok dok dok*.
"Buka in! kalian ga ada otak ya! akan ku laporkan hal ini ke tuan besar." Teriak suara Tamara menantang, walau sudah basah kuyup akibat di guyur air dan di kurung dalam bilik toilet.
"Makanya jangan t\*l\*l jadi cewek! lo pikir lo siapa? hah!" Bentak Sinta mengapit kedua dagu Deena, membuat gadis itu menoleh kearahnya.
Deena yang mendapat cakaran di pipi oleh dayangnya Yana pun meringis, mengerutkan alis.
"Diam! siapa kau berani langsung berhadapan dengan tuan?!" Bentak Jenika, menyiramkan lagi air ke bilik Tamara
Tadi, setelah kedatangan Yana beserta dayang-dayangnya, Deena dan kedua resepsionis itu terlibat cekcok dengan mereka.
Walau Tamara dan Beliza yang melanggati nyinyiran Yana dkk. Sementara Deena tak ikut memanasi sebab percuma pikirnya, toh mereka hanya ribut saja beraninya.
Bahkan sudah berulangkali Deena membujuk Tamara dan Beliza yang kesal agar tak termakan omongan kasar Yana dkk, cekcok ini terus berlanjut setengah jam dan sampai waktu hampir menjelang pulang.
Datang lah sang manager yang tak kalah jauh dandanannya dari Yana beserta satu orang lagi, sahabatnya.
Biar bagaimana pun, jabatan Yana dkk, Sinta dan Jenika masih lebih tinggi dibandingkan kedua resepsionis itu, apalagi Deena yang mereka tahu sebagai anak magang.
Banyak yang ingin membantu, namun tak berani dengan kegalakan sang manager, jadi staff yang lain lebih memilih mundur.
Sementara posisi Deena di keroyok oleh lima orang, jelas tiga lawan lima bukan tandingan pas. Tapi itu tak berlaku bagi Deena saat Sinta menampar pipi Tamara dan membanggakan diri bahwa dia akan menikah dengan Hanska.
"*Yaampun, tanganku kejang denger perkataanmu. But emangnya Hanska mau sama boneka chaki macem kalian? muka aja kek adonan bakwan, dedemit juga takut kali*."
Yah begitulah Deena kalau sudah ngomong.
Sontak saja Sinta yang memiliki tubuh lebih tinggi dan berisi dari Deena, dengan cepat menggeret nya kedalam toilet.
Nasib bertubuh mungil, tenaga sinta bak bodyguard terlatih hingga Deena tak bisa melawan.
dan, di sinilah mereka saat ini, Tamara yang sudah di kunci dalam bilik kamar mandi nasibnya sama dengan Beliza, basah kuyub.
Tugas mengguyur Beliza dan Tamara adalah Yana dan Jenika.
Sedangkan Deena yang membalas dengan fisik, di tahan kedua tangannya oleh dedayang Yana kanan dan kiri, sementara Sinta menjambak rambut Deena, menahan kepala gadis itu kedalam wastafel berisi air.
Di depan cermin, mereka yang menyiksa Deena tertawa.
"Hahaha.. Rasain lo b\*t"h!" Tawa Yana terdengar menggema diikuti keempatnya.
"Mampus lo! tadi belagu banget nampar gue." Bentak Sinta menenggelamkan kepala Deena lagi.
Tubuh Deena berontak dengan kaki menendang berharap mengenai kaki Sinta, namun sulit untuk mengimbangi gerakan dan menahan napas.
__ADS_1
"Uhuukk..uhuk" Deena terbatuk-batuk saat Sinta mengangkat kepalanya. Napas gadis itu sudah hampir habis.
*Plaakk*.
Sinta menampar Deena, gadis itu yang mendapat siksaan paling kejam.
"Buka pintunya!" Teriak Tamara.
"Gila kalian semua! kalau tuan tau habis kalian!" Teriak Beliza geram menarik paksa pintu agar terbuka.
*Byuurr*.
"Kyaaaa!!"
"Kyaaa!! sialan lo!" Bentak Yana dan Jenika saat Beliza menyiramkan air melalui langit-langit bilik yang terbuka.
*Bluub Bluub*.
Sinta menenggelamkan kepala Deena lagi.
*Braak*!
Terdengar suara pintu digebrak kuat oleh seseorang, Tampaklah Hanska berdiri dengan murka di depan pintu kamar mandi.
"Tu..tu aakhh.." Pekik Sinta, diikuti kedua dayang Yana yang merasakan sakit akibat hantaman kuat oleh Hanska.
Tubuh mereka bertiga terhantam ke lantai dinding toilet.
Kejadian itu di saksikan oleh seluruh karyawan kantor yang masih berada di perusahaan. Mengintip dari celah pintu yang rusak akibat gebrakan sang tuan.
Mereka terheran melihat aura mematikan dari Hanska yang berjalan tergesa diikuti Arga di belakangnya.
Deena terkulai lemas saat kedua dayang Yana dan Sinta terlepas paksa darinya, beruntung Hanska dengan cepat memapah tubuh mungilnya.
"Uhuukk..uhukk." Deena terbatuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seakan pasokan oksigen di dunia akan habis.
Walau diri Hanska terpancar aura mematikan, namun sorot mata pria itu tampak tersakiti saat menatap sang istri malah menderita di perusahaannya sendiri.
"Deena.. beri tahu suamimu ini, siapa yang menyiksamu di dalam perusahaannya sendiri?" Tanya Hanska bergetar samar, seolah-olah takut Deena akan meninggalkannya kapanpun gadis itu mau.
**To Be Continue** \>\>\>
**Ayoyooo.. duhh gregeett thorr😭😭**
**Hayuu follow cerita ini, like and komen di bawah👇🏻 cepetaaan.. akan update malam ini, kyaaa dah greget**.
**NEXT!!! NEXT**!!!
__ADS_1