
Thanksyouuu untuk semua support kalian ๐งก๐๐ duh jadi pen adain giveaway kecil"an ๐คฃ
Seperti biasa, patuhi protokol membaca.
Hati-hati typo, happy reading and ncusss lanjut.
_________________
"Jadi gitu masa lalu Dee." Ucap Deena menjeda, Dia kembali memasangkan dasi merah bergaris milik Hanska mengingat sebentar lagi suaminya itu akan meeting dengan perusahaan dari negara galaksi.
Lagi-lagi, tampak rahang suaminya mengetat geram mendengar setiap kalimat dari Deena, bahkan di sela-sela cerita Deena pun Hanska mengutuk, menyumpah serapahi keluarga Bakara seperti..
"Sial!"
"Baj*ng*n!"
"Mati aja sekeluarga!"
"Brengs*k! akan ku cincang lidah mereka untuk cheetah kesayangan Tama."
"K*p*rat!"
Begitulah.
Padahal Hanska sudah tau dari semua informasi yang dia dapat, tapi masih saja umpatan kesal tak cukup memuaskan amarahnya.
"Sebenarnya dulu niat balikin giok milik Hans karna mau minta uang yang banyak biar bisa lari dari rumah, tapi gitu deh, pulau milik mama lebih berharga dibanding kebebasan Deena." Jelas Deena mengedikkan bahu saat selesai memasangkan simpul untuk sang suami.
"Kau bisa memintanya juga baby." Jawab Hanska mengecup kening istrinya mesra.
Haa.. entah kenapa seperti ada ratusan kupu-kupu terbang menggelitik hati Deena.
"Kalau Dee minta uang juga, setelah dapat sertifikat hak milik pulau Dee bakalan pergi keluar negeri dan menetap di sana, pulang kembali dan balas dendam." Jawab Deena jujur. Tak ada lagi yang perlu di sembunyikan dari Hanska pikirnya, sebab tadi suaminya itu sudah berkata.
"Masalahmu juga masalahku, ceritakan semua tentangmu."
"Dan kita ga akan bertemu, apalagi menikah." Tambah Deena.
Mendadak senyum Hanska tersungging mendengar perkataan Deena.
"Tentu tidak baby, walau kau punya kekuatan untuk menolakku aku akan menghamili mu dan mengikatmu di kamar ini agar kau tak bisa pergi dariku. Kalau perlu kubangun rumah di tengah hutan jadi kau tak ada jalan untuk kabur." Jelas Hanska membuat Deena bergidik ngeri.
Langsung menatap Hanska horor plus muka kasihan bak kelinci kecil.
Hanska tertawa dengan sangat menawan, hingga kedua matanya menyipit. Deena baru sadar jika suaminya itu memiliki lesung di kedua pipinya.
Sejenak dia terpukau dengan menganga, seolah ilernya akan menetes.
"Lap ilermu baby aku tahu aku begitu menawan, seluruh tubuh ini milikmu nikmatilah sepuasnya." Sentak Hanska membuat Deena langsung mengelap bibir seolah apa yang di katakan suaminya benar terjadi.
Tapi bo'ong hayuk.
__ADS_1
"Dih sebeel, siapa juga yang mau!" Bentak Deena berbalik badan langsung keluar dari kamar, tak ingin ketahuan jika dirinya tengah malu kepergok oleh Hanska.
"Hahaha.." Terdengar dari dalam Hanska tertawa meledek.
Tok Tok Tok.
"Masuk." Titah Hanska, saat ini dirinya sudah berkutat kembali dengan berkas.
Tampaklah Arga muncul dari arah pintu.
"Tuan, Mr. Lincoln sudah akan tiba lima belas menit lagi di restoran." Ucap Arga mengingatkan tuannya.
Hanska mengangguk, berdiri dari duduknya.
"Baiklah, siapkan mobil, aku akan segera turun." Jawab Hanska.
Arga Mengangguk lalu pamit undur diri.
"Baby, aku akan meeting. Jika kau bosan keluar lah untuk berkeliling." Usul Hanska mengacak rambut Deena, membuat istrinya itu memajukan bibir namun mengangguk semangat.
"Asyikk, udah lama ga jumpa mbak Tamara sama Beliza." Girang Deena mengepalkan tangannya senang.
Hanska mengernyit. "Siapa mereka dan sejak kapan kau dekat dengan orang lain selain pacar Dirga?" Tanya Hanska.
"Ituloh resepsionis lobby kantor, pertama kali kenalan waktu Dee jadi anak magang." Jawab Deena mengingat saat pertama kali dirinya masuk dulu.
"Hmm ya, dulu kau mengataiku banyak sekali." Cibir Hanska membuat Deena terkekeh.
"Bahkan sampe jodohin kita juga prfftt.. kalau mereka tau kita beneran nikah, auto kesedak sampe berdarah hohoho." Jelas Deena panjang lebar tampak semangat.
"Tapi kesian banget sering kena omel sama tante-tante galak dandan an menor itu Hans. Kalau ga salah dia bagian HRD duh yang parah itu bajunya kekecilan banget, kurang bahan lagi, nampak deh lemaknya dimana-mana." Omel Deena bagai anak kecil yang mengadu pada orang tuanya saat melihat hal yang tak disukai.
Hanska terkekeh geli mendengar aduan istrinya yang bagai bocah kecil itu, walau tampang sudah galak siap meledak dan tangannya yang berkacak pinggang, namun bagi Hanska istrinya itu malah tampak semakin menggemaskan saat sedang kesal.
Beliza dan Tamara ya? baiklah, anggap saja mereka beruntung bertemu istriku.
Batin Hanska.
Pria itu menjepit kecil hidung Deena. "Tapi ingat, hanya di perusahaan dan tak boleh jauh-jauh dari lingkungan kantor." Ucap Hanska memperingati.
"Baiklah tuan muda, akan saya ingat." Ledek Deena menjawab suaminya dengan formal.
"Nakal." Ucap Hanska menyentil jidat Deena.
"Ughh, bukannya di cium malah di sakitin mulu nih jidat." Cemberut Deena mengusap keningnya.
Sial! gemoy sekali kau Deena! Tak tahan aku ingin memakanmu.
Batin Hanska gemas.
Chupp.
__ADS_1
Jadinya Hanska mengecup kening Deena sayang. Istrinya itu lalu tersenyum menyengir.
"Hati-hati sayang kerjanya.. semongko! ada istri yang menunggu kepulanganmu!" Ucap Deena antusias.
Hanska mengusap rambut Deena gemas. "Makasih baby, aku pergi dulu." Pamit Hanska menyudahi acakannya di rambut Deena.
Hanska berjalan dengan gagah melewati lobby kantor, Dia menoleh kearah meja resepsionis. Terlihat dua orang wanita tengah menunduk hormat melihat tuan mereka lewat.
"Angkat kepala kalian." Titah Hanska pada dua resepsionis itu. Mereka langsung mengangkat pandangan menatap Hanska walau perasaane takut dan menerka apakah mereka ada buat salah.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya Beliza sopan. Jika di nilai dari sikap, Beliza masih lebih dewasa di banding Tamara.
Wajar, sebab dari segi usia pun Beliza lebih tua dan yang lebih lama bekerja di perusahaan Alz dibanding Tamara.
"Tidak, kerja bagus." Ucap Hanska berlalu pergi meninggalkan tanda tanya besar di benak mereka.
Walau begitu keduanya bernapas lega karena tak ada masalah menimpa mereka.
"Silahkan tuan." Ucap Arga mempersilahkan Hanska memasuki mobil.
"Arga." Panggil Hanska.
"Ya tuan?"
"Naikkan jabatan kedua resepsionis yang sering bermain dengan Deena di perusahaan." Titah Hanska menyilangkan kaki, sambil menerima ipad dari Arga untuk memeriksa grafik saham.
"Baik tuan." Jawab Arga.
"Dan satu lagi." Jeda Hanska.
Sambil memberikan kembali ipad kearah Arga yang duduk disamping kemudi.
"Aku mau perusahaan Bakara gulung tikar dengan perlahan, sudah saatnya mereka menderita, hingga memulai pun sulit." Tambah Hanska serius.
"Beruntung ada istriku yang menghalangi, jika tidak, sudah ku ratakan keluarga itu." Tambahnya memancarkan aura dingin yang kental terasa.
"Baik tuan, akan saya lakukan." Jawab Arga sudah biasa melihat aura tuannya yang terasa mencekam.
Bahkan sekarang sudah tak terlalu parah semenjak tuannya itu menikah dengan nyonya muda mereka.
Hukuman seperti gulung tikar, membuat perusahaan hancur dan keluarga yang terblack list dari negara masih tergolong ringan bagi Arga.
Sebab masih ada hukuman yang lebih parah selama dirinya mengabdi pada sang tuan. Yaitu kalimat.
Buat mereka memohon untuk mati. Lah yang Arga maksud.
To Be Continue >>>
Jangan luoa follow cerita ini, like and Komen di bawah๐๐.
NEXT!!!
__ADS_1