Presdir Bucin

Presdir Bucin
Godaan Hanska


__ADS_3

Lah malem minggu naisss..


kasih horor ga yee 🤪 misalnya muncul pelakor gitu? 😗


Ga dulu deh kyanya hihihi.


Ada tiiitttt.. dikit aja :'v


Ncusss lanjut. Happy Reading Hati hati typo zeyeeeng🧡🧡🧡


______________


"Mas.. berhenti dulu..hmpp.. pliss." Bujuk Deena meracau saat Hanska bermain dengan lehernya.


Hanska menggeleng. "Nanggung sayang, salah sendiri kau begitu imut.." Jawab pria itu kini beralih dengan kedua bukit Deena.


"Engghh.. ja..jangan posisi ini." Tolak Deena diselingi des**an indahnya.


Kini, mereka berada di salah satu kamar presiden suite hotel bintang lima milik Hanska.


Setibanya di kota Angkasa, Hanska dengan cepat menggendong Deena ala bridal, langsung menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan maut.


"Pin..dah..enggh." Masih berusaha membujuk Hanska walau des*han indah tak mampu ditahannya.


"Hmmp ja..jangan.. eunghh." Tolak Deena saat satu tangan Hanska sudah mempermainkan bagian bawahnya.


Hanska tersenyum smirk, melihat tampilan mendamba istrinya melalui cermin besar dalam kamar mandi.


Tanpa Deena sadari, sebelah tangannya mengulur kebelakang menarik rambut Hanska seolah mengkode, agar suaminya itu memperdalam ciumannya.


Posisi mereka ini sama-sama menghadap cermin, dengan Deena yang memunggungi Hanska dalam posisi berdiri.


Deena hanya mampu meracau sambil menahan tubuhnya berpegangan dengan wastafel, sementara Hanska sibuk menggerayangi tubuh Deena, mulai dari bukit kesukaannya hingga daerah wanita itu.


Berulang kali Hanska meraih dagu Deena agar istrinya itu menatap cermin, namun Deena hanya bisa memejamkan matanya malu.


Melihat tampilan mereka yang sama-sama naked, ditambah lagi perkataan Deena tak singkron dengan tubuhnya yang menginginkan sang suami berbuat lebih.


Puas membuat istrinya terbuai, Hanska segera memasuki Deena sambil mencecapi setiap lekuk tubuh istrinya dengan buas.


Permainan mereka terus berlanjut di tempat-tempat berbeda, mulai dari kamar mandi dengan cermin besar, meja makan, sofa ruang tamu, dapur, dinding kaca dengan posisi berdiri, hingga ke balkon hotel.


Tak cukup sekali, tanpa sadar Hanska benar-benar merasa candu dengan tubuh istrinya. Fantasi liar pria itu bangkit tanpa bisa di cegah, ide-ide gila mulai muncul di kepalanya membuat Hanska tersenyum smirk di sela tautan mereka.


Selesai dari balkon, mereka lanjut ditempat tidur saat Deena memohon kelonggaran suaminya. Sebab, jam sudah menunjukkan pukul empat dini hari, Deena benar-benar mengantuk digempur semalam suntuk oleh sang suami, berbeda dengan Hanska yang masih segar bak memakan ratusan kapsul penambah stamina.


"Kecapean hmm?" Tanya Hanska bermonolog menyingkirkan anak rambut yang berantakan di pelipis istrinya.


Lihatlah, istrinya itu sudah terkapar saat pelepasan terakhir mereka lima menit yang lalu.


Chup. Chup.


"Hmm.. bocah sialan! bibirmu manis sekali." Geram Hanska bergumam berusaha menghalau hasratnya yang mulai bangkit.


Kecupan-kecupan halus Hanska labuhkan di bibir istrinya.

__ADS_1


Sangkin ngantuknya Deena, Hanya terdengar dengkuran halus menghiasi tidurnya walau kini Hanska sudah menggigiti bibirnya gemas.


"Kali ini kau kulepas! mulai besok aku akan memberimu vitamin stamina, agar kau mampu menandingiku." Ucap Hanska lagi walau tak di gubris oleh Deena.


Pria itu terkikik geli, entah mengapa menjamah Deena tak cukup sekali baginya. Mulai dari bibir hingga seluruh tubuh Deena. Ah~ semuanya bagaikan candu untuk Hanska.


...~~~...


"Hmm.. hoamm." Racau Deena terduduk merenggangkan tubuhnya.


Matanya melotot.


Nyuuut.


Terasa ngilu di bagian pinggang belakangnya.


"Agghh.." Tubuhnya terhuyung kembali telentang.


Deena menatap langit-langit hotel sambil berusaha menghalau denyutan di pinggangnya.


"Om mesum.!! sakit banget, awas aja tuh orang, ku tinggal tidur ntar malem!" Teriak Deena kesal bermonolog, sebab jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Pasti lah suaminya itu sudah sampai kantor cabang sekarang.


Deena mendengus kesal, setelah denyutan di pinggangnya mereda, Dia mengambil sarapan yang sudah tersedia di atas nakas. Lengkap dengan note dari Hanska.


Sayang, aku pergi dulu mengurus kantor cabang. Jika kau bosan tunggulah aku, kita pergi main bersama.


Begitu lah kiranya isi note tersebut.


"Ck.. bagus lah pergi sono ja." Cibir Deena membaca kata miring dalam note tersebut.


Selesai mandi, Deena melihat tampilannya yang terpantul melalui cermin sebesar dinding. Pakaiannya tak ribet, hanya sepatu kets, dengan celana pendek dan hoodie navy kedodoran. Deena mengikat buntal rambutnya.



Tak sabar menunggu Hanska pulang kerja, akhirnya Deena memutuskan untuk mengelilingi hotel hanya dengan membawa ponsel dan black card pemberian Hanska.


Bruuk.


"Awhh.." Ucap kedua insan sesama jenis itu berbarengan, tampak sama-sama terhuyung ke samping.


"Maaf mba ga sengaja." Ucap Deena duluan meminta maaf.


Deena terpana sesaat melihat wanita cantik di hadapannya itu, sangat terlihat elegan dengan paras bak model, rambut panjang tergerai indah, lekuk tubuh bak gitar spanyol, dan kaki jenjang terbalut sepatu boot cokelat.


Deena yakin, wanita di hadapannya ini memakai baju apa pun akan terlihat cocok. Pikirnya.


Wanita itu menyimpan kacamata nya kedalam tas, menatap Deena dari atas ke bawah.


"Mba mba! lo pikir gue nikah apa sama abang lo? dasar bocah tengil, makanya kalau jalan itu pake mata!" Bentak wanita itu pedas, menarik perhatian orang yang berada di lobby hotel.


Nyutt.


Deena tarik kembali kata-kata kagumnya barusan, saat mendengar kata-kata pedas dari wanita itu.

__ADS_1


Buat apa paras bak dewi kalau attitude nya anjlok, Deena ini meminta maaf hanya bentuk kesopanan, padahal mah yang salah wanita di depannya itu berjalan cepat sambil melihat ponsel.


"Minggir!" Tambahnya melangkahkan kaki kembali menyeret koper.


"Dih udah dia yang salah." Ucap Deena mencibir.


"Putus tuh Heels baru tau rasa!" Teriak Deena dengan dengusan, tentu saja wanita dan beberapa orang di dekat mereka mendengar sumpahannya itu.


Entah kebetulan malaikat lewat ataukah dewi fortuna memihaknya. Kontan saja sepatu boot dengan tapak runcing setinggi 15 centi itu patah, membuat tubuh si empunya oleng dan terjatuh.


"Pprfftt.. bwahahah!!" Tak kuasa penonton menertawakan wanita itu yang terjatuh dengan konyol.


"Upss.. mon maap bund ga maksud nyumpahin." Ucap Deena menghalangi bibir dengan ujung jari-jarinya.


Berbalik badan, lalu pergi meninggalkan si wanita tadi dengan sumpah serapah untuk Deena dalam hati.


"Hahah mang enak jatuh. Salah sendiri belagu." Monolog Deena saat dirinya sudah memasuki kawasan taman keluarga.


"Huwaa.. papa! takit ati dede." Terdengar suara tangisan anak kecil di balik pohon.


Deena berjalan kesumber suara.


"Huhuwaa.." Suara tangisan makin kejer terdengar.


"Adek manis kenapa nangis?" Tanya Deena, mengelus surai gadis kecil dengan bando minnie mouse itu.


Terlihat gadis kecil itu menyeruput ingusnya.


"Tatak antik hiks.. takit tati Nana." Jawab cadel gadis itu khas anak kecil, menunjuk dengkulnya yang berdarah.


Ini apaan sih emak bapak nya, main tinggal anak kecil tanpa pengawasan gini.


Batin Deena kesal merutuki orang tua gadis itu tanpa tahu siapa mereka.


"Uhh sini kakak obatin, berhenti ya nangisnya, nanti makin sakit." Ucap Deena membujuk si kecil yang bernama Nana itu.


Terlihat Nana mengangguk patuh.


Deena mengusap luka goresan di dengkul Nana, setelah itu Dia menempelkan plester yang selalu di bawanya kemana pun.


Chupp.


"Dah sembuh." Ucap Deena setelah mengecup lapisan plester itu, seolah kecupannya berfungsi sebagai obat.


Gadis kecil yang masih sesenggukan itu kontan terdiam melihat Deena mengobatinya.


Nana tersenyum lebar sekali. "Tima 'aci tatak!" Ucapnya berseru memeluk Deena.


"Cama cama sayang." Balas Deena mengusap surai Nana.


"Hei!! Siapa kau?!" Bentak suara pria menginterupsi kegiatan mereka.


Keduanya menoleh kesumber suara.


To Be Continue >>>

__ADS_1


Komen jeee lah, mau hayuu berkenalan di bawah. Follow cerita ini dan like yaa..


Kechuppp ja'uhhh aja dahh 😙💜💜


__ADS_2