
Hayuu dukung cerita ini, semoga terhibur.
Happy Reading and Hati hati typo sayaang"kyuuu ππ
ππππππππππ
"Di hitungan ketiga baru buka mata." Titah Hanska.
Deena mengangguk patuh.
"Satu."
"Dua."
"Tiga.." Barulah Deena perlahan membuka kedua matanya.
Pupil Deena membesar melihat view yang benar-benar memanjakan mata ini. Suara deburan ombak yang tadi samar di dengarnya, kini semakin jelas terdengar diikuti terpaan semilir angin yang berhembus, memporak-porandakan surainya.
"Woah.." Gumamnya terkagum.
"II..ini ini?" Deena kehilangan kata-katanya, matanya celingak-celinguk dengan saliva yang sulit sekali di telan.
"Kencan romantis di pinggir pantai, seperti dalam mimpimu." Jawab Hanska meraih pinggang Deena dan menuntunnya berjalan.
Greget, melting dan saat ini bibirnya berkedut tak kuasa menahan lengkungan yang memaksanya naik agar tersenyum.
"Mimpi?! ka..kamu, kapan Dee.." Hanska menghentikan ucapan Deena dengan jari telunjuknya.
"Apapun yang bagimu tak mungkin baby, bahkan jika aku menjadi pria yang tak masuk akal sekalipun." Jawab Hanska.
Kyaa! ayo cubit aku cubit! siapapun cepat sadarkan aku dari mimpi ini, sebelum aku terpesona sama dia!
Batin Deena berteriak.
Sialnya Hanska bagai orang yang bisa bertelepati.
Nyutt.
Pipinya digigit gemas oleh Hanska.
"Adeh.." Deena meng-aduh.
Matanya dimanjakan dengan lilin-lilin yang tersusun dibagian kanan dan kiri membentuk jalan, kaki yang berpijak pada pasir pun tak kalah dimanjakan dengan taburan mawar merah bak berjalan di red carpet.
Tampak sebuah meja makan dan sepasang kursi di kelilingi oleh empat pilar dengan tirai putih menjuntai sebagai dekorasi, bunga-bunga menjalar pun turut menghiasi pilar, apalagi lilin yang hidup diatas meja dan beberapa tangkai bunga dalam pot kaca berisi air.
Menambah kesan romantis.
"Hati-hati." Peringat Hanska saat Deena tersandung dengan kakinya sendiri. Deena mengangguk.
Pria itu menarik salah satu kursi. "Silahkan ratuku." Ucap Hanska merasa ada ganjalan di lidahnya.
But yaudah lah ya, semua ini keinginan kecil istrinya yang tak pernah terucap, namun Hanska tahu itu.
"Terima kasih yang mulia raja." Jawab Deena mengikuti suaminya.
Sebenarnya Deena berpikir dalam hati, apakah saat ini yang bersamanya adalah Hanska sang suami atau hanya jelmaannya saja.
Manis sekali!
Pikirnya.
Dua pelayan datang mengantar hidangan sedangkan yang satunya menuangkan wine.
"Humm lezat!" Puji Deena menghirup aroma hidangan hadapannya dengan pisau di sisi kanan pipi dan garpu di sisi kiri pipi.
Tampak antusias sekaligus merasa sayang melihat betapa indah hidangan itu.
"Beef and lobster cheese?" Deena menggigit bibir bawahnya mati-matian menahan senyum.
Semua adalah keinginannya.
Hanska mengangguk tersenyum, mengisyaratkan dengan tangan agar para pelayan pergi.
Tingg.
Bunyi dua gelas berdenting.
"Seperti yang kau inginkan baby." Ucap Hanska meneguk sedikit wine-nya diikuti Deena.
Bedanya milik sang istri hanya diisi dengan air mineral dan Deena tak mempermasalahkan itu.
"Silahkan." Ucap Hanska.
__ADS_1
Deena tersenyum mengangguk. "Dengan senang hati!" Jawabnya antusias.
Deena menikmati hidangannya dengan khidmat, senyum puas tampak terbit dari bibir mungilnya sambil menyantap hidangan dengan sesekali rambut tergerainya Dia sibak-kan ke belakang.
Matanya pun menatap penuh makna kearah sang suami.
Lain Deena yang merasa dimanjakan lidahnya lain pula Hanska, bukannya menikmati, pria itu malah memegang pisau dan garpunya saja sambil menikmati pemandangan indah dihadapannya.
Matanya terasa dimanjakan melihat Deena tersenyum begitu manis. Tanpa sadar, dua sudut bibirnya pun melengkung keatas.
Dia merasa sayang untuk melewatkan keanggunan sang istri, bahkan menawan saja tak cukup menggambarkan Deena.
Kilasan memori saat dirinya dan Deena awal bertemu kembali berputar, tersusun elok bagai puzzle.
Bagaimana sifat Deena begitu kekanakan, super bawel dan tak bisa diam, ditambah lagi, istrinya itu terkadang cukup nakal untuk memberontak setiap titahnya.
"Prrffttt." Hanska terkikik geli membayangkan saat-saat itu, Dia sendiri pun tak habis pikir bisa menyukai gadis kecil seperti istrinya.
Deena mengangkat pandangannya kearah Hanska, alisnya tertaut heran.
"Humm kenapa? ada yang lucu?" Tanya Deena penasaran dengan memiringkan kepalanya.
Hanska menggeleng geli. "Aku teringat saat pertama kali kita bertemu." Jawab Hanska jujur.
Deena tampak berpikir. "Kamu masih ingat sejauh itu?" Ulangnya.
Hanska mengangkat sebelah alis seolah bertanya.
Emang kenapa?
Deena menopang dagu dengan punggung tangannya.
"Berarti kamu terkesan sama pertemuan kita." Jawab Deena percaya diri dengan senyum nakalnya menggoda.
Rahang Hanska mengetat dengan alis terangkat, Dia pun tersenyum sambil memotong beef yang sedari tadi dianggurin.
"Yah, baru kali itu kutemui anak kecil yang tak takut dengan tatapanku." Jawab Hanska mengedikkan bahu tersenyum penuh arti.
Di Posisi lain dalam kamar hotel, tampak lah dua insan berbeda jenis itu sedang memadu kasih bak sepasang suami istri.
Si lelaki bertelanjang dada dengan jemari gadis itu mengambar pola-pola abstrak diatasnya. Tangannya merangkul bahu polos tertutup selimut gadis itu.
"Kenapa lagi hemm?" Tanya si lelaki menyelipkan anak rambut diantara telinga gadis itu.
"Siapa lagi kalau bukan j\*l\*ng kecilmu kak." Jawab gadis itu menggembungkan pipinya tampak tak senang.
"Deena?" Tanya lelaki itu terkekeh, entah kenapa rasanya dia senang melihat ekspresi kesal dari gadis dalam pelukannya ini.
Si gadis mengangguk cemberut.
"Kak Jo, reputasi ku jadi jelek semenjak dia memfitnahku di gudang." Rengek gadis itu masam.
"Pokoknya kakak bantu aku balas dendam." Tambahnya menatap ke si lelaki.
Joandan menyunggingkan senyumnya mengangguk. "Kamu tenang aja Laras." Jawabnya merapatkan pelukan mereka berdua.
Kegiatan intim itu pun berlanjut.
__ADS_1
Isi otak mereka tentulah berlawan dengan yang satu punya maksud hanya ingin menyiksa, sedangkan yang satu lagi setelah dimanfaatkan baru di siksa.
**Pagi hari di kota Bintang**.
Deena bangun dari tidurnya aambil merenggangkan kedua tangan lebar, menatap sekeliling mencari keberadaan sang suami yang tak dijumpainya di ranjang.
*Ssrrhhh*.
Suaranya air menyala.
Deena meyakini Hanska sedang mandi saat ini, bibirnya melengkung keatas membentuk senyuman nakal.
Bangkit berdiri, membelit tubuh dengan selimut dan berjalan kearah kamar mandi.
Deena membuka pintu kamar mandi dan menanggalkan belitan selimutnya, langsung memeluk Hanska yang sedang terguyur air shower dari belakang.
Tangan Hanska yang sedang menyisir rambut kebelakang pun terhenti, memilih bertopang dengan dinding akibat serangan dadakan Deena.
"Menggodaku pagi-pagi sekali baby." Geram Hanska yang senang juga melihat tingkah agresif istrinya.
Wajah Deena Ia tempelkan kepunggung Hanska, sambil tersenyum lalu memajukan bibir.
"Ga ngajak-ngajak." Ucapnya terdengar ngambek sambil menciumi punggung bidang sang suami.
"Mulai nakal hmm?" Ledek Hanska terkekeh.
Deena langsung membalik tubuh Hanska membuat mereka berhadapan, pria itu menaikkan sebelah alisnya dengan senyum tersungging, seolah menanti apa selanjutnya yang akan Deena perbuat.
"Nakal sama suami sendiri pahalanya double." Bela Deena untuk dirinya sendiri.
Terlihat mendominasi ada di pihak sang istri, Hanska pria dengan ego tinggi yang tak suka orang lain mendominasi dirinya. Namun kali ini, Dia membiarkan Deena mengambil alih.
Jarang-jarang melihat Deena agresif.
"Kalau gitu.." Gantung Hanska.
Senyum smirk muncul. "Kita lihat seberapa nakal istriku ini." Tambahnya.
**To Be Continue** \>\>\>
**Ayoo follow cerita ini, like and komen dibawah! siapa tauuu jadi temenππ**
__ADS_1
**NEXT**!!!