Presdir Bucin

Presdir Bucin
Gegara Mama!


__ADS_3

Jan lupa napas slurr 😭


Aing dah angkat tangan dah, niat nya mau nerusin cerita sambil berkhayal biar dapet inspirasi, eh gegara keenakan malah jadi ketiduran :(


Ncusszz lah lanjuuut


Happy Reading, Hati hati typo sayang💜


___________________


"Nih Dee kembalikan, makasih mas." Ucap Deena cepat menarik selimut hingga batas kepala, menutupi diri dengan memunggungi tubuh Hanska.


Duh ini akibat kata-kata mama nih hikss, jadi kepikiran.


Batin Deena kacau.


Pria itu menyunggingkan senyum manisnya.


Chuupp.


"Morning kiss sayang." Ucap Hanska dengan cepat membalik tubuh Deena, dan mencium istrinya penuh khidmat.


"Hmmmmpp.." Gumam Deena mendorong dada Hanska, agar suaminya itu menyudahi ciuman mereka.


Apaan nih?! masa mau lagi sih, sisa kemarin masih pegel.


Batin Deena teriak.


"Hahaha, salahkan dirimu yang terlalu imut sayang." Elak pria itu mencubit gemas pipi gempal Deena.


Tampak istrinya menggembungkan pipi bak Mrs. Puff.


"Modus ihh." Rengek Deena menolak tangan Hanska dengan Bahu. Posisi mereka masih sama, Deena memunggungi tubuh Hanska. Dengan pria itu memeluknya dari belakang.


Punggung polos Deena tampak jelas terlihat dari posisi Hanska. Pria itu terkekeh manis, melihat banyak nya tanda merah keunguan tersebar di punggung istrinya.


Tangan Hanska terulur. Mencoret-coret dengan pola abstrak punggung Deena, membuat bulu kuduk istrinya tampak berdiri.


Deena menoleh. "Mas..! lihat lah jam berapa sekarang, mas ga kerja?!" Kesal Deena dengan nada jengkel menunjuk jam dinding. Hanska mengikuti kearah mana Deena menunjuk.


Jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh.


Hanska bukannya marah, malah terkekeh melihat tingkah yang bagi Hanska itu menggemaskan.


"Se plat lagi ya sayang." Bujuk Hanska membalik posisi Deena menghadap kearahnya.


Deena tampak melotot. "Mas kira kita main ML se plat?" Ucap gadis itu ngedumel.


Hanska tampak menyengir dengan wajah tanpa dosanya.


"Ayolah sayang, sekali lagi yah." Bujuk Hanska lagi tak mau kalah.


Deena masih tampak berpikir, seolah tak mempercayai ucapan suaminya.


"Ayo dong sayang, kan mas mau kerja mana mungkin lama lama." Bujuk Hanska persuasif. Bahu polos Deena di gigitnya pelan, merembet ke tengkuk sang istri.


Deena terbuai lagi, tanpa sadar dirinya mengangguk setuju.

__ADS_1


Hanska Dengan semangat empat lima kembali menindihi tubuh Deena, mengukung istrinya dengan senyuman smirk di bibir Hanska.


Pergulatan mereka pun terjadi lagi, dan benar, Hanska tak cukup hanya dengan sekali ronde. Terbukti dengan serangannya saat ini, sehabis pelepasan masih bisa berdiri tegak, menuju ronde kedua.


...~~~...


Deena tampak cemberut saat Hanska menyuapi dirinya dengan aura berbunga-bunga. Lain hal dengan Deena yang tampak seperti kucing betina mengamuk.


Setelah pria itu membersihkan tubuh dan juga memandikan Deena. Perawat masuk dengan membawa seprei baru, Hanska berpesan agar membuang saja seprei yang lama. You know lah kenapa.


"Aak.. sayang, buka mulutnya." Bujuk Hanska, seperti membujuk seorang anak kecil yang sedang merajuk.


Deena membuang muka kesamping tanda kesal dengan kelakuan suaminya.


"Huhh.. katanya satu aja, malah sampe tiga!" Sewot Deena mengusap pinggangnya yang terasa nyut-nyutan.


Tampak Hanska tersenyum geli mendengar keluhan istrinya.


Tangan Hanska terulur mengelus surai Deena sayang.


"Yaudah mas minta maaf ya kebablasan." Bujuk Hanska tulus meminta maaf.


Deena sedikit menurunkan egonya, Dia tampak mengangguk.


"Iyaa, Dee maafin. Tapi ada syaratnya." Ucap Deena, kapan lagi dia mempunyai kesempatan bernegosiasi begini.


Lagipula, Deena teringat dia ada janji dengan Dion akan berkunjung kerumah lelaki itu di hari minggu. Sedangkan ini sudah hari rabu. Berarti dia sudah melanggar janjinya, dan Deena harus menebus itu.


Hanska menaikkan sebelah alisnya bertanya. "Hmm apa coba?" Tanya pria itu.


"Ayo pulang, Dee benci rumah sakit." Rengek gadis itu menarik-narik lengan Hanska pelan.


"Yaudah nanti selesai jam makan siang, kita balik kerumah." Ucap Hanska menyetujui.


"Bener ya?" Tanya Deena menyodorkan jari kelingkingnya.


Hanska mengangkat kedua alis seolah bertanya.


"Janji?" Sambung Deena, mengaitkan jari kelingkingnya di kelingking Hanska.


"Iya janji bocah bawel." Ledek Hanska menyetujui.


"Sekarang buka mulutnya, makan." Ucap Hanska menyuapkan lagi sesendok bubur.


Kali ini Deena menurut, suapan demi suapan Hanska berikan pada Deena. Tanpa terasa bubur pun habis.


Ddrrtt. Drrtt.


Ponsel pria itu berdering, menunjukkan nama Arga tertera di layar.


"Ada apa Arga?" Tanya Hanska mengangkat panggilan.


"....."


"Proyek mana?" Tanya Hanska tak sabar.


"....."

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?! Sekarang juga siapkan semua berkasku Arga, aku akan ke kantor sekarang." Titah pria itu mematikan sambungan tanpa mendengar balasan dari lawan bicaranya.


Deena hanya melihat saja tanpa mau mengganggu dengan pertanyaan. Toh juga bukan urusannya.


"Mas mau pergi?" Tanya Deena basa basi.


Hanska mengangguk. "Proyek di kota Angkasa terkendala, mas harus segera kesana sayang." Jelas pria itu mengenakan jasnya.


"Nanti kalau mas ga sempat jemput kamu, mama dan papa yang menjemput ya, mereka sudah mas kabarin." Tambah pria itu mengecup puncak kepala Deena lembut.


Deena tampak angguk-angguk tersenyum.


"Hati hati yah mas." Jawab Deena, Hanska mengangguk berlalu.


Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka menampilkan Rihlah dan Regan beriringan masuk kedalam kamar.


"Mama.. papa." Sapanya ceria.


Regan mengangguk memilih duduk di sofa sambil membaca koran. Sedangkan istrinya mendekat keranjang pasien dengan senyum jahil menghiasi wajah ayunya.


"Gimana gimana? coba bagi pengalaman dong sama mama." Ledek Rihlah menoel pipi Deena.


Blussh.


Seketika pipinya memerah lagi, sekelebet ingatan muncul tanpa tahu malu di kepalanya.


"Mama ihh.." Rengek Deena.


"Hahaha.. seru banget pasti." Tak mau berhenti, Wanita itu terus saja meledek menantunya.


"Ma.. sudah jam segini, kita ga siapan dulu? kann Dee mau pulang." Ucap Deena mengalihkan pembicaraan.


Namun Rihlah tak terpengaruh, malah dengan watados nya menunjuk leher terekspos Deena.


"Duh anak mama mantab banget lah, sampe gada celah gitu." Tunjuk sang mertua, memperlihatkan leher Deena yang penuh kiss mark.


Tampak Rihlah menyodorkan kaca.


Mata gadis itu membulat.


Aaaa malu banget, kenapa mas ga bilang sii huhuhu, berarti papa juga lihat dong :(


Batinnya berteriak. Iya hanya batinnya.


Deena menyengir hambar antara malu dan sebal untuk Hanska menjadi satu.


"Ma.. udah dong, Deena kan malu." Jujurnya memanyunkan bibir.


Rihlah hanya tertawa menggeleng kan kepalanya maklum. Masih baru-baru mah wajar.


Begitulah pikirnya.


To Be Continue >>>


Demi Alek aku sayaang kalian😚


ngantuk" dah gue jabanin! so kalau nampak typo maklum yee, tegur ajah aing di kolom komentar, no problem, lebih baek kalian ngoment dari pada sediem" bae.

__ADS_1


Jangan lupa follow, comment and vote ya semua, sayang kalian 3,600 second.


__ADS_2