Presdir Bucin

Presdir Bucin
Jebakan


__ADS_3

Tim jaga malam :*


Happy Reading, abai kan typo tetep hati" kesandung 💜


________________


Terdengar interkom berbunyi. "Arga! urus saja pekerjaan mu, tak usah pedulikan bocah nakal itu, biarkan saja dia menderita sekalian." Teriak sang tuan dari sebrang sana.


Jelas sekali terdengar pria itu sangat kesal.


"Hahaha.. aku pergi dulu Arga." Pamit Deena terkekeh.


"Mau kemana neng?" Tanya supir Taxi, saat Deena sudah mendudukkan dirinya di bangku penumpang.


"Hunian Citra Garden pak blok D." Jawab Deena ramah.


Selama perjalanan kerumah, Deena hanya terdiam memikirkan apakah rencana balas dendamnya akan berlanjut, atau Ia merelakan saja.


Dari awal, rencananya sudah meleset sedikit demi sedikit, bahkan, menikah dengan Hanska tak masuk dalam daftar list nya, tapi lihat lah sekarang. Tepat beberapa jam lalu, Dia resmi menjadi seorang istri.


Hfftt.


Gadis itu menghembuskan napasnya kasar.


Kakinya melangkah memasuki kawasan rumah setelah Deena membayar ongkos taxi.


"Neng geuis?" Sapa mang Dadang dengan logat khasnya, saat melihat Deena melewati kebun.


"Sehat mang? Mbok mana?" Tanya Deena ramah, mendekati tukang kebun dirumahnya, suami bi Marni.


Hanya mereka berdua yang menganggap Deena manusia. Selebihnya jangan di tanya.


"Alhamdulillah sehat neng, mbok ada di dalem." Jawab mang Dadang.


"Yaudah deh, Dee masuk ke dalem ya mang." Pamit Deena sopan, gadis itu sudah menganggap bi Marni dan suami bagai orang tuanya, mereka sangat baik.


"Mbok! Apa kabar?" Tanya Deena ceria saat dirinya masuk melalui pintu belakang.


Tampak Bi Marni mengusap dada tanda terkejut.


"Mbok kirain siapa." Ucap Bi Marni senang.


Tampak Deena cengengesan.


Bi Marni ikut terkekeh sambil menggelengkan kepala.


Syukur deh bibi sama mamang baik-baik aja.


Batinnya dalam hati.


"Neng di panggil tuan pulang?" Tanya bibi dengan raut wajah tampak sedikit cemas. Deena mengangguk.


Sebab seluruh penjuru rumah Bakara pun tahu, sebentar saja Deena ada di rumah, dirinya selalu saja jadi objek pelampiasan kemarahan.


Sebelum meninggal, Thalia sempat mengamanatkan bi Marni dan mang Dadang suaminya, agar mereka menjaga Deena seperti putrinya sendiri.


Tentu saja mereka terima dengan senang hati, lagipula kedua orang itu belum di karuniai seorang anak.


"Dee balik kamar ya mbok." Ucap gadis itu melangkahkan kaki menuju kamarnya.


Ralat, menuju kamar orang tuanya lebih tepat, berhubung nenek lampir dan anteknya sedang tak ada di rumah, Batinnya.


Sekalian saja Deena masuk untuk ambil balik surat kepemilikan pulau ibunya.


Alasan terbesar pertama adalah mengemasi barang berharga dari Thalia dan mengambil surat itu, sudah itu saja.


Saat ini dirinya berhasil mengendap masuk ke dalam kamar Bakara.

__ADS_1


Satu per satu di bukanya laci dalam ruangan ini, mulai dari laci nakas, hingga brankas dalam lemari.


"Ckk.. pake di sandi lagi." Gerutunya mendapati brankas dalam keadaan terkunci.


Terpikirkan sesuatu. Otak kecilnya berusaha mengingat-ingat kombinasi tanggal penting yang berpotensi menjadi sandi brankas ayahnya.


Deena mencoba digit tanggal lahir Bakara, Ratih, Laras, tanggal pernikahan, bahkan tanggal pernikahan kedua Bakara.


Namun nihil.


Alisnya mengkerut, Dia coba peruntungan dengan memasukkan tanggal Empat Agustus.


ting!


Matanya membulat sempurna. Sandinya tanggal lahir sendiri. Pikirnya bertanya.


Pintu brankas terbuka, tampak beberapa berkas dan map bertumpuk, pandangannya jatuh pada map biru, Deena mengambilnya.


Senyum puas terbit saat membaca garis besar surat tersebut.


Tanpa mau berlama lagi, Dengan cepat Deena membereskan kekacauan yang Dia perbuat.


"Mama ini kesel banget nak, punya nyawa sembilan kali tuh anak si*lan, bisa bisa nya dia lolos dari preman suruhan mama." Terdengar jelas kekesalan dari arah luar suara Ratih.


"Tenang ma, masih ada kesempatan, lihat aja ntar malem." Ucap Laras membujuk.


"Hampir aja mama lupa sama tujuan awal."


Degh.


Jantungnya berpacu, entah karena mendengar kenyataan bahwa Ratih lah dalang penculikannya, atau karna saat ini Dia masih berada di dalam kamar mereka.


Ceklek.


"Hah.. buat kesal aja sih, mandi dulu aja deh biar fresh." Ucap Ratih bermonolog setelah meletakkan barang belanjaannya keatas meja rias.


Deena meneguk ludahnya susah payah. Saat ini dirinya bersembunyi di balkon kamar, hanya menjadikan pagar pembatas sebagai pijakan.


Cetak.


Deena menghempaskan tubuhnya diatas kasur setelah mengunci pintu.


"Aish hampir aja di amuk nenek sihir." Ucapnya menatap langit-langit kamar.


Deena kembali menegakkan tubuhnya, menarik koper mini dibawah kasur.


Waktunya tak banyak, Ia memasukkan barang berharga milik dirinya dan Thalia, tak lupa juga berkas yang tadi di ambilnya kedalam koper.


Sekarang tujuannya menuju rumah belakang, tempat di mana mbok dan mang Dadang tinggal, setelah memastikan keadaan aman, Deena berjalan.


Tok tok tok.


Tampak pintu coklat itu terbuka, menampilkan Bi Marni lengkap dengan dasternya.


"Neng.."


"Mbok.. Deena minta tolong ya?" Ucap Deena berbisik.


"Masuk dulu neng." Deena mengikuti.


"Dee titip sebentar ya mbok, jangan tau siapapun, dalemnya barang milik mama." Ucap Deena memohon pengertian.


Bi Marni mengangguk antusias.


"Makasih mbok."


"Aman neng."

__ADS_1


Kali ini, Deena pulang kerumah Bakara bukanlah demi sang ayah, boro-boro dia mau dengan suka rela, di paksa pun ogah deh.


Pikirnya.


Waktu pun berganti malam.


Tok tok tok.


"Nona."


"Masuk." Titah Deena sambil memoles make up tipis di wajahnya.


Tampaklah maid membawa paper bag kedalam kamar.


"Kata nyonya muda, anda harus memakainya saat jamuan makan malam nanti." Ucap Maid itu.


Alis Deena mengernyit, sebelum pertanyaan terlontar dari bibirnya. Maid itu sudah pamit keluar.


Deena berdecak.


Tangannya membuka paper bag cokelat diatas meja. Kemarin mereka berniat menjebaknya dengan set berkabung.


Kali ini memang terlihat baik-baik saja. Tapi walau begitu, Deena acuh dan berjalan kearah lemari, mengambil gaun navy kesukaannya.


"Eh sayang.. sini nak turun sini." Ucap Ratih tampak seperti ibu yang sangat menyayangi anaknya.


Semua wajah menoleh kearah Deena.


Ekspresi pertama yang Deena beri adalah tatapan jijik yang samar, dan itu hanya bisa di baca oleh Ratih dan Laras yang saat ini tengah menunjukkan senyum palsu mereka.


Sungguh dalam hati Deena merasa. mana nih kamar mandi? Gue mual.


"Aduh ayo sini sayang, ngapain berdiri di situ aja." Ucap Ratih yang dengan tanpa dosanya, menarik tangan Deena dan menyeretnya kearah meja makan.


Saat ini dirinya sudah terduduk di kursi.


Matanya menatap sekeliling.


Kayanya jamuan makan kali ini ga bakal berjalan mulus.


Batin Deena sarkas.


"Nah, yang di tunggu sudah datang." Ucap Bakara menunjuk Deena.


"Ini toh anak tertuamu?" Tanya Silya tampak senang.


Terlihat lelaki disamping wanita yang Deena tak tahu siapa itu, tengah bertepuk tangan girang layaknya anak kecil.


Pakaian lelaki itu tampak seperti anak paud, dengan mainan-mainan disisi tubuhnya, Deena akui wajahnya tampan, namun dilihat dari sifatnya, lelaki itu tampak memiliki kelainan.


"Hahah iya jeng." Jawab Ratih antusias.


"Silahkan sambil dinikmati hidangannya." Ucap Bakara menjamu. Lalu mereka berbincang sambil menyantap hidangan.


"Nak, perkenalkan beliau pak Yoko, disampingnya tante Silya dan anak tunggal beliau Dion." Jelas sang ayah memperkenalkan. Tak paham apa faedahnya Bakara mengenalkan mereka, Deena tak ambil pusing.


Walau begitu Dia dengan sopan berdiri dan memperkenalkan diri.


"Halo om, tante, perkenalkan saya Deena Prameswari, mahasiswi di Universitas Angkasa." Ucapnya.


"Hahah sopan sangat sopan, cocok sekali dengan Dion." Ucap Yoko, yang Deena yakini sebagai kepala keluarga.


Alisnya mengernyit heran.


"Pa.. ada apa ini?" Tanya Deena menuntut jawaban.


To Be Continue >>>

__ADS_1


Tapi..👇🏻👇🏻


Cuma mau bilang, aku sayang kalian :*


__ADS_2