Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Tante Buah Strowberry


__ADS_3

"AKKKKHHHHH!!!!!!" jerit Wanda di dalam hati.


"Ck. Ini anak bikin gue pusing aja. Kalo gak karena gue cinta sama papanya udah gue cincang nih bocah. Sumpah deh!"


"Tante tante ayo kesana, mau Shan kasih liat gambarnya Shan. Kata papa gambar Shan bagus loh. Ayo tante Anda..." Shan sangat memaksa, dia sampai-sampai menggelandang tangan Wanda dengan kuat. Wanda merasa tangannya hampir copot sekarang.


Walaupun Wanda mengumpat dalam hati tapi dari luar perempuan itu tetap memasang wajah sumringah. Memperlihatkan senyumnya meskipun sebenarnya dia sangat tertekan.


"Shan udah Shan, tante Anda-nya capek habis kerja." Chandra yang datang dengan membawa dua gelas teh mencoba menghentikan aksi pemaksaan yang dilakukan oleh anaknya itu.


"Gak papa kok Chan. Ayo Shan, tunjukkin gambar kamu itu." ucap Wanda yang sangat berbanding terbalik dengan isi hatinya.


Shan mengangguk riang. Kemudian mempererat pegangannya pada tangan Wanda. Wanda kewalahan mengikuti langkah Shan yang berlari sangat cepat ini. Kaki Wanda sampai terkantuk beberapa anak tangga berkali-kali.


Sakit? Sudah pasti.


"Sial, awas aja ya bocah!" batinnya saat digelandang Shan menuju lantai dua.


Shan kini membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Mempersilahkan tante barunya itu untuk masuk ke dalam sana. Pertama kali yang Wanda saksikan ketika masuk adalah... Berantakan. Kondisi kamar itu sangat berantakan.


"What? Ini kamarnya Chandra?"


Sprei acak-acakan seperti habis terkena badai tornado, beberapa bantal bahkan berada dilantai. "Bukankah itu nanti kotor? Lalu Chandra memakai bantal itu untuk tidur? Hahhh, Chandra pasti akan terkena bakteri!"


Kedua mata Wanda terasa semakin berputar ketika melihat kondisi tembok yang berada disana. Sangat semrawut. Penuh dengan coretan abstrak yang membuat kedua matanya sakit ketika memandanginya.


"Ini semua pasti ulah bocah nakal itu!"


Wanda langsung merasa pusing seketika.


Tanpa sadar pantat Wanda telah duduk di ranjang milik Chandra dan Shan. Shan lantas duduk di sebelah Wanda, kemudian menyodorkan beberapa tumpuk kertas ke hadapan Wanda.


"Ini tante gambarnya Shan."


"Jelek gini..." batin Wanda.


"Gimana menurut tante? Bagus gak?" tanya Shan.


"Emm bagus kok bagus."


"Bentar-bentar ada lagi tan. Ini-ini, sama itu, bentar Shan kasih tunjuk yang lain juga." Anak kecil itu sibuk mengambil kertas-kertas hasil karyanya. Semua kertas ingin dia tunjukkan kepada Wanda.


Wanda memutar kedua bola matanya dengan malas. Dia benar-benar sangat lelah sekarang. Waktunya terasa terbuang sia-sia begitu saja.


Lebih baik Wanda tadi langsung pulang ke rumah. Melakukan aktifitas lain seperti merawat tubuhnya yang paripurna atau bermeditasi dengan ditemani lilin aromaterapi mahal seperti biasanya. Tidak seperti ini, terjebak bersama dirumah ini seketika langsung membuat kepalanya terasa sangat pening.


Wanda menyesal. Sangat-sangat menyesal. Andai saja waktu bisa diputar kembali, lebih baik tidak mengiyakan ketika tadi Chandra mengajaknya ke rumah laki-laki itu. Dia tidak benar-benar tidak menyangka jikalau bertemu dengan Shan, anak perempuan Chandra ternyata se-melelahkan ini.

__ADS_1


Apalagi detik pertama setelah dikenalkan oleh Chandra anak itu langsung berulah.


*Fl*ashback on...


"Shan kenalin ini temen papa. Namanya tante Wanda."


"Tante siapa?"


"Wanda."


"Anda?"


"Iya kamu boleh panggil aku tante Anda aja gakpapa kok Shan." ucap Wanda sangat manis. Senyum benar-benar tidak memudar sedikitpun dari wajahnya.


Shan lantas mendongak ke arah Chandra. "Kok namanya tante ini kayak ular yang gede itu sih pa?"


"Hah?"


"Itu loh pa, film uler malem-malem yang pernah kita tonton dulu. Masa papa lupa sih? Pokoknya ulernya guede terus makanannya manusia."


Chandra semakin mengernyit, sedangkan Shan berpikir sangat keras sampai kedua matanya terpejam rapat-rapat. Beberapa saat kemudian dia mendongak kembali seraya menjentikkan jari. "Aahh Shan inget. Uler gede itu namanya kayak tante ini. Anda... Andakonda.."


"Bukan andakonda Shan. Anakonda."


Flashback off*...


Chandra tiba-tiba masuk ke dalam kamar karena mendengar suara Wanda itu. "Ke-kenapa? Kenapa lo Nda?" tanyanya sedikit panik karena terkejut.


"Gak, gak papa kok Chan." ucap Wanda sembari mengulas senyumnya.


"Oh kirain tadi kenapa gitu." Chandra hanya khawatir jika Shan...


"ADUHHHH!!!"


Chandra kaget bukan main melihat Shan tiba-tiba menggigit pundak Wanda hingga perempuan itu mengaduh sangat keras.


Shan menyakiti perempuan itu. Inilah yang dikhawatirkan oleh Chandra.


"Shan kamu ini apa-apaan?!" Chandra segera menjauhkan Shan dari sebelah Wanda.


"Jangan nakal."


Ctut...


Satu cubitan sangat kecil langsung Chandra sematkan pada bokong gadis kecil itu. Shan tidak menjerit, dia hanya meringis sebentar lalu berkata...


"Gemes pa, ada buah strowberry di pundak tante Anda."

__ADS_1


Wanda dengan cepat langsung membenarkan posisi lengan bajunya yang entah sejak kapan melorot. Chandra seketika langsung paham, ternyata di bagian pundak Wanda terdapat tato gambar buah strowberry. Buah kesukaan Shan.


"Iya Shan, gemes boleh. Tapi gak usah sampai gigit kayak gitu, itu nakal namanya. Kasihan kan tante Anda-nya. Udah sekarang minta maaf ke tante Anda, cepet Shan." perintah Chandra kepada putrinya itu.


Shan kemudian menurut. "Maafin Shan ya tante. Shan gak sengaja tadi." Bocah kecil itupun salim dan mencium punggung tangan Wanda.


"Iya Shan, gak papa kok." ucap Wanda, yang padahal dalam hatinya sangat berbanding terbalik.


"Awas ya lo bocah!" Wanda benar-benar sangat dendam.


...^^^***^^^...


Aku dan Shan melambai ke arah taksi yang melaju meninggalkan area rumah kita.


"Dahh tante Andaaa! Dadaaaah!" seru Shan pada taksi itu. Yup, taksi itu yang mengangkut Wanda pulang ke rumahnya.


Aku sebenarnya sangat mau mengantarkan perempuan itu pulang, tapi ternyata mobilku yang tidak mau. Entah kenapa tiba-tiba mobilku tidak dapat dihidupkan mesinnya saat Wanda sudah duduk manis di kursi penumpang. Mobilku mogok, entah apa yang salah dengannya. Memang dasar benda butut. Dia benar-benar tidak bisa diajak kompromi.


Aku sampai sungkan dengan Wanda.


Baiklah besok aku akan menservisnya...


"Papa papa, rumahnya tante Anda itu dimana?" tanya Shan yang berjalan beriringan denganku memasuki rumah.


"Rumahnya disana, jauh. Kenapa Shan? Kamu pengen main ke rumah tante Anda ya?"


"Iya pa! Shan pengen main ke rumah tante Anda!"


"Oke-oke, kapan-kapan papa ajak Shan kesana."


"Beneran pa?"


"Iya beneran sayang."


"Papa gak bohong kan?"


"Gak Shan."


"Yeayyy!!!" Shan langsung memekik kemudian melompat-lompat kegirangan. Dia sangat bahagia sekali mendengar ucapanku itu.


Entah kenapa anak kecil ini tiba-tiba sangat antusias dengan Wanda. Dia terlihat sangat cocok dengan temanku itu. Bahkan baru saja berkenalan pun mereka sudah sangat lengket seperti telah mengenal lama. Kenapa ya?


"Shan suka ya sama tante Anda?"


Shan pun mengangguk.


"Iya, papa juga sama kayak Shan..."

__ADS_1


~tbc....


__ADS_2