Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Perasaan Canggung


__ADS_3

(masih) Rosa's POV


Tetesan air mata berjatuhan.


Aliran darah berwarna merah pekat tidak henti-hentinya berhenti.


Ditambah dengan teriakkan memekakan telinga membuatku seketika mematung di tempat.


Aku tidak dapat bergerak sama sekali. Tubuhku kaku dan rasanya... Serangan kecemasanku kali ini kambuh lagi.


Chandra yang berderai air mata dengan cekatan mengambil alih tubuh Shania yang masih berada dalam dekapanku. Chandra mengguncang-guncangkan tubuh kecil itu, memanggil namanya berulang kali, namun...


Tidak ada jawaban dari sang pemilik nama.


Tangan mungil Shania masih menggenggam erat tanganku. Hingga akhirnya genggaman kita berdua terlepaskan begitu saja karena Chandra melarikan anak itu menuju ruang gawat darurat.


Aku tetap bertahan di tempat. Kedua kakiku rasanya lunak setelah melihat Shania bersimbah darah. Aku tidak sanggup berjalan. Sungguh tidak sanggup. Sekujur tubuhku bergetar hebat dan terasa dingin.


Serangan kecemasan ini benar-benar menyiksaku. Selalu...


Perlahan kucoba untuk mengatur napasku. Tarik napas.... Hembuskan... Tarik lagi.... Hembuskan lagi...


Hingga akhirnya detak di dalam dadaku sudah tidak bergemuruh lagi. Akhirnya aku bisa mengontrol diriku.


Aku lantas berlari menju bangsal rumah sakit. Langkahku terhenti pada ruangan kaca yang menampilkan Chandra tengah menangis memilukan terpampang jelas di dalam sana.


"Chandra." Aku mencoba masuk ke dalam untuk menenangkannya, namun bukan itu yang berhasil aku lakukan.


Plakkkk


Tamparan keras mendarat di pipi kananku. Sangat keras hingga membuat pipiku terasa panas dan perih seketika. Tergores, ini pasti tergores. Sebuah cincin yang dikenakannya turut melukai pipiku.


"Berani-beraninya perempuan ini datang kesini!" teriak perempuan dewasa itu setelah mendaratkan tamparan.


Itu adalah kakak perempuan Chandra. Aku sangat tau, aku mengenalinya sejak dahulu kala.


"Keluar lo sekarang ******!"


Aku masih terdiam di tempat. Memegangi sebelah pipiku yang sekarang ini pasti berbekas telapak tangan merah. Sampai seseorang yang lain tiba-tiba datang dari arah belakangku.


Itu ibunya Chandra.


Seketika jantungku berdebar. Kedua mataku terasa panas, ada air mata yang mendesak keluar dari pelupukku.


"Ibu..." panggilku lirih.


Perempuan paruh baya itu hanya melihatku dengan ekspresi datar. Tidak ada suara apapun yang keluar dari bibirnya. Hingga akhirnya beliau memalingkan wajahnya dariku.


"Chandra tolong kamu tenang."


"Mama, Shan ma. Shan..." Chandra menyambut pelukan ibunya. Sang kakak juga segera bergabung, menenangkan Chandra yang menangis tersedu-sedu karena Shania tidak sadarkan diri.


Dalam hatiku aku hanya bisa berbicara lirih. "Chandra maafkan aku, aku tid**ak tau apa yang harus kulakukan sekarang..."


Rose's POV End


...***...


"Shan anak pinter, anak baik. Cepatlah sadar sayang..." ucap Dewi yang sedari 3 jam lalu tetap senantiasa menggenggam tangan kanan Shan.


"Iya Shan bangun dong. Shan ayo buka mata terus main. Kamu mau main sama kak Jimmy dan kak Salsa kan? Ayoo, tante nanti telpon mereka biar kesini."

__ADS_1


Yolla turut menyemangati Shan. Menggenggam tangan kiri anak itu, mengelus secara perlahan puncak kepala Shan. Berharap Shan segera bangun dari tidurnya.


Sedangkan Chandra. Chandra sang papa berdiri disisi ranjang, tempat bagian kaki Shan berada. Kedua mata Chandra terlihat sangat bengkak karena banyak menangis.


Chandra terus mengurut dan memijat kedua kaki mungil itu. Mentransfer hawa hangat pada kaki Shan karena kaki gadis kecil itu terasa sangat dingin.


Chandra membuka selimut yang menutupi kaki Shan sekilas, lalu menciumi setiap jengkal kaki putrinya.


"Shan bangun sayang, bangun..." Hanya itu yang Chandra gumamkan.


Dari kejauhan, Rosa melihat betapa Shan, anak kecil itu diperlakukan penuh dengan kesayangan oleh keluarganya.


Rosa begitu trenyuh. Dalam benaknya bersuara, "Berarti hanya aku yang tidak menyayanginya?"


Rosa kini merasa sangat menyesal. Menyesal karena menelantarkan Shan sedari dia lahir dahulu.


Ibu macam apa Rosa ini. Rosa mengutuk dirinya sendiri. Memukul-mukul bagian dadanya sendiri yang terasa sesak.


Karena sudah tidak sanggup menahan air matanya Rosa memilih untuk meninggalkan ruangan. Namun ketika dirinya membuka pintu, Rosa berpapasan dengan dokter Hans yang langsung menghentikan langkah kakinya.


"Jangan pergi dulu. Disini saja, minimal sampai Shan sadar. Kamu mamanya kan..."


Rosa mengangguki permintaan sang dokter.


Yang diharapkan akhirnya terjadi. Jemari kecil Shan perlahan bergerak. Dewi dan Yolla langsung berteriak refleks memanggil dokter Hans.


Dokter datang, lengkap dengan peralatan medisnya yaitu sebuah stetoskop dan langsung memeriksa keadaan Shan.


"Papa..." panggil Shan ketika membuka kelopak matanya.


"Iya sayang, papa disini." Chandra semakin mendekat. Shan minta dipeluk oleh sang papa.


"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Chandra.


Shan menggeleng perlahan. Sangat perlahan. Ini mengindikasikan bahwa kondisi Shan sekarang ini masih sangat lemas.


"Oke tidak apa-apa Shan, Shan pakai istirahat dulu ya nanti dokter resepkan obat."


Bukan Shan yang mengangguk, melainkan ketiga keluarganya yang mengagguk. Chandra, Dewi, dan Yolla mengangguk bersamaan.


"Ahh minum obat lagi." celetuk Shan yang membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut tertawa. Termasuk Rosa yang berada di pojokan.


Rosa langsung menahan senyumnya tatkala seluruh pasang mata mengalihkan pandangan ke arahnya.


Canggung.


Sangat canggung.


...****...


Pukul 12 siang telah lewat. Sekarang ini waktunya para manusia umumnya untuk beristirahat, atau tidak meluangkan waktu untuk berkegiatan mengisi perut masing-masing.


Krucuk-krucuk... krucuk...


Rosa memelintir bagian perutnya sendiri. Dia merasa lapar. Rasa laparnya berkali lipat karena sejak kemarin malam belum makan sebutir nasi pun.


"Nih silahkan..." Sebuah kotak bekal tersodor dari arah kanannya.


Rosa mendongak untuk melihat siapa yang memberinya makan siang itu. Dan ternyata dokter Hans.


"Terimakasih dokter."

__ADS_1


Sang dokter tersenyum. "Boleh saya duduk disitu?" Ijinnya pada ruang kosong yang tersedia di sebelah Rosa.


"Boleh." ucap Rosa lalu menggeser tubuhnya sedikit. Kini mereka berdua duduk bersama di bangku yang sama.


Dokter Hans ternyata belum makan siang juga. Dia turut membawa bekal satunya untuk dirinya sendiri.


Keduanya mulai menyantap makan siang mereka sembari melihat view taman rumah sakit yang rindang di depan mata.


Tanpa disadari ada sosok lain yang berdiri dari kejauhan melihat keakraban mereka. Sosok itu akhirnya berbalik badan. Chandra membawa kembali sebungkus nasi yang dibelinya dari kantin. Dia mengurungkan niatnya untuk memberikan makanan itu untuk Rosa.


Beberapa waktu berselang, setelah membersihkan kotak bekal yang dipinjamkan Rosa lalu mengembalikannya kepada sang punya.


"Terimakasih ya dokter Hans, saya akan membalas kebaikan dokter."


"Ah tidak perlu repot-repot, Ro—Rosa Widyatama."


Rosa terperangah sekilas. "Bagaimana dokter tau nama belakang keluarga saya?"


Dokter Hans hanya tersenyum, lalu melenggang pergi.


Rosa masih terdiam di tempat. Pikirannya melayang-layang, bagaimana identitasnya yang sangat privasi itu diketahui oleh orang. Padahal itu sangatlah privasi. Tidak sembarang orang yang tau. Atau jangan-jangan...


Dokter Hans bukan orang yang biasa.


Sore hari menjelang. Sekarang ini pukul 3 lebih seperempat. Rosa sedari tadi hanya duduk manis di atas sofa ruangannya Shan.


Tidak ada yang dilakukannya.


Shan tengah tertidur, jadi tidak ada teman yang diajak unuk berbicara.


Ceklek


Seseorang perperawakan jangkung masuk ke dalam ruangan. Itu Chandra, dia akhirnya datang. Entahlah laki-laki itu dari mana, pasalnya kepergiannya juga lumayan lama. Berjam-jam.


"Oh syukurlah Shan belum bangun." ucap Chandra, bermonolog.


Lagi-lagi keberadaan Rosa seperti tidak terlihat. Wujudnya ada, namun tidak dimanusiakan sama sekali.


Rosa akhirnya memberanikan diri. "Dari mana Chan?"


Chandra menoleh sekilas. Mencerna pertanyaan sederhana yang dilontarkan dengan suara yang sangat ragu-ragu oleh Rosa.


"Ada kepentingan di luar."


Rosa menghela napas. Baginya sangat bersyukur Chandra mau menjawab pertanyaannya.


Chandra melangkah menuju lemari kecil yang berada di sudut ruangan. Dia mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Sana kamu mandi, lalu ganti baju pakek bajuku aja." ucap Chandra sembari menyerahkan kaos pada Rosa.


Pakaian Chandra tidak ada yang berukuran kecil. Semuanya longgar, paling kecil adalah XL karena tubuhnya sangatlah menjulang. tinggi.


Chandra tau itu nanti akan kebesaran untuk Rosa, tapi ya apa boleh buat.


"Pakek aja, dari pada gak ganti sama sekali dari kemarin."


Rosa masih diam. Dia hanya melihat kaos yang mendarat ditangannya.


"Kalo gak mau ya gak papa. Kalo mau pulang buat ambil baju ya silahkan Sa."


Rosa menggeleng. "Aku pakek ini aja."

__ADS_1


Chandra melihat kepergian Rosa. Punggung itu akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi.


~tbc...


__ADS_2