
Deru napas nyatanya tidak bisa diatur. Kedipan mata pun demikian. Semuanya diluar kendali manusia. Jika kita mencoba untuk mengaturnya, maka kita akan lelah sendiri. Semuanya itu sudah ada yang mengatur. Semuanya telah tomatis. Dan kita sebagai manusia, kita hanya perlu mensyukurinya atas nikmat yang dapat kita rasakan.
Jangan lupa untuk tetap selalu bersyukur.....
"Shan? Shan sayang??" Chandra menyentuh tubuh kecil yang terlelap itu. Mencoba membangunkannya karena hari telah petang.
"Shan gak bangun? Shan udah tidur sangat lama loh. Bangun yuk, makan atau minum sayang..."
Shan membuka matanya. Chandra tersenyum sesaat lalu membantu tubuh kecil itu untuk duduk.
Tubuh Shan benar-benar sangat lemas. Entahlah sepertinya ini efek dari mimisan yang sangat banyak tadi pagi.
"Ma, mama ambilin maemnya Shan ya." pinta Chandra, pasalnya dirinya tidak bisa mengambilnya sendiri karena sedang memangku tubuh Shan.
Sosok yang dipintai akhirnya datang. Rosa membawa satu nampan yang berisi sepiring nasi lengkap dengan lauk omelet, lalu ada dot yang berisi susu hangat.
"Mama suapin Shan ya." pinta Chandra lagi.
Ya, Chandra sekarang memanggil Rosa dengan sebutan mama. Mamanya Shania.
"Ehh kok gak mau." Chandra menegur Shan yang memalingkan wajahnya tatkala suapan pertama yang diberikan Rosa telah berada tepat di depan mulutnya pas.
"Gak boleh gitu Shan. Shan harus maem." Chandra kini mengambil alih sendok dari tangan Rosa lalu mencoba menyuapu sendiri Shan.
Shan mau membuka mulutnya, namun...
Makanannya langsung dilepeh oleh Shan.
Chandra dan Rosa saling pandang-pandangan karena tidak mengerti.
"Kenapa sih sayang? Makanannya gak enak ya? Tapi ini omelet loh, kesukaan kamu Shan."
Shan tidak menyahuti ucapan papanya, anak kecil itu malah menangis.
"Ehh kok malah nangis sih?" Chandra merubah posisinya dan memilih untuk menggendong anak kecil yang mogok makan tersebut.
"Shan mau maemnya sambil digendong ya? Yaudah oke papa turutin. Ayo ma, coba suapin Shan lagi."
Shan menggeleng dengan cepat. Menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat tidak mau disuapi. Shan benar-benar tidak mau makan sama sekali.
Chandra seketika khawatir. Pasalnya sejak tadi pagi perut Shan tidak diisi apa-apa.
"Mik susu aja gimana pa?" Rosa memberi saran.
Baiklah Chandra menganggukinya.
Tidak sampai 5 menit akhirnya susu hangat berhasil dibuat oleh Rosa. Chandra lalu memberikan botol dot tersebut untuk Shan.
"Mimiknya sambil tiduran aja ya Shan." Chandra merebahkan tubuh Shan di atas bed.
Anak kecil itu tidak kunjung memasukkan kuncup karet dot tersebut ke dalam mulutnya lalu menyesapnya, Shan malah...
"Kenapa Shan? Itu susunya Shan. Shan lupa ya?"
Chandra mencoba mengingatkan kembali ingatan Shan barangkali anak itu lupa. Tapi Shan, Shan masih tetap menatap botol dot yang berisi susu penuh itu. Terus menatapnya.
Chandra mengambil kembali dotnya Shan, laki-laki itu kemudian mengecek benda tersebut.
Tidak ada yang aneh kok. Lantas kenapa Shan menatapnya seperti itu?
"Udah deh, ayo dimimik aja Shan." Chandra sendirilah yang memasukkan kuncup dot tersebut ke dalam mulut Shan.
__ADS_1
1 detik.
2 detik..
3 detikk...
"Huwekkk..."
Shan memuntahkan susu tersebut.
Secepat kilat Chandra mendudukkan tubuh Shan.
"Aduh kok dimuntahin sih Shan?" Chandra dengan sabar mengelap seluruh mulut dan leher anak kecil itu yang tak luput dari air susu.
Rosa segera mengganti pakaian Shan yang sudah basah dan terasa lengket tersebut.
Selesai digantikan kini keduanya diam tanpa bersuara. Hanya menatap ke arah Shan sembari merenung.
"Lalu jika Shan tidak mau makan dan minum susu, anak kecil itu maunya apa?"
Kurang lebih seperti itu isi renungan Chandra dan Rosa tersebut.
Kondisi tubuh Shan semakin melemah jika tidak dipasok makanan ataupun minuman. Mau tidak mau akhirnya Chandra dan Rosa meminta bantuan kepada petugas medis.
Shan akhirnya berakhir dengan dipasangi selang nasogastrik atau Nasogastric Tube (NGT). Sebuah selang khusus yang dimasukkan melalui hidung melewati tenggorokan lalu kerongkongan dan menuju ke dalam perut (lambung). Untuk memastikan posisi selang tidak bergeser, selang diplester di sisi wajah dekat dengan hidung.
Shan menangis menjerit-jerit tatkala benda tersebut dipasangkan oleh dokter. Sampai-sampai Chandra tidak tega dan memilih untuk pergi keluar sehingga Rosa-lah yang bersama anak itu hingga proses pemasangan selesai.
Hati papa mana yang tidak terluka melihat buah hatinya lagi-lagi bergelut dengan peralatan medis yang baru. Sakit, teramat sakit hati Chandra.
Untuk sekarang Shan tidak bisa makan atau minum melalui mulutnya. Melalui selang lah semua pasokan makanan dapat masuk, itupun hanya makanan tertentu. Hanya makanan yang telah dilembutkan.
Dokter bilang Shan mogok makan dikarenakan tenggorokannya membengkak, sehingga sulit digunakan untuk makan.
"Soal operasi kemarin, maafkan saya karena saya sudah tidak sesuai dengan prosedur."
Chandra dan Rosa seketika tertegun dengan perkataan dokter tersebut.
Memang itu yang ingin Chandra dan Rosa dengar dari mulut laki-laki paruhbaya berjas putih itu, ucapan permintamaafan.
"Iya dok, kita maafkan." ucap Chandra.
Dokter tersebut melihat ke arah Shan. Tatapannya seolah akan mengatakan hal yang buruk, dan dugaan itu ternyata memang benar adanya...
"Saya seharusnya jujur dari awal. Tidak seharusnya saya berbohong. Anak ini sudah tidak bisa disembuhkan."
Chandra bersusah payah mencoba menelan salivanya sendiri. Lagi-lagi hatinya diremat mendengar kenyataan yang teramat pahit yang dikemukakan oleh dokter. Bukan hanya dokter tersebut, dokter Hans pun juga sudah pernah mengatakannya.
Tiba-tiba Rosa dengan kasar mendorong bahu dokter tersebut.
"Apa yang kamu bilang?!" Dengan penuh amarah Rosa meneriaki dokter itu tanpa ampun.
"Tidak boleh kamu berbicara seperti itu! Tugasmu disini menyembuhkan Shan! Kenapa kamu malah berbicara seperti itu ha?! Kenapa kamu menyerah?! Kamu bilang kamu dokter kompeten! Kamu bilang kamu dokter hebat! Ayo buktikan! Saya sudah bayar kamu! Jangan lari dari tugasmu!"
Tampang kasihan dan memelas yang ditampilkan oleh dokter itu membuat Chandra iba. Chandra meraih tangan Rosa yang terus menerus mendorong dokter itu. Rosa akhirnya berhenti dalam kungkungan tangan Chandra. Dan detik itu juga Rosa menangis.
Buliran air mata yang jatuh itu membuat Chandra ikut berkaca-kaca. Tidak tega rasanya melihat perempuan rapuh itu untuk kesekian kalinya menangis.
Chandra segera mendekap tubuh Rosa. Membiarkan kepala Rosa tenggelam di dalam dadanya. Chandra meredam tangisan Rosa di dalam dadanya.
Hanya satu manusia kecil yang tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang terjadi untuk saat ini.
__ADS_1
Kenapa semua menangis? Kenapa terjadi sulut amarah dan pertikaian? Kenapa?
Shan hanya terdiam sembari melayang dalam pemikirannya sendiri.
......***......
Pemandangan taman yang terhampar di depan mata akan menjadi pemandangan yang selalu dikenang dalam ingatan Chandra. Mungkin sepanjang hidupnya.
Bermenit-menit Chandra terdiam, mengamati setiap jengkal yang terdapat pada taman rumah sakit tersebut. Menghirup setiap aroma udara yang melintasi hidungnya sebelum Chandra benar-benar meninggalkan tempat ini.
Ya, setelah berpikir matang-matang Chandra akhirnya memutuskan akan meninggalkan rumah sakit dan membawa Shan pulang ke rumah.
Rumah yang sangat dirindukan oleh Shan.
Sebuah tangan kecil tiba-tiba terulur dari arah belakang, menyentuh lengan Chandra. Laki-laki itu seketika menoleh dan mendapati Shan tengah digendong oleh Rosa.
Kedua perempuan itu menyusulnya di area taman.
Chandra mengambil alih tubuh Shan dari gendongan Rosa.
Dengan sangat hati-hati Chandra menggendong tubuh kecil itu lalu mengajaknya untuk ke tengah lapangan. Tepatnya ke tempat favorit keduanya biasanya menghabiskan waktu bersama. Bangku panjang yang berada ditengah, berdekatan dengan air mancur, sejak dulu adalah favoritnya.
Chandra memangku tubuh kecil itu. Sekarang Shan bisa menatap langit yang tidak silau dan sejuk di atasnya. Cuaca saat ini cenderung mendung, dan sepertinya akan turun hujan.
"Ming... Ming... Datanglah, Shan disini. Shan pengen ketemu sama kamu Ming." ucap Chandra.
Chandra berharap Shan bisa teringat kembali akan kucing liar yang menjadi peliharaannya itu. Chandra juga berharap kehadiran kucing itu akan membuat Shan merasa senang.
"Ming... Ming..." Chandra terus memanggil-manggil kucing itu walaupun keberadaannya tidak jelas.
Rosa bangkit dari posisinya, dirinya memiliki ide yang brilian. "Aku akan carikan makanan kucing dulu ya. Kucingnya pasti akan datang kalau mencium bau makanan." ucapnya kemudian berlalu seperti tujuannya.
Kini tersisalah Chandra dan Shan.
Chandra meraih lengan putrinya lalu mengangkatnya ke udara. Melihat setiap detail lengan itu. Lengan yang berubah menjadi sangat kurus dan kecil bahkan menyusut keriput. Penyakit Shan benar-benar sangat tidak main-main.
"Sakit sekali ya Shan?" Air mata Chandra seketika tumpah. Jatuh membasahi wajah Shan yang berada di bawahnya.
Gadis kecil itu hanya terdiam, menatap sosok sang papa tanpa bergeming sama sekali.
Sejak kemarin Shan tidak mengeluarkan suara apa-apa. Shan telah kehilangan kemampuan berbicaranya. Dan ini benar-benar membuat Chandra semakin terpuruk.
"Shan..." Untuk kali pertamanya Chandra menunjukkan tangisan akan penyesalannya hadapan Shan.
Penyesalan atas ketidakbecusannya merawat Shan. Sampai-sampai anak kecil ini harus menderita sakit yang parah ini.
Namun perlahan tangan Shan terangkat dan menyentuh pipi Chandra. Shan mengusap lelehan air mata Chandra menggunakan punggung tangannya.
Chandra berhenti terisak. Dia menatap Shan dengan lekat. Kedua bola mata Shan yang hitam legam dan bening seolah mengatakan.
"Papa cup... Jangan menangis. Shan tidak apa-apa pa. Shan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja..."
Hingga sebuah elusan halus yang terasa dikakinya membuat Chandra mendongak ke bawah.
Seekor kucing tiba-tiba muncul. Kucingnya Shan, Miming. Dia datang dan langsung menggesekkan kepalanya pada kaki Chandra.
Chandra mengambil tangan kanan Shan, lalu mengarahkan tangan kecil itu untuk terulur ke arah bawah.
Shan tersenyum ketika merasakan bulu yang halus itu mengenai tangannya.
Untuk yang pertama kalinya dan mungkin untuk yang terakhir kalinya juga akhirnya Chandra memperbolehkan Shan memegang kucing kesayangannya.
__ADS_1
Hal yang dirindukan Shan akhirnya telah lunas sekarang...
~tbc...