Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Bersenang-senang


__ADS_3

"Hiks... hiks... hiks... "


Shan merasa pegal di bagian lehernya. Semalaman mendongak ke atas, ke arah celah kecil jendela kamar mandi untuk melihat sedikit cahaya yang menerobos masuk ruangan benar-benar membuat leher Shan kelelahan. Namun Shan tetap bertahan diposisi itu demi menemukan sebuah sorot agar ruangan dingin ini tidak gelap gulita.


Papanya kenapa jahat? Papanya sudah sangat tahu Shan itu takut gelap, tapi mengapa melakukan hal yang demikian.


Shan memang salah, tapi tidak seperti ini caranya. Gadis kecil itu kembali menangis tersedu setelah memikirkan tindakan papanya ini.


"Papa, Shan minta maaf. Keluarkan Shan dari sini, tolong pa..." lirihnya dengan berlinang air mata.


Shan semalaman tidak bisa tidur. Terus menangis, suaranya bahkan telah serak sekarang. Dia kelelahan tapi belum bisa menutup matanya sedikitpun untuk tidur. Kamar mandi ini keramiknya sangat dingin. Shan tidak akan bisa tidur disini.


Sorot cahaya dari celah jendela yang tinggi itu berubah warna. Menjadi jingga yang cerah. Shan sangat tahu jika itu adalah warna langit sangat pagi hari. Shan tahu hari telah berganti pagi sekarang.


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, seseorang telah membukanya. Dan ternyata itu adalah Chandra.


Chandra tidak mengatakan apa-apa. Untuk masuk ke dalam ruangan kamar mandi ataupun membantu Shan untuk keluar pun tidak. Dia hanya membuka kuncinya kemudian berlalu.


Shan terdiam sesaat, melihat punggung sang papa yang kembali menghilang. Shan terheran, tidak biasanya sang papa seperti itu. Dimana kah pelukan hangat yang biasa dia dapatkan setelah dikunci seperti ini? Dimana?? Kenapa papanya kini berubah?


Shan dengan langkah kecil akhirnya keluar. Bocah kecil itu mengintip, mengendap-endap melihat aktifitas yang dilakukan Chandra di dapur.


Keadaan dapur sudah terlihat biasa saja. Sudah tidak ada gundukan ataupun ceceran busa seperti yang diciptakan Shan kemarin. Papanya mungkin sudah membersihkannya, pikir Shan.


Shan beralih memantau kembali Chandra. Chandra terlihat sibuk, entahlah sepertinya sedang menyiapkan sarapan untuknya. Mengetahui itu senyum Shan akhirnya tersimpul. Namun, itu tidak bertahan lama...


Sang papa ternyata membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Telur dadar yang baru saja matang itu ternyata dinikmati sendiri.


Shan meremas perutnya. Memeluk perutnya yang tiba-tiba gemerucuk keroncongan. Shan juga ingin sarapan.


Selesai makan Chandra berlalu, melewati Shan yang seolah tidak ada keberadaannya. Chandra menyambar handuknya kemudian pergi ke kamar mandi. Bahkan saat bersiap untuk berangkat bekerja pun Chandra tidak melirik sedikitpun ke arah Shan yang berada dalam satu ruangan kamar dengannya. Tidak ada kata pamit ataupun kecupan sebelum pergi bekerja yang disematkan untuk Shan.


Chandra benar-benar mendiamkan putrinya itu.


Pintu apartemen tertutup rapat, kini Shan kembali sendirian. Tempat ini seperti penjara bagi Shan. Sangat sepi dan sunyi. Bahkan ada Chandra pun percuma. Chandra sedang marah sekarang, dan tidak mau berbicara dengan Shan.


"Tidak apa-apa pasti papa nanti sore udah baikan. Shan yakin." ucapnya dengan mata berbinar.


Bocah kecil itu kemudian melenggang ke arah kamar mandi. Dia ingin melakukan aktifitas seperti biasa yang dilakukannya setiap hari, yaitu mandi.


"Aakh dingin." pekiknya. Ternyata air showernya sangat dingin hari ini. Biasanya jika Chandra yang memandikannya airnya tidak akan sedingin ini. Bagaimana ya cara mengatur showenya agar air yang dikeluarkan tidak dingin?


Ahh Shan tidak bisa. Shan akhirnya mengurungkan niatnya untuk mandi.

__ADS_1


Shan memakai kembali pakaiannya. "Eh tapi walaupun Shan gak mandi, Shan harus tetap gosok gigi sama ganti baju kalo kata papa." Shan teringat selalu akan pesan Chandra yang terdahulu, tepatnya saat Chandra belum marah.


Bocah kecil itu kemudian meraih sikat gigi mungilnya yang berada di wastafel, lalu segera menyikat giginya. Setelah giginya dirasa sudah bersih, Shan lantas menuju kamar. Dia menghampiri lemari pakaian tempat baju-bajunya disimpan.


Shan hari ini ingin memakai baju yang bagus. Sebuah gaun. Ini gaun yang Chandra belikan waktu itu, di mall. Gaun yang menurut Shan satu-satunya gaun yang sangat indah, yang dia miliki.


Namun Shan tidak bisa menarik resleting gaunnya itu. Resleting yang berada dipunggung itu sangat susah dijangkau. Biasanya sang papa lah yang membantunya. Tapi tidak apa, Shan sudah terlihat sangat cantik kok meskipun resletingnya belum tertutup.


Shan tersenyum manis di depan cermin melihat pantulan dirinya sendiri. Gadis kecil itu juga berputar-putar sangat riang disana bak cinderela. Kini dia berimajinasi tengah berada di suatu kerajaan kemudian mengikuti pesta yang meriah.


Shan amat bersenang-senang sekarang.


Tak berbeda jauh dengan Shan, Chandra pun kini juga tengah bersenang-senang. Bersenang-senang dengan versinya. Yaitu dengan Wanda.


Pemecatan yang dilakukan oleh bosnya ternyata tidak selamanya berakhir buruk bagi Chandra. Ternyata dengan dipecat dia menjadi memiliki banyak waktu dengan Wanda. Dengan tidak bekerja dia menjadi bisa menghabiskan banyak kegiatan dengan Wanda. Terlebih perempuan itu juga memilih untuk bolos kerja sekarang.


"Ahahahahaha jadi jadi gimana? Shan lo tinggalin gitu ya? Wkwkwk ya gitu sih, siapa suruh jadi anak bandel. Gak papa Chan, sekali-kali itu perlu kamu lakuin, biar dia gak manja."


"Stop, jangan bahas anak itu." Perubahan ekspresi yang terjadi pada wajah Chandra akhirnya membuat mulut Wanda terkatup. Wanda pun takut jika Chandra sedang dalam kondisi hati yang sangat tidak bisa ditebak seperti saat ini.


Padahal Chandra sendiri tadi yang curhat tentang anaknya, namun sekarang Wanda yang disuruh bungkam tidak boleh bersuara sedikitpun jika topiknya adalah Shan. Chandra benar-benar sedang labil sekarang.


Wanda mengambil tangan Chandra kemudian menggenggamnya dengan eram. Hati Chandra akhirnya sedikit melunak. Rahangnya yang mengeras kini sudah tidak terlihat lagi. Chandra sudah berubah menjadi Chandra yang seperti biasanya karena Wanda yang berhasil menjinakkannya. Entahlah, mungkin Wanda memiliki sebuah sihir tersendiri.


Chandra seketika melemparkan tatapan tajam.


Wanda-pun langsung tercekat. Apakah Chandra tidak suka dengan ajakannya itu???


"Kenapa harus nanti? Gak bisa ya sekarang aja???" ucap Chandra.


...***...


Hari telah berganti senja. Perubahan hari yang dirasa sangat cepat membuat Chandra sedikit frustasi. Namun apa boleh buat, dia pun tidak bisa bertindak apa-apa untuk merubah perputaran waktu yang sudah dikehendaki Tuhan ini.


Chandra dengan tubuh kelelahan melangkah menyusuri koridor apartemen. Dia sebenarnya sangat malas untuk pulang. Tapi entah kenapa, malam ini rasanya dia ingin beristirahat di apartemennya saja, tidak seperti kemarin yang tidur di rumah Wanda.


Sesampainya di depan pintu Chandra sudah dibayang-bayangi dengan keadaan ruangan apartemennya yang amburadul. Pasti seperti kapal pecah lagi. Seperti kemarin. Bersiap-siaplah untuk meluapkan amarah lagi Chandra.


Pintu akhirnya terbuka, namun....


Hal dalam bayangan Chandra ternyata tidak terjadi. Kondisi apartemennya masih aman. Semuanya masih rapi. Bahkan tidak telah terjadi keributan sekecil apapun disini.


Chandra akhirnya bisa bernapas lega.


Namun kemana bocah kecil itu? Kenapa keadaan ruangan sangat sepi? Dimana celotehannya? Dimana suara televisi ataupun tayangan di youtube yang suaranya sangat keras menggelegar? Kemana??

__ADS_1


Chandra mencoba mencari-cari keberadaan anak yang dimaksud. Dan ternyata, Chandra menemukan anak itu tengah terlelap di atas ranjang. Sepertinya anak itu kelelahan setelah bermain seharian, pikir Chandra.


Laki-laki itu lalu pergi mengambil handuknya untuk selanjutnya masuk ke dalam kamar mandi gue membersihkan tubuh.


Adzan maghrib berkumandang. Saat inilah biasanya jika Chandra tidak marah dia akan membangunkan tidur Shan, namun kali ini tidak. Chandra tidak peduli sama sekali, dia bahkan menjauh dan memilih untuk beristirahat di sofa ruang tamu karena ranjangnya digunakan oleh Shan.


Chandra menonton televisi disana, sembari menyeruput secangkir kopi panasnya. Hingga rasa kantuk yang teramat sangat tiba-tiba menghampirinya. Chandra akhirnya ketiduran begitu saja.


......***......


Chandra's POV


"Duk..."


Remot yang terjatuh melewati genggaman tanganku akhirnya berhasil membangunkanku. Aku terbangun dan langsung segar bugar seketika itu juga.


Dan ternyata sekarang ini telah pukul dini hari. Aku mengerjap beberapa kali, ternyata tidak terasa aku sudah tertidur cukup lama. Ahh pasti setelah ini aku tidak bisa tidur lagi.


Aku lantas mengganti channel tayangan televisi. Mencari acara yang lain, yang lebih menarik. Pandanganku yang mencoba fokus pada layar televisi tiba-tiba teralihkan pada sosok kecil yang terbaring di atas ranjang kamar.


Mau sefokus apapun, ternyata posisi bocah itu yang berada disana akhirnya membuyarkanku. Tidak ada yang menarik memang, hanya anak kecil yang tertidur pulas disana. Dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Tapi tunggu....


Kenapa dia masih bertahan dalam posisi yang seperti itu sejak sebelum aku ketiduran tadi?


Menyadari ada hal yang janggal, aku lantas bergegas menghampirinya. Aku melihatnya sangat dekat. Sepasang kelopak mata yang terpejam sangat damai.


"Shan..." Panggilan akhirnya terlontar dari mulutku setelah melihat sepasang bibir mungil itu tampak pucat.


Satu panggilan, namun tidak ada sahutan sama sekali.


"Hei Shan..." Panggilan untuk kedua kalinya, namun masih sama.


Tanganku akhirnya menyentuhnya. Tepat di bagian lengannya, rasa panas langsung berhasil kurasakan.


Dia demam, dan seketika aku dilanda kecemasan.


"Shan!" seruku masih mencoba membangunkannya. Aku semakin cemas ketika dia tidak mau membuka mata padahal aku sudah mengguncang-guncangkannya.


Aku meraih, menyingkirkan selimutnya lalu menaikkan tubuhnya ke atas pelukanku. Dan saat aku melihat ke arah pakaiannya... Banyak sekali bercak noda darah yang berada disana.


"Shan! Kamu kenapa?!!!!" jeritku dengan berderai air mata.


"BANGUN SHAN!"


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2