Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Duniaku Runtuh


__ADS_3

Brankar di dorong cepat, melintasi koridor rumah sakit yang telah sepi. Anak kecil itu harus bergegas dibawa ke ruang gawat darurat untuk mendapatkan tindakan demi menyelamatkan nyawanya.


"Shan..." Suara Chandra kian melirih. Laki-laki itu sudah tidak bisa berteriak lagi karena dadanya terasa teramat sesak. Chandra seperti kehilangan kontrol akan dirinya, bernapas pun sulit dilakukannya. Dipikirannya saat ini hanya satu, fokusnya saat ini hanya terpusat pada satu... Shan, putrinya. Dia tidak ada respon sama sekali.


Tangan Chandra sedari tadi tidak bisa lepas menggenggam erat tangan mungil putrinya. Chandra memanggil-manggil nama Shan, mencoba menyadarkan anak kecil itu terus menerus.


"Shan, papa mohon... Bangun. Jangan bikin papa takut, Shan!"


Chandra di hadang di depan pintu kaca pas. Dia tidak boleh ikut masuk ke dalam ruang tindakan. Hanya sebatas ini, biarkan para tenaga medis yang turun tangan sekarang.


Chandra yang telah berlinang air mata itupun mengangguk. Dia mencoba untuk patuh meskipun disini perasaannya akan semakin terlukai. Bayangkan saja, menyaksikan anak semata wayangnya mendapatkan tindakan dari para petugas medis di depan matanya. Hati orang tua mana yang tidak teriris ha??Terlebih Shan masih lah sangat kecil.


Tangis Chandra tidak bisa terbendung kembali. Air matanya kian mengalir deras melihat dokter dengan mudahnya menghunuskan jarum suntik pada kulit lembut milik Shan. Padahal Chandra sangat mencegah hal itu. Tidak boleh ada satu benda pun yang menyakiti Shan. Tidak boleh!


Tapi sekarang, semuanya percuma. Jarum-jarum suntik itulah kini pemenangnya. Shan pasti jika dalam kondisi sadar akan meronta. Dia akan menangis histeris dan minta dilepaskan saat ini juga.


Kedua kaki Chandra mendadak melemas, untuk berdiri dengan tegap pun rasanya sudah tidak kuat lagi. Tapi dia tidak boleh lemah, dia tidak boleh pingsan disini. Saking tidak kuatnya berdiri, Chandra sampai harus bertumpu pada pintu kaca yang berada dihadapannya itu.


Chandra menempelkan tangannya disana, mencoba tetap bertahan sembari masih memanggil-manggil nama putrinya.


"Shan! Shann! Please papa gak suka kamu kayak gini!"


Chandra melihat sendiri bagaimana tangan-tangan petugas medis itu memberikan tindakan pada putrinya. Terlihat sangat kasar, tapi Chandra tau itu demi Shan, walaupun dirinya sangat tidak tega dan sakit hati menerimanya.


Baju Shan kini digunting paksa. Dilepas begitu saja lalu di buang asal ke lantai. Chandra tau itu pakaian kesukaan Shan. Pakaian yang sudah tak luput dengan noda darah itu entah kemana sekarang. Terinjak, tertendang kesana kemari dan akhirnya hilang dari pandangan Chandra.

__ADS_1


"Gak papa Shan, itu hanya baju. Papa bisa belikan kamu baju yang kaya gitu lagi ratusan nanti. Tapi please, kamu bangun..."


Chandra memang tidak bisa mendengar suara apapun dari balik ruangan berlapis kaca itu. Tapi Chandra dapat memastikan, sesuatu yang tidak baik tengah terjadi disana.


Monitor yang terpampang tepat di samping tubuh Shan menunjukkan grafik yang tidak stabil. Naik, turun, bahkan garisnya nyaris lurus. Orang awam pun bisa memahaminya, begitupun Chandra.


Chandra semakin histeris tatkala seorang dokter mulai menekan-nekan dada Shan berulang kali. Chandra takut, benar-benar sangat takut.


"Enggak Shan, enggak! Please jangan tinggalin papa! Papa mohon! Papa gak punya siapa-siapa lagi Shan! Shan!!!!" jerit Chandra sebelum semuanya berakhir gelap gulita. Laki-laki ini akhirnya kehilangan kesadaran.


......***......


"*Ma, dia tangannya lucu ya. Gimana bisa tangannya segemes ini. Jari-jarinya bengkak hihihi."


"Hmm... jadi gitu ya ma*."


"Pak bangun pak!" Chandra seketika membuka matanya. Ingatan tentang masa lalunya seketika hilang dalam sekejap. Sampai mana dia tadi memutar kenangan saat putrinya masih bayi, entahlah Chandra tidak ingat. Dan tunggu... tunggu...


Ini Chandra berada dimana? Ruangannya terlihat sangat asing. Siapa sosok yang membangunkannya tadi?


"Sus—suster?" Dilihat dari pakaian seseorang yang membangunkannya tadi itu, Chandra akhirnya tau bahwa orang itu adalah seorang suster. Perawat rumah sakit.


Chandra benar-benar lupa kejadian yang baru saja terjadi. Dan kini kepalanya terasa sangat pening karena dipaksa untuk mencoba mengingat.


"SHAN!" pekiknya saat dirinya telah seratus persen sadar.

__ADS_1


Chandra sudah tidak dapat dicegah lagi. Laki-laki itu langsung loncat dari atas bed tempatnya terbaring selama pingsan, dan langsung entah menuju kemana.


Dia sangat sok tau Shan-nya saat ini tengah berada dimana.


"Bapak tenang dulu, tenang..." ucapan perawat seolah hanya angin lewat bagi Chandra. Chandra tidak peduli sama sekali, kakinya terus melangkah walaupun tidak tau arah.


Hingga akhirnya dia berhenti tatkala berjumpa dengan Ken yang berada di lorong koridor.


"Chandra." panggil Ken yang langsung menyambut tubuh Chandra. Rangkulan hangat yang diberikan Ken membuat perasaan Chandra menjadi berkecamuk.


Kenapa? Kenapa Ken tiba-tiba merangkulnya seperti ini? Sangat tidak biasanya.


"Chan, lo sabar ya. Lo harus tegar."


"Ada apa? Ini ada sebenarnya ada apa? Shan-ku kemana? Shan-ku ada dimana kak??"


"Tenang dulu. Tenangin diri lo, baru gue kasih tau."


"KASIH TAU SEKARANG!"


Ken seketika menghela napas panjang. Dengan suara bergetar, Ken akhirnya memberanikan berbicara, "Shan koma."


Dunia Chandra seakan runtuh saat itu juga.


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2