Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Istirahat


__ADS_3

Aku menerobos pintu dan langsung mendapat hujanan tatapan dari beberapa pasang mata.


Para anak kecil itu yang tadinya sedang melakukan senam kebugaran jasmani kini menatapku dengan situasi hening. Mereka hanya melongo. Entahlah mungkin karena sangking terkejutnya sebab kedatanganku yang langsung nyelonong masuk secara tiba-tiba.


Hingga satu guru melambai ke arahku. Aku pun segera menuju ke arah guru perempuan tersebut. Sepertinya dia yang meneleponku tadi.


"Shan-nya ada di kamar mandi pak."


Aku langsung bergegas menuju kamar mandi yang dimaksud. Tetapi anak-anak lain malah mengikutiku.


"Hus huss sana senam lagi aja." usirku namun tidak mendapatkan tanggapan apa-apa.


Sebuah gagang pintu berhasil kugapai. Itu pasti gagang pintu milik kamar mandi yang dimaksud guru tadi. Aku lalu masuk dan langsung menutup pintunya dari dalam agar anak-anak PAUD itu tidak terus mengikutiku.


"Shan!" panggilku ketika melihat Shan sedang muntah-muntah tepat di kloset. Dia muntah sendiri. Kedua tangannya memegangi lubang kloset yang berada di hadapannya dengan sangat erat. Bocah kecil itu mengeluarkan semua isi dari perutnya. Tidak henti-henti.


Ada satu guru yang menemani Shan dalam ruangan ini.


"Maaf pak, tapi Shan-nya gak mau disentuh." ucap guru itu.


"It's okay. Biar saya aja." Aku lalu mendekati Shan. Memegangi rambutnya ke belakang agar tidak terkena muntahan, dan satu tanganku lagi mengurut tengkuknya.


"Papa..." panggil Shan dengan cucuran air mata. Tidak, dia tidak menangis, itu adalah air mata yang secara otomatis keluar karena muntah-muntah.


"Iya papa disini sayang. Gak papa iya Shan muntah aja biar lega..."


Kurang lebih setengah jam-an akhirnya Shan berhenti muntah. Dia sekarang lemas sekali. Aku memangkunya sembari membersihkan sisa muntahan yang masih ada disekitar mulut dan dagunya.


Guru Shan juga membuatkannya teh hangat dengan harapan perut Shan lekas nyaman.


"Setelah ini kita pulang ya, istirahat." ucapku saat meminumkan teh hangat itu.


"Ta-tapi Shan masih mau sekolah pa..." Kedua mata Shan mulai berkaca-kaca ketika mengatakan kalimat itu.

__ADS_1


Iya aku tau. Memang sekolah adalah kegemarannya, tapi kalau dia baru saja muntah-muntah dan keadaannya sekarang ini sudah lemas bagaimana mau lanjut sekolah ha??


Guru Shan kemudian mendekat. Memegang tangan mungil Shan dengan lembut. "Shan, lebih baik kamu pulang dulu ya nak. Hari ini gak sekolah gak papa, ibu guru maklumi karena Shan lagi sakit. Besok aja Shan sekolahnya, kalau sudah membaik nak. Gak papa Shan, Shan gak akan ketinggalan temen-temennya. Ibu guru janji deh..."


Shan terlihat berpikir sebentar. Hingga akhirnya sebuah anggukan berhasil dia berikan sebagai tanda setuju untuk pulang.


Ibu Guru Shan mengambilkan tas sekolah Shan lalu memberikannya kepadaku.


Aku kemudian mengulurkan kedua tanganku hendak menggendong Shan, tapi ternyata dia menolak. Bocah ini tidak mau aku gendong.


"Shan ayo papa gendong, kamu lemes." ucapku. Memang benar Shan lemes. Lihat Shan jalan aja kayak mau ambruk.


"Tapi Shan malu kalo diliat temen-temen Shan. Shan bisa jalan sendiri kok pa."


Aku dan ibu guru hanya bisa saling pandang-pandangan.


"It's okay..."


Aku akhirnya menuruti kemauan bocah itu. Aku hanya menjaga Shan dari belakang. Shan dituntun ataupun digandeng tangannya saja tidak mau.


Sesampainya di luar kelas. Sudah benar-benar jauh dari jarak pandangan teman-temannya, aku langsung menarik Shan ke dalam gendonganku. Sambil kugendong menuju perjalanan pulang, ya sedikit kumarahin sih dia.


"Kamu tuh ya jangan keras kepala kalo dibilangin papa. Sakit lagi kan."


Aku memang sudah melarangnya pagi tadi untuk berangkat sekolah. Karena kan Shan kemarin baru saja demam, dan menurutku belum membaik sepenuhnya. Tapi ya kan tau sendiri jika dia sudah punya kemauan ingin sekolah, ribuan larangan yang kuucapkan pun tidak berlaku untuknya.


"Besok-besok ngeyel lagi aja biar pingsan di kelas hmmm... cup." Aku mencium keningnya dengan gemas.


......***......


Sesampainya di kamar rawat Shan langsung kugantikan pakaian lalu kubantu cuci tangan dan kaki kemudian kukeloni di bed nya.


Shan harus tidur. Ingat kata gurunya tadi, Shan harus istirahat agar lekas membaik.

__ADS_1


Shan tadi sudah kutawari makan, barangkali dia mau meskipun ini bukan jamnya untuk makan. Soalnya dia tadi muntah banyak sekali kan, perutnya pasti kosong. Akan tetapi dia tidak mau. Sepertinya perutnya belum enakan, belum nafsu untuk makan. Ya sudah nanti saja kalau sudah bangun tidur.


"Heh ayo bobo..." kataku pada bocah yang tangannya sekarang ini sedang memainkan daun telingaku.


Geli tau Shan...


Aku mem-puk-puk pantatnya. Berharap dia segera terlelap. Apa perlu kunyanyikan lagu nina bobo agar lebih cepat bobonya? Ahh jangan, aku tidak bisa bernyanyi.


Shan masih terus-terusan menatapku dengan mata bulatnya itu. Dia sepertinya tidak ngantuk sama sekali. Kayaknya percuma deh mencoba menidurkannya seperti ini.


Eh tapi jangan menyerah dulu. Pokoknya sekarang ini dia harus tidur. Titik.


Aku akhirnya yang diserang hawa ngantuk. Mataku tiba-tiba terasa sangat berat dan ingin terpejam. Shan malah mengelus-elus alisku menggunakan jemarinya, membuatku semakin merasa mengantuk.


"Shan, kamu belom mau bobo ya?" tanyaku dengan kesadaran yang tinggal beberapa watt.


Aku melihat gelengan kepala kecil yang diberikan padaku.


"Yaudah papa bobo dulu aja ya. Bentar 5 menit. Kamu jangan kemana-mana." Tanganku yang sudah tidak kuat lagi untuk menepuk pantatnya kemudian turun. Aku memilih untuk melingkarkan tanganku pada tubuh kecilnya. Memeluknya.


"Papa papa... Tante Anda kok gak pernah kesini jenguk Shan?"


Deg!


Entah dapat hasutan darimana tiba-tiba Shan menanyakan akan hal itu. Apa anak ini tau kalau papanya ini baru saja bertengkar dengan Wanda?


Ada ikatan batin dari mana Shan dengan Wanda?


Ahh tidak tidak. Mungkin cuma kebetulan. Lagi pula aku sudah selesai dengan perempuan itu. Aku sudah tidak mau melihat wajahnya lagi.


"Paa?" panggil Shan.


Aku tidak menyahutinya. Aku memilih untuk pura-pura tidur daripada harus membicarakan perempuan biadab itu pada anakku.

__ADS_1


~tbc....


__ADS_2