
Pagi hari menjelang Shan tantrum. Anak kecil itu menangis dan mengamuk ketika baru saja bangun tidur.
"Ih Shan kenapa sih sayang?"
"Hua hua huaaa!"
Chandra langsung turun tangan, segera menggendong putrinya tersebut dan menenangkannya. Namun nyatanya itu semua tidaklah membuahkan hasil.
Shan minta diturunkan. Turun, pokoknya turun. Tidak mau digendong seperti itu. Anak itu malah semakin mengamuk dan menyakiti yang menggendongnya.
Alhasil Chandra segera menurunkannya.
"Udah, mau apa sekarang kalo turun?"
Shan menggelosor di lantai. Ya, Chandra menurunkan anak rewel itu di lantai dengan maksud biar Shan mengeksplor segalanya, biar Shan puas menuntaskan seluruh emosinya itu. Dan benar, lima belas menit berlalu akhirnya Shan mau berhenti menangis.
Dengan sisa-sisa sesenggukan, Chandra lalu mengangkat tubuh kecil itu.
"Gimana? Udah puas apa belum? Siapa suruh kamu nangis kayak gitu hmm? Papa gak suka ya kalo kamu ngamuk-ngamuk kayak gitu lagi. Papa tinggal nih."
Shan menggeleng. "Enggak, Shan jangan ditinggal hiks."
Chandra menghela napas panjang lalu mendekap tubuh Shan yang masih sesenggukan hebat itu. Menangis 15 menit, pastinya akan menyisakan sesenggukan seperti ini.
"Udah ya, sekarang kita mandi sayang. Hihh udah bau kecut nih." ucap Chanyeol sembari mengendus puncak kepala Shan sekilas.
Air hangat sudah disiapkan Dewi. Sudah ditaruh di dalam ember dan tinggal digunakan untuk mandi.
Chandra segera melepas semua pakaian yang melekat pada tubuh Shan.
"Aduh Shan ini kenapa?" pekik Chandra ketika melihat ke arah kulit Shan yang penuh bekas garukan. Bukan garukan lagi, melainkan cakaran.
"Ini kamu gatal ya?" tanya Chandra pada anak kecil yang berada di atas pangkuannya itu.
Shan hanya mengangguk, lalu meraba bagian tubuhnya untuk digaruk lagi.
"Eits udah udah, jangan digaruk. Berdarah nih."
"Tapi gatal banget pa."
Chandra meringis. Semua luka Shan ini pasti akan perih jika terkena air nanti. Bagaimana cara mengakalinya ya?
Tidak ada. Chandra pun juga tidak tau.
"Hiks hiks sakittt." Benar kan, Shan langsung merintih ketika basuhan air mengenainya.
Chandra sangat tidak tega sebenarnya, tapi ya mau bagaimana lagi. Laki-laki itu segera mempercepat kegiatan memandikan Shan, lalu segera mengeringkan tubuh Shan.
"Papa pakein minyak kayu putih ya?"
"Eh ya jangan Chan. Perih sekali itu nanti." Dewi langsung mencegah.
"Terus gimana dong ma? Soalnya sama Shan masih digaruk terus ini." ucap Chandra sambil menahan tangan Shan yang berusaha keras untuk tetap menggaruk seluruh bagian tubuhnya.
Rosa bak malaikat penyelamat datang. Sepertinya Rosa telah mendengar semua keluhan yang terjadi, buktinya Rosa mengulurkan sebuah salep di tangannya.
"Diolesin ini aja. Ini salep yang waktu itu, katanya bisa kok digunakan buat luka karena gatal-gatal juga. Dokter Hans yang bilang."
Dokter Hans, dokter Hans, dokter Hans. Rasanya kuping Chandra ingin meledak sekarang. Tidak adakah nama orang lain yang bisa Rosa ucapkan selain dokter Hans?
"Yaudah buruan pakein. Shan-nya keburu kedinginan. Lama bener sih." ketus Chandra. Seperti perintah Chandra, Rosa langsung berusaha dengan cepat mengoleskan krim salep tersebut pada setiap luka bekas garukan di tubuh Shan.
"Gak perih kan Shania?" tanya Rosa dengan jemari lembut yang masih mengoles.
"Enggak kak. Oiya kak Rosa darimana aja sih kok sekarang Shan sering ditinggal? Apa sekarang kak Rosa udah gak suka ya sama Shan? Shan salah apa ya kak?"
Rosa menundukkan wajahnya. Dirinya sangat tahu jika saat ini pasti tatapan Chandra mengintimidasinya. Chandra pasti juga mendesak jawaban apa yang akan Rosa berikan atas pertanyaan Shan tersebut.
"Maaf Shania, maafkan saya."
"Lohh kok kak Rosa malah minta maaf sih." Shania membelalakkan matanya, anak kecil ini benar-benar tidak mengerti dengan maksud permintaan maafnya Rosa.
"Shania gak ada salah. Saya yang sebenarnya ada salah. Sayalah sumber masalah disini."
"Udah udah!" bentak Chandra secara tiba-tiba. Chandra lalu mengambil pakaian Shan yang berada disebelahnya. "Udah ayo pakai baju aja. Masuk angin nanti kamu Shan."
Semua pembicaraan teralihkan pada saat itu juga.
__ADS_1
...***...
Pukul 12 lebih 15, ketika Chandra tengah mengeloni Shan agar gadis kecil itu tidur siang tiba-tiba Rosa masuk dan menghampiri keberadaannya.
Chandra dengan posisi miring menghadap ke arah pintu masuk dapat secara jelas melihat kedatangan Rosa. Laki-laki itu heran. Kenapa sekarang Rosa menghampirinya? Dia akan mengajak berbicara apa? Apakah dia tidak melihat jika tepukan puk puk pada pantat Shan belum berhenti? Tepukan yang mengisyaratkan jika memang Shan belumlah sepenuhnya tertidur.
Kedua tangan Rosa yang terkepal terasa berkeringat. Perempuan itu juga tidak ingin mengganggu tidur siang Shan, namun pesan yang tengah dibawanya sekarang ini juga menyangkut tentang kebaikan.
"Ada apa sih?" Chandra akhirnya angkat suara. Namun masih dalam volume yang pelan, nyaris berbisik.
Rosa terbata-bata dalam berucap karena takut. Siapa yang tidak takut jika berhadapan dengan manusia seperti Chandra. "A-aku hanya mau menyampaikan. Ka-kamu disuruh ke ruangannya dokter Hans."
Chandra refleks memejamkan matanya sejenak. Lagi-lagi dokter Hans, Chandra sudah sangat muak.
"Iya, nanti aku kesana." ucap Chandra namun itu semua tidak membuat Rosa berlalu dari hadapannya.
"Ada apa lagi ha?" tanya Chandra dengan ekspresi alis yang saling tertaut.
"Dokter Hans minta tolong sekarang Chandra. Karena ini mendesak."
"Ck."
...
Puluhan langkah kaki Chandra ambil. Hingga akhirnya sampailah laki-laki itu di ruangan tempat yang sangat mendesak, katanya Rosa.
Dokter Hans tiba-tiba membukakan pintu seolah kedatangan Chandra telah terendus pada indera penciumannya.
"Pak Chandra silahkan segera masuk."
Chandra yang masih dengan ekspresi dingin dan kaku tersebut masuk ke dalam seperti titah sang dokter. Namun...
Alangkah terkejutnya Chandra mendapati ada beberapa dokter lain yang ternyata tinggal di ruangannya dokter Hans.
Dokter-dokter tersebut yang Chandra hitung jumlahnya ada 6 orang duduk dengan rapi di atas sofa, mereka melingkar menghadap ke sebuah meja kaca yang berada di hadapannya.
Chandra oleh dokter Hans dipersilahkan duduk disalah satu ruang pada sofa yang tersisa.
"Pak Chandra perkenalkan, mereka adalah dokter Chris, dokter Bagas, dokter Albert, dokter Frans, dokter Kusuma, dan dokter Damar."
Chandra dalam hati menjerit. 'Kenapa tidak langsung saja pada intinya??'
"Kalian bukannya dokter dari RS ini?" tanya Chandra.
"Benar pak Chandra. Semuanya memang dokter dari RS ini." jawab dokter Hans.
"Lalu?"
Dokter Hans hendak membuka mulutnya lagi, namun salah satu dokter tersebut mendahuluinya.
"Begini pak Chandra. Disini kamu akan memberikan tindakan pada pasien atas nama Shan, putri bapak."
Chandra mengernyit dan refleks melemparkan tatapannya pada dokter Hans.
"Ke-kenapa kalian? Dokternya Shan bukannya cuma dokter Hans ya? Kalian memangnya punya wewenang apa?"
Dokter Hans mendadak panik. Bimbang sekali harus berbuat apa sekarang karena seperti biasa emosi Chandra sudah mulai memanas.
Salah satu dokter itu menyunggingkan senyumnya. Antara terima atau tidak terima atas perkataan Chandra yang cenderung menurunkan harga diri mereka sebagai dokter.
'Wewenang apa?' Huhh, Chandra harusnya menghindari kata-kata yang kurang pas.
"Tolong dengarkan dahulu pak Chandra." ucap dokter Hans sembari merangkul pundak Chandra dengan hangat.
Chandra akhirnya menghela napas panjang tanda emosinya telah melebur.
Beberapa dokter mulai membuka map-map mereka. Satu persatu lembar dari tempat tersebut dikeluarkan dan ditunjukkan pada Chandra di atas meja.
Penjelasan demi penjelasan teruraikan. Chandra menyimaknya. Sangat serius, apalagi ini menyangkut tentang putrinya.
Berjam-jam telah terlewati. Dari situasi tegang menuju situasi yang lebih melunak telah dilalui. Sangat lama memang waktu yang digunakan untuk berdiskusi, hingga akhirnya timbul satu kesimpulan maksud dari adanya diskusi tersebut.
"Bagaimana pak Chandra, apakah bapak setuju jika dilakukannya operasi?" tanya salah satu dokter.
Chandra masih terdiam, menatap satu lembar yang merupakan hasil rontgen otak Shan. Satu bagian yang dilingkari dengan tinta pulpen itu membuatnya terfokuskan.
"Pak Chandra?" Dokter Hans menyentuh pundak Chandra karena khawatir laki-laki itu tidak kunjung menjawab.
__ADS_1
"Pak Chandra??"
"Kenapa gak dari dulu?" Pertanyaan yang dilontarkan Chandra secara tiba-tiba membuat seisi ruangan menjadi hening dan membeku.
Chandra dengan kasar melempar lembar tersebut ke atas meja. Dengan raut wajah yang tajam dia menatap semua dokter-dokter tersebut tanpa terkecuali.
"Kenapa membuat putri saya menunggu? Kenapa membuat putri saya harus menahan sakit selama ini? Kenapa ha?!"
Dokter Hans mengisyaratkan Chandra untuk tenang, tapi semuanya percuma.
"Jadi selama ini saya sama Shan cuma dibohongi sama RS sialan ini ya? Disini cuma ngulur-ngulur waktu, ngabisin uang iyakan??"
"Pak Chandra mohon tenang dulu, tidak seperti itu mekanisme-nya. Kami tidak boleh asal mengambil tindakan, kami perlu mempelajari."
"HAHA mempelajari??? Gak salah? Kalo mau belajar sana di tempat lain! Kenapa harus Shan-ku yang jadi kelinci percobaan???"
Bleng!
Chandra keluar dengan membanting pintu sangat keras. Dirinya benar-benar kalut dalam emosinya.
"Chandra bukan seperti itu..."
Suara lembut tersebut sontak mengagetkannya. Chandra berbalik dan ternyata dibelakangnya telah ada Rosa. Entah sejak kapan Rosa berada disana, dirinya tidak menyadarinya.
"Lo kok disini ngapain? Bukannya ngelonin Shan?!" Chandra hampir emosi lagi, namun tangan Rosa yang secara tiba-tiba menggenggam tangannya langsung membuatnya tercekat.
Chandra hendak menghempaskan tangan itu, akan tetapi...
"Chandra please dengerin penjelasan aku dulu."
Chandra mengernyit tidak paham.
"Shania akan sembuh, Shania akan kembali bisa melakukan aktivitasnya seperti anak-anak lain. Shania akan bisa bersekolah lagi kalau dia dioperasi."
"Bohong Rosa!"
Deg.
Kedua mata Rosa sontak berkaca-kaca. Bentakan Chandra benar-benar menghunus hati kecilnya.
"Kamu tau apa tadi yang dibilang dokter-dokter br*ngs*k di dalem? Kemungkinan tingkat keberhasilan operasi Shan hanya kurang dari 20% persen. Dan lihat sekarang kondisi Shan? Kondisi Shan sudah seperti itu! Mereka semua cuma nipu gue sama Shan Sa! Mereka ngulur-ngulur waktu sampek sekarang buat apa? Cuma buat Shan semakin sakit! Dan sekarang mereka dengan mudahnya bilang Shan akan dioperasi. Dikondisi Shan yang udah seperti ini! Kenapa gak dari dulu haaa?? Sekarang Shan udah lemah Sa! Shan udah lemah... Apalagiiii... Arrrrrgggghhhh... Hiks..."
Sebuah isakan akhirnya terdengar. Tubuh jangkung itu perlahan membungkuk dan menghambur di atas permukaan lantai.
Chandra tidak kuasa menahan tangisannya hingga memilih menumpahkan segalanya tetesan air matanya di lantai.
"Gu—gue cuma takut Sa... Hiks..."
Sangat berat. Kenapa semuanya terasa berat dalam kehidupan yang fana ini?
Kenapa? Kenapa dari banyaknya manusia yang hidup harus Chandra dan Shan yang menanggung beban seberat ini. Kenapa??
Linangan air mata saling beradu. Dua-duanya seolah berebut, milik siapakah yang akan lekas membanjiri permukaan lantai. Chandra ataukah Rosa.
Rosa menekuk kedua kakinya. Dengan uluran tangan gemetar, perempuan tersebut menyentuh pundak Chandra.
"Chandra, kalian sudah melalui ini semua dengan susah payah. Kemenangan Shania sudah ada didepan mata. Dokter pasti akan mengusahakan yang terbaik, percayalah Chandra. Tolong jangan takut."
Perlahan wajah Chandra terangkat. Wajah dengan penuh deraian air mata dan peluh itu menatap ke arah wajah Rosa tepat. Saling beradu tatap satu sama lain.
"Chandra, Shania itu anak yang kuat kan?"
Chandra mengangguk.
"Shania bisa bertahan sejauh ini kan?"
Chandra mengangguk kembali.
"Shan—Shania... Bukan hanya kali ini kan Shania menghadapi masa yang sulit? Shania pasti bisa Chandra. Yakinlah Shania pasti bisa."
Rosa meraih wajah Chandra perlahan. Dengan tangannya, perempuan itu menghapus seluruh air mata yang berada disana.
Satu pelukan akhirnya terhambur. Chandra memeluk tubuh Rosa dengan sangat erat. Merasakan bagaimana rasa nyaman yang sangat dia butuhkan untuk saat ini. Rasanya benar-benar menembus jantung. Memberikan ketenangan bagi jiwanya yang baru saja kacau balau.
Keputusan itu...
Baiklah, Chandra akan menyetujuinya....
__ADS_1
Shan akan dioperasi...
~tbc...