Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Pipi Gembul


__ADS_3

Dewi tengah menatap sosok cucu terkecilnya yang tengah menyantap sarapan di meja makan. Dewi duduk tak jauh dari Shan berada, mengamati Shan setiap jengkal bagian yang berada pada tubuh gadis itu.


Satu hal yang dapat Dewi tangkap setelah mengamati bocah itu yaitu, kedua pipi gembul yang sangat menggemaskan milik Shan kini menyusut. Tidak semengembang saat terakhir bertemu.


"Shan apa makanan di apartemen kamu gak enak ya?"


Shan yang pandangannya fokus pada piring dihadapannya sontak beralih ke arah sang nenek. "Emm enak kok ti. Di apartemen sama papa dimasakin telur yang enak terus."


Dewi menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Shan. Tangan lembutnya kini membelai surai legam Shan perlahan. "Shan jangan main mulu ya, istirahat yang cukup ya sayang. Kalo siang juga jangan lupa bobok. Ini uti liat-liat Shan sekarang kurusan deh, pasti Shan suka lupa waktu ya kalo main? Gak sempat istirahat ya?"


Dewi sebagai seorang nenek tentulah sangat khawatir. Apalagi Shan sekarang lepas dari pengawasannya. Shan ditinggal Chandra bekerja dan seharian hanya bersama pengasuh. Ya, semalam Chandra bercerita jika Shan telah dititipkan pada jasa pengasuh, tapi ya, belum tentu pengasuh itu mengurus secara tulus kepada Shan. Terlebih setelah melihat perubahan Shan seperti ini.


"Shan disini aja ya, jangan balik ke apartemen. Temenin uti disini terus ya sayang." ucap Dewi.


"Tapi, tapi, tapi kata papa harus balik ke apartemen ti." ucap Shan yang tengah mengunyah sarapan buatan Dewi. Sarapan telur ceplok kesukaan Shan, masih sangat hangat. Dibuat dengan penuh cinta dan kasih oleh neneknya itu.


"Shan gak kasihan ya sama uti. Masa Shan tega ninggalin uti?"


"Gak gitu ti..."


Dewi semakin memasang wajah memelas dihadapan Shan. Membuat Shan menjadi sangat tidak tega.


"Shan bukannya gak kasihan sama uti, tapi apartemen baru papa juga kasihan nanti ti. Kasihan gak ada yang nempatin. Mana baru dibayar lagi sama papa."


Dewi seketika mengernyit. Bagaimana Shan bisa sepandai itu mencari alasan. Ahh pasti Chandra yang mengajarinya.


Shan menggerakkan jemari kecilnya, mengisyaratkan agar utinya itu semakin mendekat dan memasang telinga. "Shan kasih tau ya ti, papa itu sayang banget sama apartemen barunya itu. Papa kayaknya bisa nangis deh ti kalo apartemen itu ditinggalin. Ssttt tapi jangan kasih tau papa soal ini ya. Ini rahasia kita ti. Ssstt."


Bisikan Shan berhasil membuat perut Dewi terasa geli. Perempuan paruh baya yang sedari kemarin sendu kini akhirnya dapat tersenyum kembali. Ini semua berkat Shan.


"Terimakasih Shan..." batin Dewi dalam hati.


...***...


Chandra's POV


..."Shan kamu mau bawa apa aja? Cepetan disiapin!" perintahku pada Shan. ...

__ADS_1


Bocah itu pun bergegas berlari memasuki kamar, lalu mencari benda-benda yang katanya ingin dia bawa ke apartemen. Semua mainannya yang berjumlah 2 keranjang dia minta untuk diangkut. Belum lagi baju-bajunya yang masih 5 susun dilemari. Aduhh Shan, mobilku nanti kalau meledak bagaimana?


"Udah pa itu aja barangnya Shan."


"Itu aja itu aja, banyak banget ini tuh taukk." omelku sambil mengangkat semuanya menuju mobil.


Sesampainya di halaman depan ternyata ada anak-anak yang tengah bermain sepeda'an. Siapa lagi kalau bukan Jimmy dan Salsa.


Duhh Shan jangan sampai lihat, nanti dia kepingin bagaimana?


"Papa, papa teddy aku ketinggalan!"


Yahh... Bocah itu mengikutiku keluar.


Shan seketika terdiam melihat ke arah anak-anak itu. Dia melihat sampai melongo dan hampir ngeces air liurnya. Iya aku tau memang kasihan, Shan itu ingin ikut mereka. Tapi ya mau bagaimana lagi, anak-anak itu kan nakal. Mereka pernah menyakiti Shan bukan?


"Shan, ayo masuk ke dalem. Pamitan sama uti dulu terus kita pulang." Aku meraih tangan Shan lalu menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah dan menemui mama.


Setelah berpamitan aku dan Shan pun segera memasuki mobil. Aku menyalakan mesin mobilku kemudian bersiap untuk mengemudi menuju apartemen. Lagi-lagi tatapan Shan tidak bisa lepas dari kedua anak yang bersepeda'an dengan riang tadi. Bahkan sampai mobilku melenggang pergi keluar pagar pun Shan masih mencoba untuk melihat mereka.


Hingga akhirnya aku bersuara. "Shan pengen sepeda'an juga ya?"


Aduhh, padahal niatku bukan seperti itu. Padahal aku hanya ingin bertanya saja.


"Papa liat sepedanya kak Salsa tadi? Yang warna pink itu loh pa."


"Iya, kenapa?"


"Shan pengen yang kayak itu. Tapi jangan yang sama, nanti kak Salsa nya marah kalo Shan nyamain sama punyanya."


"Iya iyaa..."


"Papa beneran? Papa beneran apa enggak sih? Papa kenapa cuma iya iya-iya iya aja. Papa beneran mau beliin sepeda Shan kan?"


"Iya Shan iya. Nanti kalo papa udah ada uang papa beliin deh. Sepuluh."


"Sepuluh? Banyak banget pa!"

__ADS_1


"Biar kamu seneng."


Shan langsung berselebrasi dengan menyerukan kata yes! Dia sangat bahagia sekali mendengarnya. Padahal aku hanya bercanda.


Aduh Shan... Kenapa kamu sangat polos sekali sih?


...***...


Sesampainya lorong apartemen alangkah terkejutnya aku dan Shan mendapati sosok Joly yang tengah berdiri disana. Aku sampai menebah dadaku sendiri. Sumpah ya, rasanya seperti hampir terkena serangan jantung melihat Joly secara tiba-tiba seperti itu. Mana penampilannya seperti hantu lagi, rambut panjang, menggunakan dress warna putih menjuntai juga orang itu.


Sialan memang si Joly.


"Masnya sama adek Shan darimana aja? Kakak udah nungguin lama nih disini." ucapnya.


Aku menurunkan barang bawaan kita sebentar, lalu merogoh key card dari dalam kantong.


"Kamu apa gak baca w.a dari saya apa? Kan saya udah bilang papa saya kemarin meninggal."


"Hahh?? Oh ya??? Innalillahi wainnailaihi rojiun. Yaampun maaf ya mas maaf. Duh masnya pasti masih sangat berkabung. Duhh sini mas saya peluk."


"Ish kamu ini apa-apaan sih?!" Aku langsung menepis tangan Joly yang hendak memelukku.


Pintu apartemen kini terbuka aku lalu masuk ke dalam bersama dengan Shan dan Joly juga tentunya. Ya kali si Joly tidak kupersilahkan masuk. Kasihan, dia sudah sampai sini, padahal aku sudah mengabarinya lewat whatsapp kalau hari ini dia libur saja. Tapi ternyata apa, dia malah kesini.


"Ajarin anak saya membaca." suruhku pada Joly.


Joly mendadak tercekat di tempat. Entahlah dia itu sebenarnya kenapa. "Ta—tapi Shan keliatannya masih capek abis perjalanan jauh mas."


"Shan gak capek kok kak Jol. Ayo ajarin Shan membaca yuk. Ini Shan udah bawa bukunya dari rumah." ucap Shan sambil menenteng buku panduan membaca ditangannya.


Oke Shan, bagus.


"Shan, papa tinggal dulu ya. Papa mau tidur, capek."


Shan pun mengangguk. Aku lalu bergegas menuju kamar, menikmati hari ijinku berkerja sekarang dengan tidur.


Eitss tidak. Aku sebenarnya bukan mau tidur, tapi mau chatting dengan Wanda. Hahaha.... Aku sangat merindukan perempuan itu.

__ADS_1


~tbc...


__ADS_2