
Tepat pada malam hari penghulu datang. Aku menelepon ayahku dan pak ajudan untuk ke rumah sakit sebentar dengan membawakan kebaya putih untukku. Chandra juga menelepon mama Dewi dan kak Yolla.
Kita berdua melangsungkan ijab qobul di rumah sakit. Dihadapan Shania kata sah dari para saksi akhirnya terucap.
Malam ini, dihiasi rintik hujan di luar sana yang membasahi jendela rumah sakit aku dan Chandra resmi menjadi sepasang suami istri. Malam ini dengan diiringi suara monitor detak jantung Shania aku telah seutuhnya menjadi ibu Shania.
Tangis haru bercampur bahagia memenuhi ruangan. Aku salim dengan mama, memeluk mama dengan rasa yang lebih hangat seperti dahulu kala. Chandra pun demikian. Chandra menangis di dalam dekapan ayah.
Shania melihat ke arahku. Tatapan yang penuh arti dia tunjukkan padaku.
Aku berlutut dihadapan ranjangnya. Menyentuh jemarinya lalu menggenggamnya. "Shania, ini mama sayang. Mama akan terus sama kamu, mama gak akan kemana-mana. Mama janji. Tapi Shania juga janji ya, Shania juga akan terus sama mama, oke?"
Chandra yang masih berpeci itu mendekat. Merangkulku dengan lembut dan tersenyum. Aku lalu berkata kembali. "Papa sama mama akan terus sama Shania. Shania juga harus sama papa mama terus ya? Janji ya?"
Memang tidak ada anggukan yang Shania berikan pada kami, namun aku yakin Shania pasti menjawabnya dalam hatinya. Shania pasti juga berjanji.
Aku sangat yakin.
Pernikahan yang aku dan Chandra lakukan seperti membuat perubahan yang baik. Kondisi Shania berangsur-angsur membaik. Sudah tidak ada lagi bantuan oksigen yang diperlukan. Tubuh Shania lebih bugar dari yang sebelumnya.
Pagi hari yang cerah dapat kita bertiga nikmati bersama, dengan udara yang sangat segar tentunya. Semesta seakan merestui, di hari yang baru saat kami telah diresmikan menjadi keluarga kecil yang utuh cuaca kali inipun terpantau sangat cerah. Benar-benar seolah sangat mendukung sekali.
Aku membuka jendela. Membiarkan sirkulasi udara masuk. Sorot-sorot cahaya pagi yang menentramkan juga ikut menghiasi suasana pagi pertama keluarga kami.
Chandra mengecup pipiku lalu beralih mengecup pipi buah hati kami. Aku sangat mendamba kegiatan seperti ini. Harapanku semoga keharmonisan ini dapat selalu terjaga hingga nanti. Hingga waktu yang sangat lama.
Aku sangat ingin seperti ini terus.
Shania perlahan menunjuk ke arah pintu kamar mandi. Aku dan Chandra seketika mengernyit.
"Kenapa? Shan mau mandi ya?" tanya Chandra."
Shania mengangguk.
Chandra perlahan melepaskan pakaian yang dikenakan Shania. Kabel-kabel penghubung monitor pun juga dilepaskan untuk sementara.
"Mama tolong siapkan air hangat ya." pinta Chandra.
Aku tersenyum lalu bergegas pergi ke kamar mandi untuk mengisi bathup dengan air hangat. Air hangat pun siap dan Chandra menggendong tubuh Shania ke dalam kamar mandi.
Dengan penuh kasih sayang Chandra meletakkan Shania ke dalam bathup. Chandra tidak tega melihat tubuh Shania bersandar pada benda keras itu sendirian disana, akhirnya Chandra pun masuk ke dalam dan memangku Shania.
"Mama ayo masuk, kita akan main air bareng ma."
"Gak akan muat pa."
"Muat kok. Ayoo cepat."
"Baiklah."
Kita bertiga berada di dalam bathup yang sama. Memericikkan air ke tubuh Shania dan menciptakan gelak tawa.
Shania pun tertawa bahagia. Dia bahkan menggerak-gerakkan tangannya seperti yang kita lakukan.
Chandra membuat gelembung-gelembung dari sabun menggunakan lingkaran jemarinya. Shania sangat senang. Matanya berbinar melihat gelembung itu terbang ke udara.
Aku tak mau kalah dengan Chandra. Aku pun ikut-ikutan seperti Chandra. Gelembung-gelembung akhirnya tercipta sangat banyak. Senyuman Shania terus tersimpul. Kedua mata Shania seolah berwarna kembali. Kedua mata yang biasanya terlihat sayu kini bersemangat kembali.
Shania, mama sangat senang sayang...
Kegiatan mandi Shania dilalui dengan sangat bahagia. Kini Shania sudah diangkat dan digendong ke atas ranjang untuk memakai pakaian. Kali ini Shania request baju favoritnya.
Ini baju hadiah ulang tahun dari papanya. Baju dengan rok tile yang mengembang seperti balerina. Sangat cantik, warna pink. Anakku kini sangat cantik dan menggemaskan.
Selesai mandi dan memakai baju, Chandra lalu mendekap tubuh Shania dengan erat agar hangat. Sedangkan aku menyiapkan makanan untuk disuntikkan melalui selangnya Shania.
"Sarapan dulu ya sayang." ucapku kemudian menyuntikkannya.
__ADS_1
Shania makan di atas pangkuan papanya. Kami mengobrol sangat banyak, bercerita sangat banyak tentang apapun.
Waktu benar-benar kami habiskan dengan sangat berarti.
Siang hari menjelang, Shania minta diputarkan video youtube di TV. Shania menyuruhku dan Chandra untuk naik ke atas ranjangnya. Dia minta ditemani untuk menikmati tayangannya.
Chandra memeluk Shania dari sisi kanan, sedangkan aku memeluknya dari sisi kiri. Shania terlihat sangat nyaman. Sesekali dia mendongak ke kanan dan kiri, untuk menatap wajah kita.
Haha, anak ini benar-benar sangat lucu sekali.
"Ada apa sayang? Cup..." Chandra menyematkan ciuman pada kening Shania saat Shania masih memusatkan pandangannya ke arah papanya itu.
Shania menatap Chandra sangatlah lama. Tayangan cocomelon yang berada di depan sana tidak membuatnya kagum, wajah papanya lah satu-satunya objek yang menjadi kesukaan Shania.
Chandra beralih menggelitik perut Shania dengan gemas. Shania pun kegelian, gelak tawa lirih berhasil dia ciptakan. Kami sangat senang mendengarnya. Kondisi Shania benar-benar semakin membaik. Seiring waktu semakin membaik.
...***...
Tepat setelah makan malam dokter masuk ke dalam ruangan untuk melakukan check up. Seperti yang kukatakan tadi, perkataan dokter pun sama denganku. Shania berada dalam kondisi yang sangat baik.
Chandra memelukku, menyalurkan perasaan bahagianya padaku. Aku sangat yakin bahagia Chandra berkali-kali lipat lebih daripada yang kurasakan.
Terimakasih Tuhan, Engkau telah menjawab doa-doaku dan doa-doa Chandra.
Dokter menyingkirkan seluruh kabel-kabel pendeteksi detak jantung yang melekat pada dada Shania karena itu semua sudah tidak diperlukan lagi.
"Besok pagi saya jadwalkan untuk tes CT-Scan ya, untuk melihat sel kankernya." ucap dokter dan kami berdua menganggukkan kepala sebagai tanda menyetujuinya.
Aku merapalkan doa dalam hati. Ya Tuhan, semoga Engkau berikan mukjizat sel kanker Shania telah menghilang seluruhnya. Hamba mohon Tuhan...
Seperginya dokter dari ruangan Chandra langsung mengajakku untuk mengambil air wudhu. Kami akan sholat lalu berdoa bersama.
Shania juga minta untuk ikut sholat.
Chandra sendiri yang membantu Shania untuk membasuh wajah, tangan dan kakinya dengan air. Chandra menuntun Shania untuk berwudhu.
Chandra memakaikan Shania mukena itu dengan sabar. Menata mukena bagian wajah Shania karena terlalu besar untuk ukutan wajah Shania yang kini mengurus.
"Dah cantik sekali putri kecil papa ini..." ucap Chandra saat selesai menyiapkan Shania.
Chandra lalu mengambil posisi sebagai imam. Aku dan Shania sebagai makmumnya.
"Allohuakbar..."
Takbir Chandra ucapkan sebagai pembuka hingga akhirnya ucapan salam dia sematkan sebagai penutup.
Chandra tidak langsung berbalik badan dan menjulurkan tangannya untukku agar bisa salim. Chandra memutuskan untuk berdoa terlebih dahulu.
Kedua tangan besar dan berurat itu mulai menengadah. Aku dapat melihat sendiri dari belakangnya bagaimana pundak yang kokoh itu bergetar.
Suara isakan sayup-sayup terdengar. Hatiku seketika berkecamuk. Pertahananku ikut runtuh melihat Chandra yang berdoa hingga menangis.
Aku hanya bisa terdiam melihat Chandra. Hingga akhirnya ketika kedua tangan itu telah mengaminkan doa-doanya dan mengusap wajah penuh peluh serta air mata, Chandra akhirnya mau berbalik untuk menyambutku.
Aku langsung salim kepada suamiku itu. Menciun tangannya dan memeluknya.
Chandra seolah bersikap tidak pernah terjadi apa-apa beberapa detik lalu. Dia menyembunyikan sisa tangisannya dengan senyuman yang sangat bijaksana.
Chandra beralih bangkit dan menuju ranjang. Tangannya yang lembut perlahan mengusap kepala Shania.
"Papa sayang banget sama kamu Shan."
Shania mengulurkan tangannya, memeluk tubuh papanya yang berada di sampingnya itu. Ayah dan anak itu larut dalam kehangatan saling berpelukan.
Aku segera merapikan mukena dan peralatan sholat lainnya karena Shania melambai ke arahku. Shania juga menyuruhku untuk bergabung bersamanya.
"Shania, bukan hanya papa yang sayang sama kamu. Tapi mama juga nak." ucapku seraya mendekapnya tak kalah erat. Aku dan Chandra menghujani Shania dengan ciuman penuh kasih sayang. Kami berdua benar-benar tidak ingin melepaskan pelukan kami.
__ADS_1
Kami ingin berpelukan selamanya seperti ini.
Hingga akhirnya kami bertiga terlelap dengan posisi berpelukan. Aku tidak ingat, kata terakhir apa yang aku ucapkan atau yang Chandra ucapkan. Kami telah benar-benar tertidur begitu saja.
Suara adzan subuh berkumandang. Seolah sudah menjadi alarmku, aku refleks terbangun dari tidurku. Posisiku masih memeluk Shania.
Adzan subuh telah usai, ruangan berubah suasana menjadi sunyi dan senyap. Aku menatap ke arah sosok kecil yang masih berada di dalam dekapanku. Seketika degup jantungku seperti terpacu dengan sangat kencang.
Shania...
Tanganku terangkat dengan gemetar, mencoba menyentuh wajah mungil itu perlahan.
Lidahku seketika sangat kelu, tidak mampu untuk mengucapkan sepatah kata apapun.
Aku menggeleng dengan cepat. Tidak, tidak, ini hanya mimpi kan? Tolong siapapun bangunkan aku!
Dan saat tanganku menyentuhnya kembali untuk memastikannya. Air mataku langsung menetes saat itu juga.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun..." ucapku sembari terisak.
Chandra yang mendengarku langsung terbangun. Aku sangat tidak tega melihatnya, melihat bagaimana dia langsung mengangkat tubuh Shania untuk didekap sangat erat.
"Shan? Shan enggak! Bangun sayang bangun! Enggak kamu gak boleh pergi! Shania!" teriak Chandra dengan berlinang air mata.
"Rosa panggil dokter! Shan-ku belum pergi! Cepat panggil dokter! Please..."
Aku sangat tidak tega saat Chandra merintih dan memohon. Dengan cepat aku langsung menekan tombol emergency yang berada disisi ranjang.
Dokter-dokter pun datang. Namun apa yang mereka katakan...
"Waktu kematian pasien 04.35."
"Enggak!" teriak Chandra. Chandra bersikeras menolak.
"Gak mungkin, kalian... kalian cuma asal ngomong. Dok please... Ini anakku masih bisa ditolong kan? Tolong lakukan sesuatu. Dokter tolong dokter! Anakku... Tolong anakku!"
Chandra benar-benar sangat terpukul dan tidak terima dengan kenyataan yang terjadi.
"Gak Shan, gak seperti ini! Bangun Shan! Bangunn!"
"Papa gak mau! Papa masih pengen sama kamu hiks..."
"Shan..."
Chandra terus mengguncang-guncangkan tubuh yang telah tidak bernyawa itu. Chandra bohong saat mengatakan bahwa dia akan ikhlas atas kepergian Shania.
Chandra sangat terluka. Sangat, sangat terluka...
Aku menghambur memeluk tubuh jangkung itu. Chandra memberontak dengan lemah akan tetapi aku mencoba memperkuat dekapanku walaupun susah payah.
Dengan hati yang sangat teriris aku mengatakan, "Ayo kita ikhlaskan putri kita. Biarkan dia pergi, dia sudah tidak sakit lagi..."
Selamat tinggal Shania...
Putri kecil papa, kesayangan Chandra selamanya.
Papa dan mama akan selalu merindukanmu...
Terimakasih telah mengajarkan segalanya. Segala-galanya...
Maaf jika kami memiliki banyak salah kepadamu nak, kami sangat menyesal. Andai waktu dapat diputar kembali, kami tidak akan melakukan itu semua kepadamu.
Sekarang kamu sudah tenang dipangkuan Tuhan. Tuhan akan selalu menjagamu, mengasihimu, menyayangimu, mencintaimu lebih lebih lebih dari yang kami berikan.
Selamat jalan sayang...
Insyaallah kami akan ikhlas...
__ADS_1
~END