
sssrkk...
settt...
srrkk...
Bocah kecil itu terus bergerak, berguling ke kanan ke kiri terus menerus.
"Papa agak geseran."
Aku yang tengah mencoba untuk terlelap menggeser tubuhku, seperti permintaan Shan.
"Geser lagi pa."
Hiiihhhh. Ini anak benar-benar menguji kesabaranku. Aku lantas bangun dan melihat kearahnya.
"Shan, ini udah malem, papa besok harus ngantor. Please minta kerjasamanya."
Shan mengangguk kemudian menarik selimut kesukaannya yang berwarna pink itu. Awas saja ya kalau dia tetap bergerak tidak bisa diam, aku akan menendangnya keluar.
"Papa kelonin Shan, tolong..."
Aku menghela napas panjang, kemudian menurutinya.
"Shan jangan gitu papa pegel." Segera aku menggeser kepalanya yang bertumpu pada lenganku. Dia memang sangat suka tertidur dengan posisi lenganku sebagai bantalnya, tapi kali ini aku tidak mengijinkannya. Lenganku akhir-akhir ini terasa pegal linu, mungkin karena faktor usia.
Ahhh usia seperempat abad memanglah berat.
"Papa papa, Shan mau ngasih tau kalo besok minggu Shan ikut ke mall sama tante Yola." ucap Shan tiba-tiba.
Apakah benar seperti itu?
"Shan beneran diajak?"
"Iya bener, Shan diajak tadi. Boleh kan pa?"
"Iya boleh."
"Makasih ya pa."
Akupun mengangguk. Dan tak lama kemudian sudah tidak ingat apa-apa lagi. Aku telah tertidur pulas.
Hari akhirnya telah berganti pagi. Seperti biasa aku bergegas untuk waktunya melakukan rutinitas. Bersiap membuatkan sarapan Shan memandikan Shan, dan menyiapkan diriku sendiri untuk bekerja.
Tapi kebetulan sekali pagi ini anak itu belum bangun. Tidak biasanya seperti itu. Padahal dia yang paling rajin dalam urusan bangun pagi. Bangunnya saja biasanya saat subuh.
Aku yang baru saja dari kamar mandi karena urusan panggilan alam kemudian kembali naik ke atas ranjang.
Telapak tanganku mulai menyentuh keningnya untuk memeriksa suhu tubuh gadis itu. Jangan-jangan meningkat lagi. Jangan sampai dong, aku hari ini harus bekerja!
"Emmmh papa..." Lenguh Shan sembari menggeliat. Perlahan dia mulai membuka kelopak matanya.
"Shan sakit ya?" tanyaku dan langsung mendapat gelengan dari gadis itu.
Ohh syukurlah.
"Ayo bangun, kamu mau papa buatin sarapan apa hari ini?" Aku mengulurkan kedua tangan dan Shan langsung meraihnya. Bocah kecil itu aku tarik dan langsung kunaikkan ke atas gendonganku.
"Telur dadar." requestnya
"Oke papa buatin."
__ADS_1
Kita berdua bergegas ke lantai bawah, menuju dapur untuk membuat sarapan.
"Papa buatnya 3 ya." Shan yang baru saja kududukkan di atas kursi membentuk dua jari dari jemarinya yang mungil.
"Shan 3 tuh begini." Aku memberitahunya yang benar. Tapi yang namanya bocah ya tetap saja tidak mengerti.
"Ngomong-ngomong banyak banget telur dadar yang harus papa buat, buat siapa sih Shan?"
"Kak Salsa, kak Jimmy, Shan."
Sontak kegiatanku mengocok telur terhenti. Aku kemudian mendekati anak kecil itu. "Shan, mereka udah dibuatin sarapan sendiri sama mamanya." bisikku.
Ya memang seperti itu biasanya, kehidupanku dan kehidupan kakakku Yola berbeda. Kita harus mengurus diri dan anak kita masing-masing. Jangan ikut campur.
Yup, di rumah ini ada 3 keluarga. Dan yang pasti urusan kita berbeda-beda meskipun tinggal satu atap.
Shan terlihat berpikir sebentar. Jika dilihat dari sorot matanya dia tidaklah setuju dengan ucapanku barusan. Dia pasti akan memaksaku untuk membuat 3 telur dadar seperti keinginannya.
"Tapi pa..."
Nahkan!
"Gak Shan!" Suaraku yang keras akhirnya keluar dari mulutku. Aku memang harus tegas sekarang.
"Baiklah..." ucap Shan, pasrah.
...***...
Kini aku telah berada di tempat kerjaku. Berkutat dengan dokumen-dokumen yang tidak ada habisnya didepan meja kerja. Lelah? Oh sudah pasti. Tapi kalau aku tidak melakukan ini maka diriku dan Shan tidak akan bisa makan.
Tok... tok.. tok...
"Masuk." Seseorang telah mengetuk pintu ruanganku dan aku mempersilahkannya untuk masuk.
"Chandra..." Panggilan yang terlontar seketika membuyarkan fokusku pada monitor komputer yang tengah kupandangi. Kini pandanganku teralihkan, berganti memandang sosok yang berada di ambang pintu.
"Wanda!" pekikku. Aku kaget bukan main, bagaimana bisa perempuan itu berada di kantorku.
Wanda mengacungkan ID card yang dikalungkan pada lehernya sembari tersenyum lebar.
"What? Jadi lo karyawan disini juga Nda?"
"Iya Chan!"
Aku benar-benar tidak menyangka.
Temanku ini, teman dibangku perkuliahan dahulu. Teman yang selalu memberi contekan bahkan yang mengerjakan tugasku jika aku tidak memiliki hasrat untuk mengerjakannya. Wah Wanda, gue sangat bersyukur kita sekarang bisa bertemu kembali...
...***...
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan rata-rata. Aku tidak ingin mengebut untuk sampai rumah sore ini, karena apa? Karena Wanda berada di sebelahku.
Dia kuberi tumpangan untuk pulang. Kebetulan sekali rumahnya satu arah dengan rumahku. Jadi aku melewatinya setiap saat, setiap pulang ataupun berangkat bekerja.
"Besok bareng gue lagi aja Nda..."
Wanda-pun mengangguk.
Hingga tiba-tiba ponsel yang berada di dalam kantong celanaku bergetar.
"Oh halo Shan..." Seperti biasa Shan meneleponku.
__ADS_1
"Halo papa, papa dimana?" Dan seperti biasa lagi dia selalu bertanya seperti itu di jam sekarang.
"Masih di jalan, ada apa?"
"Oh, gak papa pa."
"Yaudah ya papa matiin teleponnya?"
"Eh jangan pa, tunggu dulu..."
"Apa Shan? Kamu minta apa? Nitip dibeliin apa pumpung papa masih ada dijalan."
"Enggak pa. Gak usah dibeliin."
"Iya. Papa matiin dulu ya teleponnya?"
"Bentar pa."
"Ck apasih Shan? Bentar-bentar apalagi ha?"
"Shan mau berangkat."
"Hah? Berangkat kemana?!"
"Ke mall. Sama tante Yola, kak Salsa, kak Jimmy, ada om juga."
Aku langsung tercekat di tempat. Bukannya Shan semalam bilang kalau pergi ke mall nya hari minggu ya? Lalu kenapa jadi sekarang? Inikan masih hari...
"Nda hari ini hari apa?"
"Jum'at Chan."
"Oh oke..."
Aku kembali pada panggilan suara Shan.
"Shan kan kata kamu ke mall-nya hari minggu kan. Tapi kenapa—"
"*Shan berangkat dulu, dah papa~"
Tut*.
Panggilan suara telah dimatikan oleh Shan. Padahal aku masih ingin bertanya banyak hal padanya.
Ahhh biarkan saja kalau begitu. Pasti bocah kecil itu akan aman-aman saja pergi bersama sepupunya. Doaku cuma satu, semoga saja Shan bisa dikendalikan dan tidak rewel, agar Yolla tidak mengamuk.
Wanda perlahan menyentuh pundakku. Aku lantas menoleh kearahnya.
"Emm itu tadi anak lo ya?"
"Hehe iya." jawabku sambil menggaruk tengkukku yang entah secara tiba-tiba terasa sangat gatal.
"Ohh lucu ya, btw cewek?"
"Iya cewek."
"Namanya?"
"Shan."
Wanda tersenyum, tapi beberapa saat kemudian senyumnya menjadi sedikit agak ragu-ragu. "Btw dia umur berapa Chan?"
__ADS_1
"4 tahun."
~tbc...