Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Hari Minggu Yang Damai?


__ADS_3

Aku menarik kembali selimutku hingga menutupi tubuhku dan tubuh Shan. Tidak peduli dengan suara cicitan burung yang telah terdengar sangat riuh di luar sana. Iya aku tau hari sudah pagi, tapi ini kan hari Minggu. Tidak boleh ada yang mengganggu hari Minggu yang damai ini.


Shan pun sepertinya dapat diajak bekerja sama. Lihatlah Shan masih tertidur sangat pulas dipelukanku. Aku juga tidak tau kenapa Shan yang sejak kemarin jam bangun tidurnya berubah seperti ini. Dia menjadi tukang bangun kesiangan sekarang. Dan itu malah bagus menurutku.


Krucuk.. krucuk krucuk...


Aku mendengar suara gemuruh dari perut seseorang yang keroncongan. Perut siapa lagi itu kalau bukan perut milik Shan.


"Shan kamu laper ya?" tanyaku pada bocah kecil ini yang masih memejamkan mata ini.


Shan tidak menjawab pertanyaanku, dia malah semakin menenggelamkan kepalanya ke dalam lekukan ketiakku. Sepertinya dia sengaja menahan rasa laparnya itu dan memilih untuk melanjutkan tidur saja. Memang sih pukul sekarang ini biasanya dia sudah sarapan, tapi ya mau bagaimana lagi. Shan masih enggan untuk bangun, dan aku pun juga tidak akan memaksanya untuk bangun.


Kita akhirnya tertidur pulas kembali. Hingga tanpa sadar, bangun-bangun sudah pukul 10 lebih. Aku merasa sangat amat lapar sekali sekarang. Shan pun pasti juga begitu.


"Shan ayo bangun. Kita makan yuk. Udah mau siang nih..." Aku membangunkannya secara halus.


"Nanti aja pa. Shan masih ngantuk." Shan kemudian merubah posisinya, berguling ke arah samping. Memunggungiku.


Baiklah biarkan dia melanjutkan tidurnya.


Aku lalu turun dari ranjang. Membuka gorden agar cahaya matahari bisa masuk ke dalam kamar, kemudian melakukan peregangan otot sekilas.


"Papa silau..." rengek Shan.


"Oh oke-oke papa tutup. Maaf Shan." ucapku pada anak itu. Dia pun lalu masuk ke dalam dunia mimpinya kembali.


Aku kini berada di kamar mandi. Melakukan aktifitas yang umumnya dilakukan oleh orang-orang di seluruu dunia. Buang air kecil, besar, mencukur jambang, sikat gigi, lalu mandi. Seperti itu. Hingga saat sedang khidmat dalam aktifitas mandi tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara dentuman yang lumayan keras. Ada sesuatu yang terjatuh di luar sana. Dan aku tidak bisa menebak benda apa itu.


Hingga suara Shan menangis sangat kencang membuatku panik seketika. Secepat kilat aku langsung menyelesaikan mandiku dan keluar.


"Astaga Shan!" pekikku ketika melihat Shan telah berada di atas permukaan lantai dengan posisi tengkurap dan...


Ada darah yang mengalir dari kedua lubang hidungnya.

__ADS_1


Deg.


Kakiku seketika melemas. Aku selalu seperti ini jika melihat darah.


"Papa... hiks..."


Tapi aku tidak peduli sama sekali dengan kakiku yang rasanya melayang, aku langsung bertindak cepat untuk menghentikan pendarahan hidungnya Shan itu.


"Aduh Shan kenapa bisa sampai mimisan gini sih? Ini tadi pasti kebentur ya? Iya kan? Bagian mana yang kebentur Shan? Kepala? Kening? Hidung? Mana Shan? Kasih tau papa!"


Shan memegangi kepalanya. Tangisannya semakin kencang sekarang. Aku terus memencet hidungnya itu sembari mendongakkan kepalanya agar tetap menghadap ke atas.


Melihat bercak-bercak darah yang berada di tanganku akhirnya kembali membuatku lemas. Rasanya keringatku mulai mengalir deras, tubuhku pun mendingin dan... Aku seperti mau pingsan sekarang.


Aku akhirnya berlari keluar dan memilih untuk memanggil mama. Aku tidak bisa mengatasinya sendiri.


...***...


Benda yang dipesan mama akhirnya telah kubeli, aku lantas segera kembali ke rumah.


Tok... tok...


"Ma ini Chandra udah beli..." ucapku dari luar kamar. Aku sebenarnya masih sangat trauma dengan kejadian tadi. Warna merah darah masih terngiang-ngiang di pikiranku. Aku takut untuk masuk ke dalam karena masih terbayang.


Tok... tok... tok...


Aku mengetuk pintu kamar itu lagi karena mama tidak segera menyahut. Memangnya orang itu kemana? Apakah tengah keluar? Apakah sedang ke kamar mandi dan Shan ditinggalkan sendirian di dalam sana?


Baiklah sepertinya aku harus memastikannya sendiri.


Ceklek...


Aku membuka mata dan mendapati Shan benar sendirian disana. Tidak ada mama yang menemaninya. Entahlah sebenarnya sedang kemana mamaku itu.

__ADS_1


"Papa..." panggil Shan dengan suara lemahnya.


Aku pun menghampirinya, lalu naik ke atas ranjang untuk duduk di dekat tempatnya berbaring.


"Keningnya Shan masih sakit ya?" tanyaku.


Dan Shan mengangguk.


Aku menggeser tubuh kecilnya itu untuk semakin mendekat ke tubuhku. Aku memeluknya, menyuruhnya agar kepalanya bersandar di dadaku. Perlahan ku elus keningnya itu, ku kecup juga agar rasa sakitnya bisa segera menghilang.


Sosok mama tiba-tiba datang dari arah pintu. Aku langsung memberondongnya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Mama darimana aja sih? Kenapa Shan ditinggalin sendirian? Kan keningnya masih sakit ma. Coba kalo Shan tiba-tiba mimisan lagi gimana? Apa mama gak kasihan sama Shan? Sama cucunya sendiri kok gitu..."


Seketika aku menjadi kesal.


Tapi rasa kesalku hanya bertahan beberapa detik saja, semua tergantikan karena terkejut tiba-tiba Shan mengeluarkan suara isakan.


"Loh Shan, kamu kenapa nangis??"


Panik, sudah jelas. Ayah mana yang tidak panik jika anaknya menangis secara tiba-tiba seperti ini.


Yang aku takutkan hanya satu. Bagaimana jika dia menangis lalu keluar lagi darah dari hidungnya ha? Aku benar-benar masih sangat trauma.


Mama akhirnya mengambil alih Shan untuk dinaikkan ke atas gendongannya. Bocah kecil itupun menurut, dan langsung meletakkan kepalanya untuk bersandar ke pundak mama. Tangisannya kini telah mereda.


"Shan menangis karena takut dengar kamu bentak-bentak utinya Chan..." kata mama.


Seketika aku mematung ditempat. Apakah yang dikatakan mama itu benar seperti itu?


Hmmm sorry...


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2