
Semenjak kejadian semalam, aku menjadi lebih menekankan kepada Shan untuk lebih berhati-hati lagi. Kalau bisa hati-hatinya lebih dobel, ditambah harus selalu waspada. Dan kalau perlu lebih baik gak usah coba-cobain hal yang belum pernah dia coba sama sekali tanpaku! Tanpa papanya ini!
Ya oke kalau dia mau cobain hal yang masih wajar, yang tidak berbahaya begitu maksudku. Seperti coba pensil warna baru buat gambar atau makanan baru yang dikasih uti kakung. It's fine...
Tapi kalau main sepeda'an atau main yang lainnya sama Salsa dam Jimmy is big no!
Aku menyuruh Shan untuk menjaga jarak dengan mereka mulai sekarang. Mengingat kejadian-kejadian buruk yang telah lalu selalu mereka berdualah biang keroknya. Aku hanya tidak mau Shan terluka lagi.
"Shan bisa main sendiri kan? Eh atau belajar ya, belajar mewarnai lagi, oke? Ini liat gambar yang belum kamu warnain di buku yang udah papa beliin masih banyak nih. Mana janji kamu yang katanya mau ngewarnain semua gambar di bukunya? Dulu yang ngerengek minta dibeliin buku bergambar siapa? Sekarang kok dianggurin gini sih? Ahh apa mending papa bakar aja ya ini bukunya, percuma banget cuma menuh-menuhin aja."
"Jangan pa. Iya biar Shan warnain sini." Shan mengambil buku-buku bergambar yang berada ditanganku lalu meraih kontak perwarna dan kemudian mewarnainya.
Nahh... Anak pintar.
Di tengah mendampingi Shan yang mewarnai tiba-tiba aku mendapat panggilan suara masuk.
"Halo..."
"Halo apa benar ini Tuan Chandra Pamungkas, ayahanda dari adek Shania Magika Putri Pamungkas?"
"Iya benar, kenapa ya? Ini dari siapa?"
"Ini dari pihak TK Cemara, mau mengkonfirmasi terkait beberapa hal penerimaan calon murid tahun ajaran baru."
"Oh iya anak saya mau TK disitu bu. Sudah saya daftarin." Aku melihat ke arah Shan. Mendengar perkataanku Shan seketika langsung antusias sekali. Apalagi jika mendengar kata 'TK'. Dia penasaran dan langsung bertanya-tanya aku ini sedang bertelepon dengan siapa.
"Itu siapa pa. Siapa yang lagi telepon? Siapa pa? Siapa? Siapa?"
"Oh iya, baik, siap. Saya akan kesana sekarang." ucapku pada seseorang diseberang telepon.
"Kesana kemana pa? Papa mau kemana sih? Itu tadi yang nelpon siapa?" tanya Shan lagi dan lagi.
"Udah deh, ayo Shan sekarang ikut papa aja." Aku lantas meraih tangan kanannya untuk kugandeng. Beruntung sekali sekarang ini aku belum berangkat bekerja, sekarang masih pukul 7 kurang dan pas sekali tadi pihak calon tempat Shan bersekolah tiba-tiba menelepon.
Iya, aku disuruh kesana bersama Shan, si calon murid TK itu. Entahlah aku juga tidak tau nanti disana bakalan diapakan kita. Dan sepertinya nanti akan memakan waktu yang tidak singkat. Baiklah, aku bisa ijin ke atasanku kalau hari ini aku akan datang ke kantor sedikit terlambat karena masih ada urusan mendadak. Demi sekolahnya anakku ini kenapa tidak, coba?
"Jadi Shan mau bertemu sama guru?" tanya Shan yang berada di kursi samping kemudi. Kedua matanya membulat sangat lebar. Aku tidak tau arti tatapan apa itu, antara ungkapan senang ataukah malah cemas.
"Gak papa Shan, gurunya baik. Shan pasti suka."
"Emang papa udah pernah ketemu sebelumnya?"
"Emmm belum si—ehh udah pernah Shan. Dulu ituloh pas daftarin kamu."
__ADS_1
"Tapi tapi tapi pa, bukannya Shan dulu didaftarin lewat online ya? Papa kirim-kirim apa tuh namanya... Emm... Im... Imm... Ahh Shan gak tau."
"Oh email ya maksud Shan?"
"Nah itu!"
"Iya Shan, emang waktu itu cuma daftar lewat email, tapi papa tau kok guru Shan yang mana. Ada gambar muka gurunya Shan kok di email."
"Oh ya pa? Kok papa gak ngasih tau Shan waktu itu?"
"Hufffftt..." Aku benar-benar sudah sangat lelah dengan segala kecerewetan anak kecil ini. Beruntung akhirnya kita telah sampai di parkiran taman kanak-kanak yang dituju.
Aku menurunkan tubuh Shan lalu melihat ke arah pakaiannya sebentar. Aduh roknya sedikit kusut, pasti gara-gara duduknya tadi sembarangan. Aku lantas merapikan roknya itu sebentar. Dia akan bertemu dengan gurunya, maka dia harus berpenampilan rapi.
"Harusnya papa tadi kuncir rambut Shan dua, kayak kak Salsa waktu pertama kali masuk sekolah dulu." ujar Shan.
"Enggak Shan, enggak. Ini tuh belum waktunya kamu masuk sekolah. Masih belum Shan. Ini kita masih mau ketemu sama gurunya, mau ngobrol-ngobrol dulu."
"Emangnya kita mau ngobrolin apa pa sama guru?"
"Mau konfirmasi beberapa hal."
"Kon... Kon... Kon apa pa? Shan gak ngerti?"
Sesampainya di ruang guru entah kenapa diriku yang mengalami rasa nervous hebat, bukan Shan. Shan malah sangat happy. Dia tidak bisa diam mengamati setiap inchi objek yang berada di ruangan ini.
"Bagus ya dek?" Sebuah suara seketika mengagetkanku. Shan pun juga kaget, dia kemudian berlari lalu bersembunyi di balik tubuhku.
Seorang perempuan dewasa berperawakan subur itu kini mendudukkan tubuhnya tepat di kursi yang berada diseberangku. Kita berdua hanya terhalang sebuah meja. Meja yang terdapat tumpukan buku-buku, sangat khas milik guru-guru.
Perempuan ini pasti gurunya Shan.
"Tuan Chandra Pamungkas? Adek Shania Magika?" tanyanya, memastikan.
"Iya benar bu." jawabku.
Kita berdua lalu berbincang-bincang banyak hal. Beliau bertanya seputar Shan dan aku pun menjawabnya apa adanya. Memang ya kalau guru TK itu selalu menyenangkan. Lihatlah sekarang, rasa nervous ku sudah hilang karena perlakuan beliau yang sangatlah ramah.
Tapi setelah mengobrol lumayan lama akhirnya harapanku pupus begitu saja.
"Shania... Nama panggilannya Shan ya? Wahh bagus banget namanya." puji ibu guru itu yang perhatiannya kini tertuju pada Shan yang masih tetap bergelayut di bawah ketiakku.
"Shan mau sekolah disini ya dek?" tanya beliau.
__ADS_1
Shan mengangguk dengan malu-malu.
"Sini yuk dek, coba Shan salim dulu sama ibu..." Perlahan Shan mulai melangkah mendekati guru itu. Dia akhirnya mau membuka dirinya dan berinteraksi.
Di tengah bersalamannya, tiba-tiba Shan bersuara, "Bu guru, Shan kapan sekolahnya? Shan udah gak sabar bu."
Bu guru seketika melihat ke arahku, aku refleks menggigit pipi bagian dalamku sendiri. 'Bagaimana ini menjelaskannya ke Shan?'
Bu guru lantas menggenggam kedua tangan Shan. "Adek Shan sayang, begini... Kamu masih belum saatnya sekolah dek." ucap bu guru dengan sangat lembut.
"Lah kok gitu?" Shan terlihat mengelak.
"Coba bu guru tanya, umur Shan sekarang berapa?"
"Tiga tahun bu guru."
Bu guru mengulas senyum tulusnya. "Sayang sekali Shan yang cantik... Kata pemerintah di TK itu umur 3 tahun belum boleh. Syaratnya harus 4 tahun nak..."
"Yah... Kalo gitu Shan gak jadi sekolah ya bu guru?"
"Jadi sayang, tapi nanti ya. Shan harus menunggu setelah ulang tahun Shan nanti. Tidak lama kok, bulan Mei ya nak? Ulang tahun Shan bulan Mei kan?"
Shan pun mengangguk.
"Nah, sip. Setelah ulang tahun baru Shan boleh masuk TK. Shan masuknya bulan Juni, waktu tahun ajaran baru."
"Ta-tahun ajaran baru? Tahun ajaran baru itu apa bu guru?"
"Itu waktu dimana anak-anak lainnya yang seusia Shan juga masuk TK. Mereka akan jadi temen-temennya Shan di TK ini, nanti temennya Shan banyak sekali. Dan akan sekolah untuk pertama kalinya bersama Shan saat bulan Juni itu."
"Oh gitu ya?"
"Iya, Shan..."
"Oke, kalau gitu Shan gak sabar buat bulan Juni itu. Shan gak sabar buat masuk TK. Bulan Juni Shan bakalan sama temen-temen. Yeayy!"
Shan memekik sembari melompat-lompat riang dihadapan gurunya itu. Sang guru hanya tersenyum, ikut berbahagia karena respon dari Shan yang seperti itu.
Aku menghela napas sebentar. Menyayangkan kebodohanku sendiri ini. Ahh kenapa aku ceroboh sekali, kenapa aku tidak mengetahui kalau usia ideal anak masuk TK itu adalah 4 tahun?
Hmmm... Dasar payah.
'Maafkan papa, Shan...'
__ADS_1
~tbc...