
Author's POV
"Shan, papa berangkat kerja dulu ya?" Chandra menghampiri putrinya, lalu menyematkan kecupan pada puncak kepala bocah itu sekilas.
"Papa pulangnya jangan lama-lama ya, kayak kemarin aja, siang-siang udah pulang. Biar bisa ngelonin Shan lagi pa."
"Emm... Ya gak bisa Shan. Kalo hari ini papa pulangnya udah normal lagi, udah sore lagi kayak biasanya."
"Oh gitu ya pa?"
"Iya, Shan. Oke papa harus berangkat sekarang nih. Papa pergi dulu yaa..."
"Iya, pa. Dadaa~" Shan melambaikan tangannya. Dia hanya melihat kepergian sang papa, tidak mengantar papanya sampai keluar kamar. Ini karena dirinya sendiri juga sedang sibuk. Sibuk mewarnai...
Shan mulai fokus kembali pada buku bergambar yang berada di hadapannya. Dari gambar jejeran binatang yang tercetak disana Shan masih mewarnainya separuh. Dia harus menyelesaikannya dengan segera agar bisa beralih ke halaman selanjutnya yang gambar-gambarnya lebih bagus lagi. Shan sudah sangat tidak sabar untuk menginjak ke halaman yang selanjutnya.
"Emmm... kucing itu warnanya apa ya? Hitam? Eh gak, gak, gak, Shan gak suka warna hitam. Pink aja deh." Tangan Shan mulai bergerak, mencari pensil warna dengan warna yang dimaksud.
"Yahh udah tumpul...." keluhnya. Shan lantas berdiri, mencoba mencari kotak pensil warnanya yang lain. Kini dijejerkannya di atas lantai semua kotak perwarna yang dia miliki.
Shan mulai memilah benda-benda itu dan bermonolog.
"Gak, gak, gak, Shan gak mau pakek yang ini, ini udah tumpul juga. Yang ini malah udah habis yang warna pink. Yang ini? Emm Shan gak suka, keras susah dipakek gak kayak yang Shan pegang ini." Shan masih melihat ke arah pensil warna utamanya. Dia mencoba berpikir keras, mencoba mencari jalan keluar harus apa dia sekarang.
Hingga akhirnya dia telah memutuskan. "Ah minta tolong uti aja deh biar diruncingin." Shan mengambil rautannya yang berada di atas meja, lalu bergegas keluar dari kamar untuk menemui neneknya.
Memang rautan adalah benda yang mudah dan aman untuk digunakan. Siapapun saja tidak akan terluka jika merauti pensil menggunakan rautan, bahkan Shan pun juga tidak akan terluka. Tapi apa boleh buat, Chandra telah menanamkan kepada Shan untuk tidak menggunakan benda itu. Benda itu memang aman, tapi Chandra masihlah khawatir.
Jarum, pisau, gunting dan segala benda tajam lainnya Chandra sangat larang pada Shan. Bahkan rautan sekalipun.
Tes...
Seketika langkah Shan tercekat di tempat. Shan merasakan ada sensasi geli dari bawah hidungnya. Ada sesuatu yang telah mengalir dari lubang hidungnya. Tapi apa itu? Ingus? Tidak! Shan tidak sedang pilek sekarang...
Shan memberanikan diri mendongakkan pandangannya ke arah lantai, dan didapatinya sebuah genangan kecil berwarna merah disana. Seketika Shan langsung menjerit dan refleks menyeka bagian hidungnya menggunakan tangan.
Kedua tangan Shan kini tidak luput dengan noda cairan itu. Shan mulai menangis takut dan tanpa sadar bergerak mundur beberapa langkah, hingga akhirnya tubuhnya menabrak sebuah pintu yang berada dibelakangnya.
Seseorang dari pintu itu tiba-tiba keluar. "Kamu ngapain sih Shan? Ngehalangin aku aja yang mau keluar!" Salsa memarahi Shan, tanpa Shan membalik tubuhnya agar berhadapan dengannya.
"Shan?!" panggil Salsa dengan keras karena merasa dirinya tidak digubris sama sekali oleh anak itu.
Masih belum ada respon dari Shan hingga akhirnya Salsa menarik rambut Shan.
"Awww sakit kak Sal!" pekik Shan.
"Makanya jangan bikin kesel!"
Shan memegangi rambutnya sendiri yang terasa sangat sakit karena tindakan Salsa baru saja. Sangat sakit, dan dia tidak terima.
Shan akhirnya mau berbalik. Belum sempat pandangan Salsa bertemu dengannya, Shan langsung menyerang sepupunya itu tanpa aba-aba. Dan akhirnya terjadi aksi saling jambak diantara keduanya.
__ADS_1
"Lepasin sakit!" jerit Salsa tapi Shan tidak peduli sama sekali. Shan tidak akan mau melepaskannya jika bukan Salsa dulu yang melepaskan.
"AAAKKHHH MAMA!!" teriak Salsa sangat keras dan akhirnya berhasil mengundang Yola datang ke tempat.
"Hei Shan!!!" Yola datang dan langsung meneriaki Shan.
"Kak Salsa duluan tante!" ucap Shan yang tangannya masih menarik rambut Salsa.
"Enggak ma! Dia duluan!" sangkal Salsa. Salsa kini mulai menangis, merintih kepada sang mama.
Yola sekuat tenaga mencoba melepaskan tangan Shan dari rambut putrinya. "Shan lepas!"
"Kenapa tante gak nyuruh kak Salsa buat lepasin lebih dulu?"
PLAKKKK
Satu tamparan mendarat di pipi Shan dengan sangat keras. Shan langsung jatuh tersungkur ke samping, genggaman tangannya pada rambut Salsa pun seketika terlepas.
Rasa panas mulai menjalar menyerang pipi Shan. Gadis kecil itu hanya bisa tercekat di tempat dan memegangi pipinya dengan erat. Shan sangat kaget. Baru kali ini dia mendapatkan sebuah tamparan.
Yola memeluk tubuh Salsa, menenangkan Salsa yang tangisannya kian dikeraskan.
"Jangan berani-berani ngelukain anak gue!" ucap Yola dengan tatapan penuh amarah kepada Shan.
Shan benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Dia hanya diam dan diam melihat ketidakadilan yang terjadi disini. Dirinya sungguh dicurangi. Shan itu tidak bersalah, sama sekali tidak bersalah. Salsa lah yang memulai duluan, Shan sangat yakin. Tapi sekarang apa? Apa yang Shan dapatkan?
Bukankah disini Shan lah yang harusnya dipeluk dan ditenangkan?
Shan sudah tidak kuat lagi berada disini. Shan berlari menjauh dengan keadaan menangis. Dia menuruni deretan anak tangga dengan cepat. Berharap segera sampai di dapur dan mengadukan semuanya kepada sang nenek.
Akan tetapi...
"Shan?"
Sebuah panggilan refleks membuat Shan menoleh.
"Pa... Papa?" lirih Shan yang telah berderai air mata. Shan merubah arah tujuannya. Kini dia berlari ke arah sang papa dan langsung menghamburkan pelukannya sangat erat. Shan menangis tersedu-sedu di dalam rengkuhan Chandra.
"Shan kenapa?" tanya Chandra sembari mengernyit tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya itu.
Shan masih belum bisa berhenti menangis.
"Shan, tenang dulu... Cup sayang cup... Udah-udah, papa disini sayang. Kenapa menangis hm?"
"Kak Salsa jahat pa."
Chandra seketika naik pitam. Tanpa pikir panjang dia langsung memutuskan untuk menuju ke lantai atas, melabrak keponakannya itu.
"Salsa!" panggil Chandra sangat keras. Dan ternyata target yang ditujunya telah berada didepan mata saat kedua kakinya baru menginjak dilantai dua. Lengkap dengan Yola juga, back up-annya.
Chandra langsung menunjuk bocah itu menggunakan jari telunjuknya. "Anak lo ngapain anak gue ha?!" tanyanya pada Yola.
__ADS_1
"Hei! Gue yang harusnya tanya! Kenapa anak lo berani-beraninya nyerang anak gue?!"
Chandra mengernyit. "Nyerang?" Laki-laki itu kemudian beralih menatap Shan yang berada dibelakang tak jauh darinya.
Shan menggeleng dengan cepat.
"Dia bohong!" pekik Salsa. "Dia tadi jambak aku ma, dia yang nyerang aku duluan, hiks..."
Yola segera menenangkan Salsa yang menangis, lagi. Sedangkan Chandra, kini kepalanya dibuat semakin pening dengan keadaan ini.
Chandra menghampiri Shan, lalu berjongkok tepat di hadapan bocah itu untuk menjajari ketinggiannya. Chandra mulai menggenggam kedua pundak Shan kuat-kuat. "Shan gak lagi bohongin papa kan? Shan beneran gak nyerang Salsa duluan kan? Ayo Shan, kasih tau papa apa yang sebenarnya terjadi?"
Shan menundukkan pandangannya. Perlahan air matanya mulai mengalir kembali.
"Shan liat mata papa, Shan!" Chandra mengguncang-guncangkan kedua pundak Shan dengan keras. Hingga akhirnya Chandra menyadari satu hal...
Chandra lekas meraih kedua tangan Shan. "Ini kenapa Shan? Ini darah apa?"
Yola membelalak seketika dan mulai mendekat. "Liat Chan! Itu pasti darahnya Salsa! Liat ulah anakmu! Astaga Salsaku yang malang!"
Yola menarik Salsa ke dalam gendongannya dengan sangat heboh. Dia mulai meneliti sekujur tubuh anaknya itu, bagian mananya yang terluka. Tangisan Salsa menambah bumbu-bumbu kepanikan Yola kian meningkat.
"Kalo sampek anak gue kenapa-napa, awas aja lo Shan!" ancam Yola.
"Chandra urus anak lo dengan bener!"
Perasaan Chandra seketika sangat terluka karena ucapan Yola itu. Kedua tangannya kini terkepal kuat dan rahangnya mengeras. Chandra menatap Yola dengan tatapan merah padam penuh amarah.
Plakkk!
Ibu dan anak itu sontak tercekat ditempat.
"Maksud lo gini kan Yol? Plakkk! Gimana Yol?! Lo udah puas kan?! Plakkkk!! Gini kan cara ngurus anak yang bener?! Iyakan Yol?!"
Plakkkk!
Chandra mengujani Shan dengan pukulan pada pantat bocah itu.
Plakkkk!
Berkali-kali. Pukulan yang Chandra berikan bukanlah pukulan yang main-main. Sangat keras. Suaranya bahkan menggema ke seluruh ruangan.
Chandra kalut dalam amarahnya. Emosinya meluap-meluap. Chandra benar-benar tidak menyangka jika dia akan dihadapkan situasi seperti ini. Sudah dua kali dalam sehari ini kesabarannya diuji. Di kantor tadi dia dimaki-maki karena berkasnya tertinggal di rumah, dan di rumah saat Chandra hendak mengambil berkas. Dia dihadapkan dengan ini. Semuanya benar-benar buruk...
"Papa gak pernah ngajarin kamu buat bohong, Shan!"
Plakkkkk!
Shan hanya bisa pasrah. Membiarkan papanya melampiaskan semua amarahnya padanya.
~tbc...
__ADS_1