
Hening...
Hening....
Sangat hening...
Jeritan histeris Jimmy setelahnya membuat ruangan berubah menjadi hening.
Beberapa saat kemudian timbullah sebuah isakan lirih.
"Sssttttt tidak apa-apa kok." Salsa dengan inisiatifnya sendiri segera mengambil tisu yang berada di atas meja lalu mengelap lelehan cairan darah yang keluar dari lubang hidung Shan.
Satu lembar tisu, dua lembar tisu, tiga lembar tisu, hingga entah ini lembar tisu ke-berapa yang Salsa tarik untuk membersihkan darah mimisan Shan yang terus menerus keluar.
"Jangan takut Shan. Ingat, kamu kuat kan? Kamu anak yang pemberani kan? Kayak Elsa kan?"
Tangisan Shan akhirnya berhenti.
"Dek, kayaknya kita harus panggil mama." usul Jimmy yang langsung ditolak oleh Salsa.
"Gak, buat apa sih kak. Shan loh baik-baik aja, iya kan Shan?"
Perubahan situasi terjadi.
Shan mengangguk dan menyeru. "Ayo kita lanjut main lagi aja!"
Shan kini mulai mengesot. Dia memindahkan tubuhnya mengandalkan kedua tangan. Menyeret kedua kakinya yang tidak bisa digerakkan itu menuju ke arah kontainer penyimpan mainan.
Walaupun dirinya barusaja mimisan sangat banyak, dirinya tidak gentar sedikitpun untuk lanjut bermain.
Salah satu sepupunya yaitu Jimmy sebenarnya masih memiliki perasaan takut, namun Salsa menepis akan hal itu.
"Kak, Shan itu pengen bermain. Udah ayo bermain aja, ayo turuti dia. Please ini bisa menjadi rahasia kita."
"Ta—tapi kakak kasihan dek..." Jimmy tertunduk dengan wajah sendu.
Salsa meraih wajah kakaknya itu dan mengarahkannya untuk memandangnya. "Kak, kita kesini punya misi buat bikin Shan seneng kan? Ingat misi kita kan kak?"
Jimmya akhirnya mengangguk. Bocah itu menghapus raut wajah sedihnya lalu tersenyum dengan antusias seperti sedia kala.
Kedua bocah itu lalu menghambur dengan Shan. Memilih mainan lain yang berada di dalam kontainer untuk akan dimainkan bersama.
Setengah jam berlalu, para orang dewasa kembali ke tempat anak-anak mereka berada.
"Wihhh seru sekali, main apa sih kalian?" tanya Chandra tatkala masuk ke dalam ruangan.
"Banyak om!" seru Jimmy. Chandra mengusap puncak rambut Jimmy sekilas, lalu beralih menghampiri Shan yang duduk di atas permukaan lantai.
Chandra berjongkok dan menyapa putri kecilnya tersebut. "Gimana sayang? Shan seneng bisa main sama kakak-kakaknya lagi?"
Shan mengangguk.
"Kalo udah capek bilang ya, Shan bisa istirahat dulu sebentar."
"Iya pa."
Chandra mengernyit ketika penglihatannya menangkap sesuatu yang mencuri perhatiannya.
Di kolong bed. Benda apakah itu? Seperti sisa-sisa bekas tisu yang dibuang asal. Siapa kah yang membuang-buang tisu seperti itu?Dan sebentar.... Sepertinya ada yang tidak biasa dari sampah-sampah tersebut.
Chandra yang penasaran mencoba memusatkan perhatiannya lagi.
Setelah tahu, Chandra refleks merengkuh wajah Shan. Chandra mendongakkan wajah Shan itu sedikit ke atas untuk melihat sesuatu.
"Kamu abis mimisan ya Shan?"
Deg.
Chandra mengetahui apa yang sebenarnya baru saja terjadi pada anak kecil itu.
Seluruh penjuru mata yang berada di dalam ruangan itu pun kini menyimak Chandra dan Shan.
Dua anak kecil lainnya yang berdiri di belakang tubuh mama mereka kini banjir keringat.
"Enggak kok pa." Bisa-bisanya Shan masih mengelak akan kenyataan yang sudah terbukti.
Tapi.... Bukan seperti dugaan orang-orang yang menduga Chandra akan marah dan mengamuk karena anaknya tidak dalam kondisi yang baik. Chandra malah...
"Ayo dibersihkan dulu hidungnya sayang, lalu lanjut main lagi, oke?" Chandra menggendong Shan menuju kamar mandi dan melakukan seperti yang dikatakannya.
Sore hari menuju petang menjelang. Tepatnya akan memasuki waktu maghrib, para sepupu Shan berpamitan untuk pulang.
"Ayo anak-anak salim, besok kita kesini lagi ya sepulang sekolah. Shan jangan sedih, tunggu kita ya..." ucap Yolla.
Salsa dan Jimmy bersalaman dengan Shan. Shan yang berada di atas bed terlihat menekuk wajahnya, tanda berat hati karena kedua sepupunya tersebut akan meninggalkannya.
Ruangan tempatnya di rawat akan kembali sepi. Dan Shan sangat tidak menyukai yang namanya sepi.
"Eh gak papa Shan, kan kak Jimmy sama kak Salsa besok balik lagi. Mereka harus pulang sayang, karena besok mereka harus sekolah. Jangan sedih gitu elahh..." Chandra memeluk tubuh Shan yang nyaris terisak itu.
Ternyata kata pamit bagi Shan itu semenyakitkan ini.
Lambaian tangan berhasil Shan lihat, namun Shan tidak membalas lambaian tersebut. Anak kecil ini akhirnya telah larut dalam isakannya juga.
Chandra hanya bisa menghela napas, sembari menenangkan Shan yang menangis memilukan.
Ternyata tangisan Shan bertahan lumayan lama. Keluarga Yolla telah sampai rumahpun, Shan masih betah menangis.
"Heii jangan kayak gitu dong Shan, gak boleh nangis-nangis terus. Kan besok masih bisa ketemu lagi..." Chandra masih terus menenangkan Shan.
"Hiks... hiks... "
"Ih kamu ini kenapa sih?"
Chandra sendiri juga heran. Kenapa anak ini begitu mellow? Kenapa anak ini begitu menginginkan ditemani sepanjang waktu dengan mereka? Kenapa? Kenapa???
"Cup cup Shania, Shania gak boleh menangis terus. Nanti laper." Rosa menghampiri keberadaan Chandra dan Shan yang berada di dekat jendela.
Sorot sang fajar yang tenggelam seketika membuat ketiganya akhirnya terpaku dalam keindahannya.
Warna oranye, begitu menentramkan hati...
"Baguskan Shan? Itu namanya sunset."
Shan melupakan tangisannya, dirinya melongo melihat pemandangan yang ditunjuk oleh jemari papanya itu. Hingga beberapa saat kemudian, muncullah sebuah pertanyaan.
"It—itu mau kemana mataharinya pa?"
"Mataharinya ya hilang Shan, ganti bulan."
"Kok bisa gitu? Kenapa pa??"
"Emmm... Ya gak tau pokoknya gitu Shan. Udah takdir."
"Tak—takdir? Takdir itu apa pa?"
Chandra menoleh ke arah Shan. "Kamu ini banyak nanya ya Shan."
Tanpa sadar tawa Rosa langsung keluar. Rosa refleks tertawa, dan akhirnya membuat Chandra dan Shan memusatkan perhatiannya pada Rosa.
"Eh maaf... Emm—Shania tadi tanya apa itu takdir ya?" Rosa mencoba menetralisir rasa malunya.
Shan mengangguk. "Iya kak, takdir itu apa? Shan gak ngerti."
__ADS_1
Rosa tersenyum sejenak sebelum menjelaskan. "Jadi Shania, takdir itu adalah garis yang sudah ditentukan oleh Tuhan."
"Garis? Garis apa kak? Kok Tuhan juga menggambar garis?"
Chandra langsung melemparkan tatapan seolah 'Nahkan, panjang jadinya. Kapok lo!' ke arah Rosa.
Rosa hanya membalas tatapan Chandra itu dengan senyuman.
"Gini Shania, maksudnya garis itu adalah sesuatu yang memang sudah disusun sama Tuhan. Direncanakan Tuhan demi kebaikan kita. Jadi kalo takdirnya matahari tenggelam lalu berganti bulan itu kan memang dimaksudkan agar manusia tau bahwa hari itu gak selamanya siang atau ada matahari yang terang terus. Akan selalu ada malam Shania. Malam buat orang-orang beristirahat setelah seharian beraktivitas. Jadi Tuhan membagi waktu antara siang dan malam untuk kebaikan orang-orang."
"Ah Shan gak ngerti."
Chandra refleks menepuk keningnya sendiri. "Udahlah, besok kalo kamu udah gede kamu bakalan ngerti. Pokoknya ada siang sama malam itu udah takdir Shan."
Shan menggut-manggut sejenak.
Tiga pasang netra itu kemudian kembali terpusat pada sunset yang tinggal hitungan detik itu berakhir.
1
2
3
Hari akhirnya benar-benar gelap.
Shan yang masih berada di atas gendongan Chandra itu perlahan meletakkan kepalanya pada dada bidang Chandra.
Chandra mendongak kebawah untuk melihat ke arah putrinya. "Shan ngantuk ya?"
Shan menggeleng pelan.
Chandra lalu menimang-nimang tubuh Shan karena pikir Shan memang saat ini sedang mengantuk. Namun, gerakan nyaman yang diberikan Chandra itu seketika berhenti ketika...
"Loh Shan, badanmu kok anget?"
Chandra memastikannya lagi dengan menyentuh dahi, pipi, dan leher anak kecil itu. Chandra lantas memandang Rosa.
Rosa pun lalu ikut menyentuh bagian tubuh Shan. Kening Shan memang sedikit lebih hangat dari suhu orang lainnya.
"Shania pusing?" tanya Rosa, Shan langsung menggelengkan kepalanya.
Chandra mendesah sedikit. Laki-laki itu lalu membawa Shan untuk duduk di tepi bed nya.
"Kenapa? Shan kenapa Chandra?" Dewi yang baru saja selesai sholat maghrib itu seketika panik melihat gelagat Chandra dan Rosa yang memang juga panik.
"Ini Shan badannya anget ma."
"Ha anget? Kok bisa??"
"Ck! Udahlah mama diem aja si. Berisik banget orang tua." Chandra mulai kesal. Mengingat operasi akan dilaksanakan malam ini, tetapi tiba-tiba kondisi Shan tidak fit seperti ini.
"Aku panggil dokter Hans saja ya." ucap Rosa namun langsung mendapat bentakan oleh Chandra.
"Panggil gimana?! Dokter Hans kan lagi rapat buat operasi nanti! Gak dengerin ya lo tadi pas dia ngasih tau?! Emang dasar lo budeg!"
Rosa hanya bisa beristighfar.
"Udah sana ambilin Shan minum air putih aja."
Rosa diam sejenak. Dalam benaknya membatin, Shan kan masih diharuskan berpuasa. Namun pelototan yang didapatkannya dari Chandra langsung membuatnya berlari menuju pantry.
Rosa datang dengan segelas air putih di tangannya.
"Sini." Chandra mengambil alih gelas itu lalu meminumkannya pada Shan.
"Gak papa kali ya minum sedikit, kasihan Shan-nya kehausan sampai demam gini." ucap Chandra.
Kenapa secara tiba-tiba sekali? Tidak ada yang tahu persis jawabannya.
"Udah ya sekarang Shan bobok dulu. Papa kelonin ya." ucap Chandra dengan lembut.
Chandra lalu memposisikan tubuh Shan untuk tidur dengan nyaman. Kemudian tubuhnya Chandra sendiri mengambil posisi di sebelah Shan.
Sebenarnya belum ada yang tahu tepatnya pukul berapa operasinya nanti berlangsung. Dokter Hans belum memberitahu. Dokter itu hanya mengatakan nanti malam.
Entahlah, sepertinya ruangan operasinya masih dipersiapkan. Tidak apa-apa bukan sambil menunggu semuanya siap Shan-nya tidur dulu sebentar.
"Bobok sayang, kamu lihat apa?" Chandra terheran-heran kenapa Shan terus memandang ke atas. Ke arah langit-langit ruangan.
Rosa yang berada tidak jauh dari bed juga ikut penasaran.
"Kung-kung..."
"Hah?" Sontak Chandra terkejut. Degup jantungnya menjadi lebih cepat.
Shan menunjuk ke arah langit-langit menggunakan tangannya. "Kung-kung.... Kung-kung datang pa. Kung... Shan ikut...."
Deg.
"Kamu ini ngomong apa sih Shan?? Hei! Heiii lihat sini! Lihat papa Shan!!!" Chandra meraih wajah Shan, mengarahkannya untuk menatapnya. Namun kedua mata anak itu masih terpusat akan hal lain.
"Ma! Mama!" Chandra akhirnya berteriak-teriak memanggil Dewi.
Dewi datang dan langsung ikut kebingungan seperti Chandra dan Rosa.
"Ma ini gimana? Shan manggil-manggil papa. Papa katanya datang ma! Kung-kungnya Shan datang!"
Air mata Dewi seketika menetes. Dewi menghambur memeluk Shan yang juga masih dipeluk oleh Chandra.
Sementara itu Rosa masih tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Kung-kung apa maksudnya? Apa itu kung-kung? Siapa itu kung-kung?
...***...
Rosa's POV
Chandra berteriak.
"Shan! Shan! Lihat papa Shan! Apa yang kamu lihat itu heiii! Papa disini Shan! Shannnn!"
"Istighfar Shan. Ayo dengerin uti Shan. Ikutin uti Shan, astaghfirullah..."
Aku menutup mulutku sendiri dengan kedua tangan. Perasaanku makin tidak karuan. Firasatku tidak enak.
"Kung-kung, Shan ikut... Bawa Shan kung..."
"ENGGAK SHAN!" Chandra menangis histeris.
Aku langsung menghambur memeluknya dari belakang. Aku tidak kuasa melihat tubuh ringkih Shania terus diguncang-guncangkan dengan sangat keras oleh Chandra.
Aku meraih tangan mungil itu. Tangan yang mengepal sangat erat. Aku mencoba membukanya agar bisa menggenggamnya, namun sangat sulit. Shania mengepal sangat kuat.
"Shania sebenarnya kamu kenapa?" Tangisanku semakin menjadi ketika melihat tubuh Shania mulai kejang-kejang.
"Shannn!!!" Chandra berteriak histeris. Dengan penuh emosi dia memeluk Shania-nya. Mendekap tubuh mungil yang kejang itu di dalam dadanya.
Mama hanya bisa menangis dan terus menyebut nama Tuhan sekeras mungkin.
Aku... Aku sungguh tidak kuasa lagi. Hatiku terasa diremat. Aku tidak kuat berada di situasi yang seperti sekarang ini.
Ya Tuhan tolong Shania-ku!
"Shania... Shania... Hikks... Kamu kuat sayang. Shania sadarlah...." Aku terus menggenggam kedua tangan kecil yang mengepal sangat kuat itu dan memanggil-manggilnya.
__ADS_1
Tombol emergency yang kupencet di samping bed nyatanya tidak kunjung membuat para medis datang menolong.
Aku lantas naik ke atas bed mencoba menenangkan Shania dan Chandra secara bersamaan.
"Chandra please tenanglah..."
Aku memang tidak tahu sampai kapan Shan akan berhenti kejang, namun dengan Chandra yang terus menangis dan mendekap tubuh kecil itu, menurutku semua itu adalah cara yang salah.
"Chandra kita harus tenang!"
Chandra tidak menggubrisku sama sekali, laki-laki itu masih terus menangis dan menangis. Mengguncang-guncangkan tubuh Shania lalu memeluknya lagi.
Hingga tiba-tiba semburan darah keluar dari mulut Shania. Anak kecil itu muntah darah.
Darah yang sangat banyak.
Chandra, aku, dan mama sangat syok. Kita bertiga langsung terdiam beberapa detik seperti membeku sesaat.
Shania masih mau muntah lagi. Anak itu mengambil ancang-ancang dan...
Byurrr...
Pakaian Chandra yang berwarna putih itu sekarang dibanjiri oleh noda darah.
Mama segera mencari segala benda, benda yang dapat digunakan untuk menampung darah yang dikeluarkan Shania karena sepertinya Shania akan muntah lagi.
Aku mencoba mengambil alih untuk memangku Shania dari pangkuan Chandra namun Chandra menolak.
Chandra menepisku.
Chandra ingin memeluk anak itu sendiri.
Tapi aku sangat tahu jika laki-laki itu phobia darah, dia takut darah. Aku tidak mau Chandra lemas dan pingsan lagi. Aku tidak mau.
"Lepasin! Biar aku aja! Aku papanya! Dia anakku!"
Deg.
Aku terperangah sepersekian detik. Benar ucapan Chandra itu, tapi aku... Bukannya aku juga mamanya.
Mama Dewi datang dengan sebuah ember kecil di tangannya, bersamaan dengan para dokter yang menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Dokter t*l*l! Dokter gak kompeten! B*doh!" Chandra langsung memberondong kata-kata makian untuk para manusia berjas putih tersebut.
Chandra benar-benar emosi. Tangisnya, amarahnya, dan ketakutannya bercampur menjadi satu.
Aku menarik Chandra untuk turun dari bed agar para dokter dapat melakukan tindakan pada Shania.
Tapi ternyata turun saja tidak cukup, para petugas medis itu menyuruh kita bertiga untuk keluar dari ruangan.
"Gak mau! Gue gak akan keluar! Gue akan tetep disini nemenin anak gue! Siapa sih lo nyuruh-nyuruh gueee?!"
"Chandra please..."
"Chandra sabar nak, ayo kita keluar."
"GAK AKAN!" Chandra mendorong tubuhku dan tubuh mama yang sudah hampir berhasil membawanya ke pintu keluar. Kita berdua kalah, tenaga laki-laki itu terlampau kuat.
Chandra berlari lagi menghampiri Shania yang terkulai lemas di tangan para dokter.
Hatiku bergitu teriris melihat Chandra dengan sangat putus asa menangis, menggenggam tangan Shania sangat erat, memohon agar Shania yang tengah ditekan-tekan dadanya oleh salah satu dokter itu dapat sadar kembali dan membuka matanya.
Namun respon yang diberikan Shania membuatku begitu lemas. Saturasi oksigen Shania turun drastis, sampai-sampai Shania harus dipasang intubasi, sebuah selang panjang yang langsung masuk menerobos mulut dan tenggorokannya hingga ke kerongkongan untuk dipacu bernapas secara manual.
Chandra semakin menangis tidak karuan ketika monitor yang mengukur detak jantung Shania membentuk garis tak beraturan dan nyaris lurus.
Aku berlari ke tempat Chandra berada. Segera melepaskan genggaman laki-laki itu pada tangan kecil Shania karena sebentar lagi dokter akan mengejutkan jantung Shania dengan defibrillator.
"Shan!!!" jerit Chandra saat dua benda menyerupai setrika itu mendarat di dada kecil Shania.
Tubuh Shania terangkat secara otomatis karena reaksi alat kejut tersebut, kemudian jatuh ke permukaan bed kembali.
"Tambah tegangan. 200 joules." perintah sang dokter.
Bunyi mendenging memenuhi ruangan. Sepasang alat itu siap digunakan kembali. Dokter menggosokkan keduanya lalu...
"Clear! "
"Shann!!!" Chandra menjerit.
Berulang kali tubuh Shania terangkat, kemudian seolah terbanting kembali ke atas bed. Shania sekarang pasti sangat kesakitan, ini membuat Chandra semakin histeris.
Aku tidak tahu harus melakukan apa. Tubuh Chandra terasa semakin berat dalam dekapanku. Kata-kata penenangku sama sekali tidak terdengar di telinganya.
Aku menyerah Chandra, aku menyerah...
Aku juga sedih atas Shania. Aku juga tidak ingin Shania seperti ini. Tapi tolong, kuatkanlah dirimu...
Pundakku terasa sangat basah karena air mata Chandra. Aku sudah sangat tidak kuat. Hingga akhirnya dokter Hans datang dan membantuku untuk membopong Chandra keluar.
Dokter Hans mendudukkan Chandra di salah satu bangku ruang tunggu. Aku masih memeluk tubuh kekar yang sekarang sedang terisak hingga sesenggukan sangat hebat ini.
"Chandra tenanglah. Tenang..."
Chandra langsung menatapku dengan sorot mata tajamnya. Walaupun wajahnya berhias air mata namun tatapannya seolah menikamku.
Chandra meraih kerah bajuku lalu mencengkeramnya.
Aku seketika tercekik.
"Ch—Chandra." Dokter Hans mencoba melerai namun....
Rahang Chandra mengeras. "Tenang? Bisa-bisanya lo suruh gue tenang!" teriak Chandra tepat di wajahku pas.
Chandra yang berlinang air mata semakin mengeratkan cengkeramannya.
"Lo... Lo gak bisa ngerasain apa yang gue rasain. Dia anak gue. Anak gue lagi sekarat!"
"CHANDRA DIA JUGA ANAKKU! AKU INI MAMANYA!"
Aku bisa merasakan sendiri bagaimana cengkeraman Chandra seketika meregang. Chandra melepaskanku, tangannya yang berotot kini terkulai dan jatuh lemas.
Aku menarik atensi Chandra lagi. Aku menarik pandangannya agar dia mau memandangku lagi.
"Chandra stop bilang dia hanya anakmu. Shania adalah anakku juga Chan. Maafkan aku, tapi mau sampai kapanpun aku adalah mamanya Shania..."
Chandra menunduk, membiarkan deraian air matanya semakin mengalir deras.
Aku sungguh tidak bermaksud membuatnya semakin terpuruk seperti itu. Tapi, tapi ini semua adalah benar adanya. Ini semua kenyataannya.
"Chandra, aku sama sedihnya denganmu. Aku sangat takut kehilangan Shania. Aku bahkan belum bisa mengatakan kepadanya bahwa aku adalah mamanya."
Chandra mengacak-acak rambutnya sendiri dengan frustasi. Dengan tubuh yang lemas dia berdiri dan mulai melangkah gontai menuju pintu ruangan tempat Shania berada.
Chandra melihat kondisi di dalam melalui kaca yang terdapat di pintu tersebut. Detik berikutnya laki-laki itu menangis histeris kembali.
Aku hendak memeluknya, namun.... Laki-laki itu berlalu pergi.
Chandra melangkah pergi meninggalkanku, meninggalkan pintu yang membatas ruangan tempat putri kecilnya berjuang diantara hidup dan mati.
Chandra... Kamu mau kemana?
~tbc....
__ADS_1