
"Shania artinya berseri-seri. Seorang gadis yang cantik dengan wajah berseri-seri, yang siapapun memandangnya maka akan menyayanginya. Arti nama yang sangat indah sangat sengaja kusematkan untuknya, dengan tujuan yang demikian. Aku ingin Shania-ku mendapatkan kasih sayang dari semua orang di sekelilingnya. Walaupun aku tau tumbuh tanpa kasih sayang dari sang ibu kandungnya sendiri itu sangatlah berat.
Shan, yang berarti juga suatu perjalanan. Aku memiliki Shan yang hadir dalam hidupku membuatku tersadar bahwa Shan itu dititipkan untukku sebagai bentuk kasih sayang Tuhan padaku dan juga sebuah tanggung jawab yang harus ku jaga selama usiaku. Shan adalah perjalananku, seorang teman yang berada disisiku untuk menempuh perjalanan panjang bersama yang dinamakan kehidupan.
Shan, papa mohon bertahanlah. Temani papa terus sayang. Perjalanan kita masih panjang..."
Dokter Hans mencegah langkah Chandra. "Mau kemana?? Putrimu sedang kritis!"
Cengkraman tangan dokter itu nyatanya tidak berhasil menghentikan kaki Chandra untuk pergi. Manusia itu hilang kendali, dan lepas begitu saja.
Entah kemana yang Chandra tuju saat ini. Tubuhnya telah basah kuyup. Hujan di malam hari ini seolah tau akan keadaan hati Chandra, hujan hanya mencoba membasuhnya.
Berkilo-kilo meter Chandra berjalan di tengah kegelapan dan kesunyian. Seketika kakinya gemetar ketika melihat secercah cahaya dari kejauhan di ujung persimpangan.
Rasanya dilanda deja vu, detak jantung Chandra perlahan tapi pasti semakin berdegup kencang.
Ketakutan 4 tahun lalu seolah menghampirinya lagi. Bukan menghampiri, namun Chandra-lah yang malah menantangnya untuk hadir.
Gerbang besar nan tinggi menjulang, mansion mewah gaya eropa tepat berada di matanya. Chandra sudah tidak punya waktu lagi, bergegas laki-laki itu memencet bell yang tersedia di sisi gerbang.
Satu satpam keluar dengan payung yang berada di tangannya.
"Siapa malam-malam begini? Apakah anda sudah membuat janji dengan pak Perdana Menteri??"
Bibir Chandra semakin bergetar. Lidahnya kelu, sangat kesusahan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.
Satpam melihat tampilan Chandra dari ujung kepala hingga kaki. Detik berikutnya, satpam itu tersadar akan sesuatu.
"Kamu anak yang waktu itu ya." ucapnya sembari menyunggingkan bibirnya.
Tanpa mengucapkan sepata kata lagi, sang satpam langsung menutup kembali gerbang besar itu.
__ADS_1
"Tunggu pak! Saya mohon!" Chandra berlutut di kaki satpam tersebut. Sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Kini dia hanya bisa memohon dan memohon.
Bukan sebuah bentuk keluluhan hati atau kasihan, sang satpam memperbolehkan Chandra untuk masuk dan mengantarnya untuk menemuhi atasannya. Sang satpam hanya berlaku sesuai arahan. Biar tamunya lihat sendiri jika tuannya tidak bisa ditemui tanpa kesepakatan janji sebelumnya.
"Tunggu disini, saya panggilkan beliau."
"Biarkan saya ikut masuk ke dalam rumah."
Chandra menolak menunggu di teras. Dia ingin bicara langsung dengan orang yang dimaksud.
"Ada apa ini?"
Belum sempat dipanggilkan, ternyata orang tersebut keluar menghampiri keberadaan Chandra.
Chandra seketika menundukkan pandangannya dalam-dalam. Untuk menatap kedua mata tersebut saja rasanya Chandra tidak berani.
"Sampah ini lagi."
Ada perasaan marah dan sakit hati yang kini bersemayam di dalam dada Chandra, tapi Chandra tidak bisa melakukan apa-apa.
Chandra memakluminya....
Panggilan itu memang cocok disematkan untuknya karena kekecewaan seorang ayah.
"Ayah..."
Sebuah suara panggilan dari dalam ruangan membuat Chandra refleks menoleh. Suara itu, Chandra sangat mengenalnya.
Mata Chanyeol langsung tertuju pada sumber suara itu. Perawakan yang masih sama, wajah yang masih sama, dan suara yang masih sangat sangat sama. Seperti 4 tahun lalu.
"Rosa..." lirih Chanyeol dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Perempuan itu menampilkan ekspresi terkejut. Dia kaget mengetahui Chandra berada di kediamannya.
Perempuan bernama Rosa itu masih berada di dalam ruangan, enggan keluar. Hanya membeku di tempat. Membeku di belakang tubuh ayahnya yang sejak dahulu menjadi perisainya.
"Pak satpam bawa keluar sampah ini!"
Chandra menggeleng cepat, dia tidak mau digelandang keluar oleh satpam. Dia bersikeras bertahan di sana walau tubuhnya terpelanting kesana-kemari karena memberontak.
"Tolong lepaskan saya! Saya bisa keluar sendiri! Saya mau ngomong dulu, tolong dengarkan saya!"
"Ayo keluar!"
"Rosa tolong ikutlah denganku! Tolong temui anakmu Rosa! Anakmu sekarang ini kritis!"
Perempuan itu akhirnya bergerak. Dia melangkah maju membuat ayahnya yang sedari tadi menampilkan ekspresi datar kini rahangnya seketika mengeras.
Chandra menghempaskan dengan kasar tangan satpam yang mengunci kedua tangannya.
Chandra kini maju satu langkah, mengikis jaraknya dengan perempuan berambut pirang itu.
"Tolong, aku tidak tau dia bisa bertahan atau tidak malam ini. Ini permintaannya yang terakhir. Dia ingin bertemu dengan mamanya." ucap Chandra dengan berlinang air mata.
Rosa melihat setiap lelehan air mata Chandra. Butuh berdetik-detik atau bahkan hingga berganti menit, perempuan itu tidak kunjung membuka suara.
"Rosa please..."
"Anak apa yang kamu maksut? Aku tidak pernah menginginkannya Chandra."
Deg
~tbc...
__ADS_1