
Sekarang apa?
Itu lah kalimat yang tepat untuk menggambarkan situasi terkini. Chandra memangku tubuh kurus Shan, menimang-nimang anak kecil itu sembari berpikir akan menempuh jalan apalagi untuk selanjutnya.
Dewi menampilkan raut sendunya. Ibu mana yang tidak merasa sedih hati melihat anak dan cucunya diuji seberat ini oleh Sang Maha Kuasa.
"Ma, tolong kemasi baju-bajunya Shan. Kayaknya kita akan pulang abis ini."
"Tidak!" suara keras itu seketika memekakan telinga. Rosa datang dan langsung melakukan penolakan dengan tegas.
Chandra kini menatap Rosa dengan tatapan mengernyit. "Kamu memangnya mau ngapain disini terus ha? Yaudah its okay kalo kamu mau stay disini, tapi gue sama Shan tetep akan pulang."
Kedua mata Rosa berkaca-kaca. Terlihat jelas bagaimana perempuan itu menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak terjatuh.
Helaan napas terdengar dari mulut Chandra. Laki-laki itu menghela napas, bukan maksud Chandra ingin membuat Rosa menangis, hanya saja...
"Udahlah, ayo kita pulang Sa..." ucap Chandra, memohon.
Tidak menanggapi apa-apa, Rosa memilih untuk keluar dari ruangan lagi. Entah apa yang disibukkan oleh perempuan itu untuk saat ini.
Hingga beberapa saat kemudian semuanya tahu jika Rosa sedang melakukan sesuatu. Sesuatu untuk keberlangsungan pengobatan Shan.
"Kamu ini!" Chandra meninggikan suaranya tatkala membaca sebuah kertas yang diberikan Rosa.
Ya, Rosa datang dengan sebuah kertas yang memuat kontrak pengobatan antar dokter dan pasien. Dokternya bahkan didatangkan langsung dari rumah sakit ternama. Dokter yang sangat bagus, yang dipanggil sendiri oleh ayahnya Rosa.
"Sekarang memang tidak ada dokter Hans, tapi aku berharap dengan dokter yang ini Shania bisa sembuh. Ini dokter sudah berpengalaman banget Chan, temennya ayahku yang di luar negeri aja bi—"
"Udahlah, aku mau bawa Shan pulang aja!"
Rosa segera menahan Chandra yang hendak melenggang dari posisinya. Perempuan itu menggenggam tangan Chandra dengan erat.
"Chandra tolong..."
"Apasih Sa! Aku bilang gak mau."
Rosa tidak ingin mendengar kalimat itu dari Chandra. Rosa ingin Chandra menyetujui sarannya.
"Ini demi Shania Chan, masa kamu semenyerah ini? Hiks..."
Tangisan Rosa tumpah.
Chandra detik itu juga melunak. Tidak ada lagi tatapan sadis ataupun rahang yang mengeras. Semuanya meluruh dalam sekejap setelah menyaksikan Rosa menangis.
Dengan tubuh yang sigap, laki-laki itu pun mendekap perempuan terisak tersebut.
"Sttt udah jangan nangis. Nanti kalo Shan denger gimana? Udah cup cup..."
Rosa masih terus terisak. Rasanya sampai terasa sesak dadanya. Bagaimana tidak sesak, Chandra kini mau menerimanya. Mau mengganggap kehadirannya itu juga penting di tempat ini. Chandra sudah memanusiakan dirinya.
Dan Chandra.... Chandra sangat peduli dengannya.
"Sa, aku cuma gak mau lihat Shan-ku kesakitan lagi dengan berbagai treatment dokter. Aku gak tega lihat Shan pakai alat-alat itu lagi. Hatiku sakit Sa..."
Ucapan Chandra berhasil mengenai relung hati Rosa. Memang benar peralatan medis seolah menyakiti Shan, tapi, tapi, tapi... Untuk pemikiran yang realistis semuanya itu memang membutuhkan proses.
Peralatan medis tersebut tidak selamanya menyakiti Shan, malah akan menyembuhkan Shan. Walaupun berbeda dengan yang dikatakan oleh dokter Hans, bahwa Shan sudah tidak ada harapan untuk sembuh.
"Tolong dicoba dulu Chan. Kita tidak akan pernah tahu jika belum mencobanya."
Dada Chandra yang terasa naik turun, mengindikasikan jika laki-laki itu juga tengah memikirkan hal yang terbaik. Chandra tidak boleh sampai salah langkah.
"Baiklah, aku setuju. Aku tandatangani kontraknya ya?"
Rosa akhirnya tersenyum dengan penuh haru.
__ADS_1
Proses yang diusahakan Rosa benar-benar sangat cepat. Tidak sampai 24 jam dokter yang dimaksudnya telah datang di rumah sakit.
Kedatangan dokter tersebut disambut oleh Rosa dan Chandra keluarga.
Dokter yang sudah berumur. Benar ucapan Rosa, dokter tersebut sudah lebih berpengalaman dari pada dokter Hans, tentunya.
"Jadi ini yang bernama Shania? Halo Shania untuk kedepannya kita akan melakukan pengobatan bersama ya. Kamu masih semangat kan?"
Shan menyembunyikan wajahnya di balik ketiak Chandra. Alhasil yang menjawab pertanyaan yang diajukan dokter adalah Chandra.
"Iya dok, masih semangat. Semoga Shan bisa sembuh."
"Bisa pak! Asalkan anda dan keluarga percaya bahwa putrinya bisa sembuh. Serahkan semuanya pada saya."
Chandra mengangguk.
...***...
"Hiks hiks Shan gak mau! Shan gak mau!"
Baru permulaan, Shan sudah memberontak dan mengamuk.
Jarum suntik yang sudah diacungkan itu akhirnya terjeda beberapa saat daripada salah sasaran.
"Shan gak papa, gak akan sakit sayang." Chandra setengah mati menenangkan anak kecil itu. Dirinya tidak luput dari amukan Shan.
Walaupun Shan sudah seperti ini, tapi jika melihat jarum suntik anak kecil itu akan bertenaga sangat besar.
"Shania sebentar saja ya. Cuma diambil darahnya nak."
"Aaaakkkkhhhh!" teriakan keras yang dilontarkan Shan mengartikan bahwa proses pengambilan darah akhirnya berhasil dilakukan.
Darah tersebut selanjutnya akan dites di laboratorium.
"Iya ada apa?"
"Jadi begini dok, beberapa saat lalu Shan mau dioperasi. Mau dibedah, buat ngangkat kankernya, tapi—"
"Oh ya? Kalo begitu sekarang saja kenapa gak dioperasi? Sebentar saya siapkan dulu ya ruang operasinya?"
Chandra seketika mengernyit. "Hah? Se-instan itukah?"
Dokter tersebut sudah sibuk dengan ponselnya. Menelepon seseorang yang entah siapa disana.
"Dok dok, tunggu dok..." Chandra mencoba menghentikan namun suaranya sudah tidak dihiraukan sama sekali.
Laki-laki itupun sekarang panik, apakah Shan-nya akan dioperasi sebentar lagi?
"Aduh..." Chandra merutuki dirinya sendiri.
...***...
Pukul 20.00, Shan sudah dipersiapkan. Anak kecil itu sudah di dorong menuju ruang operasi.
Kedua mata Chandra basah, tubuhnya banjir keringat melihat putri kesayangannya terbalut dengan pakaian operasi. Ini operasi pertama Shan, Chandra tidak akan tenang menunggu hingga pintu ruangan tersebut terbuka.
"Papa, Shan takut..." keluh Shan namun tidak ada yang bisa Chandra perbuat.
Genggaman Chandra pada jemari kecil itu semakin kuat tatkala pintu ruang mencekam itu telah terlihat.
Shan, asalkan kamu tahu bahwa papamu ini juga tengah sangat takut...
"Dok—Dokter... Tapi Shania... Emm bukannya Shania harus berpuasa terlebih dahulu ya? Belum lagi tes kondisi tubuh Shania juga? Shania sepertinya masih dalam kondisi yang tidak fit?"
"Itu gak penting." ucapan yang dilontarkan dokter tersebut langsung membuat Rosa tertohok.
__ADS_1
Rosa berhenti dalam langkahnya. Dalam angannya terus berpikir dan berteriak bahwa itu semua tidak masuk akal. Tidak sesuai dengan prosedur.
Semuanya benar-benar janggal.
"BERHENTI DISITU!" teriak Rosa.
Brankar tersebut akhirnya berhenti tepat di bibir pintu ruangan operasi.
Semua orang berbalik untuk menatap Rosa, begitupun dengan Chandra.
"Ka—kamu kenapa Sa?" tanya Chandra.
Rosa malah mengeluarkan ponselnya dari kantong. "Sebentar aku mau telepon direktur rumah sakit ini dulu."
"Buat apa?"
"Buat mastiin apakah boleh pasien yang belum dipastikan kondisi vitalnya masuk ke dalam ruang operasi. Halo dokter..."
"Papa, Shan takut..." Rintihan Shan semakin membuat Chandra tidak tenang. Semuanya seolah ada kejanggalan. Ditambah firasat Chandra yang tidak enak seperti ini.
"Batalin aja operasinya. Saya gak mau anak saya dioperasi." ucap Chandra, final.
......***......
Semalam, setelah kejadian dibatalkannya operasi kini posisi ruangan tempat Shan dirawat terkunci.
Ruangan VVIP yang luas dan mewah itu dikunci dari dalam.
Chandra dan Rosa yang membuat keputusan tersebut.
"Aneh banget ya, masa kayak gitu sih prosedurnya? Main operasi-operasi aja anak orang. Nyawa loh ini."
"Maka dari itu Chan, aku juga agak merasa janggal."
Sekarang tidak boleh ada yang masuk ke dalam ruangannya Shan, bahkan dokter yang kemarin.
Dokter yang katanya bagus dan berpengalaman itu tidak diijinkan masuk. Tidak boleh dokter itu menyentuh Shan.
Dokter itu menyesatkan.
Rosa akan memulangkan dokter itu segera. Dan melaporkannya pada ayahnya.
"Udah sekarang kita santai-santai aja disini ya Shan... Cup." Kecupan hangat Chandra semangatkan pada puncak kepala anak kecil itu.
Sudah tidak ada infus, obat-obatan, dan peralatan medis menakutkan di tempat ini. Sekarang semuanya bersih. Tempat ini rasanya bukan kamar rawat, melainkan hotel bintang 5 yang sangat nyaman.
Shan sekarang sedang melihat ke arah jendela. Melihat pemandangan pagi hari yang begitu menghangatkan hati.
"Shania pengen jalan-jalan keluar ya?"
Chandra langsung menyenggol lengan Rosa. "Ish, orang lagi ngurung diri malah ditawarin jalan-jalan. Gimana sih?".
"Eh sorry sorry, aku lupa hehehe..." ucap Rosa.
Perlahan Shan meletakkan kepalanya pada dada sang papa. Shan merebahkan dirinya di dalam dekapan nyaman yang hanya bisa diberikan oleh Chandra.
Sadar akan si kecil yang berubah menjadi manja seperti ini, Chandra pun semakin mengucel-ucel Shan dengan gemas.
"Shan-ku sayang..." ucap Chandra sembari menciumi putrinya bertubi-tubi.
Hingga tanpa sadar ternyata ada lelehan cairan berwarna pekat telah mengotori pakaian, selimut, bahkan seprei di bawahnya.
Untuk yang kesekian kalinya, Shan mimisan lagi.
~tbc..
__ADS_1