Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Menghabiskan Hari Bersama


__ADS_3

"Aku mau mandi sama kak Elsa pa."


Chandra mengernyit.


Mandi? Sama Rosa?


"Sama papa aja Shan." Chandra melanjutkan melucuti pakaian Shan.


"Ih papa, Shan mau main air sama kak Elsa. Pokoknya Shan mau mandi sama kak Elsa! Kak Elsa! Kak Elsa! Ogah sama papa!"


Rosa terdiam, mengamati dari pojokan. Chandra melihat ke arah perempuan itu sekilas lalu beralih kembali pada putri kecilnya.


"Shan, kak Elsa gak bisa mandiin Shan, sama papa aja yuk nak. Ayo sayang, airnya keburu dingin."


"HUAAAAAA!!!!"


Chandra menghela napasnya. Dirinya sangat tau jikalau anak kecil itu sekarang ini hanya tengah berakting menangis. Lihat, tidak ada air mata yang keluar sama sekali.


"Huhhh... Yaudah iya Shan dimandiin kak Elsa deh."


"Yeayyyyy!" pekik Shan sangat senang.


Dan ternyata kemampuan sederhana yaitu memandikan seorang anak kecil tidak dikuasai oleh Rosa. Mau tidak mau akhirnya Chandra turun tangan, ikut membantu.


"Ih sana papa, papa keluar aja. Shan cuma mau sama kak Elsa." Lagi-lagi Shan mengusir papanya. Shan menepis tangan Chandra berkali-kali. Tapi Chandra tidak menyerah.


Chandra mengambil alih sabun yang berada di tangan Rosa, lalu menyabuni anak kecil itu dengan cekatan.


"Aww papa, sakit. Papa melukai Shan."


"Shan, ini tuh biar semua daki kamu luntur."


Shan merengek lagi. Dia minta kak Elsa-nya saja yang menyabuninya, karena kak Elsa-nya lebih lemah lembut tidak seperti Chandra.


"Nah udah, buruan bilas bocah ini Rosa." perintah Chandra.


Rosa mengangguk lalu mengarahkan gayung ke arah Shan.


"Hei! Jangan tinggi-tinggi dong! Awas masuk ke dalam telinganya!" Chandra refleks berteriak.


"Ma—maaf." lirih Rosa.


"Ish gini aja gak becus. Siniin gayungnya." Chandra merebut gayung itu lalu menyuruh Rosa untuk keluar saja dari kamar mandi. Kali ini Shan tidak bisa mencegahnya, Shan sendiri takut karena melihat perubahan yang terjadi pada ekspresi papanya.


"Aduh gawat sepertinya papa sedang marah."


......***......


Rosa's POV


Ketidak kompeten-anku ternyata bukan hanya dalam memandikan anak kecil saja, melainkan masih banyak dalam hal lain.

__ADS_1


Aku sangat meminta maaf pada Chandra karena aku tidak bisa memakaikan baju pada Shania.


Ya, aku baru saja dimarahi Chandra habis-habisan. Aku tidak tau jika harus memakaikan Shania minyak kayu putih terlebih dahulu sebelum memakaikannya baju.


Aku akhirnya menjauh. Kini yang hanya bisa aku lakukan yaitu berdiri di tempat biasanya, yaitu pojokan.


Aku hanya diam sembari melihat Chandra menyisir rambut Shania di atas tempat tidur. Aku sangat ingin membantunya, minimal memilihkan ikat rambut mana yang akan Shania kenakan atau lainnya. Namun... Aku tidak berani.


"Udah deh siap. Duduk diem anteng disini aja ya Shan, papa mau buatin kamu sarapan." ucap Chandra yang lalu bergegas merapikan perintilan dandanan Shania ke dalam kontaknta lagi. Setelah selesai Chandra kemudian pergi ke arah pantry untuk membuatkan Shania sarapan seperti yang dibilang.


"Chandra biar aku bantu."


Chandra sontak menolehkan pandangannya ke arahku. Jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya laki-laki itu tidak mempercayaiku yang akan membantunya.


"Ajak main Shan sana. Aku bisa sendiri Sa." ucap Chandra yang sekarang ini mengambil telfon dari gantungan tembok.


Chandra tidak mengijinkanku untuk membantunya. Baiklah aku tidak akan memaksa.


Aku lantas berjalan menuju arah Shania yang berada di atas bed.


"Lagi main apa Shania?" tanyaku.


"Barbie kak. Sini kakak duduk sini, ayok kita bermain bersama." Shania menepuk bed yang dia tempati. Dia menyuruhku untuk duduk di ruang yang tersedia. Akupun segera duduk disana.


Shania lalu menyodorkan satu barbie untukku. Aku melihat mainan yang menyerupai manusia itu. "Barbie nya cantik, kayak Shania."


Shania menampilkan senyumnya untukku lalu mengarahkan barbie yang lain, yang berada ditangannya untuk mendekat. "Sekarang itu punya kak Elsa. Yang ini punya Shan, namanya Jeny. Kalo punya kakak dikasih nama siapa?"


"Hah? Kembar? Apa itu kembar kak Elsa?"


"Kembar itu berarti sama. Satu saudara. Kakak beradik tapi lahir dalam satu kandungan ibu, dan dalam waktu yang sama."


"Jadi adek bayinya yang di dalam perut langsung 2?"


Aku mengangguk. "Bahkan bisa lebih dari 2. Bisa banyak Shani."


"Wahhhh keren banget ya berarti jadi seorang mama."


Deg.


Jantungku berdebar ketika dia mengatakan akan hal itu.


Shania, tapi maaf... Mamamu yang ini tidak sekeren mama lainnya yang ada di luar sana. Rasanya sekarang ini aku ingin menangis.


Aku sangat menyesal Shania. Sangat sangat menyesal.


"Stop stop. Mainnya di stop dulu, sekarang waktunya isi bensin biar ada tenaga." Chandra datang dengan makanan yang berada di atas nampan, lengkap dengan segelas susu juga.


Aku langsung mempertegak caraku duduk, menghapus rasa emosionalku yang hampir saja tumpah.


"Wahh papa masak apa? Baunya enak sekali." Shania sudah tidak sabar membuka tudung yang menutupi makanan di atas nampan itu.

__ADS_1


Chandra dengan antusias langsung...


"TARAAAAA... Telur dadar kesukaan Shan!"


Shania bertepuk tangan riang. Anak kecil itu sangat bahagia melihat apa yang dihidangkan oleh Chandra.


Aku turut senang melihat interaksi mereka ini. Tanpa sadar senyumku mengembang seketika, dan akhirnya ketahuan oleh Chandra. "Kenapa lo senyum-senyum?" selidiknya setelah memergokiku.


Shania pun sekarang turut memandangku.


Aduh, aku langsung tersipu malu.


...***...


"Warung area rumah sakit yang makanannya enak terus murah dimana ya? Laper."


Aku melihat ke arah Chandra sekilas. Laki-laki itu tengah berbicara padaku atau hanya berbicara sendiri ya? Pasalnya kedua atensinya sedari tadi tertuju pada layar handphone, tapi mulutnya terus bersuara. Aku yang berada disebelahnya bingung, dia itu antara berbicara denganku atau tidak.


"Yuk cari makan, pumpung Shan lagi tidur."


Sekarang dia malah menggelandang tanganku secara tiba-tiba.


Kita berdua keluar dari ruangan Shania. Anak itu tidak apa-apa ditinggal sendirian. Baru saja dia meremnya, belum ada lima menit. Sepertinya dia kekenyangan karena baru saja sarapan banyak sekali. Kata Chandra kalau Shania perutnya kekenyangan maka tidurnya akan pulas sekali dan bertahan lama.


Ya sudah berartu aman kalau ditinggal sendiri.


"Eh aku tau warung yang makanannya enak, di seberang jalan Chan. Kemarin aku nyobain."


"Warung apa warung? Bukannya kamu kemarin makan bekal dari dokter Hans?"


Seketika aku tertohok dengan ucapan Chandra. Bagaimana dia tau kalau aku diberikan bekal makanan dari dokternya Shania?


"Emm, maksudku semalem aku nyobainnya."


"Ih padahal semalem aku udah suruh makan makanan masakan mamaku tapi kamu malah nolak kan, alesanmu masih kenyang.


Aduh aku salah lagi...


Aku semalam memang menolak masakan ibunya Chandra. Tapi bukan berarti karena apa-apa. Hanya saja... Aku kasihan melihat lauk yang tersisa di dalam rantang hanya tinggal sedikit. Pikirku hanya cukup untuk Chandra saja, maka dari itu aku menolaknya biar Chandra yang makan saja.


Dan akhirnya semalam aku kelaparan parah, tengah malam aku keluar rumah sakit dan pergi ke warung untuk membeli makanan.


"Yang mana warungnya? Cepet tunjukin." perintah Chandra.


Aku lalu menunjuk dengan ibu jariku sebuah warung kecil yang berada di seberang jalan. Memang banyak deretan warung-warung lainnya, namun yang paling kupercayai ya hanya warung yang itu. Rapi dan bersih.


"Pesenin yang kamu makan semalem, sama minumnya es teh." ucap Chandra yang sudah mengambil tempat duduk menghadap jendela.


Dia benar-benar mengingatkanku tentang jaman dahulu.


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2