
"Dokter apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa anak saya?"
"Pak Chandra, begini... Setelah melakukan beberapa tes dan juga rontgen dapat disimpulkan bahwa putri bapak menderita kanker otak. Dan kanker tersebut sudah memasuki stadium tiga."
Chandra langsung mematung di tempat. Penjelasan dokter seolah menjadi anak panah yang langsung melesat cepat menikam organ jantungnya.
Sakit. Sangat sakit. Ini menjadi pukulan terberat untuknya.
"Mohon maaf pak, kalau boleh tau apakah putri anda akhir-akhir ini menunjukkan beberapa gejala? Misalnya pusing, tidak nafsu makan atau penglihatannya kabur?"
Chandra menggeleng. Lelehan air mata akhirnya tumpah detik ini juga. "Tidak tau, saya tidak pernah tau. Saya gak mengurus dia dengan baik selama ini. Dia sakit pun saya tidak mengetahuinya. Papa macam apa aku ini. Hiks..." Chandra menangkup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menangis sesenggukan di balik sana. Dia benar-benar sudah tidak kuasa lagi untuk menahan apapun. Dirinya sudah payah, benar-benar sangat payah.
"Kita jangan menyerah. Masa depan putri bapak masihlah sangat panjang. Masih banyak harapan pak. Kita harus berusaha. Saya janji akan mengusahakan yang terbaik. Yang penting kita jangan menyerah dulu."
Tangisan Chandra perlahan mulai mereda. Benar apa yang dikatakan pak dokter. Masih banyak harapan, asalkan mau berusaha.
Chandra melangkah gontai menuju lobi administrasi. Seorang perawat tadi menuntunnya untuk menuju ke sana guna menyelesaikan proses administrasi. Melihat tagihan yang tertera pada sebuah kwitansi, kedua mata Chandra kembali terasa memanas. Air mata telah menggenang di pelupuknya.
"Ya Tuhan... Kemana aku harus mencari uang sebanyak ini? Apakah aku mampu??"
Chandra langsung menyeka kedua matanya sebelum buliran itu terjatuh. Dia tidak boleh menangis. Dia tidak boleh selemah ini. Bagaimana nasib Shan kedepannya jika dia selemah ini.
Tinta pulpen akhirnya tertoreh. Dengan yakin Chandra menandatangani bukti pembayaran itu. Untuk urusan punya uang atau tidak itu perkara gampang. Dia bisa meminjam ataupun mencari cara lain nanti. Pokoknya tidak perlu pusing-pusing, yang terpenting adalah Shan sembuh.
Seorang perawat tiba-tiba datang tergesa dari arah kejauhan. "Pak Chandra! Putri anda sudah sadar!"
Chandra langsung berlari menuju ruangan tempat Shan berada.
Di dalam ruang ICU, Chandra dapat melihat dengan jelas putri kecilnya telah membuka mata.
Dewi dengan penuh kasih sayang, mengusap lembut surai bocah perempuan itu. Nenek Shan itu, entah kapan dia datang, sepertinya sejak Chandra jatuh pingsan tadi pihak rumah sakit langsung menghubunginya.
Chandra yang telah memakai pakaian steril turut ikut masuk, bergabung bersama dengan Dewi, duduk berseberangan dengan Dewi.
Chandra menggenggam sebelah tangan yang satunya milik Shan. Tidak henti-hentinya dia mengecupi tangan mungil itu seraya mengucap syukur yang teramat tulus dalam batinnya.
__ADS_1
Terimakasih Tuhan karena telah mengijinkan Shan untuk kembali sadar setelah melewati masa komanya...
"Shan." panggil lembut sang uti. Shan menolehkan kepalanya yang masih sangat lemah, beralih memandang perempuan paruh baya itu.
"Shan inget gak terakhir kali ngapain, kok bisa Shan sampai berada disini?"
Shan menggeleng. "Shan cuma inget tadi Shan mimisan di apartemen, lalu Shan pilih bobok agar darahnya berhenti. Tau-tau Shan bangun udah ada disini ti."
"Shan mimisan??" Chandra mengeratkan genggamannya. Anggukan yang diberikan Shan seolah menjadi tamparan untuk Chandra.
"Shan kenapa gak telfon papa? Berapa kali papa bilang kalo ada apa-apa Shan harus telfon papa. Kasih tau papa. Papa pasti segera pulang."
"Tapi papa masih marah. Shan takut..."
Chandra seketika menundukkan wajahnya dalam-dalam. Berulang kali dia kecewa akan tindakannya sendiri. Dan kali ini kekecewaan akibat ulahnya sendiri itu rasanya berkali-kali lipat sakitnya.
Andai saja Chandra tidak selengah ini. Andai saja Chandra bisa menurunkan emosinya. Andai saja Chandra lebih perhatian pada Shan. Andai saja, andai saja, andai, andai, dan andai...
Hanya ada berjuta andai yang harusnya sejak awal Chandra lakukan. Tapi semuanya kini sudah terlambat. Hanya ada penyesalan yang tersisa.
Chandra meraih tubuh Shan ke dalam dekapannya. "Shan, papa minta maaf. Papa banyak salah sama kamu, Shan..."
"Balas dendam itu apa, pa?" tanya Shan.
Shan lalu mengeluarkan kepalanya dari dalam dekapan Chandra. Perempuan kecil ini mendongak, menatap Chandra. "Apa maksudnya pa? Shan benar-benar enggak ngerti, pa."
Chandra hanya tersenyum, sembari kembali mengeratkan pelukan. Dari sisi yang lain, Dewi hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara. Dewi hanya menjadi seorang saksi disini. Saksi betapa menyayat hatinya sebuah kesepakatan sebagai wujud harapan yang besar, yang entah nanti akan berhasil atau tidak. Tidak akan ada yang tau, hanya waktulah yang dapat menjawabnya.
...***...
Chandra's POV
Hari ketiga di rumah sakit.
"Papa kapan kita pulang? Shan kan udah sehat, kenapa kita gak pulang-pulang sih, pa?"
__ADS_1
Bagaimana menjelaskannya ke Shan? Aku benar-benar tidak tahu. Aku tidak punya jawaban. Tidak ada pilihan lain yang dapat ku tempuh selain tetap membungkam kenyataan sakitnya itu. Dia tidak perlu tau sakitnya. Dia masih kecil, tidak akan bisa mengerti.
Sudah tiga hari kita berada disini. Kondisi Shan memang seperti anak lainnya. Bugar, ceria, dan sangat aktif. Tapi itu tidak menutup kemungkinan dengan kanker yang bersarang dalam otaknya. Kanker itu masih berkembang, kian hari pastinya kian akan melemahkan fisik Shan.
Belum ada tindakan dokter lebih lanjutnya. Dokter-dokter juga masih perlu memantau, guna menemukan cara yang terbaik untuk menyingkirkan kanker itu.
Untuk saat ini Shan masih harus minum obat. Obat yang setiap harinya akan bertambah banyak jenisnya. Obat yang setiap harinya akan membuat Shan menangis, menjerit, dan sangat menolak ketika aku akan meminumkannya.
Pintu ruangan tempat Shan dirawat tiba-tiba terbuka. Ternyata sosok yang membukanya itu adalah Yolla. Aku tidak menyangka jika Yolla yang datang, kupikir tadi itu mama.
"Mama mana?" tanyaku pada kakakku itu.
Yolla tidak lantas menjawab, perempuan itu hanya menurunkan barang-barang bawaannya lalu menaruhnya di atas nakas. Ada berbagai macam jenis buah-buahan disana. Ada beberapa perlengkapan lain juga seperti air mineral, tisu, dan baju ganti Shan. Aku baru ingat jika baju Shan yang ada disini sudah habis. Sudah kupakaikan semuanya, dan sisanya belum sempat ku cuci.
"Nanti biar aku bawa pulang. Aku cuci di rumah."
Ucapan Yolla sontak langsung membuatku terkejut. Demi apa perempuan menyebalkan itu tiba-tiba berucap seperti itu?
"Ini baju Shan yang lama di lemari yang ku bawain. Mudah-mudahan masih muat ya, Shan?"
Shan tidak menjawab, anakku ini sibuk melihat Cocomelon di youtube lewat ponselku.
"Makasih kak." kataku lalu menyimpan pakaian-pakaian Shan ke dalam lemari yang disediakan.
Kembali lagi ke pertanyaanku yang awal. "Mama kemana? Kok tumben gak kesini, biasanya pagi-pagi sekali kesini."
"Mama asam uratnya kambuh."
"Hah?"
"Tapi gak papa, tadi udah ku antar kontrol di klinik. Udah minum obat juga, sekarang ku suruh dia buat istirahat aja di rumah."
Aku hanya mengangguk-angguk mendengar ucapan kak Yolla.
"Mulai sekarang kalo ada apa-apa bilang ke aku aja. Mama biar fokus istirahat dulu."
__ADS_1
Ha?? Gak salah? Kak Yolla mau membantuku??
~tbc...