Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Yang Paling Pintar


__ADS_3

Author's POV


Shan bangun tidur, mengusap kedua matanya dan mencoba mencari keberadaan sang papa. Detik berikutnya anak kecil ini menangis.


"Hik hik hiks papa..."


"Loh Shan sayang kamu sudah bangun nak?" Dewi yang berada di dekatnya sontak terkejut. Perempuan paruh baya yang tadinya mengeloni Shan kini mencoba menenangkan tangisan anak itu yang tiba-tiba.


"Hik hik hiks huaaa papaa!!" Namun tangisannya malah semakin menjadi.


Chandra yang berada di luar kamar akhirnya mendengar suara putrinya itu. Dengan cepat dia segera masuk dan menghampiri keberadaan putrinya.


"Eh eh eh kenapa? Kok nangis gitu? Kan udah ada uti, kamu itu kenapa sih Shan??"


Chandra heran dengan Shan, biasanya Shan bangun tidur langsung ceria, tapi kali ini berbeda. Anak itu tiba-tiba menangis sehisteris ini. Sangat tumben sekali.


Bocah kecil ini merengek meminta untuk digendong, Chandra pun lantas menggendongnya. Chandra masih diliputi rasa penasaran, sejak kapan Shan menjadi rewel seperti ini? Apakah dia sedang sakit?


"Shan kenapa? Sakit ya?" tanya Chandra yang masih sibuk menimang-nimang Shan.


Shan hanya menggeleng sekilas, kepalanya dia sandarkan pada pundak papanya. Sepertinya hari ini Shan tidak mood untuk melakukan apa-apa. Bagi Chandra it's okay kalau begitu sekolahnya Shan dipending hari ini.


"Shan pengen sekolah pa..."


Lah kok??


Cepat sekali perubahan suasana hatinya.


Shan kini minta diturunkan dari gendongan. Dia lantas mencari buku dan peralatan sekolahnya yang lain. Dia menyiapkan sendiri apa yang akan dibawa.


"Shan beneran mau sekolah?" tanya Chandra untuk memastikannya lagi. Dan Shan pun langsung mengangguk penuh semangat.


"Ayo pa mandi."


Chandra benar-benar tidak mengerti dengan bocah ini...


Sesampainya di sekolah...


"Perhatian kepada para wali siswa dimohon untuk tinggal di ruang kelas." ucap gurunya Shan.


Shan yang mendengar akan seruan gurunya tersebut lantas berlari keluar. Pasalnya papanya telah beranjak pergi. Gurunya terlambat memberikan informasi.


"Shan mau kemana?" tanya salah satu guru lain.


"Ngejar papa." jawab Shan dengan nafas yang terengah-engah. Shan juga masih berusaha memanggil-manggil papanya dengan lantang barangkali papanya belum jauh pergi.


"Papa Shan yang mana?" Ternyata satu guru itu mengikuti Shan dari belakang.


"Yang pakai topi hitam." Senyum Shan seketika mengembang melihat ke arah satu subyek. "Itu dia papaku!"



...****...


Chandra's POV


"Loh Shan kenapa lari-lari kesini? Ada yang ketinggalan ya?" Aku terkejut mendapati Shan yang tiba-tiba sudah nongol memeluk kedua kakiku.


Hingga akhirnya bu gurunya menjelaskan. "Mohon maaf pak, kami mau menginformasikan bahwa hari ini di kelasnya Shan ada suatu acara yang melibatkan wali muridnya."


Hahh?? Wali murid? Aku maksudnya?


"Ayo pa ke kelas Shan." ucap Shan yang langsung menggelandang tanganku menuju ke kelasnya.


Sesampainya di kelasnya Shan aku semakin terkejut dong. Habisnya kelasnya udah penuh sama orang tua siswa-siswa yang lain. Para orang tua temennya Shan.


Lahh ada acara apa sih hari ini??? Aduh mana aku cuma pakai pakaian kasual. Bahkan aku juga lupa mandi pagi ini. Bukan lupa, lebih tepatnya tidak sempat karena sibuk menyiapkan Shan tadi.


Ahh gak papa kan ya? Aku tidak terlihat seperti habis bangun tidur kan? Aku masih ganteng kan?


"Ayo silahkan para wali murid untuk segera memposisikan diri di tempat yang telah disediakan." perintah guru Shan yang lain menggunakan microfon.


Aku lalu duduk di salah satu kursi. Kursinya sangat kecil disini, ini kursinya siswa. Aku takut kalo nanti merobohkannya.


Semua wali murid yang berada disini adalah perempuan. Teman-temannya Shan membawa ibu-ibunya untuk hadir disini. Hanya aku saja yang laki-laki. Jujur, rasanya sedikit canggung... Dan malu.


"Shan emangnya ini mau ngapain sih?" tanyaku pada Shan. Aku bertanyanya sembari berbisik agar yang lainnya tidak tau.

__ADS_1


"Shan juga gak tau paa."


"Ish, kamu kemarin gak dengerin gurunya ya Shan?" Sumpah ya aku sudah sangat ingin mencubit paha bocah ini sekarang. Bisa-bisanya dia tidak memperhatikan gurunya kemarin, jadi ketinggalan info kan.


Seorang guru kemudian mengambil tempat di depan kelas. Guru tersebut sepertinya akan memberikan petunjuk acara.


"Selamat pagi semuanyaa!!"


"Selamat pagi bu guru! Se-la-mat pa-gi gi gi gi gi gi yeayyyyy SEMANGAT!"


Entahlah mungkin itu adalah yel-yel yang biasanya diserukan oleh semua siswa. Shan pun juga ikut menyeru, bahkan suaranya yang paling lantang daripada yang lainnya.


"Baiklah, terimakasih anak-anakku yang aku cintai dan sayangi. Oh senangnya melihat kalian yang sangat ceria dan antusias seperti ini. Oke anak-anak hari ini ada yang spesial. Hari ini bukan hari yang biasa, karena apaaa?? Apakah ada yang tau???"


Shan tiba-tiba mengangkat jari telunjuknya tinggi-tinggi. Aku kaget dong.


"Shan tau bu Shan tauuu!" serunya.


"Iya Shan?? Shan tau hari ini hari spesial apaa?"


Duh anak ini mau menyahuti gurunya. Aduhh jadi pusat perhatian semua orang deh.


"Hari ini papa Shan datang!"


Whatttt!!! Semakin malu aku jadinyaaa...


"HAHAHAHAHAHHA..." Semua orang menjadi tertawa mendengar jawaban Shan. Tertawa dan juga bertepuk tangan. "PROK PROK PROK PROKKK..."


"Benar sekali Shan, hari ini spesial karena papa Shan datang dan juga ibu dari teman-teman Shan lainnya juga datang. Horeee hari ini kita bisa melakukan games berasama orang tua tercinta kitaaa!!! Beri tepuk tangan lagi kepada Shannnn! Terimakasih sudah mau menjawab Shan!!!"


"PROK PROK PROKK..."


Shan tersenyum amat senang sedangkan aku... Aku mencoba mengukir senyumku juga walaupun dalam dadaku terasa sangat dag-dig-dug. Canggung, malu, sungkan, semuanya bercampur aduk menjadi satuuuuu!


"Wahh masnya memiliki putri yang sangat pintar."


"Emm iya buk makasih." ucapku pada seorang ibu salah satu temannya Shan.


Aku kembali dibuat semakin berdegup ketika melihat Shan yang tiba-tiba maju ke depan kelas.


Gurunya memang meminta salah satu anak untuk membantu menyiapkan sesuatu. Dan kenapa Shannnnn???? Kenapa bocah itu yang mau membantu woyyyyy!!!!


Aku kini ketar-ketir dibuatnya.


"Terimakasih banyak Shan, sekarang silahkan bagikan kertas bergambarnya kepada semua teman-teman ya..."


"Siap bu guru!" pekik Shan dengan melakukan hormat grak. Sontak mengundang gelak tawa seluruh isi kelas. Aduhhh Shan...


"Nahh sekarang semuanya sudah dapat kertas bergambarnya kan?? Masing-masing sudah dapat satu belumm??? Ayoo coba angkat kertas bergambarnya ke udara dulu, ibu guru mau lihat sebentar."


Semua anak mengangkat kertas bergambar lingkungan sekolah ke udara, dan Shan.... Lagi-lagi dia yang ingin paling menjadi pusat perhatian. Dia mengangkat kertasnya sampai naik ke atas kursi woyyy!!!


Hmm dahlah, aku tidak mau mengakuinya anak...Hiks...


"Ayo sekarang ibu guru kasih tau games-nya ya anak-anak. Nama games-nya adalah uji kekompakan antara anak dan orang tua. Silahkan kalian mewarnai kertas bergambarnya bersama orang tua kalian."


Hah?? Mewarnai? Bersama dengan Shan???


Alah ini nanti aku pasti berakhir dengan bertengkar...


"Papa papa, kita gak boleh bertengkar. Kita harus cepet mewarnainya. Jangan sampek bertengkar kayak pas waktu di rumah, oke? Biar kita menang..."


Okee Shan deal!


Belum ada 5 menit...


"Ih papa warna rumput itu hijau muda bukan hijau tua!"


"Papa Shan mau langitnya dua warna jangan biru semuaaa!"


"Papa itu pagar kenapa papa warnain sama kaya warna tembok sekolah??"


"Paaaa tiang benderanya biar Shan aja kenapa jadi papa semua yang mewarnai???


"Aduh Shan udah terlanjur. Katamu tadi yang penting cepet kan, ayo kita segera selesaiin aja biar menang."


Hihhh dasar bocah cerewet. Rasa ingin menguncir bibirnya auto naik, biar dia bisa diem dan gak berisik.

__ADS_1


Nah, dah siappp! Mewarnainya akhirnya selesai. Aku langsung menyuruh Shan untuk segera mengumpulkannya ke depan.


"Horeee Shan berhasil mengumpulkan pertama kalii. Kasih tepuk tangan!!"


"PROK PROK PROKKK!!" Aku bertepuk tangan sendiri sampai telapak tanganku panas. Yang lainnya masih sibuk mewarnai jadi kondisi kelas sekarang ini lagi hening.


Shan kembali ke arah meja kita dan tiba-tiba ekspresinya cemberut.


"Loh Shan kenapa?" tanyaku.


"Papa sih gambarnya Shan jadi jelek. Shan pasti gak menang hiks... huaaaaa!!!!"


Aku seketika panik bukan main karena Shan tiba-tiba menangis. Mana nangisnya itu kejer banget. Tanpa berpikir panjang aku langsung menggendongnya keluar.


Tiba diluar aku langsung menurunkannya dari gendonganku.


"Heh bisa diem gak? Shann?? Jangan bikin papa marah please." Aku tidak bisa mengeraskan suaraku sekarang. Aku tidak mau ada orang lain yang dengar.


Malah Shan sekarang yang semakin mengeraskan suara tangisannya. Sumpah ya aku ingin mencubitnya sungguhan sekarang.


"Hei Shan ada apa? Kenapa kok menangis?" Seorang guru tiba-tiba datang menghampiri. Oh akhirnya ada yang menolongku menghadapi bocah ini.


"Gak papa sayang jangan menangis. Ayo kita masuk yuk, sebentar lagi pengumuman siapa yang menang."


Shan akhirnya mau berhenti menangis. Dia lalu meraih uluran tangan gurunya yang menawarkan gandengan. Shan lalu masuk bersama dengan guru tersebut saling bergandengan tangan.


Diluar aku masih mengatur dengan susah payah emosiku yang sudah memuncak di ubun-ubun.


Huhh... Hahh... Tarik nafas... Keluarkan...


Aku kemudian masuk ke dalam lagi ketika semuanya sudah benar-benar mereda. Dan ternyata pengumuman yang menang telah diumumkan.


"Yeayyy beri tepuk tangan kepada pemenang kita, Shannnn! Selamat ya Shannn!!!"


"PROK PROK PROK PROKKK!!"


Shan maju ke depan untuk menerima piala. Aku bersiap mengeluarkan ponselku hendak memotretnya.


"Kepada wali dari Shan silahkan untuk merapat juga."


"Papa sini!" Shan melambaikan tangannya, mengisyaratkanku untuk segera bergabung dengannya.


Gurunya Shan lah yang akhirnya memfoto kita berdua sebagai dokumentasi.


Kelas akhirnya selesai dan ditutup. Di ambang pintu keluar Shan masih tidak habis-habisnya mendapat ucapan selamat dari ibu-ibu teman sekelasnya.


"Terimakasih... terimakasih.." balasnya sangat manis.


Aku mengambil alih tas punggung Shan untuk ku bawa, karena anak ini sibuk sekali menenteng pialanya itu.


"Kan papa udah bilang apa tadi? Menang menang, yakali mewarnainya papa gak menang."


Shan hanya tersenyum sembari menatap bangga pialanya terus-menerus.


"Wahh Shan pintar sekali ya mas." Segerombolan ibu-ibu datang menghampiri. Lagi-lagi kita mendapat pujian yang tidak ada habisnya.


"Masnya juga masih sangat muda. Cocokan jadi kakakknya Shan bukan papanya hahaha..."


"Haha..." Aku hanya menyahutinya dengan tawaan juga. Habisnya bingung harus menyahutinya dengan apa lagi.


"Mas kalau boleh tau dulu Shan ASI eksklusif ya? Sampek umur berapa mas? 1 tahun atau 2 tahun?"


"Iya mas berapa tahun? Biasanya tuh kalau anak pinter pasti ASI eksklusif terus dari mamanya kan?"


"...." Aku yang terdiam seribu bahasa tiba-tiba ujung kaosku di tarik oleh Shan.


"Papa ASI eksflusif—ASI esflukif itu apa?" tanyanya, tanpa ekspresi bersalah sama sekali.


Aku hendak menggelandang Shan untuk pergi, namun...


"ASI eksklusif itu brarti Shan dikasih mimik air susu ibu. Shan dulu dikasih air susu kan sama mamamu? Oiya Shan, mamamu kemana? Bukannya acara hari ini itu mengharuskan yang hadir mama ya bukan papa."


Shan menatap ibu temannya itu dengan cermat. Dan kini dia beralih menatapku. Kedua mata bulat dan polos itu mengisyaratkan segalanya. Anak itu melemparkan pertanyaan ibu-ibu itu kepadaku.


Shan bertanya kepadaku...


"Papa, mama Shan kemana sih?"

__ADS_1


~tbc...


__ADS_2