Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Bertemu Dokter Hans


__ADS_3


Hari ini kita naik kereta menuju ke sekolahnya Shan. IYA NAIK KERETA!


Shan yang minta!


Padahal ya jarak sekolahnya Shan dari rumah sakit itu tidak sampek 100 meter. Tapi anak ini ngotot ingin naik kereta. Katanya belum pernah naik, penasaran banget sama rasanya. Entahlah siapa yang menghasutnya untuk naik kendaraan jenis ini. Emmm mungkin teman-temannya du sekolah. Yaudah deh iya, aku turutin.


Kita akhirnya muter-muter dulu ke stasiun setelah itu kembali lagi ke stasiun yang awal. Buang-buang duit banget gak sih???


Ahh sudahlah...


"Papa Shan pegel." keluhnya.


Ya salah siapa ngotot mau berdiri kayak gitu. Orang papanya aja duduk kok!


"Puk puk... Sini." Aku menepuk kedua pahaku, mengisyaratkan Shan untuk naik ke atas pangkuanku.


Shan sudah naik, namun bocah ini...


"Loh Shan kenapa? Ngantuk ya? Apa jangan-jangan kamu mabuk naik kereta?"


Aku kaget dengan reaksi Shan yang sekarang ini. Bocah ini menempelkan kepalanya pada dadaku. Dia seperti tidak kuat menyangga kepalanya.


Aku kemudian menyentuh keingnya perlahan. Gak demam kok.


"Papa, ini keretanya berhentinya kapan? Shan pengen turun pa."


"Bentar lagi sayang. Sabar ya." Aku lalu mengarahkan Shan untuk melihat ke arah jendela saja barang kali anak ini terkesima dengan pemandangan di luar dan berhenti merengek ingin turun. Ya walaupun pemandangan yang terpampang hanya perkebunan tebu.


"Papa Shan mau muntah."


"Ehhh!"


Brusssss


Belum sempat aku mencari sesuatu untuk menampung muntahan Shan, muntahan itu sudah muncrat kemana-mana.


"Papa Shan masih mau muntah lagi."


"Shan tunggu—"


"Huekkkk!"


Lagi-lagi terlambat. Semua sarapan Shan pagi tadi telah keluar membanjiri permukaan lantai kereta.


Tubuhku seketika panas dingin mendapat hujanan tatapan tajam dari berbagai penjuru mata. Ya, orang-orang itu kini menatapku sambil bergidik.


Hingga akhirnya seorang petugas pelayanan kereta datang menolongku.


Aku tidak henti-hentinya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang telah terjadi.


"Maaf maaf, saya akan mengepelnya nanti mbak."


"Oh tidak apa-apa mas. Adeknya kurang enak badan ya? Kebetulan di gerbong depan adalah tempat pelayanan kesehatan. Masnya bisa membawanya kesana untuk beristirahat."


"Te-terimakasih mbak." Aku langsung bergegas menuju gerbong yang dimaksud. Dan benar digerbong sini cenderung sepi. Hanya ada satu atau dua orang saja. Ada petugasnya juga yang berjaga.


Sepertinya aku bisa meminta minyak kayu putih kepadanya.


"Shan tunggu sini bentar ya." Aku meletakkan Shan di salah satu kursi yang ada disana.


Awalnya Shan tidak mau kutinggal, tapi setelah kupaksa untuk berdiam akhirnya dia menurut.


Minyak kayu putih berhasil aku dapatkan. Aku lalu memangku Shan, kemudian melumasi seluruh tubuh Shan menggunakan minyak ini. Entah karena lelah telah muntah-muntah atau karena pijatan tanganku yang terasa enak Shan akhirnya mengantuk. Dan tak lama berselang bocah ini ketiduran.


Aku yang sudah memastikan Shan tertidur dengan pulas lantas membaringkan bocah ini di kursi sendirian. Shan sengaja kutinggal lagi karena aku ingin kembali ke gerbong sebelumnya.


Aku tidak enak.... Soal muntahannya Shan tadi yang belum kubersihkan.


Akan tetapi saat kembali ke gerbong pertama ternyata keadaannya telah sangat bersih. Ternyata sudah dibersihkan tanpa menyisahkan sisa sama sekali.


Ahh aku benar-benar sangat berterimakasih dengan petugas pelayanan kereta ini.


Terimakasih...


......***......


"Huaaa papa jahat, papa gak bolehin Shan sekolah!"


"Kamu gak ingat tadi muntah-muntah?? Mau muntah-muntah lagi di sekolah kayak kemarin ha??? Biar diliat temen-temenmu, gak malu apa?!"


"Tapi Shan pengen sekolah pa. HUAAAA!!!!"


Aku menghirup oksigen dalam-dalam lalu menghembuskannya, berulang kali mencoba menetralisir emosiku yang benar-benar sudah memuncak di ubun-ubun.

__ADS_1


Shan, sumpah ya kamu. Papa pengen cubit kamu sekarang ini juga. Kalo gak karena sakit, udah habis ya kamuuu...


Alih-alih mendengarkan tangisan bocah itu yang sangat menyakiti gendang telingaku, aku memilih untuk pergi keluar.


Ya, Shan kutinggalkan saja. Biarkan dia berhenti menangis sendiri.


"Papa hiks..." Bocah kecil ini ternyata mengikutiku, dan langsung memeluk kedua kakiku dari belakang.


"Papa jangan pergi, Shan gak mau sendirian huhuhu..."


"Ya makanya kamu diem, papa capek tau gak denger kamu nangis mulu." Aku akhirnya meraihnya untuk kugendong.


Shan berhenti menangis ya walaupun masih menyisakan sesenggukan karena tangisnya tadi benar-benar lumayan luar biasa.


"Sh—Shan mau liat miming." pintanya, oke aku akan menurutinya.


Seperti biasa kita kini berada di taman rumah sakit yang sangat membosankan sembari melihat ke sekeliling, mencari-cari anak kucing sial kesukaannya Shan. Bosan sekali ya Tuhan, setiap hari kesini....


"Papa mimingnya Shan kemana ya? Kok gak keliatan sama sekali. Shan kangen pa."


Aku hanya bisa memutar kedua bola mataku dengan malas. Tidak sudi sekali menyahutinya.


"Eh eh eh mau kemana?" Cegahku ketika bocah kecil ini mulai turun dari bangku.


Shan kali ini sudah pakai alas kaki. Sepatu yang sama saat sekolah tadi, yang belum sempat dilepas.


"Shan mau cari miming. Boleh ya pa?"


"Yaudah iya, tapi jangan jauh-jauh. Denger Shan?"


"Iyah denger pa." Shan langsung berlari entah kemana.


Hingga tak berselang lama tiba-tiba aku berteriak setelah melihat objek dari kejauhan.


"WOII SHAN!!!"


Shan dengan percaya dirinya berjalan dari kejauhan, menggendong kucing buluk itu dengan kedua tangannya.


"TURUNINNN!"


Shan masih tidak menggubrisku. Dengan cekatan aku langsung menjemputnya. Shan-pun kemudian menurunkan kucing itu setelah aku melemparkan pelototan padanya.


"Ih! Kan udah dibilangin Shan, dia itu kotor! Kenapa digendong sih ha?? Liat sekarang bajumu kotor Shan."


Shan menatap ke arah pakaiannya. Sekarang dia tau bagaimana penampakan pada bajunya itu.


Shan menggeleng.


Aku seketika menepuk keningku sendiri. Hadehhh Shan...


"Udah sekarang ayo cuci tangan!" Aku menggiring Shan ke arah wastafel terdekat barang kali ada. Dan syukurlah ada. Ada sabunnya juga disana.


"Abis ini kita kembali ke taman lagi kan pa?"


"Iya-iya cerewet." Aku tau Shan masih belum puas bermainnya, makanya aku menyetujui permintaannya.


Setelah membantu Shan cuci tangan, aku lantas melepas jaket Shan. Beruntung Shan tadi pakai jaket, jadi bajunya yang berada di dalam tidak kotor dan kita tidak perlu repot-repot kembali ke kamar rawat. Jauhh.


Krucuk krucuk krucuk...


Eh perut siapa itu??


Ah pasti Shan.


"Shan laper ya?" tanyaku dan aku mendapat anggukan darinya.


"Makan yuk, Shan mau makan apa? Papa bikinin."


Anak kecil ini terlihat berpikir sebentar.


"Apa Shan? Cepetan kamu mau apa? Telur, chicken atau apa?"


"Tapi-tapi—tapi Shan gak pengen semua itu."


"Terus??" Tumben sekali Shan menolak telur.


Setelah bengong bermenit-menit akhirnya Shan membuka mulutnya. "Susu."


"Hah??"


"Iya pa, Shan mau susu."


"Yaudah ayok balik ke kamar, papa buatin susu anget disana."


"Enggak!"

__ADS_1


"Loh gimana sih???"


"Bukan susu yang itu. Shan maunya susu susu—susu yang ada sedotannya. Kotak."


"Oh susu yang beli. Tapi Shan gak boleh minum susu begituan kan kata dokternya. No no no, nanti papa yang dimarahin sama dokternya."


Bibir mungil itu mulai bergetar, dan perlahan ada genangan air mata yang mendesak ingin keluar dari pelupuknya.


"Iya iya, oke deh papa beliin. Tapi kali ini aja ya. SE-KA-LI ini aja, inget Shan?"


Ish, gitu aja udah mau nangis.


...Beberapa saat berlalu... ...


Kini aku telah kembali dengan belanjaan dalam kantong. Aku tadi belanjanya hanya di toserba yang berada di depan rumah sakit jadi tidak perlu memakan waktu yang banyak. Ditambah Shan yang ku tinggal sendirian di taman, harus cepat-cepat kembali untuk menemuinya juga dong. Takut kalau anak itu dibawa orang.


Brukk


Aku tidak sengaja menabrak seseorang dipersimpangan koridor.


"Eh maaf..." Aku tidak marah dan langsung meminta maaf kepada orang tersebut. Orang itupun langsung setengah mendundukkan tubuhnya tanda memohon maaf juga.


Tapi... Barang belanjaanku yang berada di dalam kantong jatuh berhamburan karena ternyata kantongnya sobek saat bertabrakan tadi. Entahlah kecantol apa aku tidak tau.


Marah dong akhirnya aku.


"Duhh, kalo jalan pakek mata dong. Jadi berantakan-kan barangnya orang!"


Orang tersebut membantuku memunguti semua belanjaanku. Ya memang harus seperti itu, itu baru tanggung jawab!


Aku susah payah menalikan ujung kantong plastik yang sudah sobek agar dapat digunakan lagi. Hingga tiba-tiba tanda ku duga orang asing tersebut...


"Ini silahkan pakai punya saya saja." Dia menyerahkan sebuah kantong belanjaan ramah lingkungan kepadaku.


Aku awalnya menolak, karena akan sulit nanti mengembalikan benda ini. Kan kita tidak saling mengenal.


"Ambil saja, tidak apa-apa." ucapnya lagi.


Ya sudah kalau begitu.


Aku kemudian menerimanya, dan orang tersebut tersenyum kemudian membantuku kembali memasukkan barang belanjaanku ke dalam kantong.


Namun, saat sampai di sebuah barang berwarna merah muda orang tersebut terdiam sejenak. Dia melihat benda tersebut. Itu susu strawberry pesanan Shan.


Ahh kelamaan, kenapa dia terus memelototi susunya Shan itu sih?


"Oke pak terimaksih atas kantong dan bantuannya ya." Kataku kemudian mengambil susu uht dari tangannya dan berlalu pergi.


"Shannn... Papa pulang! Ini pesenan kamu sayang..."


"YEAYYYYY!!!" Shan sangat girang, dia melompat kesana-sini. Dan akhirnya berhenti saat aku memberikan susu strawberry favoritnya.


"Ahhh...." Lagaknya setelah menenggak minuman itu.


"Gimana? Enak gak?"


"Enak sekali pa. Shan sudah lama banget gak mik ini."


Seketika aku dilanda perasaan kasihan. Kasihan kepada Shan...


Sabar ya Shan, bentar lagi sembuh kok dan kamu bisa mimik ini sebanyak apapun...


Tok tok tok...


"Eh ada orang?" Aku dan Shan refleks menoleh ke arah pintu. Sesorang telah mengetuknya, tapi siapa? Kalau dokter, sekarang ini kan bukan jamnya Shan check-up. Mama ya? Atau kak Yolla? Ah gak mungkin, mereka kan biasanya langsung nyelonong masuk.


Lantas siapa?


Aku yang penasaran kemudian beranjak untuk membukakan pintu.


"Sia—pa... Lohh kamu orang yang tadi kan???" Aku terkejut ternyata yang mengetuk pintu itu ternyata orang yang tadi. Tadi itu loh, yang tidak sengaja kita bertabrakan di koridor. Orang yang meminjamkan kantong belanjaan ramah lingkungannya.


Dia kenapa disini? Menagih kantongnya ya untuk ku kembalikan???


Tapi kok.... Setelah kulihat-lihat penampilannya berbeda. Dia memakai jas berwarna putih khas dokter. Hah? Jangan-jangan dia dokter???


"Perkenalkan saya dokter Hans, dokternya Shania Putri Sasongko."


"HAHHH! Ka-kamu dokter??? Dokternya Shan yang dari Singapura itu?"


"Iya tepat sekali. Anda? Anda pasti ayahanda dari Shania ya?"


Belum sempat ku jawab orang ini langsung menjabat tanganku.


"Senang bertemu dengan anda pak Sasongko." ucapnya sambil bersalaman.

__ADS_1


~tbc...


__ADS_2