Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Jalan Buntu


__ADS_3

Author's POV


Sepuluh hari berlalu, Shan masih belum bisa menggerakkan kedua kakinya. Bahkan kemampuan untuk merasakan rangsangan pada bagian tubuh tersebut lambat laun semakin berkurang.


Shan tidak bisa merasakan dielus ataupun digelitiki lagi.


"Shan pengen bisa jalan pa. Kapan sih Shan bisa jalan lagi? Shan capek duduk sama bobok-an terus pa..."


Hati seorang papa mana yang tidak remuk jika mendengar keluhan putri kecilnya yang demikian.


Chandra beranjak dadi duduknya di tepi bed. Laki-laki itu memilih pergi. Pergi yang jauh dari hadapan Shan dan menangis.


Chandra sering menangis akhir-akhir ini.


Dan saat Chandra pergi, hanya Rosa lah yang menjadi teman setia Shan. Rosa akan segera datang, menggantikan posisi Chandra. Perempuan itu akan mendekap tubuh Shan, memeluknya sangat erat dan mengatakan kalimat penyemangat.


"Sabar Shania, ini cuma sementara sayang. Kak Elsa yakin pasti Shania bisa jalan lagi."


Shan sudah ratusan kali mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang diucapkan Rosa seolah sudah memenuhi isi seluruh pikirannya. Sebentar lagi Shan pasti akan muak. Tinggal menunggu waktunya saja.


Rosa membelai lembut puncak kepala anak kecil itu. Kepala yang botak tanpa ditumbuhi satu helai rambutpun. Rambut Shan benar-benar habis tak bersisa. Bukan hanya rambut yang berada di kepala anak itu, rambut di bagian tubuh lainpun juga tidak ada.


"Uhuk uhuk uhukkk..."


Rosa segera mengambilkan segelas air putih yang berada tak jauh darinya yaitu diatas nakas samping bed.


Shan sekarang juga terserang batuk. Sudah dua hari terakhir Shan batuk terus menerus. Entahlah darimana Shan tertular batuk seperti ini. Setahu Rosa Shan tidak berinteraksi dengan siapapun kecuali keluarganya.


Apakah memang seperti ini? Penderita kanker akan cenderung mudah terserang sakit karena daya tahan tubuhnya rendah? Begitukah?


Nanti biarkan Rosa menanyakannya pada dokter Hans.


Sosok yang dinanti-nanti pun akhirnya datang.


Dokter Hans masuk ke dalam ruangan melalui pintu. Seperti biasa laki-laki berjas putih itu menyapa Shan dengan sangat hangat.


"Halo Shan, apa kabar??"


Untuk kali ini Shan hanya menjawab dengan tatapan mata yang sayu. Shan seolah enggan bersuara. Untuk mengangkat kepalanya pun anak ini tidak berdaya. Shan memilih untuk bersandar pada dada Rosa.


"Kok gak semangat gitu Shan? Kenapa??" tanya sang dokter.


Shan hanya memberikan gelengan perlahan.


Akhirnya Rosa-lah yang bersuara.


"Shania lagi batuk dok. Sudah 2 hari batuknya belum sembuh. Shania kira-kira harus minum obat apa ya? Bisa dokter resepkan obat batuk buat Shania?"


Rosa sangat tau jika penderita kanker tidak boleh asal dalam meminum obat. Maka dari itu dia hanya berani meminta saran dari ahlinya.


"Iya nanti saya resepkan ya Shan, sabar dulu ya."


Shan dan Rosa mengangguk bersamaan.


Dokter Hans mulai memeriksa kondisi Shan. Mengecek setiap jengkal yang terjadi pada bagian sakit Shan.


"Merasa pusing lagi ya Shan?" tanya dokter Hans.


"Enggak dok."

__ADS_1


"Nah gitu dong jawab. Saya jadi seneng bisa denger suara kamu Shan." Dokter Hans dengan gemas mencubit pipi tirus Shan yang dengan pelan. Dengan maksud agar Shan mau tertawa. Tetapi tidak sesuai dengan harapan, ternyata Shania tidak tertawa sedikitpun sama sekali. Seketika dokter Hans dibuat kikuk.


Dokter Hans secepat mungkin mengalihkan topik agar tidak terlalu malu. "Emm pak Chandra-nya mana?"


"Ada kok dok, masih keluar sebentar." ucap Rosa.


"Ohh. Tolong nanti sampaikan pada papanya Shan ya suruh ke ruangan saya buat ambil obat batuknya."


Setelah mengucapkan itu dokter Hans lalu mengakhiri pemeriksaannya. Dokter tersebut berpamitan kepada Shan dan juga Rosa untuk kemudian kembali ke ruangannya.


Seperginya dokter Hans...


"Kak, Shan kok gak sembuh-sembuh ya. Malah tambah sakit gini... Shan sebenernya udah capek kak..."


Deg.


Jantung Rosa seakan berhenti berdetak sepersekian detik karena ucapan Shan tersebut.


"Sha—Shania gak boleh ngomong kayak gitu, sayang." Mendadak lidah Rosa terasa kelu. Perempuan itu terbata-bata dalam berucap.


"Shania... Mam—Ka—Kakak sedih kalo kamu ngomong kayak gitu. Papamu juga akan sedih, sayang...."


Rosa sangat ingin menangis saat itu juga. Hatinya terluka saat Shan mengatakan hal itu. Air mata Rosa sudah berada di pelupuk, namun dirinya tidak mau situasi semakin kacau. Akhirnya Rosa menahan segalanya.


Rosa menurunkan tubuh Shan dari atas pangkuannya. Dia merebahkan Shan dan menyelimuti tubuh ringkih tersebut.


"Shania kalo capek kan bisa istirahat sayang, terus nanti—setelah ini pasti hilang capeknya. Please Shania gak boleh ngomong capek capek terus. Kak Elsa gak mau denger Shan ngomong kayak gitu lagi."


Shan menatap kedua mata Rosa sangat dalam. Entah apa yang Shan cari dari kedua bola mata legam tersebut. Perlahan bibir mungilnya terbuka, "Kak Elsa cantik, cantik banget kayak princess Elsa beneran. Coba aja kak Elsa itu adalah mama Shan. Shan pasti sangat seneng..."


Jantung Rosa seolah kembali dihantam dengan keras. Rasanya Rosa bisa merasakan bagaimana degup jantungnya yang berdebar sangat hebat. Dag, dig, dug, terdengar sangat manual.


Rosa mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia memilih untuk menundukkan kepalanya sampai tidak terlihat jika sebenarnya air matanya telah mengalir membasahi pipinya.


Rosa menangis tanpa suara di hadapan Shan. Namun tetap tanpa sepengetahuan Shan.


Bermenit-menit berlalu, setelah mengkondisikan getaran hebat yang menyerang dirinya akhirnya Rosa memberanikan untuk angkat bicara.


"Shania sayang, sebenarnya aku ibumu... Shania, kak Elsa mu ini adalah benar mama mu..."


Hening.


Tidak ada suara tanggapan apapun dari sang diajak bicara. Dan setelah didengarkan dengan teliti, hanya ada suara dengkuran halus yang sangat teratur.


Rosa akhirnya mengangkat pandangannya. Dan ternyata.... Shan telah terlelap.


Rosa tersenyum sebentar, jemarinya yang lentik perlahan menyentuh wajah Shan. Dia membelai wajah anak kandungnya yang tertidur sangat pulas itu.


Shan memang seperti itu. Akhir-akhir ini sering tiba-tiba tertidur padahal masih diajak berbicara.


...***...


"Chandra, dokter Hans menyuruhmu untuk datang ke ruangannya." ucap Rosa.


Chandra menatap Rosa dengan penuh pertanyaan. "Kenapa? Ngapain ke sana?"


"Aku tadi minta diresepkan obat batuk buat Shania. Dan sekarang kamu harus mengambilnya ke sana."


"Kenapa harus aku? Kenapa gak kamu sendiri Rosa? Kamu punya kaki kan?"

__ADS_1


Ucapan menohok yang Chandra sematkan sedikit menyakiti perasaan Rosa.


"Baiklah biar aku saja yang kesana." Rosa akhirnya mengalah. Dia tidak mau berdebat dengan Chandra hanya karena perkara sepele.


Bukan tanpa alasan, sebenarnya Chandra itu memang tidak mau pergi ke ruangannya dokter Hans. Laki-laki jangkung itu masih menghindari sang dokter. Dia belum mau berbicara dengan dokter tersebut terlepas kejadian baku hantam yang dilakukannya sepuluh hari lalu.


Chandra memang tidak punya jiwa merasa bersalah. Meminta maaf? Hmm itu tidak ada di kamus hidup Chandra. Prinsip Chandra, jika itu memang bukan kesalahan yang sungguhan dia perbuat, maka tidak akan ada kata maaf yang terucap darinya.


Dokter Hans salah. Dokter Hans tidak bisa membuat Shan lebih sehat, malah cenderung membuatnya sakit semakin parah. Itu yang diterima Chandra selama pengobatan Shan berjalan. Jadi, tidak salah jika malam itu dokter Hans dihajar habis-habisan oleh Chandra. Begitu menurut Chandra...


Tok tok tok...


Pintu ruangan tiba-tiba diketuk. Chandra refleks menoleh ke arah pintu. Ternyata itu mamanya yang datang.


"Apaan sih mama? Biasanya juga langsung masuk, kenapa pakek ketuk-ketuk segala kayak siapa aja." ketus Chandra.


Dewi hanya membalas nada bicara tidak menyenangkan Chandra itu dengan senyuman. Dewi sangat paham jika Chandra berlaku seperti itu berarti anaknya tengah dalam suasana hati yang tidak baik.


Biarkan saja, jangan diladeni. Jangan memperburuk saja...


"Shan lagi bobok ya?"


Chandra ogah menjawab pertanyaan sang ibunda. Batin Chandra bukankah Dewi bisa tau sendiri setelah melihat ke arah bed yang berada di sudut ruangan itu. Lagipula Dewi juga tidak katarak kan?


Dewi lalu mendudukkan pantatnya di sofa yang sama yang diduduki oleh Chandra.


"Mama tadi lihat kalender, Shan sebentar lagi ulang tahun."


"Ya emang."


"Shan minta ulang tahun yang kayak apa? Kuenya gimana? Segera dipikirkan aja dari sekarang."


Terdengar helaan napas dari Chandra.


"Ma, ngomong aja mah gampang. Ini Chandra juga lagi mikirin tau gak? Bahkan dari kemarin-kemarin udah mikir apa yang bagus buat Shan. Shan emang banyak maunya, tapi tapi tapi itu masih wajar. Chandra masih bisa kok turutin. Kemarin-kemarin Chandra udah persiapin dananya buat itu semua. Cuma sekarang ini Chandra udah gak punya pegangan sama sekali. Uang Chandra abis buat nebus ruang ICU kemarin. Mana obatnya masih belum. Sekarang Chandra bingung."


Tanpa sadar Chandra sudah menceritakan seluruh curahan hatinya pada sang mama.


Dewi merasa iba mendengar curhatan Chandra tersebut. Tangannya akhirnya terulur untuk menggenggam erat tangan besar Chandra yang terasa sangat basah karena keringat itu.


"Pakai uang mama dulu gak papa Chan. Mama masih ada tabu—"


"Gak ma." Belum selesai Dewi berucap, Chandra langsung memotongnya.


"Enggak mau Chandra nerima bantuan mama lagi. Udah banyak loh. Chandra gak bisa ganti uang-uang mama. Chandra—Chandra bahkan lupa ada berapa banyak yang udah Chandra pinjem sejak dahulu."


Dewi bisa melihat sendiri bagaimana sorot kedua mata yang tadinya berapi-api itu kini bergetar dan sedikit berair.


Chandra hampir menangis. Dan itu membuat Dewi semakin merasa sedih dalam hatinya.


"Chandra akan cari pinjaman ke bank aja atau pinjaman online aja ma..."


"Jangan Chandra." cegah Dewi.


Dewi memutar otak dengan cepat. Hingga akhirnya dirinya memiliki ide yang lumayan berguna untuk melewati jalan buntu ini.


"Kamu urus jaminan kesehatan aja Chan, ambil KK sama surat-surat lainnya di rumah lalu pergi ke kelurahan dulu."


Chandra menuruti perintah sang mama.

__ADS_1


~tbc...


__ADS_2