
Dewi menghampiri keberadaan Shan, lalu memeluk tubuh kecil itu.
"Shan serius kamu tidak mengenali kami?"
Shan memalingkan muka lalu mengulurkan tangannya ke arah Chandra. "Ah papa tolong Shan takut. Siapa sih nenek tua ini?"
Seketika Dewi langsung menangis. Shan benar-benar tidak mengenali utinya.
"Enggak Shania." Kini giliran Rosa yang mendekat. Rosa berjongkok di hadapan bed Shania lalu menggenggam kedua tangan kecil itu.
"Kalau aku... Shania mengenaliku kan? Shania ini aku."
Rosa sangat memohon karena dirinya adalah orang terakhir yang bersama Shan sebelum anak itu hilang kesadaran.
"Kamu juga siapa?"
DEG.
Rosa begitu terpukul mendengar jawaban Shan. Air matanya tumpah begitu saja, ada perasaan sakit yang bersemayam di dalam hatinya. Sangat dalam...
'Jadi Shania melupakanku? Shania benar-benar lupa?', ucap batin Rosa yang terasa perih.
Dokter Hans turun tangan. Seorang dokter harus memastikan kondisi pasien yang sesungguhnya.
"Shan apakah kamu merasa pusing sekarang?"
"Kamu siapa lagi? Kenapa nanya-nanya?"
"YaAllah Shan, ini dokter Hans. Doktermu sayang." ucap Chandra.
Anak kecil itu hanya mengernyit.
Dokter Hans mengulangi pertanyaannya lagi. "Apakah kamu pusing Shan?"
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya kepada sang penanya.
Dokter Hans berpikir sejenak. Raut wajahnya yang serius membuat semua orang disana menjadi berdebar.
"Coba Shan ucapkan siapa nama lengkapmu." pinta dokter Hans.
Shan membuka mulutnya. "Namaku Shania Putri Sasongko."
Benar. Shan tidak melupakan identitasnya.
Chandra menarik wajah perempuan kecil itu. Menyuruhnya untuk menatapnya. "Kalo sama papa, kamu ingat kan Shan. Ini papa sayang. Coba kamu ucapkan nama papa siapa? Alamat rumah kita dimana? Sekolah kamu dimana? Lalu tadi pagi kita sarapan apa?"
"Tenang-tenang pak Chandra. Tolong jangan memaksa Shan untuk mengatakan banyak hal. Yang sederhana dulu. Yang paling mendasar dulu." ucap dokter Hans.
Ekspresi Shan benar-benar seperti orang linglung. Dia sangat kosong dan... Cenderung lamban.
Dokter Hans menunjuk tubuh Chandra dengan sabar. "Ini papanya Shan, benar kan?"
"Benar." jawab Shan.
"Coba namanya siapa sih Shan?"
"Papa... Papa namanya... Emm... Shan gak inget."
Semua orang dibuat melongo oleh Shan. Chandra apalagi. Chandra sangat syok melihat putrinya sendiri tidak mengetahui namanya.
"Shan ini papa sayang." ucap Chandra.
"Iya Shan tau pa. Kamu papa Shan, tapi—Shan gak tau siapa namamu."
Chandra melemparkan tatapan bingungnya pada dokter Hans. "Kenapa bisa seperti ini dok?!"
Alih-alih menjawab, dokter Hans malah menanyakan hal lain kepada Shan. "Coba Shan ceritakan, kira-kira kenapa Shan bisa sampai berada di tempat ini? Apa hal terakhir yang Shan ingat?"
"Shan... Shan mimik dot. Shan sepeda'an tapi gak tau sama siapa. Papa gak pulang-pulang. Lalu Shan ke mall, mallnya gelap banget. Terus bangun-bangun Shan udah ada disini.
Shan menceritakan hal yang sangat random sekali. Tidak masuk akal.
__ADS_1
"Dok, tolong..." ucap Chandra, mengguncang-guncangkan lengan dokter Hans.
"Sabar pak, sepertinya ini efek karena Shan barusaja sadar. Kita coba pantau kedepannya, jika ini tidak bersifat sementara berarti perlu dikaji lebih lanjut."
Semua orang terpaku pada posisinya masing-masing. Semuanya masih syok dan tidak percaya mengapa Shan tiba-tiba tidak mengenali anggota keluarganya sendiri. Apakah sebenarnya anak itu hilang ingatan?
...***...
Situasi ruangan tempat keluarga Chandra berkumpul terlihat sangat sepi. Sudah berjam-jam berlalu, namun semuanya masih larut dalam kesedihan.
Shan yang berubah 180° benar-benar membuat semua orang terpukul. Bagaimana tidak, Shan kini seperti orang lain.
Shan seperti bukan Shan biasanya.
Chandra sangat sedih atas yang terjadi pada putrinya. Kalau boleh, bolehkah waktu diputar sebelum Shan kritis? Kalau boleh, bolehkah Shan sekarang ditukar dengan Shan yang sebelumnya?
Akan tetapi semua itu tidaklah mungkin.
Rosa mengepang rambutnya dengan sengaja, dirinya berharap Shan melihatnya lalu mengingat sesuatu tentang dirinya.
"Elsa..."
Rosa refleks menoleh, dan benar ternyata Shan kini memusatkan perhatiannya kepadanya.
Beruntung sekali Shan belum melupakan elsa kesukaannya. Elsa bisa menjadi pancingan untuk anak itu, agar merangsang kembali ingatannya.
Rosa perlahan mendekat ketika anak kecil itu menyuruhnya.
"Papa lihat, kakak ini punya rambut kayak elsa." ucap Shan yang masih berbaring di atas bed.
Senyum yang ditunjukkan anak itu membuat hati Rosa merasa hangat. Segala rasa luka yang diterimanya beberapa saat lalu, seolah musnah detik ini juga.
"Kakak yang cantik namanya siapa?"
Deg.
Degup jantung Rosa berpacu dengan cepat. Perkataan Shan seketika membuat Rosa saling pandang memandang dengan Chandra.
Chandra menyentuh anak kecil itu, lalu memberikannya pemahaman. "Shan, dia ini bukan kakak. Shan gak boleh panggil dia kakak. Panggil dia mama Shan. Dia mamamu."
"Hah?"
Reaksi Shan yang seperti itu membuat dada Rosa langsung sesak.
Rasa sesak itu semakin menghimpit tatkala Shan menyelesaikan perkataannya. "Masa iya kakak ini mamaku? Kok aku gak yakin ya pa..."
Harapan yang dibangun Rosa tinggi-tinggi seketika luluhlantah saat itu juga. Hancur berhamburan begitu saja.
Memangnya Rosa berharap apa? Berharap Shan akan syok lalu menangis terharu dan memeluk tubuhnya?
Semuanya tidak sesuai dengan angan-angan Rosa. Perempuan itu akhirnya hanya bisa terdiam, menyembunyikan segala kesedihannya dibalik senyum yang dipaksakan pada wajahnya.
Chandra memperlihatkan tatapan sendu disana. Perasaan yang sedang dirasakan Rosa juga bersarang di dalam hati Chandra.
Chandra juga ikut sedih.
Satu tangan Chandra menyentuh tangan Rosa. Menggenggamnya. Mencoba memberikan kekuatan untuk perempuan itu agar rasa sedihnya segera menghilang.
Waktu sungguh mencurangi segalanya. Kenapa sangat sulit menjelaskan kebenaran kepada seseorang yang terbelenggu rasa penasaran sepanjang hidupnya? Kenapa semua seolah tidak berpihak pada jiwa polos tanpa dosa itu? Dia hanyalah anak kecil Tuhan... Kenapa Engkau limpahkan cobaan sebesar ini kepadanya? Kenapaa??
Sebuah langkah derap kaki terdengar. Ketiga orang yang berada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu.
Ternyata dokter Hans yang datang. Dokter Hans datang sembari membawa balon berwarna merah muda yang sangat menggemaskan di tangannya.
"Shan saya ada hadiah untuk kamu! Selamat kamu sudah boleh dipindahkan di kamar rawat!"
"ALHAMDULILLAH..." Chandra dan Rosa spontan mengucapkan rasa syukurnya.
Beberapa petugas medis lalu masuk, mendorong bed yang ditempati Shan keluar dari ruang ICU itu. Balon pemberian dokter Hans ditalikan disalah satu sisi besi yang berada di samping bed. Shan sangat senang sekali menerima balon itu. Anak kecil itu tidak henti-hentinya menatap balonnya dengan senyum yang merekah.
__ADS_1
"Shan suka?" tanya dokter Hans, dan Shan pun mengangguk.
Di sepanjang koridor, pandangan Chandra celingak-celinguk tidak mengerti.
"Sebentar-sebentar, bukannya kamar rawat Shan yang sebelumnya ada di pojok sana ya? Ini kita mau kemana sih?"
Rosa menampilkan senyumnya, dokter Hans pun demikian.
"Heh ini anak gue mau dibawa kemana woii!"
Hingga berhentilah rombongan orang-orang ini pada sebuah pintu kayu yang ukurannya lebih besar daripada pintu kayu di ruangan rawat sebelumnya. Bukan hanya lebih besar, lebih elit lagi. Ada kunci sensornya yang hanya bisa dibuka dengan kartu.
Chandra meninggikan pandangannya, membaca papan tulisan yang berada di atas pintu.
"Ruang VVIP?" Kedua matanya seketika membulat bersamaan dengan bunyi...
"Ting!" Tanda pintu tersebut telah terbuka.
Chandra lagi-lagi melongo tatkala melihat ruangan yang begitu luas di hadapannya. Ini seperti bukan kamar rawat, tetapi hotel bintang 5.
"Mari masuk." ucap dokter Hans.
Bed Shan sekarang telah diposisikan di tempat yang pas dengan pemandangan di sebelah kanannya adalah kaca jendela berukuran besar, yang siapapun dapat melihat langsung suasana taman rumah sakit yang menyejukkan.
"Chandra ayo masuk."
Entah apa yang terjadi pada laki-laki itu. Chandra masih saja mematung di ambang pintu. Sampai-sampai Rosa harus menuntunnya untuk menginjakkan kaki ke dalam ruangan tersebut.
"Kenapa Shan dipindahin disini?" tanya Chandra dengan tubuh yang masih berdiri kaku.
"GUE TANYA KENAPA?!!!"
Semua orang terkejut, begitupun Shan, papa dari anak itu tiba-tiba berteriak seperti itu.
Rosa menyentuh dada Chandra, mencoba menenangkan laki-laki itu. "Tenang Chandra, kamu ini kenapa?"
"Gue gak suka dipermainin!"
Lagi-lagi intonasi Chandra tidak bisa diturunkan. Sampai-sampai Dewi langsung berlari ke dalam ruangan karena mendengar suara Chandra.
"Ada apa ini?" Perempuan paruhbaya itu kebingungan.
"Keluarin anak gue dari sini! Gue gak punya uang buat bayar kamar mahal ini!"
"Chandra dengarkan penjelasanku dulu."
"Apa?! Lo mau jelasin gue apa ha?! Lo mau sombong, pamer karena lo yang bayarin kamar ini, iya??? Asal lo tau ya Rosa, gue gak butuh uang lo! Gue gak mau Shan-gue nerima serupiah pun dari lo!"
Air mata Rosa meluruh begitu saja. Suara Rosa pun bergetar, "Kenapa begitu Chan? Ka—kamar ini ayahku yang ngasih."
"GUE DAN SHAN GAK BUTUH!"
"CHANDRA!!!!"
Teriakan menggelegar dokter Hans seketika membuat semua orang tersentak. Termasuk Chandra.
Semua orang tidak pernah menduga jika dokter Hans akan berteriak seperti itu. Semuanya kaget dan speechless.
Chandra yang masih tidak percaya nanya diteriakkan hanya bisa mematung di tempat. Tatapan laki-laki itu terpusat pada orang yang meneriakinya.
Detik berikutnya tatapan kaget tersebut berubah menjadi tatapan yang seolah mengatakan, 'Wahh, lo nantang perkara sama gue...'
Dengan langkah ingin menerkam Chandra maju menuju keberadaan dokter Hans. Sesegera mungkin Rosa mencegah karena jika tidak... Akan ada pertikaian yang tidak bisa dihindarkan dari keduanya.
"Please Chandra, sabar...." ucap Rosa sembari memeluk tubuh besar nan kekar itu. Sekuat tenaga Rosa menahannya menggunakan tameng tubuhnya, tubuhnya jelas akan tetap kalah.
Chandra berhasil meraih kerah baju dokter Hans. Mencengkeramnya sangat kuat dengan rahang yang telah mengeras menakutkan.
"Berani sekali lagi neriakin gue, gue robek mulut busuk lo!" Hempasan kasar yang diberikan Chandra membuat tubuh dokter Hans sedikit terdorong ke belakang.
Semuanya bernapas lega. Syukurlah Chandra tidak bertindak lebih jauh.
__ADS_1
Chandra akhirnya melenggang pergi meninggalkan ruangan. Yang tentunya masih dengan keadaan emosi.
~tbc...