Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Tidak Sanggup


__ADS_3

"Papa kita nanti tidak kembali ke apartemen ya?"


"Enggak Shan, kita malem ini bobok sini."


"Oh gitu ya."


"Iya."


Bocah kecil ini menggut-manggut sembari menggigiti sikat giginya. Dia kini tengah kumandikan. Setelah selesai pemakaman papa, aku langsung menyempatkan diri untuk memandikan Shan, dan selanjutnya giliran tubuhku juga untuk mendapat hak dibersihkan.


"Papa, papa... Jadi kungkung tadi diantarkan kemana?"


Hatiku kembali mencelos mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Shan. Entah aku harus menjawabnya dengan jawaban apa sekarang.


"Shan, kungkung sekarang udah berada di surga."


"Surga itu apa sih pa?"


"Surga itu tempat yang bagus. Tempat yang paling nyaman dan bikin bahagia selamanya."


Shan terdiam sangat lama, dia seakan berpikir keras setelah mendengar penjelasanku itu.


"Jadi kungkung lebih memilih tempat itu ya pa? Kungkung kenapa sih, padahal kan disini juga enak ada kita-kita. Apa kungkung jangan-jangan udah gak sayang sama kita, jadi dia ninggalin kita dan milih pergi ke surga itu pa?"


Kini giliran aku yang terdiam. Aku benar-benar tidak bisa menanggapi yang Shan lontarkan itu dengan apalagi.


"Emmm pa, jadi kungkung udah gak akan balik lagi ya? Kita udah gak bakalan ketemu sama kungkung lagi pa?"


"Shan ayo agak cepat. Ini udah malem, nanti keburu masuk angin." ucapku, mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.


Akhirnya Shan telah usai kumandikan, kini saatnya memakaikannya baju. Seperti biasa dia sendiri yang memilih ingin mengenakan apa. Dia sangat hafal dengan letak lemari dan juga susunan baju yang berada didalamnya, maklum sejak kecil dia sudah terlatih seperti ini. Apalagi mama juga belum memindah-mindahkan baju-baju Shan yang masih tersisa beberapa di lemari. Semuanya masih sama, baju-baju yang belum sempat kuangkut ke apartemen semuanya susunannya masih sama.


"Selimut pink nya Shan!" pekiknya seraya langsung menghambur ke arah sebuah selimut yang masih terlipat sangat rapi di atas ranjang.


"Nanti papa jangan lupain selimut pink Shan ini ya pa. Shan gak bisa tidur kalo gak pakai ini."


Dia bohong, padahal dia kemarin malam tidur dengan sangat pulas tanpa selimut konyol itu.


"Sebentar ya Shan, diem di kamar aja jangan keluar. Papa mau mandi dulu, tunggu." ucapku kemudian pergi menuju kamar mandi.


Aku sebenarnya bukan melarang Shan untuk keluar. Hanya saja di luar itu masih ramai, masih banyak pelayat yang berdatangan. Aku hanya tidak mau Shan lepas pengawasan lalu berulah dihadapan para orang-orang di sana.


Kurang lebih sepuluh menit aku akhirnya keluar dari kamar mandi. Dan seketika langsung terkejut karena melihat keadaan kamar telah kosong. Bocah itu tidak menuruti ucapanku barusan.


Dasar bocah nakal!


Aku bergegas memakai pakaian lalu menyusulnya keluar.


Kucari-cari Shan ke seluruh penjuru ruangan dan ternyata anak itu berada di pangkuan mama.


Mama yang kedua matanya sangat sembab dan masih sesekali terisak itu tengah menjaga Shan. Dan entahlah kenapa Shan terlihat sangat menikmati sekali berada dipangkuan mama.


"Shan sini..." panggilku lirih, karena disana masih banyak orang-orang yang berada dihadapan mama.

__ADS_1


Shan tidak menggubrisku, dia malah mengeratkan kalungan lengannya di tengkuk mama. Dia memeluk mama kuat-kuat.


Aku akhirnya memutuskan untuk ikut duduk disana, disebelah mama. Dan ikut menjamu tamu juga.


"Ini Chandra ya? Mana istrinya kok tidak kelihatan? Anakmu ini ya Chan, sudah besar juga." ucap salah satu tamu.


Aku hanya bisa mengulas senyum diwajahku. Apakah aku perlu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu?


"Iya ini anaknya Chandra, namanya Shan. Ayo sayang salim dulu sama tante ini." Mama akhirnya lah yang menjawab.


Shan dengan patuh meraih tangan orang itu lalu menciumnya sekilas.


"Anak pinter. Dimana mamamu nak?"


"Mamaku nggak ada tante. Aku gak punya mama, punyanya papa."


Aku tercekat beberapa detik.


Entah apa yang kurasakan sekarang. Senang atau sedih, aku benar-benar tidak mengerti tentang perasaanku setelah mendengar perkataan polos Shan itu.


Malam kini sudah semakin larut, satu persatu orang yang datang untuk mengucapkan belasungkawa pun mulai pamit undur diri. Tak terkecuali orang-orang yang berada dihadapan mama ini.


"Aku pamit dulu ya Jeng Dewi. Yang tabah ya Jeng, aku doain semoga almarhum dapat tempat yang terbaik di sisinya."


"Amin... Terimakasih banyak ya. Hiks..." Mama mulai menangis lagi. Mama menangis sembari mengantarkan kepulangan para teman-temannya itu sampai ke ambang pintu. Shan pun masih turut di atas gendongan mama.


Aku sangat ingin mengambil alih Shan, tapi bocah itu masih tetap bertahan bersama mama. Hingga suatu tepukan halus yang diterima oleh bocah itu pada pundaknya berhasil membuatku sedikit meradang. Bukan tepukannya tapi perkataan yang ikut diselipkan itulah yang menyulutku.


"Cepet gede nak Shan, terus cari mamamu. Kamu berhak tau siapa mamamu nak." kata orang itu tanpa ada perasaan bersalah sama sekali.


"Papa..." Shan kini merentangkan kedua tangannya ke arahku. Aku pun menerimanya, dia kini beralih ke atas gendonganku.


"Shan sepertinya udah ngantuk. Biarin dia bobok aja Chan." ucap mama, dan aku menganggukinya.


Aku membawa Shan ke lantai atas.


"Papa, uti kok masih nangis terus ya?" tanya Shan di tengah perjalanan.


"Uti masih sedih Shan." jawabku.


"Kenapa sedih, bukannya kungkung ke surga. Surga kan tempat bagus, nyaman, dan bahagia. Lalu apalagi yang perlu disedihin pa?


Shan benar-benar belum mengerti apa itu arti meninggal dunia.


Aku mengedikkan kedua pundakku bersamaan. Mengisyaratkan pada Shan bahwa aku pun juga tidak tau. Tidak tau akan memberikan jawaban apa untuknya.


Sampailah kita berdua di depan pintu kamar. Shan memilih untuk turun dari gendonganku. Kupikir dia akan melangkah memasuki pintu kamar sendiri, tapi ternyata dugaanku itu salah.


Shan berbalik arah, dan menuju ke arah pintu kamar lain yang berada tepat di depan pintu kamar kita. Ya, pintu kamar Yola dan anak-anaknya.


"Shan, kamu ngapain?" Aku terkejut sekali ketika wajahnya dia dekatkan ke arah lubang kunci. Sebelah matanya dia gunakan untuk mengintip masuk melalui lubang kecil itu.


Hanya sebentar. Setelah itu dia berlari kembali ke arahku.

__ADS_1


"Kamu ngapain sih Shan?" tanyaku lagi.


"Hehehe gak ada kok pa, cuma pengen liat aja."


"Pengen liat apa hmm?"


Shan menggeleng.


Aku menghela napas sekilas lalu meraih tangan mungilnya untuk masuk bersama ke dalam kamar kita.


"Udah yuk sekarang bobok." perintahku.


Shan menurut, dia naik ke atas ranjang kemudian mengambil posisi yang menurutnya paling nyaman.


"Papa, selimut pink nya Shan sama teddy."


Aku meraihkannya selimut dan menyelimutinya. Boneka beruangnya pun tidak terlupa. Kini Shan telah siap untuk tidur.


"Papa gak mau tidur ya?" tanyanya ketika melihatku masih terduduk dengan tegak.


"Papa belum ngantuk Shan."


"Emm kalo gitu Shan juga belum ngantuk. Shan tidurnya nanti aja nungguin papa sampai papa mau tidur juga."


"Lah kok gitu?"


"Abis papa kasihan kalo melek sendirian."


Senyumku seketika mengembang. Aku langsung mencubit kedua pipinya dengan gemas saat itu juga. "Oke oke kalo gitu papa juga akan tidur deh Shan."


"Nah gitu dong pa."


Aku membaringkan tubuhku di sebelah Shan tepat. Mengeloni tubuh kecil itu.


Shan tidak langsung memejamkan matanya dan tertidur yang seperti dia bilang. Dia malah menatapku sangat intens dalam waktu yang sangat lama.


Entahlah, Shan sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


"Kenapa Shan? Kalo Shan pengen ngomong, ngomong aja. Gak usah ditahan." ucapku.


"Pa..." panggilnya setelah berselang beberapa saat.


"Iya Shan?"


"Kak Salsa, kak Jimmy punya papa, punya mama. Papa sendiri juga punya papa, punya mama. Jadi apa cuma Shan disini yang gak punya mama ya?"


Deg.


Shan pasti masih kepikiran soal tadi. Dan kini gadis kecil ini membahasnya. Sekarang aku harus menanggapinya dengan apa. Aku bingung. Aku tidak tau harus mengatakan apa untuknya.


Aku akhirnya hanya bisa menutup kedua kelopak mataku. Berpura-pura tertidur tiba-tiba karena aku benar-benar sangat tidak sanggup.


"Yahh papa udah tidur ya? Baiklah pa, kalo gitu Shan juga tidur aja deh."

__ADS_1


'Maafkan papa Shan...'


~tbc...


__ADS_2