Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Hanya Kita Berdua, Shan...


__ADS_3

Suara jerit tangis terdengar memekakan telinga, menggema ke seluruh koridor yang kulewati. Aku sangat tahu itu suara siapa.


Anakku.


Aku setengah sedikit berlari menuju ke sumber suara itu. Hingga sampailah aku disebuah ruangan. Sepertinya ini sebuah ruangan rawat inap.


"Papa." panggil Shan yang telah berderai air mata dan tampilan sangat acak-acakan. Aku tahu, dia menjadi seperti itu karena memberontak.


Aku segera mengambil alih tubuh Shan dari pangkuan mama. Mama terlihat kalah dengan pergerakan Shan yang benar-benar tidak main-main jika dia tidak mau.


"Chandra, Shan-nya mau diinfus."


Iya, iya, aku tahu. Aku bisa melihat sendiri dua orang perawat itu telah bersiap dengan jarum suntiknya.


"Sini Chan, ayo kita pegangin Shan-nya." Mama mengulurkan kedua tangannya kembali. Namun....


"Enggak ma, Shan-nya takut. Kasihan, dia nangis."


"Chandra!" Mama seketika menggertakku.


Baru kali ini mama mengambil sikap demikian. Iya, aku tahu, memang itu tindakan yang sangat tepat mama lakukan untukku.


Namun...


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan Yolla dari arah itu. Aku auto mendesah. Kehadiran perempuan itu pasti akan memperumit suasana.


"Chandra, Shan harus diopname. Harus Chan."

__ADS_1


Benarkan, dia selalu ikut campur.


"Chand, anak lo sakit. Dia harus—"


"IYA GUE TAU!"


Sontak ruangan langsung hening seketika. Aku tidak ada rasa sungkan ataupun apa walaupun ada dua tenaga medis juga disini. Aku sudah benar-benar geram sekarang.


"Shan bisa kan cuma dikasih obat aja! Kalo gak bisa ya berarti goblok ini rumah sakitnya!"


Mama mencoba meredam emosiku, perempuan tua itu mengelus punggungku berulang kali. Aku menepisnya. Aku tidak butuh itu semua.


"Dan lo Yola! Kenapa lo selalu ikut campur ha?! Berisik tau gak! Mending sana lo urusin anak-anak lo sendiri!"


Yola langsung membeku ditempat.


"Chandra, mama mohon..."


Terlihat kedua mata mama mulai berkaca-kaca. Tapi aku tidak peduli sama sekali. Aku sudah terlanjur sakit hati. Sakit hati karena mereka membuat putriku sangat ketakutan seperti ini.


Disuntik? Mereka benar-benar gila.


Tidak akan pernah sekalipun jarum suntik sialan itu menembus kulit putri berhargaku. Tidak akan.


Aku akhirnya membawa Shan keluar dari ruangan sialan itu.


Beberapa jam berlalu... Kini aku dan Shan berada di parkiran. Kita tidak pulang, aku masih ada tujuan yang lain.


"Shan, tunggu sini aja ya sayang. Papa mau beli obat dulu buat Shan, oke?"

__ADS_1


Shan pun mengangguk. Dia bersedia aku tinggal di dalam mobil sendirian.


Bergegas aku menuju apotek yang masih berada di satu gedung dengan rumah sakit itu. Aku melihat ke sekeliling, sudah tidak ada tanda-tanda keberadaan mama ataupun Yolla. Sepertinya mereka sudah pulang.


"Eh tunggu pak!" Aku menghentikan seseorang yang terlihat familiar. Oh itu perawat yang berada di ruangan tadi, yang akan menginfus Shan.


Aku lekas menanyainya. "Pak perawat, kalo boleh tau anak saya tadi sakit apa ya? Emmm kenapa harus rawat inap?"


"Berdasarkan catatan pemeriksaan dokter yang bertugas, anak bapak tadi sakit demam. Suhu tubuhnya di atas rata-rata. Dan ada gejala tipesnya. Untuk kondisi lainnya kami belum bisa memutuskan sebelum melakukan observasi dan juga tes lebih lanjut."


"Oh yaudah makasih." Aku melenggang pergi setelah mendengar penjelasan perawat itu.


Aku memutuskan untuk membeli obat di apotek yang lain. Yang berada di dekat apartemen saja.


......***......


Tengah hari berlalu, setelah aku meminumkan obat untuk Shan, kini aku mengeloninya. Menemaninya agar dia beristirahat tidur siang. Supaya anakku ini cepat sembuh dan bisa ceria kembali.


"Papa kemarin kok gak pulang kemana?"


Pertanyaan yang terlontar dari mulut Shan sontak membuatku terperanjat. Aku harus menyahutinya dengan jawaban apa sekarang.


"Papa tau gak, Shan semalem gak bisa tidur sama sekali tanpa papa."


"Maaf sayang..." Aku langsung memeluknya sangat erat. Aku benar-benar menyesal meninggalkannya karena lupa waktu kemarin. Sial, ini semua gara-gara Wanda.


"Shan, papa janji gak akan gitu lagi. Papa gak akan ninggalin kamu. Papa akan peluk kamu kayak gini kalo kamu tidur. Gimana, sekarang kamu bisa tidur kan sayang?"


Sudah tidak terdengar lagi perkataan apapun darinya. Hanya dengkuran halus dan juga napas yang teratur. Shan telah tertidur lelap dalam pelukanku.

__ADS_1


"Cepat sembuh Shan. Papa akan jaga kamu, papa akan rawat kamu dengan baik. Kini hanya ada kita berdua, tidak akan ada orang lain lagi yang ganggu kita. Hanya kita berdua, Shan..." bisikku.


~tbc...


__ADS_2