
Shania kini sedang bersama utinya. Sedangkan Chandra, Chandra tengah bercengkerama dengan kakak dan iparnya.
Aku sendiri duduk tidak jauh dari mama Dewi. Duduk di salah satu kursi plastik di sebelah sisi bed yang Shania tempati.
"Uti peluk..." pinta Shania. Utinya pun segera menurutinya.
"Uluh uluh cucunya uti minta disayang-sayang ya nak." ucap perempuan paruh baya itu dengan sangat lembut sekali.
Hatiku terenyuh dibuatnya.
Shania ku selama ini mendapatkan banyak kasih sayang dari siapapun. Pantas saja Shania tumbuh menjadi anak yang ceria dan berhati hangat.
Shania, asal kamu tau ibumu ini sangat bahagia melihat kamu tumbuh dengan sangat baik...
Ibu menyesal Shania, sangat menyesal menelantarkanmu selama ini. Jika boleh waktu diputar... Akan tetapi tidak mungkin itu dapat terjadi. Maka dari itu lebih baik hukum ibu saja. Hukum aku Shania, kasih pelajaran padaku atas apa yang telah ku perbuat.
Lekas sembuh dan sehatlah Shania lalu hukum aku yang setimpal.
Dug.
Tiba-tiba seseorang menyenggol pundakku dari belakang. Ternyata itu Chandra.
"Ngapain sih lo nangis?" bisik Chandra sembari mempertajam tatapannya.
Aku segera menghapus air mataku. Sumpah aku benar-benar tidak sadar jika air mataku telah berderai seperti ini. Rasanya semua mengalir begitu saja setelah memikirkan dosaku di masa lalu terhadap Shania.
Chandra berhenti menatapku dengan sinis, kini dia beralih menyapa mamanya.
"Mama agak minggiran aja duduknya."
"Em kenapa Chan memangnya?"
Chandra menggaruk tengkuknya sekilas. "Emmm enggak apa-apa sih, emm yaudah enakin aja mau duduk di tengah, di pinggir, di bawah, di rooftop sana pun boleh, bebas ma."
"Ih rese ya, mama cubit kamu."
Gelak tawa menggema di seluruh ruangan. Kita semua tertawa. Kehangatan seketika dapat aku rasakan.
Sedari dulu padahal aku berpikir bahwa keluarga ini tidak bisa bercanda semenyenangkan ini, namun ternyata tidak. Keluargaku lah yang sebenarnya sangat kaku.
Lagi-lagi penilaianku selalu salah. Maafkan aku Chandra, Mama Dewi, Kak Yolla, Kak Ken, dan yang paling utama Shania-ku...
Flashback on...
"Aku mau pergi ke tempat aborsi. Cepat antar aku!"
"Mau ngapain Sa?"
"Ya aborsi lah!"
"Jangan konyol Sa!"
__ADS_1
"Aku gak konyol! Aku gak mau bayi ini, aku gak mau hamil. Aku masih SMA Chan, hiks..."
Aku akhirnya menangis. Menangis tersedu-sedu sembari meremas perutku yang kurasakan sudah membuncit tersembunyi di balik seragam putih abu-abu.
Aku sangat takut saat itu. Takut dengan ayah, takut dengan cita-citaku yang hancur, takut dengan masa depanku yang suram.
Aku ingat sekali bagaimana Chandra mengusap kepalaku dengan lembut. "Rosa jangan takut, aku akan tanggung jawab."
"Tanggung jawab gimana? Ayah pasti akan marah besar. Ayah pasti akan pukul kamu, atau—atau bahkan bisa suruh ajudannya buat ngebunuh kamu."
Tangisku saat itu semakin keras. Air mataku mengalir deras dan tidak bisa berhenti.
Chandra terus menenangkanku. Memelukku dengan erat dan terus mengucapkan kata-kata penenang untukku.
Hingga akhirnya setelah kegiatan ekstrakulikuler sekolah selesai, Chandra mengajakku menuju kediamannya.
Aku bisa lihat sendiri bagaimana tangannya yang gemetar mulai memutar kenop pintu rumah.
"Eh anak-anak sudah pulang?" Senyum mama Chandra seperti biasa menyambut kita. Mama Dewi sudah layaknya ibuku sendiri. Aku bahkan sampai tidak bisa mengingat wajah ibu kandungku yang telah tiada. Setiap kali aku mencoba mengingat, yang teringat hanyalah mama Dewi karena beliau sangatlah baik melebihi ibu kandungku.
Mama Dewi memelukku sangat erat. Perutku yang berisi janin itu menempel erat pada perut beliau. Apakah beliau merasakannya bahwa aku tengah mengandung calon cucunya?
Tentu tidak.
"Ayo masuk-masuk, mama buatin sup ayam kesukaan kamu ya Rosa. Ih kamu nakal deh, kenapa sekarang jarang main ke rumah. Mama kangen loh sama kamu..."
Kedua bola mataku terasa panas setelah mendengar ucapan mama Dewi. Mama Dewi begitu menyayangiku, tapi aku... Aku malah mengecewakannya seperti ini.
"Ma... Chandra mau ngomong."
Seketika atmosfir ruangan yang kita tempati berubah. Hawa dingin merasuki. Senyum sumringah mama Dewi menghilang dalam sekejap tatkala Chandra memberitahu akan fakta yang sebenarnya.
Aku hamil. Dan usia kandunganku telah masuk 4 bulan.
Flashback off...
...***...
"Beli pampers-nya adakah buk?"
"Oh adaa, yang ukuran berapa?"
Aku berpikir beberapa saat. Menerka ukuran Shania kira-kira berapa.
"Yang mau pakai pampers orang tua apa anak-anak ya mba?" tanya penjaga warung tersebut.
"Anak-anak... Emm—umur 3 tahun."
"BB nya berapa?"
"10 kg." Aku ingat semalam Shania cek berat badan.
__ADS_1
Ibu-ibu penjaga warung itu lalu menuju ke salah satu rak, kemudian kembali kepadaku dengan menunjukkan beberapa kemasan pampers.
"Yang ini aja buk."
Beliau langsung membungkus barang pembelianku itu.
Dan sekarang aku dan Chandra dibuat lumayan kewalahan membujuk Shania untuk memakai pampers-nya.
"Enggak mau! Shan kan udah gede, masa pakek pampers sih pa. Apa nanti kata kak Salsa sama kak Jimmy. Shan bisa dikecengin." protes Shania.
Shania bersikeras tidak mau memakai pampers, walaupun dipaksa sekalipun.
Shania... Asal kamu tau sayang, kita juga tidak ingin kamu memakai benda ini. Tapi ini demi kenyamanan kamu juga.
Sudah empat kali Shania mengompol di atas bed. Shania selalu bilang pengen pipis namun saat akan digendong menuju kamar mandi pipisnya sebenarnya sudah keluar.
Anak kecil ini tidak bisa merasakan apakah dirinya sudah pipis atau belum.
"Shan, pakai ya nak. Kak Salsa sama kak Jimmy gak akan tau kok kalo Shan pakai ginian. Sumpah deh, kita gak akan kasih tau mereka soal ini." bujuk Chandra.
Shania masih menggeleng. Dia terus meyakinkan kita bahwa dia tidak akan mengompol lagi. Dia akan bilang dengan segera jika benar-benar ngerasa pengen pipis.
Aku akhirnya menghentikan Chandra. Baiklah Chandra, kita turuti saja kemauan Shania.
Setelah pembujukan yang tidak membuahkan hasil ini selesai kini Chandra menjadi lebih sering menanyakan kepada Shania apakah dia merasa ingin pipis atau tidak. Setiap jam, bahkan lima menit sekali Chandra menanyakannya.
Bukan tanpa alasan, persediaan sprei dan selimut di lemari pun juga telah habis. Kita belum sempat pergi ke laundry.
"Papa Shan kerasa pipis." ucap Shania tiba-tiba di tengah aktivitasnya mewarnai.
Chandra dengan sigap langsung mengangkat tubuh kecil itu. Syukurlah bed nya masih kering, Shania belum mengompol. Chandra langsung berlari menuju kamar mandi.
Tapi....
5 menit, 10 menit, 15 menit berlalu...
"Shan kamu bohongin papa ya? Orang kamu gak pipis sama sekali kok." ucap Chandra yang keluar bersama dengan Shania dari kamar mandi.
Anak kecil itu hanya terdiam. Entah apa yang berada dalam angan-angannya sekarang ini. Shania seolah melamun.
Chandra menatapku sekilas. Lalu memberikan perintah kepadaku. "Tolong ambilin pampers-nya tadi aja."
Kali ini Shania tidak menolak lagi. Dia setuju dipakaikan pampers. Mungkin Shania juga berpikir, ini untuk antisipasi terbaiknya.
Tidak apa-apa Shania, tidak akan ada yang tau soal hal ini. Kita tidak akan ada yang membocorkannya. Ini menjadi rahasia kita bertiga.
Aku dan Chandra berjanji.
Tidak.
Mama dan papamu berjanji...
__ADS_1
~tbc...