Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Miming


__ADS_3

"Huekk!"


Aku langsung terbangun ketika cairan hangat berhasil mengenai seluruh tubuhku.


"Astaga Shan!" Aku tidak berteriak. Hanya bersuara sedikit lantang.


Aku lantas menuntun Shan ke arah kamar mandi, lalu mengarahkannya ke kloset. Shan sepertinya mau muntah lagi.


Anak ini kenapa? Ku pikir muntah-muntahnya telah selesai sejak pagi tadi, tapi sekarang... Dia muntah-muntah lagi.


Aku mengurut tengkuknya perlahan sembari melihat ke arah genangan pada kloset. Tidak ada apa-apa disana. Hanya berwarna bening. Shan hanya memuntahkan air dari dalam lambungnya.


"Papa udah..." ucapnya diikuti dengan rengekan. Iya aku tau sekali, pasti sekarang ini kondisi tubuhnya sedang sangat tidak enak.


Aku membantunya untuk berkumur lalu mencuci tangan dan kakinya yang terkena cipratan air muntahan. Setelah dirasa bersih aku kemudian menuntunnya untuk kembali ke bed.


Aku tidak bisa menggendongnya untuk saat ini karena bajuku juga tak luput terkena muntahannya.


"Bentar ya papa ganti baju dulu."


"Papa... Hiks." Shan lagi-lagi merengek dan kini mulai rewel mau menangis. Dia memegangi tanganku sangat erat, dia tidak memperbolehkanku untuk pergi sedikitpun darinya.


"Shan tapi papa ganti baju dulu. Gak nyaman. Papa gak bisa peluk kamu nih." Aku akhirnya melepaskan genggaman Shan dengan paksa dan langsung segera menuju ke arah lemari untuk berganti pakaian.


Dan jadilah tangisannya Shan. Anak itu kini menangis tersedu-sedu. Sore ini tidak ada mama, mama pagi tadi mengirimiku chat bahwa dia tidak bisa kesini karena istirahat dirumah. Sepertinya asam uratnya kambuh. Jadi tidak ada yang membantuku sama sekali untuk beberapa hari kedepan.


"Nah papa udah nih. Cup cup cup." Aku merentangkan kedua tanganku lebar-lebar dan menghampiri Shan, dia pun langsung meraihku.


Anak ini minta digendong. Ditimang-timang layaknya bayi lagi.


"Papa pakein minyak kayu putih ya sayang?"


Shan menggeleng. Dia masih terus menangis ya walaupun sudah tidak tersedu-sedu seperti beberapa saat lalu.


Aku kemudian membawa Shan keluar untuk jalan-jalan ke taman. Sesampainya taman kepala Shan langsung mendongak ke berbagai penjuru arah. Dia sepertinya sedang mencari sesuatu. Apa ya?


"Papa meow!"


Eh itu bukannya anak kucing yang waktu itu??


"Papa turun." pinta Shan tapi aku melarangnya. Tidak boleh ya kalau turun cuma mau buat nyentuh hewan itu. KOTOR.


Aku memutuskan untuk menggendong Shan terus. Biarkan punggungku kecengklak yang penting Shan tidak terkena virus yang mungkin dibawa anak kucing itu.


Aku kemudian baru teringat jika Shan siang ini belumlah makan. Langsung saja aku tawari.


"Shan ayo makan dulu, nanti lanjut main lagi disini."


"Tapi Shan gak laper pa..."

__ADS_1


"Hehh gak boleh gitu. Laper gak laper harus makan, ini udah jamnya makan siang loh Shan."


"Shan gak laper!" Bocah kecil ini ngotot.


"Shan... Nanti perut Shan sakit kalo gak dikasih makan. Inget tadi Shan muntah-muntah kan? Nah, itu karena kamu gak makan."


Shan malam menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Sampai-sampai aku kalah. Aku hampir saja akan oleng karena pergerakannya ini.


Kakiku menendang sedikit pantat anak kucing yang berada dibawah.


"Nah kan meow-nya pergi karena kamu gak mau makan!"


Shan langsung mengalihkan pandangannya ke bawah. Mencari-cari kucing yang telah hilang dari jangkauan matanya.


"Dia kemana pa???"


"Ya gak tau. Makannya kamu makan dulu biar meow-nya balik lagi kesini."


Shan tiba-tiba memerosotkan tubuhnya. Dia berusaha sendiri turun dari gendonganku. Shan yang tanpa alas kaki lalu melenggang ke arah sudut taman.


"Papa meow-nya disini!"


Aduhhh, dia menemukan kucing itu.


Siang hari kita akhirnya dihabiskan bersama dengan anak kucing buluk yang entah siapa pemiliknya. Rumah sakit? Ah tidak mungkin, sepertinya itu kucing liar. Kenapa ya tidak diusir saja dari kawasan rumah sakit?


"Aaakk satu lagi Shan."


"Yesss abiss!" ucapku sembari memperlihatkan mangkuk kecil ditanganku pada Shan.


Iya, setelah dibujuk seribu cara untuk mau makan akhirnya Shan mau makan. Dengan negosiasi 'boleh pegang kucing'....


Ahh... Memang kampret sekali anak ini.


Hmm untung sayang, kalau tidak sayang mah sudah aku tinggal di perempatan pasar tanah abang.


"Udah yuk, cuci tangan sekarang Shan." perintahku.


"Tapi Shan belum selesai main pa."


"Astaga Shan..." Aku hanya bisa menghela napas panjang.


"Eh eh mau kemana ming?" Ming itu nama yang diberikan Shan pada anak kucing itu. Miming, lengkapnya.


Shan mencoba mengejar kepergian hewan kesayangannya tapi aku langsung mencegahnya.


"Eh udah ayo balik ke kamar aja. Dia itu udah capek juga kali Shan main terus sama kamu."


"Yahh..." Shan kini menampilkan raut wajah sendu. Hmm siapa juga yang peduli?

__ADS_1


Aku lalu menggandeng tangannya untuk kemudian ku tuntun menuju ke arah kamar rawatnya.


"Shan kan bisa main lagi besok. Kalian tadi kan udah main selama berjam-jam, Mimingnya juga butuh pipis lah Shan."


"Hah? Emang meow bisa pipis pa?" tanya Shan sembari membulatkan kedua matanya.


"Ya bisa lah Shan. Dia itu kayak kita, bisa makan, bisa tidur, bisa pipis, bisa poop."


"Ah kalo gitu besok Shan pengen liat kalo Miming poop itu kayak gimana."


"Shan jijik tauk."


"Shan pengen liattt."


Hmmm... Terserah deh.


......***......


"Kucingku telu kabeh lemu-lemu... Meong-meong~emm.. datang seekor nyamuk lalu ditangkap. Hap!"


Aku mengernyit. Lahh kenapa liriknya menjadi seperti itu saat dinyanyikan Shan? Ahh Shan benar-benar ngaco deh.


"Papa papa lihat!" Shan merentangkan kertas yang berada di tangannya. Sebuah gambar kucing dia tunjukkan kepadaku.


Oalahh, dia tadi itu sibuk berkutat menggambar kucing toh. Baru tau aku.


"Coba sini lebih dekat. Papa mau lihat detailnya Shan."


Shan lalu menghampiriku yang sedang berbaring di atas bed. Dia kini ikut diriku. Ikut menidurkan tubuhnya disampingku.


Kita berdua kini melihat gambar kucing bersama.


"Bagus Shan." Aku mengusap puncak kepalanya beberapa kali.


"Papa suka?"


"Suka sayang. Cup..." Tak lupa menyematkan kecupan pada keningnya.


Memiliki anak sepintar Shan merupakan suatu keberuntungan untukku. Dia laksana penyemangatku, matahariku. Mungkin jika tidak ada Shan hidupku, hidupku akan sangat biasa saja. Mungkin jika Shan tidak pernah ada maka aku akan menjadi anak laki-laki manja yang bergantung terus kepada orang tua.


Shan ini mengajarkanku tentang cara berusaha. Melihatnya saja hatiku langsung terketuk, untuk berusaha dengan keras membahagiakannya.


Shan, papa sayang sekali nak padamu. Kamulah cinta papa satu-satunya, nak.


Sembuh ya sayang, terus kita pulang. Kita jalani kehidupan kita seperti biasanya. Ah tidak-tidak, tidak seperti biasanya, tapi lebih dari biasanya.


Papa akan lebih bahagiakan kamu lagi Shan.


Papa janji...

__ADS_1


"Cuppp..."


~tbc...


__ADS_2