Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Suatu Kebetulan Atau?


__ADS_3

Rosa's POV


Seminggu pasca kemo rambut Shania benar-benar rontok habis. Mama merajutkan sebuah kupluk untuk Shania, untuk menutupi kepala anak kecil itu. Agar Shania tidak merasa dingin.


"Assalamu'alaikum..." Chandra masuk ke dalam ruangan.


"Walaikumsalam." jawab mama. Mama langsung mencecar Chandra dengan berbagai macam pertanyaan.


"Kamu darimana saja Chan? Akhir-akhir ini selalu pergi tiba-tiba, pulang juga lama. Kemana saja kamu itu? Shan nyariin kamu terus nak."


"Papa..." Shania berlari ke arah Chandra dan langsung mendaratkan pelukannya pada tubuh jangkung tersebut.


"Kenapa nyariin hm? Papa kan lagi laundry sayang."


Selalu seperti itu jawaban Chandra. Entah itu memang benar adanya atau hanya alibi Chandra saja. Kenapa laundry harus menghabiskan waktu yang sangat lama? Dan mana katanya pakaian yang di laundry Chandra itu? Dia datang hanya dengan tangan kosong tanpa kantong pakaian yang katanya telah dilaundry.


"Masih belum kering, nunggu besok lusa bisa diambil." ucap Chandra dengan santai.


"Kan aku udah bilang, laundry di dekat perempatan depan situ aja. Langsung bisa diambil, kerjanya cepet, bersih banget lagi." timpal kak Yolla. Iya kak Yolla, akhir-akhir ini juga sering kesini, bahkan sampai menginap pula.


Sekarang situasi ruangan tempat Shania dirawat tidak sesepi dahulu, lumayan ramai. Keluarga yang lainnya selalu datang menemani Shania.


"Ya ya ya, entar aku pindah ke tempat laundry yang kakak maksud deh." ucap Chandra yang masih menggendong Shania.


Chandra lantas duduk di sofa yang sama denganku. Kita hanya berjarak sepersekian centi meter.


"Rosa, kalo kamu mau pulang, pulang aja. Lagian disini udah ada mama sama kak Yolla."


"Lohh, kok Rosa sih pa? Elsa pa, Elsa. Namanya kakak ini Elsa!" Shania tidak terima aku dipanggil Rosa oleh ayahnya.


"Hmm yaudah deh, Elsa." ucap Chandra, pasrah. Sedangkan Shania langsung tersenyum sumringah.


"Iya aku nanti sore akan pulang."


"JANGAN!!!" teriak Shania secara spontan.


Chandra sampai terkejut, kedua matanya refleks melotot karena merasa teriakan Shania sangat menggetarkan gendang telinganya.


"Loh kenapa gak boleh pulang Shan?" Mama menanyakan ada apa sebenarnya gerangan.


Shania tidak menjawab, dia hanya menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Chandra. Shania sepertinya enggan menjawab pertanyaan utinya itu.


Chandra kemudian mengusap lembut kepala Shania. "Shan... Biarin kak Elsa pulang sebentar, dia kangen sama keluarganya."


Shania perlahan mengangkat kepalanya. Dia menatap Chandra lekat-lekat. "Kak Elsa punya keluarga ya?"


"Ya jelas punya dong sayang. Kak Elsa itu sama kayak kita, punya keluarga..."


"Terus—terus... Terus siapa keluarganya kak Elsa itu?"


Chandra beralih memandangku. Laki-laki itu sepertinya tengah berpikir ingin mengatakan hal apa selanjutnya kepada Shania.


Chandra menghela napas sekilas. "Ya ada lah pokoknya keluarganya Shan, papa juga gak tau kalo Shan tanyanya ke papa. Papa kan bukan keluarganya."

__ADS_1


Deg.


Cukup menusuk relung hatiku, namun apa yang dikatakan Chandra memang benar apa adanya.


Flashback on...


"Chan aku gak mau! Sampek mati pun gak mau!"


"Sa please, itu anak kita. Aku akan tanggung jawab."


"Tanggung jawab?? Ayahku bisa membunuhmu!"


"Aku gak peduli Sa. Pokoknya kamu harus mertahanin anak itu. Please jangan digugurin, itu anak kita. Rosa sekarang kita udah jadi keluarga..."


"ENGGAK!"


"KAK ROSA!"


"Ehh..." Sontak lamunanku akan masa lalu menghilang. Shania mengagetkanku.


Detak jantungku berdegup kencang. Aku mengatur napasku berulang kali.


Shania memegang tanganku. Sentuhannya membuatku tenang seketika.


"Kak Elsa kenapa? Kok kayak sedih gitu?"


Aku menggeleng walaupun kedua mataku telah terasa sangat memanas. Tolong jangan menangis... Tolong jangan menangis...


Tanpa kuduga Shania merangkak ke arahku. Dia yang tadinya berada dipangkuan Chandra kini beralih menuju pangkuanku. Anak ini memelukku sangat erat.


Hangat, sangat hangat. Aku baru merasakan sekali ini bagaimana sebuah kehangatan yang seperti ini. Tubuhnya yang kecil tetasa sangat nyaman dalam dekapanku. Shania, aku ingin berlama-lama dalam posisi seperti ini.


Shania tolong jangan lepaskan aku....


"Kak Elsa jangan sedih, kalo kak Elsa sedih nanti Shan juga ikut sedih."


Deg.


Jantungku seakan diremat seketika. Aku menutup kedua kelopak mataku. Membiarkannya terpejam agar air mataku yang hendak merayap keluar dari pelupuk dapat meresap ke dalam kembali.


Ya Tuhan tolong, aku benar-benar sangat ingin menangis sungguhan sekarang.


"Shan ayo lihat miming. Kita udah lama sekali gak liat kucingmu itu."


"Eh ayo paa!"


Akhirnya Chandra menyelamatkanku...


......***......


Author's POV


Pada akhirnya Rosa tidak jadi pulang seperti niatnya. Kedua mata Rosa sembab sangat parah. Rosa menangis seharian di dalam mobilnya. Dan sekarang dia tidak berani menampilkan wajahnya di hadapan siapapun.

__ADS_1


"Lohh itu kan Chandra?" Pandangan Rosa langsung terfokuskan pada sosok laki-laki yang tengah berjalan lurus melewati depan mobilnya. Rosa dapat melihat dengan jelas itu memang benar-benar Chandra.


"Dia mau kemana? Kenapa dia menyebrang jalan? Di mana mobilnya? Kenapa dia tidak naik mobil saja?"


Akhirnya terbesit dalam benak Rosa untuk membuntuti laki-laki itu.


Chandra sepertinya tidak menyadari sama sekali keberadaan mobil Rosa yang mengikutinya dari belakang. Tidak terlintas apapun dalam pikiran Chandra, laki-laki itu hanya berjalan lurus, terus lurus menyusuri jalanan yang ada di hadapannya. Hingga akhirnya sebuah angkot melintas di sampingnya.


Chandra menyegat angkot tersebut, lalu masuk ke dalamnya.


Rosa dibuat semakin kebingungan, sebenarnya mau kemana Chandra?


Rosa masih terus mengikuti kemana perginya angkot berwarna biru langit itu.


"Tempat gadai??"


Deg.


Rosa tercekat dan refleks menginjak remnya ketika Chandra sungguhan turun di tempat gadai yang berada di dekat sebuah pasar.


Tanpa pikir panjang Rosa langsung turun. Dan lagi-lagi Chandra masih belum mengetahui Rosa yang berada di belakangnya.


Rosa hendak memanggil laki-laki itu namun lidahnya seolah kelu. Rosa akhirnya membiarkan sosok itu benar-benar masuk ke pintu tempat gadai yang telah berada di hadapannya.


"Chandra ngapain kesini? Dia mau gadai apa?" Rosa tidak tau transaksi apa yang terjadi di dalam. Perempuan itu hanya menunggu di depan. Hingga sebuah klakson yang memekakkan telinga membuat perhatiannya teralihkan.


"Mobilku!" serunya ketika baru menyadari bahwa sumber dari suara klakson tersebut ditujukan pada mobilnya.


"Woi pindahin gak mobil lo? Apa perlu gue panggilin tukang derek ha??" teriak seorang supir truk pada Rosa yang baru saja datang menghampiri mobilnya.


"I-iya iya pak, m—maaf..." ucap Rosa kelimpungan. Rosa segera memindahkan mobilnya tersebut.


"Cepetan woi! Macet nih!" teriak supir truk itu lagi.


"Maaf..."


"Hihh dipikir ini jalan punyanya nenek lo apa?!" ucap supir itu sebelum akhirnya melenggang pergi. Diikuti dengan barisan mobil dan motor lainnya.


Tin tin tin...


Karena gangguan ini akhirnya Rosa kehilangan jejak Chandra. Laki-laki itu sudah tidak terlihat lagi di tempat gadai. Chandra sudah pergi, entah sejak kapan dan kemana menghilangnya manusia itu.


Rosa masih berputar-putar di tempat, mencoba mencari-cari ke berbagai arah pandangannya barangkali ada sosok Chandra terselip di antara banyaknya objek disana. Namun ternyata hasilnya tetap nihil.


Hingga sebuah suara akhirnya mengagetkannya.


"Rosa."


Itu bukan Chandra yang memanggilnya, melainkan...


"D-dokter Hans?" Rosa seketika mengernyit. Rosa tidak habis pikir. "Apa yang dokter lakukan disini?"


"Gak ada, cuma beli es cendol di pasar hehehe." ucap dokter Hans sembari mengangkat katong kresek warna putih ke udara.

__ADS_1


~tbc...


__ADS_2