
"Shan sayang ayo bangun... Sekolah." Aku yang sebenarnya juga masih sangat ingin tidur ini mencoba menepuk-nepuk punggung Shan agar segera bangun.
Kemarin minta dibangunin pagi kan dia.
Aku melihat ke arah jam dinding. Walaupun masih kriyip-kriyip mataku, tapi aku bisa lihat jam yang terpampang disana. Masih pukul lima lebih dikit. Benarkan yang kubilang, masih pagi.
Ya sudah lanjut tidur saja.
Satu jam berlalu aku akhirnya memutuskan untuk bangun.
Aku melihat ke arah Shan sekilas, lagi-lagi dia masih sangat pulas tidurnya.
"Oke, aku ke kamar mandi dulu Shan." ucapku kemudian melenggang pergi menuju kamar mandi.
Aku melakukan aktifitas pagi yang biasanya dilakukan di kamar mandi. Setelah selesai akupun keluar.
"Ya Allah masih belum bangun jugaa??" Aku mulai berkacak pinggang.
"Shan udah jam setengah 7 ini loh. Nanti telat gimana??"
Aku berjalan menghampirinya. "Wah anak ini minta langsung diseret ke kamar mandi ya kayaknya."
Aku duduk di tepi ranjang lalu menyingkapkan selimut yang sangat nyaman membungkus tubuhnya.
"Hei Shann! Papa hitung sampek 3 ya!"
Detik berikutnya aku langsung tercekat.
Aku terkejut ketika tanganku berhasil menyentuh tubuhnya. Panas, sangat panas.
"Shan! Shan! Bangun Shan!" Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya, tapi dia tidak meresponku sama sekali.
Bibirnya yang terlampau pucat berhasil membuatku menjerit-jerit sekarang.
"Shan kamu kenapaaa?? Bangun!!"
Keadaan semakin panik saat mama datang dari arah pintu. Perempuan paruh baya itu juga ikut histeris sama sepertiku.
"Chandra Shan kenapa? Apa yang terjadi? Shan kenapa??"
"Mama berisik! Cepet panggilin dokter aja!"
...***...
Suara monitor pemantau detak jantung terdengar begitu memekakan telinga. Aku sangat ingin pergi menghindarinya tapi tangan mungil ini tidak tega aku lepaskan sendirian.
"Shan bangun please..."
Keadaan benar-benar berubah kacau. Dokter Hans bahkan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Shan, kenapa anak ini bisa tiba-tiba kehilangan kesadaran.
Dan yang dapat diupayakan sekarang hanyalah memindahkan Shan ke ruang ICU.
Sakit sekali hatiku rasanya melihat Shan dipasangi berbagai macam alat medis. Kenapa harus Shan? Kenapa bukan aku saja Ya Allah...
Pintu perlahan terbuka, menampilkan mama dari sana. Mama mulai masuk dan menyentuh pundakku.
"Chandra sini gantian sama mama, kamu sarapan dulu ya. Sudah mama siapin."
Aku menggeleng. Aku tidak sedang lapar, aku hanya ingin bersama Shan sekarang.
Mama lantas keluar setelah melihat penolakanku. Aku tau, mama sebenarnya tidak memaksaku karena takut jika aku dipaksa maka aku akan marah nantinya.
Saat ini emosi harus sangat dihindari. Semuanya harus diselesaikan dengan kepala yang dingin. Demi Shan...
"Shan bangun yuk, katanya pengen sekolah sayang?"
Lagi-lagi masih tidak ada respon. Kedua kelopak matanya seakan enggan untuk terbuka guna melihat papanya yang merana ini.
"Shan sebenarnya kamu maunya apa?"
Kedua mataku terasa panas seketika. Aku ingin menangis sekarang, tapi tiba-tiba ada seseorang yang datang lagi melalui pintu.
Dan ternyata itu kakakku.
__ADS_1
Kak Yolla langsung memelukku dari belakang. Dia mencoba menguatkanku.
"Shan pasti sebentar lagi bangun, kita tunggu aja dek..." lirihnya.
Aku hanya menganggukinya sekilas. Dan tanpa sadar ternyata air mataku telah meluruh. Baru kali ini aku menampilkan tangisanku di hadapan kakakku.
Aku benar-benar lemah jika sudah menyangkut Shan.
Aku sangat takut kehilangan Shan.
...***...
Author's POV
"Satu satu aku sayang papa..."
"Dua dua juga sayang uti..."
"Tiga tiga sayang kak Salsa, kak Jimmy..."
"Satu, dua, tiga sayang semuanya!"
"Shan... Shan..."
"Eh!" Shan mencoba menolehkan kepalanya. Mencari-cari sumber suara yang memanggil namanya berkali-kali itu.
Kaki kecilnya akhirnya beranjak. Dia yang tadinya duduk di sebuah bangku taman kini mulai melangkah. Masih mencari seseorang yang memanggilnya.
Shan berada di taman, tapi bukan taman rumah sakit.
Taman lain, taman yang sangat luas. Bahkan sangat indah dengan bunga-bunga dan tanaman yang sangat asing bagi Shan. Yang belum pernah Shan lihat sebelumnya.
"Shan... Shan..."
Suaranya semakin jelas. Sangat dekat, tapi Shan masih belum melihat sosoknya.
"Siapa ya?? Halo? Apakah ada orang??"
Shan sampai di dekat pohon besar dengan dahan yang sangat rindang. Disana terdapat banyak burung-burung warna-warni. Shan bisa menemukan burung warna apa saja disana.
"Hah bukan? Lalu siapa?" Shan tidak halu, namun dia benar mendapat jawaban dari burung-burung itu.
"Kalo gitu bisa anter Shan nemuin yang manggil Shan tadi? Boleh?"
Para burung mulai berterbangan, mengantar Shan menuju ke suatu arah. Shan pun dengan riang mengejar burung penunjuk jalannya, hingga akhirnya dia sampai di sebuah bukit.
Shan bahkan tidak merasa kelelahan sedikitpun setelah mencapai puncak bukit itu. Tidak ada keringat, matahari memang tengah cerah-cerahnya namun rasanya sangat hangat tidak terik sama sekali.
Burung-burung itu lantas hilang dalam sekejap. Layaknya asap yang tidak meninggalkan jejak sedikitpun.
"Lohh kemana? Shan kok ditinggalin? Hei burung." Shan berputar-putar, mencari-cari keberadaan burung barangkali masih ada yang tersisa.
Jujur saja dirinya juga bingung dengan situasi ini. Sebenarnya dia ada dimana. Kenapa semuanya seperti negeri yang diciptakan dalam khayalan Shan saat dia menggambar.
"Papa!" Shan mulai memanggil-manggil papanya. Tapi setelah itu...
"Gak ada papa gak papa kok. Lagian papa sering marah-marah. Enakan Shan sendirian disini." ucapnya.
Bocah kecil ini kemudian berlarian di atas bukit. Menikmati kedua kakinya yang tanpa alas menapaki rumput yang sangat hijau dan segar itu.
"Shan..."
Shan mengernyit ke suatu arah. Terlihat seseorang berjalan ke arahnya. Seseorang yang sangat Shan rindukan karena sudah lama tidak bertemu.
"KUNG-KUNG!!!" Shan langsung berlari, menghantamkan tubuhnya pada orang itu.
"Shan... Cucuku sayang." Tawa khas yang sudah sangat lama Shan tidak dengar kini akhirnya dia dengar kembali.
"Kung, Shan kangen kung-kung."
Shan tidak melepaskan pelukannya. Dia semakin mengeratkannya seolah tidak mau merenggang sedikitpun.
"Kung-kung juga kangen banget sama Shan."
__ADS_1
"Kung pulang yuk kung. Papa, uti, sama yang lainnya pasti senang kalo kung-kung pulang."
"Tidak bisa Shan, kung-kung tidak bisa pulang. Tempat kung-kung kan disini."
Shan mendongakkan kepalanya. Dia menatap nanar kung-kungnya dengan lekat.
"Kalo gitu Shan mau disini juga. Sama kung-kung."
Hanya senyuman hangat yang Shan dapatkan. Entah itu jawaban persetujuan atau apa Shan tidak tau. Detik berikutnya Shan tidak bisa melihat apa-apa. Sekelilingnya berubah menjadi gelap, seperti ada sesorang yang mematikan lampunya. Shan menjerit-jerit dan mencoba berlari berusaha keluar dari situasi yang gelap ini.
Author's POV End
......***......
"Shan?? Shan???!" Aku terkejut melihat tubuh Shan yang tiba-tiba bergetar. Dia seperti ingin bergerak.
"Dokter! Dokter!!! Dokter!!!" Aku langsung berteriak memanggil dokter. Tombol emergency yang berada di bed pun tak henti-hentinya kupencet berulang kali.
Dokter Hans datang bersama dengan petugas medis gawat darurat lainnya.
"Pak tolong anda keluar dahulu." ucap salah satu petugas medis.
Aku ingin bertahan disana menemani Shan namun dokter Hans langsung menggelandangku keluar.
"Biarkan mereka bekerja pak Chandra." kata dokter Hans.
Aku akhirnya menunggu di luar dengan diliputi perasan yang tidak karuan. Sangat cemas. Aku tidak bisa melihat perkembangan apa-apa dari luar. Aku tidak bisa melihat anakku!
Mama, kak Yolla mencoba menenangkanku, tapi percuma aku tetap tidak tenang. Aku ingin ikut masuk lagi ke dalam mengikuti dokter Hans.
Belum sempat aku masuk, Ken langsung menghadangku. Ken ternyata berada disini juga.
"Chandra jangan gegabah, tolong tunggu aja. Shan gak akan kenapa-napa. Percaya deh."
Ken tau dari mana? Ken mengatakan itu semua karena dia tidak merasakan di posisiku. Anaknya sehat semua, tidak seperti Shan-ku.
"Minggir Ken."
"Chandra!" Ken mendorong tubuhku dengan keras hingga punggungku akhirnya menabrak tembok di belakang.
"Lo bener-bener ngajak berantem!" Aku menarik kerah kemeja yang dia kenakan. Aku benar-benar sangat ingin menonjoknya sekarang.
"Tonjok aja tonjok kalo lo mau!" Dia sangat menantangku. Aku kemudian melepaskan cengkeramanku dengan kasar. Ah aku tidak mau berkelahi di sini.
Aku menepis Ken dari hadapanku lalu menerobos pintu yang tadinya dia hadang.
Aku masuk ke ruang ICU untuk melihat Shan.
"Pak Chandra, Shan sudah sadar..."
Seketika aku bisa bernapas lega.
Aku langsung berlari menghampiri Shan yang berada di bed. Lalu memeluknya erat.
"Papa..." Shan memanggilku dengan lirih. Meskipun ucapannya tidak jelas karena terhalang masker oksigen, tapi papa bisa mendengarnya sayang.
"Iya Shan papa di sini, papa gak akan kemana-mana lagi."
Aku naik ke atas bed, lalu memangkunya. Dokter Hans melihatku tanpa bersuara. Entahlah dia memperbolehkanku atau tidak seperti ini, aku tidak tau. Tapi rasa kerinduanku untuk mendekap anak ini tidak bisa ku elakkan sedikitpun. Sudah sejak pagi loh aku tidak menggendongnya. Memang baru tadi pagi, tapi rasanya sudah seperti setahun.
"Shan lapar?" Aku ingat betul dia sedari pagi perutnya belum terisi apa-apa.
Para dokter tadi bahkan menyarankan untuk dipasangi selang makanan yang langsung mengarah ke lambung pada Shan, tapi aku menolaknya. Aku sangat yakin kalau Shan akan segera sadar, jadi cara itu tidak perlu.
"Papa suapin ya sayang. Shan mau makan apa?"
"Telur rebus."
"Oke, bentar ya papa wa dulu uti. Minta tolong buat dibikinin telur rebus." Aku mengeluarkan ponselku dan mulai mengirim pesan kepada mama.
"Pa... Tadi Shan ketemu kung-kung."
Deg!
__ADS_1
~tbc...