Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Sayangnya Papa


__ADS_3

Shan melompat kesana kemari, tidak bisa berhenti. Lihatlah bocah yang berada dalam gandengan tanganku ini tengah sangat gembira.


"Gimana? Seru sekolah pertamanya?"


Shan pun mengangguk dengan riang. Keringat yang mengalir dari pelipisnya menjadi bukti kuat jika dia memang sangat menikmati hari pertamanya sekolah tadi.


Mengingat kembali detik-detik saat aku mengantarkannya ke depan pintu kelas pagi hari tadi. Shan yang sebelumnya mengeluh gugup ternyata setelah melihat kondisi ruang kelasnya langsung berubah. Dia langsung excited. Dia bahkan langsung melepaskan gandengan tanganku lalu masuk sendiri ke dalam kelasnya.


Dia tidak ada takut-takutnya sama sekali. Anak pintar ini juga langsung bisa berbaur dengan teman-temannya. Aku sangat terenyuh melihatnya, aku sampai hampir menitihkan air mata.


Oh, Shan-ku... Kamu sudah tumbuh besar sekarang nak.


"Heii, cukup-cukup nanti capek loh Shan." Aku mencoba menghentikan pergerakannya yang sangat aktif itu.


Shan akhirnya berhenti melompat-lompat seperti kelinci dan terdiam dengan posisi siap grak di tempat. Heran dong aku, aku lalu memandanginya dadi ujung kaki hingga puncak kepala.


Tanpa ku duga-duga bocah kecil itu lalu meringis, menampilkan sederet gigi susunya ke arahku. Shan tersenyum. Tersenyum sangat lebar. Dia lalu merentangkan kedua lengannya lebar-lebar ke arahku. Mengisyaratkanku untuk menggendongnya.


Sepertinya bocah ini kini lelah.


Aku melihat ke arah jam tanganku sebentar. Sudah hampir jam 1 siang, aku harus bergegas membawa Shan kembali ke ruangannya. Jam Shan untuk check up.


Tulilit tulilit tilililililililit~~~


Suara sound penjual ice cream keliling berhasil mencuri perhatian Shan. Shan mengarahkan pandangannya terus memandang ke arah sejauh mana gerobak penjual itu melangkah.

__ADS_1


"Shan pengen ice cream?" tanyaku dan langsung mendapat anggukan olehnya.


"Nanti ya Shan, nunggu sembuh dulu. Shan denger sendiri kan yang dibilang dokternya kemarin, Shan belum boleh makan ice cream dulu sementara."


Perubahan ekspresi dari wajah mungilnya seketika membuat perasaanku menjadi sedih. Aku kasihan kepadanya. Dia ingin ice cream, tapi aku tidak bisa mengabulkannya.


"Sabar sebentar ya sayang. Papa janji nanti kalo kamu udah sembuh, papa beliin deh segerobak-gerobaknya."


......***......


Tidak terasa hari sudah petang. Jarum jam dinding kini telah menunjukkan pukul 8 malam. Ini sudah waktunya jam tidur Shan.


Aku mempersiapkan putri kecilku itu untuk tidur. Setelah check up malam, Shan kutuntun ke arah kamar mandi. Seperti biasa sebelum tidur kubiasakan dia untuk pipis dan sikat gigi dulu.


"Papa sikat gigi Shan udah keras." ucap Shan memberitahu.


Shan terlihat berpikir sebentar. Ekspresinya mengisyaratkan jika bocah kecil itu tengah menerawang-awang. Entahlah, mungkin sedang mencoba untuk mengingat kembali tentang seminggu yang lalu.


Aku juga bingung ada apa dengannya. Shan sekarang sering mudah terlupa akan hal-hal yang sederhana. Jujur ini membuatku takut....


Kegiatan sikat gigi Shan telah selesai. Aku segera menyuruhnya berkumur. Setelah itu membersihkan bagian mulutnya yang tidak bisa dia bersihkan sendiri. Aku lalu mengajaknya keluar, mengarahkannya untuk naik ke atas bed dan bersiap untuk tidur.


"Papa puk puk..." pintanya sembari memperagakan tangannya sendiri menepuk bagian pantatnya sendiri.


"Iya sebentar, papa matiin lampunya dulu Shan."

__ADS_1


Lampu ruangan kini telah temaram, aku kemudian ikut memposisikan tubuhku di sebelah tubuh kecil itu.


Shan yang tadinya tidur terlentang kini memiringkan tubuhnya, menghadap ke arah tubuhku. Dia memelukku sangat erat. Akupun membalas mendekapnya tak kalah erat dan tanganku yang satunya mulai menepuk-nepuk pantatnya.


"Papa kapan kita pulang? Shan kangen rumah." Perkataan yang terlontar dari mulutnya seketika membuatku tertegun. Aku harus menyahutinya dengan kalimat apa sekarang...


Aku sangat yakin kalimat 'Jika sudah sembuh' pasti akan memperpanjang pertanyaannya nanti. Jadi akhirnya aku memilih untuk bungkam. Aku memilih untuk membicarakan topik pembicaraan yang lain.


"Shan tadi sudah kenalan sama temen-temennya di kelas? Namanya siapa aja Shan temenmu?"


Shan tidak lantas menjawab. Dia terdiam terlebih dahulu lumayan lama. Sepersekian detik baru dia bersuara untuk menjawab. Entahlah, sepertinya gadis kecil itu memerlukan waktu untuk berpikir atau menyusun kata-katanya.


"Tadi tadi ada yang namanya Cio, Zoey, Tiara, Sisil, Caca, Boy, Alden, Diego, dan masih banyak lagi pa. Ahh Shan gak bisa sebutin semuanya, soalnya banyak temennya Shan."


"Oh ya? Wahh pasti seru sekali kan main sama mereka tadi?"


"Seruuuu pa! Seruuuuuu banget pokoknya. Shan suka."


Senyumku terulas begitu saja. Senang rasanya mendengar cerita Shan tentang sekolahnya pertama kali tadi. Disini hatiku menghangat sekaligus damai mendengar cerita Shan.


Jangan bosan-bosan untuk berbagi cerita temtang sekolah lagi ke papa ya Shan. Sampai kapanpun papa akan memberikan wadah untuk kamu bercerita. Bercerita apapun, sampai kapanpun, Shan... Sampai kamu tumbuh dewasa dan papa menua pun papa akan selalu mendengarkanmu.


Cup...


Aku menyematkan ciuman pada keningnya. Ciuman lembut yang terselip doa untuknya. "Cepat sembuh, sayangnya papa...."

__ADS_1


~tbc....


__ADS_2