Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Sekolah Terakhir


__ADS_3

"Wahh enak! Shan mau nambah lagi dong om-meletnya!" seru Shan seraya menjilat seluruh permukaan piring yang telah habis tak bersisa tersebut.


Shan ketagihan sekali menyantap omelet buatan Rosa. Baru mencicipinya sekali semalam saja kini Shan minta dibuatkan lagi untuk sarapan pagi ini. Anak itu benar-benar sangat doyan sekali dengan omelet, sampai-sampai Chandra harus menyetop permintaan nambah makan anak itu karena sudah terlalu over.


"Udah Shan udah stop ya, kan Shan udah kenyang. Shan udah nambah 2x loh, masa mau nambah lagi? Nanti kalo Shan kekenyangan gimana sekolahnya? Katanya mau sekolah kan hari ini? Shan gak takut apa nanti kebelet eek di sekolah? Gak ada yang nyebokin loh Shan." ucap Chandra, namun semua perkataan laki-laki itu hanyalah menjadi angin lalu yang masuk ke dalam kuping kiri lalu keluar melalui kuping kanan Shan.


"Kak Elsa, Shan pengen makan om-melet lagi. Buatin ya."


Chandra seketika menghela napas panjang.


Chandra lalu mengikuti Rosa yang berjalan menuju pantry.


"Kali ini dikit aja ngasihnya Sa." perintah Chandra dan Rosa menganggukinya.


10 berlalu, om-melet permintaan ketiga Shan telah siap.


"Yeay yeayyy om-melet."


"Omelet Shania, bukan om-melet." ucap Rosa, membenarkan.


"Hehehe, oke kak." Shan segera meraih sendoknya lalu melahap semua yang berada di piring.


Chandra menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tak percaya. Kenapa masakan sederhana yang dimasak Rosa begitu menggiurkan bagi Shan? Ditambah ramuan apa sebenarnya oleh Rosa?


Alih-alih memikirkan hal-hal yang tidak ada ujungnya lebih baik Chandra bersyukur. Bersyukur karena nafsu makan Shan sudah kembali membaik.


Tanpa sadar senyum kecil Chandra terulas. Ada perasaan senang yang merayapi dasar hatinya.


Seusai sarapan, Chandra lalu mengantar Shan ke sekolah.


Shan hari ini merengek minta masuk sekolah lagi. Baiklah, Chandra mengijinkannya. Lagi pula kondisi Shan hari ini sangat fit, memang kemarin-kemarin juga fit hanya saja Shan belum minta sekolah. Jadi ya, dituruti sajalah kemauannya anak kecil itu.


Shan berjalan dengan riang, bersenandung sembari loncat-loncat kecil menyusuri koridor. Chandra masih menggandeng erat tangan mungil itu walaupun pergerakannya sangat lincah. Chandra tidak mau kalau melepaskan gandengannya nanti Shan akan lari. Anak itu kekenyangan, tidak boleh lari-larian. Bisa muntah nanti.


Untuk yang pertama kalinya, Rosa kali ini ikut mengantar Shan bersekolah. Rosa mengikuti dua orang anak dan ayah ini dari belakang.


Hingga sampailah ketiganya di depan pintu masuk kelas Shan.


Chandra berjongkok, menjajari tinggi Shan. Laki-laki itu merapikan sebentar tampilan Shan. Kupluk yang menutupi kepala Shan, miring sedikit. Chandra segera merapikannya.


Tatapan Chandra sedikit mellow tiba-tiba karena melihat Shan yang sekarang seperti ini. Sadar papanya yang mendadak sedih, Shan kini ikut menekuk wajahnya.


"Eh eh jangan cemberut sayang." Chandra lekas memperbaiki suasana hati Shan. Dalam hati merutuki dirinya sendiri, kenapa harus sedih seperti ini Shan jadi ikut sedih juga kan. Ahhh dasar Chandra bodoh.


Chandra mencoba tersenyum, mengatakan berbagai macam lelucon agar Shan bisa ceria kembali. Tapi Shan...


"Papa, gimana nih Shan sekarang botak..."


Deg.


Chandra tecekat ditempat, begitupun dengan Rosa. Rosa sampai meremas tangannya sendiri. Keduanya benar-benar dibuat teriris akan ucapan Shan.


Setelah bungkam beberapa saat akhirnya Chandra bersuara. "Gak papa sayang, itu kan hanya rambut. Sebentar lagi juga akan tumbuh lagi kok. Shan sabar ya..."


Chandra lantas menyematkan ciuman hangat untuk Shan, berharap anak kecil ini tidak terus menerus memikirkan akan hal itu.


Seorang anak kecil laki-laki tiba-tiba datang dari arah kejauhan.


"Naufal!" panggil Shan, Shan mengenalinya. Itu teman sekelas Shan.


"Hai Shan, wahh kamu udah sekolah lagi ya?"


"Iya, aku udah sekolah lagi nih."


"Bagus dong, ayok kita masuk ke kelas kalo gitu." Anak kecil bernama Naufal itu menyambar tangan Shan, lalu menggandeng Shan untuk masuk ke dalam kelas bersama.


"Dada papa, kak Elsa! Shan sekolah dulu ya!" ucap Shan seraya melambai.


Chandra dan Rosa pun segera membalas lambaian Shan.


"Hati-hati ya Shan, nanti papa jemput seperti jam biasa, oke?" seru Chandra yang tidak mendapat sahutan apa-apa.


"Huhh mentang-mentang udah ada temennya jadi lupa deh sama bapaknya." gerutu Chandra sebelum meninggalkan lokasi.


Rosa hanya tertawa tanpa suara di belakang.


......***......

__ADS_1


"Halo? Oh Iya benar dengan saya sendiri."


Rosa mendongak ke arah Chandra yang tengah mengangkat telepon. Gelagat Chandra yang tidak biasa dan cenderung menutup-nutupi tersebut membuat Rosa mendadak curiga.


"Iya, sebentar ya pak." Chandra yang berpindah tempat, keluar dari ruangan membuat Rosa semakin penasaran.


Rosa penasaran dengan siapa yang menelepon laki-laki itu. Bukan tentang siapa-nya melainkan hal apa yang tengah dibicarakan.


Memang kalau Chandra menutup-nutupi berarti itu adalah hal yang privasi, namun setelah memikirkan akhir-akhir ini banyak hal yang ditutup-tutupi oleh Chandra sepertinya sudah saatnya untuk mencari tahunya. Itu wajar bukan.


"Siapa yang nelepon Chan?" tanya Rosa ketika Chandra masuk ke dalam ruangan lagi. Chandra sekarang sudah tidak ditelepon oleh seseorang itu.


"Emm ada deh, temenku..."


Teman? Teman dengan sebutan pak? Teman yang diajak berbicara sangat formal? Teman yang harus bertanya apakah yang mengangkat telepon adalah Chandra sungguhan?


Teman macam apa itu?


Rosa semakin melongo ketika Chandra segera mengambil jaketnya dan topinya.


"Mau kemana Chan?"


"Ada urusan bentar."


"Sama temenmu itu tadi?"


"Ck, udah deh gausah kepo! Ada urusan apa sih lo mau tau banget??"


Deg.


Baiklah, sekarang saatnya Rosa berhenti untuk mencari tahu.


Rosa melihat punggung Chandra yang menghilang di balik pintu. Kini hanya Rosa yang tinggal di dalam ruangan, lengkap dengan perasaan penuh penasaran yang masih sangat mengganjal.


Di lain tempat...


"Ini totalnya Rp. 84.900.000,- pak, silahkan diterima uangnya."


"Hah cuman segitu? Saya belinya seratus lima puluh loh pak. Mobil saya masih lumayan baru, masih lengkap semua surat-suratnya. Tambahin lagi dong pak, saya mohon."


Chandra masih terus menerus membujuk orang tersebut. Barangkali niatnya akan disetujui.


"Tidak bisa pak, ini sudah saya maksimalkan sekali. Memang seperti itu jika gadai, harga sudah ada standarnya."


"Iya iya saya paham, tapi standar apa itu, kenapa keterlaluan sekali? Saya rugi banyak tau pak!"


Helaan napas terdengar. Chandra semakin naik pitam mendengar hal tersebut.


"Bapak nipu saya ya?" Chandra memang laki-laki yang gila, bisa-bisanya sekarang menuduh petugas tersebut.


"Pak, tanpa mengurangi rasa hormat saya mohon anda keluar dari sini. Apa perlu saya memanggil security?"


Chandra menoleh ke belakang sekilas, melihat petugas keamanan yang berjaga diantara pintu kaca.


"Yaudah oke deh, saya ambil. Tapi kalo saya bisa tebus dalam waktu 2 minggu, mobil saya bisa kembali kan?"


"Iya pak."


"Oke, deal! Mana saya mau tanda tangan?! Cepetan ih!"


Chandra disodori beberapa macam surat yang tentunya penting dalam sebuah transaksi gadai. Dengan cekatan Chandra menandatangani semua surat itu karena jam sudah menunjukan pukul setengah 10 siang. Sudah sangat mepet waktunya menjemput Shan. Apalagi jarak tempat gadai ke sekolah Shan juga lumayan.


Akhirnya transaksi selesai. Chandra membawa semua uang yang disetujuinya. Uang hasil gadai mobil satu-satunya yang dia miliki. Kini sudah tidak ada lagi harta yang tersisa miliknya.


Chandra memijat pelipisnya sebentar, memikirkan kemana lagi dia akan mencari uang untuk pengobatan Shan.


Uang tabungan dari gaji-gaji Chandra terdahulu sudah benar-benar habis, dan sekarang mobil satu-satunya pun juga telah digadai. Chandra juga masih punya hutang pada mamanya, jumlahnya juga lumayan.


Chandra benar-benar kelimpungan...


Ditengah kegundahannya akan perekonomian tiba-tiba sebuah telepon yang masuk ke dalam ponselnya membuatnya terkejut. Ternyata Rosa meneleponnya.


"Halo Sa, ada apa?"


"Sudah waktunya jemput Shania."


"Iya Sa, aku masih di angkot—eh di perjalanan maksudku. Bentar lagi nyampek."

__ADS_1


"Iya Chan."


"Kamu kalo mau langsung ke sana aja."


"Hm??"


"Iya, kalo kamu mau ikut jemput Shan langsung ke sekolahnya aja. Kita ketemu disana."


"Oh oke oke, aku langsung kesana—Tut!"


Kenapa Rosa terdengar sangat begitu antusias? Ahh lupakan saja. Chandra sedang tidak ingin memikirkannya.


10 menit berselang akhirnya angkot yang ditumpangi Chandra berhenti di bahu jalan tepat di depan sekolah Shan berada.


Selesai membayar Chandra mencoba mengendus jaket yang dikenakannya. Dia takut jika Shan nanti mencium bau kendaraan umum di pakaiannya. Nanti kedok Chandra ketahuan dong.


"Ah masih wangi." ucap Chandra pada diri sendiri.


Chandra lantas berjalan menuju lokasi kelas Shan berada. Disana ternyata sudah ada Rosa yang berdiri di depan pintu kelas pas.


Rosa melambai, Chandra hanya berjalan santai menghampirinya. Kini keduanya mengintip lewat celah pintu yang sedikit terbuka. Ternyata guru Shan tengah menerangkan tentang penghitungan. Bukan menerangkan, melainkan memberikan soal untuk yang bisa menjawab lebih dahulu maka akan pulang lebih dahulu.


Teman-teman Shan satu-persatu mengangkat tangannya ke udara. Mereka satu-persatu mulai keluar dari pintu.


Chandra mengernyit. Dalam batinnya kenapa Shan tidak kunjung keluar, apakah Shan tidak bisa menjawab persoalan yang diberikan gurunya? Tapi bukankah itu mudah semua soalnya? Shan pasti bisa.


"Ayoo soal terakhir, Shan angka apa setelah angka 3?" pertanyaan sang guru.


Chandra mendongakkan kepalanya menuju jendela, mencoba melihat Shan yang masih duduk pada kursinya.


"Loh kok gak angkat tangan sih?" ucap Chandra yang membuat Rosa akhirnya ikut mendongak ke arah jendela juga.


Bu guru Shan bersuara kembali. "Ayoo Shan bisa kan. Shan kan udah jago berhitung sampai sepuluh. Setelah angka 3 ayo apa Shan?"


Wajar atau tidak kah jika rahang Chandra sekarang ini mengeras karena gemas melihat Shan yang tidak bisa menjawab?


Elusan lembut tiba-tiba dirasakan oleh Chandra, ternyata itu pelakunya adalah Rosa. Perempuan itu mengusap pelan punggung Chandra, mencoba menenangkan Chandra. Rosa sangat tahu jika Chandra ingin emosi sekarang. Tapi Rosa mohon jangan...


Bermenit-menit berlalu, berbagai persoalan telah guru berikan pada Shan, tapi Shan masih belum menjawab. Soal sudah dirubah dari yang mudah menjadi sangat mudah. Bahkan Shan tidak bisa menjawab soal angka setelah angka 1 pun.


Akhirnya jam 10 telah berganti ke jam 11.


Bu guru keluar ruangan, menghampiri keberadaan Chandra dan Rosa. Dengan perasaan sangat canggung Chandra dan Rosa menyambut kedatangan guru tersebut.


"Pak Chandra, Shan sudah bisa diajak pulang." ucap bu guru.


"Iya bu guru, maaf ya bu sudah membuat anda harus terlambat pulang sampai satu jam karena anak saya."


"Tidak apa-apa pak. Emm... Tapi pak, sepertinya..." Bu guru mulai mendekat ke Chandra, bu guru membisiki Chandra sesuatu.


Chandra membulatkan kedua matanya setelah mendengar akan hal tersebut. Rahangnya yang mengeras akhirnya berubah menjadi biasa seperti sedia kala. Tangannya yang mengepal kuat di dalam saku jaket kini telah mengendur begitu saja.


Chandra mengangguki ucapan bu guru lalu perlahan melangkah masuk ke dalam kelas Shan.


"Papa." panggil Shan ketika melihat Chandra.


Chandra tersenyum dan berjongkok di depan kursi Shan tepat. Chandra mencium kening Shan sebentar. "Shan anak hebat, anak pinter. Papa sangat bangga sama kamu sayang. Tapi kenapa Shan gak bilang sama papa hmm??"


"Shan takut... Shan sendiri juga bingung pa, kaki Shan gak bisa digerakin."


Rosa yang berada di ambang pintu akhirnya menitihkan air mata. Bu guru segera menghamburkan pelukan.


"Coba sini papa lihat." Chandra meraih kedua kaki Shan. Meluruskannya perlahan dan memijitnya.


Shan diam tanpa ekspresi apapun. Anak kecil itu sepertinya juga bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Shan naik ke atas gendongan papa aja ya?"


Shan mengangguk.


Chandra menaikkan Shan ke atas tengkuknya. Tangan mungil Shan dia genggam erat ke arah kedua sisi.


"Wusssss pesawat terbang Shan siap meluncur!" seru Chandra dengan riang. Riang dal artian menutupi kesedihan yang bersemayam di dalam dadanya.


Ketika bu guru membisikinya, Chandra sudah tahun. Chandra benar-benar sudah sangat tahu dan siap akan hal yang terjadi pada Shan karena dokter Hans sudah mengatakannya sejak dahulu.


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2