Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Layak Untuk Disayangi


__ADS_3

"Jadi gitu ti, Shan belum jadi masuk TK. Kata bu guru umurnya Shan masih belum cukup, harus empat dulu baru cukup." ucap Shan kepada utinya, lengkap dengan mengacungkan ketiga jarinya dengan sangat percaya diri. Padahal dia salah, jari yang diacungkannya kurang satu.


"Yaudah gak papa ya dek. Lagian ulang tahun ke-4 Shan tinggal bentar lagi."


"Oh ya ti? Tapi kata papa tadi ulang tahun Shan masih lama bukan bentar lagi."


Mama langsung melemparkan tatapannya kepadaku. Aku hanya bisa mengedikkan kedua pundakku.


"Enggak lama sayang. Sebentar lagi, papamu tadi itu kayaknya salah ngomong deh. Sekarang Shan sabar aja ya, bentar lagi pasti Shan masuk sekolah." ucap mama sembari membelai lembut rambut bocah itu.


"Oiya Shan, Shan nanti mau ulang tahunnya dirayain yang kayak gimana sayang?"


Aduhh mama! Kenapa harus menanyakan hal itu kepada Shan? Shan nanti pasti—


"Kayak kak Salsa!" seru Shan. Seketika aku dan mama langsung menganga.


"Iya pa, ti. Shan pengen ulang tahunnya nanti kayak ulang tahunnya kak Salsa yang waktu itu loh. Balonnya banyak banget, terus terbang-terbang sampek ke atas, balonnya juga ada yang di susun gitu melengkung, kayak bentuk jembatan. Bagus banget. Kuenya apalagi, enak banget. Shan mau kue yang kayak kuenya kak Salsa tapi yang warna pink. Semuanya pokoknya warna pink."


Astaga naga!


Iya aku tau, pasti mama tadi hanya berniat mengibur Shan karena tidak mau cucunya itu sedih. Makanya mama membahas ulang tahun Shan yang masih sangat lama itu. Tapi please... Sekarang beban pikiranku bertambah karena mendengar permintaan Shan yang sangat bermacam-macan.


"Oiya satu lagi. Shan pengen pakek gaun warna pink yang sangat bagus."


Mampus aku....


......***......


Kini aku telah sampai di kantorku. Aku sedikit agak canggung dengan para partner kerjaku yang berada di satu ruangan. Lihatlah, mereka semua menatapku karena aku datang terlambat.


Aku memang sudah ijin jika akan datang terlambat karena suatu urusan mendadak, langsung kepada pimpinan perusahaan malahan. Tapi entah kenapa mereka semua malah melirikku dengan tatapan mengintimidasi. Baiklah, biarkan saja. Mereka tidak tau yang sebenarnya.


"Chandra, dipanggil pak Hari untuk ke ruangannya sekarang." ucap Wanda yang kemudian ikut mengantarku menuju pak Hari, bosku.


Di tengah perjalanan tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak.


"Kira-kira kenapa gue dipanggil ya?" tanyaku pada Wanda yang berjalan disebelahku.


"Hah lo gak tau?"


"Hah kenapa sih Nda?" Lumayan kaget dengan respon dari Wanda yang seperti itu. Jadi ini sebenarnya kenapa? Aku kenapa? Pak bos kenapa tiba-tiba memanggilku?


"Lo telat cek in pegawai seminggu berturut-turut." ucap Wanda yang langsung membuatku tercekat. Langkahku sampai terhenti di tempat detik itu juga.


"Lo kena penalti Chan. Dan keliatannya pak Hari udah benar-benar marah besar."


"Nda jangan nakut-nakutin gue please..."


"Gue gak nakut-nakutin lo. Gue cuma jelasin aja kesalahan lo supaya lo bisa siap di dalam sana nanti." Wanda mengetuk pintu yang berada di hadapannya sebentar lalu membukanya. Menampilkan sosok pimpinan perusahaan kita yang sangat berwibawa tengah berdiri di dalam sana.


Langkah kakiku seketika menjadi berat. Rasanya sangat enggan untuk melangkah masuk, tapi apa boleh buat. Aku harus menghadapi pria paruh baya itu sekarang.


Pintu telah benar-benar tertutup rapat, dan saatnya lah dimulai...


"Saya beri waktu kamu satu menit untuk menjelaskan kesalahan kamu. Setelah itu silahkan bereskan meja kerjamu dan keluar dari perusahaan saya."


Apa???

__ADS_1


"Pak ini pasti terjadi kesalahpahaman. Saya tidak mungkin absen selama 7 hari berturut-turut. Pasti sistem cek in-nya pak yang rusak. Saya yakin."


"Jadi kamu menyalahkan sistem yang diterapkan di perusahaan saya ini? Sistem secanggih itu kamu rendahkan? Hei daripada otak kamu masih lebih pinteran sistem yang di terapkan di perusahaan saya ini. Kamu kalah jauh! Jangan kurang ajar ya kamu!"


"Maaf pak, tapi saya berani sumpah saya setiap pagi udah cek in. Saya sendiri juga tidak tau kenapa data absen saya bisa tidak ke-input. 7 hari pak, apakah mungkin saya—Saya yang hanya karyawan divisi bawah berani absen selama itu. Tidak mungkin pak."


"Chandra saya lebih percaya dengan sistem daripada omongan kamu."


"Pak!"


Pak Hari langsung menatapku. Dibalik lensa kacamatanya aku sangat tau betul. Itu tatapan kemarahan.


Duggh!


Aku langsung meringkuk di atas lantai. Meringis kesakitan sembari memegangi tulang keringku yang baru saja mendapatkan tendangan dari orang itu. Sial! Sangat sakit. Rasanya ujung sepatunya masih menancap di tulang keringku!


"Berdiri!" perintahnya dan aku pun dengan susah payah mencoba bangkit.


"Keluar dari sini, kamu saya pecat secara tidak hormat!"


Aku menggeleng dengan cepat. "Enggak pak enggak. To—tolong kasih saya kesempatan sekali aja pak. Saya benar-benar sangat memohon."


Aku sampai bersimpuh di bawah kakinya. Menyatukan kedua tanganku menyentuh kakinya.


Aku benar-benar tidak bisa berpikir secara rasional sekarang. Ya, terserah dengan bagaimana nasib harga diriku selanjutnya yang penting nasib pekerjaanku tidak selesai cukup sampai disini.


"Pak tolong... Putri saya nanti mau saya kasih makan apa pak kalo saya dipecat dari sini?" lirihku. Tapi malah mendapat tanggapan...


"YA ITU URUSAN KAMU!"


Boughhh!


Akan tetapi...


...***...


Dewi memandang ke luar jendela dapur, ke arah halaman belakang rumahnya. Kegiatannya memasak tiba-tiba terhenti karena ada yang menarik perhatiannya.


Disana ada Jimmy dan Salsa yang tengah asyik bersepeda mengelilingi sebuah pohon. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian Dewi, melainkan sosok bocah kecil yang terduduk manis dengan tembok sebagai sandarannya. Dia berjarak lamayan jauh dari kedua anak yang mengayuh sepeda dengan riang. Diam, melamun, dan tatapannya tidak lepas dari kedua anak bersepeda itu.


Sosoknya yang hanya berdiam diri seperti itu seketika membuat hati Dewi tersentuh. Dewi lantas mematikan kompornya, kemudian menghampiri bocah kecil yang sendirian itu.


"Loh loh... Ini adeknya kok enggak diajakin main?" Dewi datang dan langsung mencairkan suasana.


Jimmy mengerem sepedanya. "Kakinya masih sakit ti. Kita gak berani ngajakin Shan dulu." ucapnya sembari menunjuk kedua lutut Shan yang masih tertempel plester berwarna merah muda dengan motif dinosaurus kecil-kecil.


"Iya, nanti kalo dia ikutan main terus jatuh lagi gimana? Nanti yang ada dihajar sama papanya lagi dong?" timpal Salsa.


Dewi mengalihkan atensinya kepada Shan yang masih duduk di posisi yang sama. Wanita tua itu kemudian berjongkok untuk menyamai kedudukannya.


"Shan gimana? Shan pengen main sepeda'an juga ya? Gak papa, adek boleh kok main. Biar uti yang jagain, uti pegangin terus dari belakang supaya gak jatuh lagi. Gimana mau ya? Sebentar uti minta pinjem dulu sepedanya sama Salsa."


Belum sempat Dewi berdiri, Shan langsung menahannya.


"Enggak ti. Shan liat mereka aja dari sini. Shan gak pengen sepeda'an."


Kedua netra Shan seolah berkata yang sebaliknya. Dewi sangat tau, apalagi Shan masih sangat kecil, tatapannya yang polos itu tidak bisa berbohong.

__ADS_1


Dewi menyentuh kedua pundak kecil itu perlahan. "Shan gak papa kalo pengen main. Uti bolehin kok. Salsa sama Jimmy biar uti bilangin, supaya dia mau minjemin kamu sayang... Pumpung papamu belum pulang loh. Inget ini akan jadi rahasia kita." bisik Dewi tepat ditelinga Shan.


Tapi lagi-lagi Shan menggeleng. "Uti, Shan ngantuk. Shan pengen tidur, bisa uti anter Shan ke kamar?"


Dewi tersenyum dan menyambut tangan kecil Shan. Keduanya kini melangkah memasuki rumah sembari bergandengan tangan.


"Udah uti anter Shan sampek sini aja. Shan bisa bobok sendiri. Uti lanjutin masak aja di dapur gak papa kok..." ucap Shan ketika sampai di pintu kamarnya.


Perasaan yang bersemayam di dalam hati Dewi masihlah belum lega. Masih ada yang mengganggunya disana. Shan, cucunya.... Masih ada guratan sendu yang tersirat pada wajahnya.


"Uti boleh ikut masuk? Tadi masaknya uti udah selesai loh Shan, sekarang uti gak ngapa-ngapain lagi. Uti bisa temenin Shan sampai Shan tidur."


Akhirnya Shan mengiyakan tawaran sang nenek.


Shan kini menarik selimutnya sendiri, memposisikan tubuhnya senyaman mungkin untuk tidur. Memang tidak biasanya anak ini tidur siang. Bahkan jika papanya melihat, papanya akan sangat syok karena momen Shan tidur siang itu sangatlah langka.


Dewi ikut berbaring di sampingnya, membelai puncak kepala bocah itu secara teratur.


"Shan mau gak kalo uti beliin sepeda?"


Shan seketika mengernyit.


"Gak papa sayang. Nanti kan kalo udah punya sepeda sendiri-sendiri kan enak jadi bisa main sepeda'an bareng sama kak Jimmy dan kak Salsa. Tanpa perlu minjem, Shan."


Shah terlihat berpikir dalam-dalam. Dia tidak bersuara sama sekali.


"Shan maunya sepeda yang kayak gimana? Yang warna apa? Apa yang kayak punya kak Salsa aja?"


"Tapi..."


Dewi mengangkat kepalanya sebentar, satu kata yang terucap dari mulut Shan membuatnya bertanya-tanya. Kenapa?


Dewi berpikir bahwa Shan akan senang dengan niatnya membelikan sepeda itu, tapi ternyata...


"Gak usah uti. Shan gak usah dibeliin sepeda." ucap Shan.


"Kenapa gitu sayang? Uti gak papa kok beliin kamu sepeda. Uti gak keberatan sama sekali. Uti sama Kakung kebetulan lagi ada rejeki sayang..."


Shan terdiam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Kedua tatapannya telah menunjukkan bahwa dia benar-benar sungguh-sungguh.... Sungguh-sungguh bahwa dia menolak untuk dibelikan sepeda.


"Apa papamu ya yang nyuruh Shan kayak gini? Kata papamu, Shan gak boleh nerima pemberian uti sama kakung ya?" tanya Dewi.


"Enggak ti. Papa gak pernah nyuruh kayak gitu."


Dewi akhirnya mengangguk. Baiklah jika itu memang murni keinginan Shan untuk menolak, maka dia tidak akan memaksanya. Dewi merubah posisinya, menjadi memeluk tubuh bocah kecil ini.


"Tadi telepon dari papamu tidak kamu angkat lagi ya Shan?" tanya Dewi.


"Papa gak telepon ti. Terus tadi Shan mau telepon takutnya papa lagi sibuk meeting, terus ganggu. Nanti kalo papa dimarahin sama bosnya gimana? Jadinya Shan pilih gak nelpon papa aja ti."


Dewi mengembangkan senyumnya kembali. "Iya sayang, pilihan kamu itu sudah sangat benar." ucapnya yang tanpa dia sendiri duga ternyata kedua matanya telah berkaca-kaca.


Shan, tidak terasa dia telah sebesar ini. Bayi mungil yang tangisannya sangat menyayat hati dahulu, kini telah tumbuh sebesar ini dan dengan pemikiran yang luar biasa luasnya.


Dewi sangat bangga.


Kehadiran Shan di tengah keluarga ini benar-benar merupakan sebuah karunia. Kecerdasannya, keceriaannya, dan kemurnian hatinya. Bocah ini benar-benar sangat layak untuk disayangi. Dia memberi warna tersendiri di dalam rumah ini. Dia juga lah yang banyak merubah hidup putra kesayangannya ke arah yang lebih baik.

__ADS_1


Dewi sangat menyesal dahulu pernah menolak anak ini menjadi anggota keluarganya...


~tbc...


__ADS_2