
Rosa akhirnya berakhir dengan meminum cendol di taman rumah sakit bersama dokter Hans. Dokter itu tadi mengajak Rosa untuk kembali ke rumah sakit, dan Rosa menurutinya.
"Gimana enak kan cendolnya? Ini tuh udah langganan saya dari 3 tahun lalu."
Rosa hanya mengangguk. Pikirannya masih melayang-layang menuju beberapa saat lalu ketika dirinya membuntuti Chandra sampai ke tempat gadai.
Sebenarnya apa yang Chandra lakukan di tempat itu? Chandra menggadai sesuatu kepemilikannya disana?
"Dokter Hans terimakasih ya." ucap Rosa sembari menunjukkan cup esnya yang telah kosong tak bersisa, dia hendak membuang cup tersebut.
"Ett jangan pergi dulu." Dokter Hans menahan tangan Rosa, membuat Rosa akhirnya kembali duduk ke posisi semula.
Situasi mendadak canggung karena aksi tersebut. Rosa akhirnya menutup bibirnya rapat-rapat.
"Saya gak bermaksud buat maksa kamu untuk stay disini terus nemenin saya ngabisin es saya, enggak Sa. Gak gitu."
"Maksud saya, kamu jangan pergi dulu saolnya saya mau ngomong." lanjut dokter Hans.
"Ngomong apa ya dok?" tanya Rosa. Memang Rosa terkesan tergesa-gesa, ingin segera melenggang pergi.
Dia sebenarnya ingin pergi karena takut jika tetap bertahan seperti ini maka situasinya akan semakin canggung lagi.
Dokter Hans merogoh saku celananya sebentar. Dia mengeluarkan sebuah benda dari sana.
"Salep?" tanya Rosa ketika melihat benda di tangan dokter Hans.
"Iya ini salep. Salep buat Shan. Tolong ya kamu olesin salep ini pada bekas luka di lengannya Shan. Iya saya tau memang udah seminggu lalu, tapi sampai saat ini saya masih kepikiran. Saya merasa bersalah sekali Sa."
Rosa menerima salep tersebut. "Baiklah dok terimakasih, saya akan rutin mengoleskan salep ini pada lengan Shania. Semoga bekas luka Shania bisa pulih seperti sedia kala."
"Iya Sa. Oiya itu salep paling bagus, pasti salep itu bekerja. Saya yakin itu."
Rosa mengangguk dan tersenyum. Dokter Hans sudah tidak menahan lagi, Rosa kini bisa pergi.
"Udah pulang kan kamu tadi?" Pertanyaan langsung ditodongkan oleh Chandra ketika Rosa baru saja menginjakkan kakinya ke dalam ruangan Shan.
"U-udah."
Chandra mengamati Rosa dari ujung kepala hingga kaki. Mungkin dalam benaknya, kenapa Rosa tidak berganti pakaian? Kenapa Rosa masih mengenakan pakaiannya yang dipinjamkan olehnya?
Rosa sedari tadi menunduk dalam-dalam. Perempuan itu enggan menampilkan wajahnya yang masih sembab sisa menangis tadi pagi.
Tidak boleh, Chandra tidak boleh mengetahui jika Rosa tadi tidak pulang ke rumah dan hanya bertahan di dalam mobil menangis seharian. Tidak boleh Chandra tau.
"Shania kemana?" tanya Rosa.
"Lagi dimandiin sama mama." jawab Chandra. Chandra yang berjalan menjauh membuat Rosa akhirnya bisa bernapas lega. Akhirnya Chandra tidak mengamatinya lekat-lekat lagi.
__ADS_1
"Yeayyy kak Elsa udah datang!" pekik Shan yang baru saja keluar dari arah pintu kamar mandi.
Shan yang tubuhnya masih dililit handuk itu berlari ke arah Rosa dan langsung mendaratkan pelukannya.
Dewi yang muncul dari kamar mandi lantas bersuara. "Kan bener apa yang uti bilang, kak Elsa pulangnya cuma sebentar Shan. Dia kangen sama kamu Shan, jadi gak bisa ninggalin kamu lama-lama."
Rosa tesenyum. Bibirnya bergetar sedikit menutupi gerakan yang sebenarnya ingin mewek saat itu juga.
"Shan mau dipakaikan baju sama kak Elsa pa." ucap Shan.
Chandra yang datang dengan perintilan pakaian itu menolak. "Gak, sama papa aja sini."
Shan melipat kedua tangannya di atas dada dan mulai merengut. "Hihh papa!"
"Yaudah deh iya. Tapi abis ini langsung makan ya, papa siapin dulu makanannya." Chandra menyerahkan pakaian Shan pada Rosa.
Shan berubah menjadi sangat sumringah, begitupun dengan Rosa. Rosa senang jika keberadaannya ditempat ini ada kegunaannya.
"Shania kakak punya salep ajaib. Taraa!" Rosa mengeluarkan salep pemberian dokter Hans di hadapan Shan.
"Wahh apa itu kak? Salep itu apa?" tanya Shan.
"Sini ulurin lengannya Shan yang sakit. Biar kakak kasih lihat cara kerjanya salep ajaib ini."
Shan menuruti ucapan Rosa.
Kedua mata Shan seketika berbinar. "Wah ajaib beneran kak. Rasanya dingin-dingin gitu. Enakkk."
Rosa terkekeh. Dia sangat gemas dengan reaksi Shan itu.
Baju Shan kini sudah terpasang, kini beralih pada bagian celananya. Shan mengangkat kakinya satu persatu ketika potongan setiap lubang celananya harus dimasukinya. Dengan lembut dan penuh kehati-hatian Rosa memakaikan setiap potong pakaian Shan. Hingga akhirnya semuanya telah dipakai oleh Shan. Kini tinggal step terakhir. Memakaikan Shan jaket karena udara sore ini lumayan sejuk.
Shan sedari tadi memandangi Rosa. Anak kecil itu tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya pada wajah yang berada di hadapannya.
Rosa dibuat tersipu oleh Shan. "Kenapa Shania? Memangnya ada sesuatu ya di wajahku? Kok kamu ngelihatinnya sampai seperti itu hmm?"
"Enggak kok kak, Shan cuma seneng aja lihat kak Elsa. Cantik soalnya."
Rosa benar-benar tersipu malu sungguhan sekarang.
"Ah jangan gitu, Shania malah lebih cantik kok."
"Masa iya sih kak?"
"Iyaa..."
"Makanan udah siap. Aduh aduhh dari tadi masa pakek baju belom selesai-selesai sih?? Kalian itu ngapain ajaa? Lamaa." Chandra dengan sebuah mangkuk kecil di tangannya itu kini menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ups maaf papa..." ucap Shan sambil meringis.
Shan tidak ada takut-takutnya pada Chandra yang memasang wajah marah. Bagaimana Shan bisa takut, Shan sangat tau jika Chandra tersebut hanyalah ekting.
Papanya sudah tidak pernah marah padanya. Tidak seperti dulu.
"Yukk akkk." Sebuah suapan terangkat ke udara. Dekat, semakin mendekat, hingga akhirnya berada tepat di depan mulut Shan pas.
"Ayoo buka mulutnya Shan." suruh Chandra. Tapi Shan....
Anak kecil itu melihat gundukan nasi beserta lauknya yang telah berada di sendok sangat lama. Shan lalu bergidik.
"Ih kenapa sih Shan? Gak nafsu makan lagi ya?" Chandra sudah tidak terheran-heran. Pasalnya sudah akhir-akhir ini Shan susah makan.
Shan seperti tidak selera mau makan apapun. Walaupun lauknya telur kesukaannya sekalipun. Ini membuat semuanya khawatir.
"Shan nanti kalo kamu kurus gimana?" ucap Chandra lirih.
Pada kenyataannya berat badan Shan semakin merosot. Tubuh Shan semakin kurus seiring waktu. Shan juga susah BAB, sampai-sampai menangis karena harus ngeden dengan keras.
Shan kurang nutrisi jadinya seperti ini.
"Besok papa konsulin aja sama dokter Hans ya? Barangkali ketemu solusinya." ucap Chandra, memang harusnya sedari sudah kemarin-kemarin dia berkonsultasinya.
"Sekarang akk dulu, sekali aja Shan." Chandra belum menyerah.
Shan sudah merengek hampir menangis. "Papa Shan gak mau, Shan gak laper."
"Lah gak laper gimana sih Shan? Dari pagi loh kamu gak makan apa-apa. Cuma mik susu doang."
"Huaaa kak Elsa." Shan menghamburkan pelukannya pada tubuh Rosa yang berada tidak jauh darinya. Shan menangis dan berharap Rosa bisa membantunya dari paksaan harus makan dari Chandra.
"Tapi Shania emang harus makan. Gak boleh enggak makan kayak gini. Nanti perutnya sakit."
"Kok kak Elsa malah kayak papa sih hiks..."
Rosa meraih wajah Shan lalu menyeka lelehan air mata yang berada disana. "Shania mau makan omelet?"
"Om—Om melet? Apa itu om melet kak?"
"Omelet itu makanan enak Shania, dari telur. Telur kan kesukaan Shania. Kakak buatin dulu ya biar Shania tau. Tapi janji kalo udah jadi Shania harus cicipin, oke?"
Shan karena rasa penasarannya akhirnya mengangguk.
Rosa kemudian segera menuju pantry.
~tbc...
__ADS_1