
Kini Shan telah berada di kamar rawatnya yang biasa. Setelah sadar kemarin siang, dia langsung di periksa dengan detail, dan hasilnya kondisinya sangat membaik jadi bisa langsung dipindahkan.
Heran memang, kenapa kemarin anak kecil ini bisa tiba-tiba drop.
Aku sebagai walinya harus ekstra waspada untuk kedepannya, takut kejadian seperti kemarin bisa terulang lagi. Tapi kalau bisa, ya jangan sampai.
"Wahh Shan gambar taman lagi ya? Bagus banget sekarang tamannya ada burung-burung yang terbang." Aku memuji gambar yang diciptakan oleh Shan.
Anak kecil ini walaupun masih sedikit lemas tapi dia minta diambilkan alat menggambarnya. Dia ingin menggambar. Dan yang digambarnya sejak tadi pagi adalah taman. Taman yang tidak selesai-selesai.
"Shan sambil gambar papa suapin ya sayang."
Shan menggeleng dengan cepat.
"Lohh kok gitu, kan Shan belum sarapan nak. Lihat deh udah hampir jam 10."
"Tapi Shan gak laper pa, Shan kan udah mik cucu tadi."
Iya, memang Shan tadi pagi sudah minum susu 2 gelas, tapi apakah cukup jika lambungnya tidak diisi dengan makanan sedikitpun.
Dia sangat susah sekali loh makan dari kemarin. Cuma mau minum susu. Eh sama kemarin makan telur, itupun gak habis. Setengahnya aku yang harus habiskan.
Tiba-tiba kak Yolla datang. "Halo Shan keponakan tersayangnya tantee~" pekiknya dari arah pintu.
Wanita itu lantas membaur, duduk di tepi bed tepat Shan berada.
Shan tidak menoleh ke arah kak Yolla sedikitpun, sepertinya anak itu tidak mau diganggu.
"Gambar apa sih Shan serius sekali?" tanya kak Yolla sembari menoel pipi kanan Shan sekilas.
"Yahh tantenya gak dikacangin dong."
"Lo kan bisa lihat sendiri Yol, Shan gambar apa." ucapku, karena kesal dua perempuan ini banyak drama. Emang senengnya bersitegang nih kayaknya.
Kakakku itu melemparkan tatapan tajam kearahku sekilas. Tapi aku hanya bodoamat.
Dia kini beralih melihat ke arah Shan lagi. Tangannya yang tadinya menoel-noel pipi anakku, sekarang berganti membelai surai legam Shan.
"Shan mau tante kuncir?"
"Heh jangan jangan! Gausah Yol!" pekikku yang langsung berlari menyingkirkan tangannya.
"Apasih?"
"Shan gak usah dikuncir, dia belum kramas. Nanti lo teriak-teriak lagi tangan lo bau kecut."
"Enggak ya." Kak Yolla ngeyel, dia malah ngambil sisir di dalam laci dan mulai mengeluarkan sesuatu dari tas yang ditentengnya.
"Wahh jepitan elsa!" seru Shan, dia sangat kagum dengan benda yang dikeluarkan oleh kak Yolla itu.
"Shan mau pake? Sini tante pakein ya?"
Bocah itu langsung mengangguk, dan memposisikan tubuhnya memunggungi Yolla. Dia menyerahkan sepenuhnya rambutnya itu untuk tantenya.
Aduh bagaimana lagi aku harus mencegahnya.
Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali diam dan memantau dari kejauhan. Aku tidak bisa jika harus menghancurkan keinginan Shan. Apalagi anak itu telah terlihat sangat senang sekali.
"Nahh, udah deh selesai. Coba hadap sini sayang."
Shan menurut dan menghadap ke arah kak Yolla.
Yolla menyisir poni Shan perlahan. Sepertinya wanita itu tau jikalau kondisi rambut Shan sedang sangat rapuh sekarang. Dia sangat hati-hati sekali.
"Jepitannya mau dipasang dimana Shan? Kanan atau kiri?"
"Kiri tante."
"Itu kanan sayang." kak Yolla membenarkan ucapan Shan yang menunjuk sebelah kanan kepalanya sebagai kiri.
"Papa, gimana? Shan udah cantik belum?"
Aku memberikan senyuman untuknya. "Udah sayang. Udah cantik banget kok."
Shan mengulurkan tangannya meminta untuk diberikan sebuah kaca. Dia ingin melihat tampilannya sendiri dari balik kaca.
Sama sepertiku, Shan juga langsung tersenyum setelah melihat rupanya.
"Emm karena sekarang udah cantik, gimana kalau kita keluar buat jalan-jalan Shan? Tante Yolla tau cafe bagus, disana makanannya enak-enak Shan. Mau ya, please..."
Shan melihat ke arahku seolah meminta persetujuan kepada diriku.
Aku pun segera menggeleng. Gak usah ya Shan.
"Loh kenapa? Padahal Shan pengen pa. Shan belum pernah jalan-jalan sama tante Yolla." ucap Shan, yang sangat mengiris hatiku.
"Yaudah bentar papa siap-siap dulu."
"Ih kamu gak diajak ya Chan. Aku kan mau girls time doang sama Shan."
Dihh, ini Yolla apa-apaan deh. Ga ada girls time-girls time tai anjing ya!
"Chan tolonglah..."
Aku seketika menghela napas panjang. Yaudah deh iya, aku ijinkan.
...***...
Yolla's POV
__ADS_1
Aku menggandeng tangan mungil Shan dengan erat. Kita kini menyebrangi zebra cross untuk mencapai trotoar berikutnya.
Sesekali aku menoleh ke belakang, ke arah kaca rumah sakit tepat di ruangan Shan di rawat. Aku tau Chandra masih memantau pergerakanku dan Shan dari kaca tersebut.
Oh tenanglah Chan, Shan akan aman bersamaku. Aku berjanji akan menjaganya dengan segenap nyawaku.
"Shan capek? Mau tante gendong aja sayang?"
Kepala kecil Shan menggeleng sekilas sebagai jawaban dia menolak.
"Oke, tapi nanti kalo capek bilang ke tante ya."
Sebuah halte bus telah terlihat di depan sana. Kita akan menunggu bus disana untuk kemudian naik dan menuju ke cafe yang ku maksud.
Aku memangku Shan sembari menunggu bus yang berhenti.
Shan sekarang menjadi ringan. Benar-benar sangat ringan. Aku masih ingat betul bagaimana rasa bobot tubuhnya saat masih di rumah dulu, kurasa masih belum lama selang waktunya, tapi sekarang... Kenapa dia sekurus ini.
Aku meluruskan sebelah tangan Shan ke depan untuk melihatnya. Tangan Shan kini juga berubah menjadi sangat kecil. Tangan anakku Salsa yang terpaut usia setahun darinya tidak sekecil ini. Sepertinya Shan benar-benar kehilangan banyak bobot tubuhnya.
Shan menjadi kurus.
"Tante masih lama ya busnya?" Shan mendongakkan wajahnya untuk melihatku.
Aku bisa melihat sendiri cekungan hitam tepat di bawah kedua matanya. Shan seperti tidak tidur berhari-hari. Dan kedua pipinya yang sebelumnya gembul, kini hilang entah kemana. Dia sangat tirus untuk ukuran anak kecil umumnya.
Shan, sesakit itukah kamu? Tante sangat ingin menangis sekarang.
Dan tadi, saat aku menyisir rambutnya. Rambutnya sangat mudah terlepas. Aku sampai tidak berani karena baru kupegang saja helaian rambutnya tercabut. Padahal aku tadi ingin mengepang rambutnya seperti rambut Elsa tapi apa boleh buat, rambutnya tidak bisa kutarik walau hanya perlahan pun.
Aku akhirnya hanya bisa menyisirnya asal dan langsung menguncirnya menjadi satu kuncir kuda agar rontoknya tidak terlihat.
Ya Tuhan Shan...
Air mataku kini benar-benar menetes. Aku sudah tidak bisa lagi mencegah air mataku. Beruntung Shan sudah mengalihkan pandangannya, dia sudah tidak memandangku. Dia memandang jalanan yang dipadati kendaraan lalu lalang.
Hingga akhirnya sebuah bus akhirnya berhenti tepat di hadapan kita. Shan sangat senang, dia sedikit berjingkat diatas pangkuanku karena sudah tidak sabar untuk naik. Bergegas aku menghapus air mataku dan menurunkan Shan.
"Ayo naik, hati-hati."
Shan tersenyum dan meraih tanganku.
Anak kecil ini walaupun sedang sakit tapi masih tetap sama. Masih sangat ceria.
Setelah menaiki bus beberapa saat, akhirnya kita sampai di cafe tujuan.
"Selamat datang..." sambut pelayan cafe tersebut dengan ramah.
Aku lalu memilih tempat di dekat jendela agar Shan bisa melihat pemandangan yang cerah hari ini.
Shan terpaku sesaat melihat ke arah luar jendela. Detik berikutnya dia melompat-lompat kesenangan di atas kursi. Aku tidak menyuruhnya untuk duduk diam, biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Aku tidak akan memarahinya lagi. Aku janji.
Aku mengawasi Shan dengan baik sembari membaca menu yang tertera di buku menu.
Shan yang masih sangat gembira sampai tidak fokus dengan pertanyaanku.
"Tante pesenin cupcake ya Shan. Cupcake disini enak Shan." Aku memesan banyak cupcake, aku tau dari Chandra bahwa Shan sejak kemarin susah makan. Siapa tau dia tergiur dengan cupcake dan selera makannya setelahnya bisa kembali lahap.
Semoga saja.
Menu pembuka pertama datang.
"Sini sayang mama suapin ya, ini browniesnya enakk banget."
"Mana cupcake nya tante?"
"Oh Shan maunya cupcake? Bentar ya sayang, sepertinya cupcake nya belum jadi. Tunggu aja ya."
Shan tidak tertarik dengan brownies. Dia menunggu cupcake.
"Ponsel tante mana? Shan pengen motoin tante. Tante cantik banget soalnya."
"Oh ya Shan, wahh makasih ya. Kamu ini benar-benar anak yang pinter." Aku mengeluarkan ponselku lalu menyerahkannya pada Shan.
Shan mulai menghitung mundur.
"Aduh tante harus pose gimana nih?"
"Cis tante Cisss..."
Cekrek.
Shan langsung menunjukkan hasilnya padaku. Aku sangat terkesima setelah mengetahui hasil jepretannya.
"Wahh Shan bagus banget."
"Tante suka?"
"Suka banget Shan, makasih ya." Aku memeluk dan menciumi Shan tanpa henti. Anak kecil ini hanya cekikikan karena mungkin merasa geli.
"Ayo sekarang kita selfi aja Shan."
Shan menerobos keluar dari dekapanku, dia tidak mau kuajak selfi.
"Lahh Shan kenapa gak mau? Ayo sini."
Dia menggeleng.
__ADS_1
"Yaudah tante selfi sendiri deh." Saat sedang seru-seru selfi tiba-tiba aku menyadari ada hal yang janggal.
Cupcake nya tidak datang-datang!
Kasihan Shan sudah menunggu sangat lama.
"Bentar ya Shan, tante mau ke pelayan dulu nanyain cupcake. Kamu tunggu disini ya? Jangan kemana-mana, oke?"
Shan mengangguk.
Aku meninggalkannya. Walaupun aku pergi setiap jengkal langkah yang kuambil aku selalu menoleh ke belakang untuk memantau Shan. Dia benar-benar tidak boleh lepas dari jangkauan mataku. Aku harus menjaganya seperti janjiku.
"Mbak mana cupcake pesanan saya? Kok lama banget sih? Gak tau apa saya udah nungguin dari tadi!"
"Mohon maaf ya atas ketidaknyamanannya, cupcake nya masih—"
"Ahhh lama!"
Aku yang frustasi lalu kembali ke mejaku.
"Loh kok tante wajahnya cemberut. Kenapa?" tanya Shan.
"Gak papa sayang, tante cuman kesel sedikit karena disini cupcake-nya dibuatnya lama. Padahal biasanya enggak loh. Maaf ya sayang, kamu jadi nungguin lama banget."
"Tapi Shan gak papa nungguin lama banget. Shan belum laper lagian tante."
Aku mengangguk lalu membelai puncak kepalanya. "Abis dari sini kita lihat taman bunga mawar di tengah kota gimana Shan?"
"Oh boleh tan..."
Cupcake pesanan kita akhirnya datang. Aku langsung melemparkan tatapan tajam kepada pelayan yang lemot itu. Huhh, setelah ini akan kutarik rating bintang 5 yang ku berikan pada cafe ini, kuganti dengan bintang 3 saja.
"Wahh cupcake!" Shan kembali loncat-loncat kegirangan. Aku sangat gemas melihat bocah ini, ingin kucubit—eh kupeluk rasanya.
"Shan mau makan yang mana dulu nih? Yang ada strawberry nya mau?"
Shan mengangguk, aku lalu mengambilkan cupcake dengan buah strawberry segar diatasnya untuk anak itu.
"Ayo dimakan sayang."
Shan masih terdiam menatap makanan yang berada di piringnya. Sepertinya Shan belum mengerti cara menyantapnya.
Ah aku pinjamkan sendok dulu saja.
Aku pergi menuju pelayan kembali untuk meminta sendok.
"Sendok mbak bukan garpu, kalo garpu mah dimeja saya udah ada dari tadi!"
Lagi-lagi pelayannya membuatku darah tinggi.
"Astaghfirullah mbak kok saya dikasih sendok kecil sih? Yang agak gede emang gak ada apa? Cafe macam apa sih ini??"
"M-maaf maaf." Pelayan itu kembali masuk ke dalam dapurnya. Dan tak berselang lama dia keluar dengan sendok yang tepat.
Aku yang sudah sangat kesal sangat sengaja sekali tidak mengucapkan terimakasih. Aku langsung berlalu untuk kembali ke mejaku.
"Nahh ini Shan, makannya pakai sendok saja."
"Loh Shan?"
Aku sedikit heran mendapati Shan yang terus menoleh ke arah kaca jendela.
"Hei Shan, ayo makan. Tante suapin ya."
Shan masih tidak mau menampilkan wajahnya.
"Shan ada apa??"
Aku lalu menolehkan kepalanya ke arahku, dan ternyata....
"Astaghfirullah Shan!" Aku seketika memekik melihat linangan darah yang sudah membanjiri baju Shan. Anak ini mimisan sangat banyak.
"Heii tolong!" Aku berteriak-teriak meminta bantuan. Panik sekali rasanya, aku tidak tau harus bagaimana lagi sekarang.
"Tante..."
"Iya sayang, sakit ya? Sebentar ya tahan Shan. Shan jangan takut."
Aku mencoba menenangkan Shan walaupun keadaan hatiku sendiri juga sedang tidak tenang.
Para pelayan membantuku, mengambilkan beberapa tisu dan juga baskom air untuk membersihkan darah Shan tapi aliran darahnya terus menerus keluar. Bahkan semakin banyak.
"Tante hiks..." Shan mulai menangis dan akupun juga ikut menangis sekarang.
Apa yang harus kulakukan sekarang Ya Tuhan...
"Papa... Shan mau sama papa... hiks."
Aku langsung mencari ponselku. Dengan jemari gemetar aku menelepon adikku Chandra.
"Halo?"
"Ch—Chandra..."
"Yol lo kenapa Yol?? Shan mana? Anak gue mana Yol??"
Aku tidak kuasa rasanya untuk berbicara. Lidahku kelu, dan suaraku bergetar hebat.
"Shan mimisan..."
__ADS_1
"Apa?!!! Lo dimana sekarang ha? Cafe mana??? Cepet kasih tau! Gue kesitu sekarang!!"
~tbc...