
Chandra memeluk tubuh Shan yang terlelap. Suara decitan pintu yang ditimbulkan oleh Rosa akhirnya membuat Chandra terbangun. Rasa kantuknya mendadak hilang dalam sekejap setelah melihat penampakan Rosa.
"Darimana aja? Tadi Shan nyariin minta dimandiin sama kamu." ucap Chandra dengan suara pelan karena tidak mau Shan terbangun.
"Maaf tadi aku—aku—aku..."
Chandra mengernyit tidak mengerti, mengapa Rosa begitu kesulitan hanya untuk menjawab dirinya habis darimana.
Tapi mata Rosa yang sembab membuat Chandra mengurungkan niat untuk memberondong Rosa agar mengaku.
"Yasudah, tolong siapkan saja makan malamnya Shan."
Rosa mengangguk.
Tidak sampai 10 menit akhirnya makan malam Shan telah siap. Rosa membuatkan Shan omelet kesukaannya.
Mengetahui makan malam putrinya telah siap di atas nakas, Chandra lalu membangunkan tubuh kecil yang berada dalam dekapannya itu.
"Shan bangun yuk, makan dulu sayang, nanti tidur lagi." Chandra mengguncang-guncangkan secara perlahan tubuh anak kecil itu.
Jika saja Shan tidak ketiduran setelah mandi sore tadi pasti Shan di jam sekarang ini sudah makan malam. Dan tinggal tidur sepuasnya sampai pagi. Tapi ternyata, jam tidur Shan benar-benar berantakan.
Seribu satu cara yang dilakukan Chandra untuk membangunkan Shan tidak berhasil. Chandra kini menggaruk tengkuknya sendiri, bingung harus melakukan apalagi untuk putrinya yang tetap mengorok itu.
"Rosa tolong bangunkan Shan." Chandra akhirnya meminta bantuan Rosa.
"Maaf tapi aku tidak bisa Chandra."
"Lah kenapa? Kan aku cuma minta tolong buat bangunin Shan, kenapa kamu tolak? Barangkali Shan mau bangun jika kamu yang bangunin."
Chandra heran dengan Rosa, kenapa Rosa sekarang lumayan sulit dimintai bantuan oleh Chandra. Apa lebih baik Chandra menyuruh Rosa untuk pulang saja karena keberadaannya disini sudah tidak terlalu dibutuhkan.
"Yasudah sana pergi. Sana pacaran aja sama dokter Hans. Itu kan yang cuma bisa lo lakuin."
Rosa hanya bisa menundukkan wajahnya. Dengan langkah gontai dia keluar dari kamar rawat dan memilih untuk duduk di kursi yang disediakan di ruang tunggu.
Rosa tidak bisa melakukan apa-apa, dirinya hanya pasrah. Pertanyaan Shan kemarin masih melekat jelas di pikirannya.
"Kak Rosa mau nggak menikah sama papa? Kak Rosa mau nggak jadi mamanya Shan?"
......***......
Sepiring nasi dan omelet yang berada diatas nakas akhirnya berakhir dingin hingga pagi menjelang. Ya, Shan benar-benar tidak bisa dibangungkan. Chandra sangat kewalahan, dan akhirnya Shan skip makan malam untuk yang kesekian kalinya.
Chandra menatap makanan yang mubazir itu. Tidak, tidak, bukan mubazir, Chandra akan menghangatkan omelet itu. Menggorengnya kembali untuk disantapnya sendiri karena Shan tidak boleh makan makanan yang tidak segar.
"Papa Shan pengen makan chicken goreng."
"Hah? Chicken goreng?"
Shan mengangguk antusias.
"Tapi tapi tapi... Shan gak boleh makan makanan yang digoreng banyak minyak kayak chicken goreng. Nanti Shan batuk."
"Uhuk uhuk uhuk." Baru selesai mingkem bibir Chandra, batuk Shan sudah muncul.
Itu batuk Shan yang sudah sebulan lalu, dan sampai sekarang belum juga menghilang.
"Papa buatin Shan sup ayam aja ya. Enak loh Shan, nanti tenggorokan Shan enakan."
__ADS_1
"Gak mauuu. Shan maunya makan chicken yang digoreng pa. Chicken yang ada kriuk-kriuknya gitu."
"Aduh Shan gak boleh, inget kata dokter—"
"Kalo Shan mau makan itu, gak papa kok. Shan bisa makan. Saya mengijinkannya."
"Eh." Chandra terkejut karena tiba-tiba dokter Hans telah datang dan langsung ikut bersuara.
"Yeayyy Shan boleh makan chicken goreng lagi. Udah lamaaaa banget Shan gak makan chicken goreng."
Chandra menghela napas, baiklah jika diperbolehkan oleh dokternya Shan, akan Chandra turuti kemauan anak kecil itu.
Chandra segera pergi ke pantry. Alih-alih mengandalkan gawainya untuk membuka aplikasi makanan online, Chandra memilih untuk membuatkan Shan ayam goreng sendiri.
Beruntung sekali ada sepotong paha ayam yang belum diolah di dalam kulkas. Chandra langsung mengolahnya.
Sedikit garam, sedikit bubuk ketumbar dan sangat sedikit sekali penyedap rasa yang dibubuhkan pada potongan paha ayam tersebut. Chandra tidak yakin dengan rasanya, pasti akan sangat hambar. Tapi semoga saja Shan suka.
"Taraaa chicken goreng permintaan Shan sudah siap!" Chandra yang ala-ala chef itu datang dengan sepiring makanan request-nya Shan.
Shan memekik kegirangan dan tidak sabar untuk menyicipinya.
"Lah kok mana kriuknya pa?"
"Emm maaf Shan, tapi persediaan tepung kita lagi habis. Gak papa ya Shan chickennya tanpa kriuk."
Senyum Shan mengembang. "Gak papa pa, yang penting ini chicken goreng kan ya?"
Chandra mengangguk dengan lega.
Satu suapan masuk ke dalam mulut Shan.
Hening lumayan cukup lama.
Chandra ketar-ketir menunggu jawaban selanjutnya.
"Enak pa. Enak sekali, Shan sukaa!"
"Alhamdulillah." Chandra meraih tubuh Shan ke dalam pelukannya. Menciumi puncak kepala Shan bertubi-tubi.
"Terimakasih sayang, papa seneng banget deh rasanya."
Shan tersenyum, beradu senyum dengan sang papa. Senyum yang sangat manis sekali. Sampai-sampai yang menyaksikannya menitihkan air mata. Rosa. Rosa telah menangis terharu di kejauhan dari kejauhan menyaksikan interaksi dua ayah dan anak tersebut.
...***...
"Papa, Shan boleh makan es krim gak?"
Chandra membatin sejenak, 'Mentang-mentang dibolehin makan chicken goreng, sekarang Shan minta makan es krim juga? Hadehh...'
Chandra dengan lembut mengusap kepala Shan, dengan sangat hati-hati laki-laki itu mencoba memberi pemahaman kepada anak kecil itu. "Gak boleh dong sayang, es krim kan ada pengawetnya. Gak baik buat Shan."
Ada raut kecewa yang menghiasi wajah Shan setelah mendengar penjelasan dari papanya. Sebenarnya Chandra sangat tidak tega, namun harus bagaimana lagi. Ini semua demi kebaikan Shan.
"Beneran ya pa gak boleh? Sekaliii aja masa tetep gak boleh?"
Kedua mata Shan yang besar dan berkaca-kaca membuat Chandra sangat tersiksa. Kenapa anak kecil itu sangat pandai menampilkan mimik memelas?
"Hufffttt..." Helaan napas panjang Chandra keluarkan. "Yaudah bentar ya papa tanya ke dokter Hans dulu."
__ADS_1
Senyum Shan langsung merekah.
"Eh bukan berarti dibolehin ya. Kita tunggu jawaban dulu dari dokter Hans. Kalo gak dibolehin jangan ngambek, nangis oke?"
"Oke!"
Chandra pamit sebentar untuk pergi ke ruangannya dokter Hans guna menanyakan hal tersebut. Apakah Shan boleh makan es krim untuk kali ini saja?
Tok tok tok...
Chandra mengetuk pintu ruangan yang dituju, dengan ramah tamah dokter Hans membukakan pintu tersebut dan menyuruh Chandra untuk masuk ke dalam.
Penglihatan Chandra langsung terarah pada sosok Rosa yang ternyata ada disana.
Jadi benar dugaan Chandra selama ini? Mereka berdua adalah sepasang kekasih?
"Ada keperluan apa pak Chandra datang kemari? Shan kenapa pak?"
Chandra mencoba fokus kembali ke tujuan awal. "Saya cuma mau tanya, Shan kan memaksa sekali pengen makan es krim. Apakah boleh dia makan es krim dok? Es krim rasa strawberry kesukaannya. Dia sudah tidak tahan lagi pengen makan es krim kesukaannya."
"Tidak apa-apa, silahkan dikasih aja. Shan boleh makan apapun yang diinginkan."
Chandra seketika mengernyit. "Lah kok gitu?"
"Tidak apa-apa pak Chandra, kasih saja yang Shan mau. Turuti saja agar Shan tidak stress. Kesenangan Shan yang utama. Shan boleh kok makan apa saja, asalkan dalam jumlah yang tidak banyak dan tidak sering. Kasih jeda makannya pak, misal bulan ini sekali, bulan berikutnya sekali, dan seterusnya."
Chandra mengangguk memahaminya.
"Yasudah kalo begitu terimakasih ya pak. Saya ijin pamit undur diri."
"Pak Chandra tidak tinggal disini sebentar?" tawar dokter Hans sembari memandang ke arah sofa yang ditempati oleh Rosa.
"Enggak pak, terimakasih. Saya permisi." Chandra langsung berbalik badan dan pergi keluar dari ruangan.
Kini Chandra dan Shan berada di taman. Shan duduk sendiri disebelah papanya. Mereka menyendok masing-masing cup es krim yang dibeli dari penjual es krim gerobakan, yang ada lagunya. Shan menyantap es krim rasa strawberry, sedangkan Chandra es krim rasa coklat.
Sembari makan mereka mengobrol banyak hal.
"Tau gak sih Shan, masa tadi kerjaan kakakmu si Elsa cuman duduk-duduk di ruangannya dokter Hans. Ngapain coba disana? Gabut banget."
"Oh ya? kak Rosa disana? Ngapain ya kak Rosa disana?"
"Kak Elsa Shan, Elsa. Bukan Rosa, Rosa siapa sih?"
"Tapi tapi tapi, bukannya namanya kakak itu yang bener kak Rosa ya?"
Chandra hanya memutar kedua bola matanya dengan malas. "Yaudah ganti topik aja."
"Topik itu apa sih pa?"
"Topik ya topik Shan. Pokoknya topik lah. Topik pembicaraan."
"Top—topik pembicaranan—pembicacancacan? Apaan sih pa Shan gak ngerti."
Chandra memilih untuk tidak meladeni Shan, dan fokus untuk menghabiskan es krim yang berada di tangannya.
'Yaallah Ya Tuhanku, susah bener ya ngomong sama bocil.'
~tbc...
__ADS_1