Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Perpisahan


__ADS_3

Hari berganti begitu cepat. Namun hasil tes Shan masih belum juga keluar. Sepertinya dokter Hans dan para dokter lainnya masih berpikir dengan keras tentang apa yang terjadi pada anak kecil itu setelah bangun dari masa kritisnya.


Di tengah sibuknya orang-orang, Chandra malah menghilang. Chandra sendiri tidak kembali ke ruangan sejak semalam. Sejak kemarahannya yang meluap-luap hebat.


Kini terlihat cuaca di luar sedang mendung. Cuaca yang demikian berpeluang besar akan turun hujan dikarenakan hawa disekeliling pun telah sumpek dan tidak nyaman. Jam masih menunjukkan pukul 2 siang, tetapi sekarang seperti sudah pukul 5 sore. Seperti sudah petang karena perubahan kondisi cuaca yang tidak terduga ini.


Sama seperti kondisi hati Chandra.


"Papa Shan kemana ya? Kakak, kakak tau gak papa Shan pergi kemana? Kok belum balik ya? Papa kok belum pulang-pulang sih?"


Rosa yang ditodong pertanyaan demikian hanya bisa terdiam. Bagaimana harus menjawab pertanyaan Shan jika dirinya sendiri saja tidak tau harus mengatakan apa.


Dewi mencoba menengahi. Perempuan paruhbaya itu dengan penuh lemah lembut mengusap kepala Shan. "Papamu mungkin masih ada urusan di luar. Kita tunggu saja ya sayang."


Shan memalingkan wajahnya ke arah lain. Jendela kaca yang besar itu menjadi objek yang dilihatnya sekarang.


Rintik-rintik hujan perlahan jatuh ke bumi. Membasahi setiap inci permukaan kaca di luar sana.


"Hiks... Shan mau sama papa." Anak kecil itu kini menangis.


Rosa akhirnya bangkit dari posisinya. Dirinya pamit untuk mencari keberadaan Chandra yang tidak memungkinkan untuk diketemukan.


Tidak ada yang tahu Chandra ada dimana sekarang.


"Chandra kamu dimanaa?" lirih Rosa di setiap langkah kakinya.


Hingga akhirnya, perhatian Rosa teralihkan pada sebuah kerumunan orang-orang yang memadati koridor. Tepatnya di perbatasan koridor dengan area luar. Area taman.


"Ada apa disana? Kenapa orang-orang berdiri disana? Mereka sedang melihat apa?"


Rosa mencoba membelah kerumunan tersebut, dan ternyata...


Yang diamati oleh banyaknya orang-orang dengan serius itu adalah Chandra.


Chandra berdiri di tengah taman. Di tengah guyuran. Chandra bahkan berteriak, mengumpat menendang, dan meninju asal yang tidak ada apa-apa yang berada disana. Dia tidak merusak apapun. Lebih tepatnya meluapkan segalanya pada angin dan hujan.


Chandra sekarang seperti orang gila.


Di hadapan orang-orang, Chandra pasti telah dicap sebagai orang yang tidak waras.


Bahkan seorang satpam pun tidak berhasil menghentikan Chandra. Dengan terpaksa satpam pun menyeret paksa tubuh Chandra agar meninggalkan taman. Chandra diperlakukan dengan kasar oleh satpam tersebut.


"Hei!!!" seru Rosa sembari berlari menghampiri Chandra yang berada di tangan satpam.


Rosa tidak peduli dengan pakaian dan sekujur tubuhnya yang kini ikut basah kuyup. Tidak peduli juga dengan tatapan orang-orang yang mencibirnya, mencap bahwa Rosa sekarang ikut-ikutan gila karena membela orang gila.


"Lepasin pak! Jangan sakiti dia!" teriak Rosa ditengah guyuran hujan.


Hujan bak ikut mengiringi perdebatan antara Rosa dengan satpam itu. Hujan semakin deras sekarang.


"Pak lepas! Saya bisa tuntut bapak karena penganiayaan! Pengacara saya banyak pak, jangan macam-macam!"


Satpam tersebut masih belum berhenti.


"Saya ini anaknya perdana menteri Widyatama! Nama saya Rosa Widyatama! Lihat KTP saya kalau bapak tidak percaya!"


Kungkungan tangan satpam itu pada tubuh Chandra akhirnya meregang. Satpam itu melepaskan Chandra saat itu juga.


"Katakan pada orang ini untuk punya rasa malu sedikit. Ini rumah sakit, tempat orang sakit. Kalo mau main pertunjukan sirkus ya sana di pasar malam sana! Untung saya belum telpon rumah sakit jiwa buat jemput dia."


Rosa tidak peduli dengan perkataan satpam tersebut, dirinya masih setia mendekap tubuh rapuh yang terbalut emosi itu.


Rosa merasakan tubuh Chandra bergetar. Dengan susah payah dirinya mencoba melihat wajah Chandra di tengah guyuran hujan. Dan benar seperti dugaannya, Chandra sedang menangis.


"Jangan menangis. Kamu ini kenapa Chan?"


"Diem! Lo gak akan pernah ngerti perasaan gue!"


"Chandra tapi aku perlu tau. Bagaimana bisa aku tau kalo kamunya gak ngasih tau lebih dulu."


"Lo gak perlu tau Sa!"


"Aku perlu tau Chan."


"Enggak!"


"Chan please, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Aku perlu tau apa yang kamu rasakan karena aku gak mau kamu sakit sendirian."


Tangisan Chandra malah semakin mengeras. Suaranya sangat menyayat hati Rosa. Rosa pun semakin mengeratkan pelukannya.


Di tengah hujan kedua manusia ini larut dalam tangisan. Merasakan perasaan yang sama-sama terkoyak oleh keadaan.


Namun jika memang menangis di bawah hujan seperti ini bisa membuat Chandra merasa lebih baik, maka Rosa akan menemaninya.


...***...


Apa sebuah arti dari kedamaian hidup jika disekeliling saja terjadi pertikaian? Semua akan terasa sia-sia bukan, jika hidup yang hanya sementata ini selalu diliputi dengan persitegangan...


Dokter Hans menatap selembar kertas yang berisi hasil diskusinya dengan para dokter-dokter lain.


Dirinya lalu mendesah. Kepalanya yang mulai tertunduk mengartikan bahwa hasil tersebut tidak sesuai dengan harapannya.


"Bagaimana aku mengatakannya pada mereka..." Tanpa sadar lelehan air mata telah turun membasahi pipinya.


Tidak bisa ditutupi, dokter Hans sebagai dokter khusus yang merawat Shan sangat tertekan. Dirinya juga manusia biasa. Siapa manusia di dunia ini yang tidak terguncang hatinya jika menghadapi situasi yang pelik ini?


Dokter Hans bangkit dari duduknya. Menghapus air matanya dengan segera kemudian keluar dari ruang pertemuan itu.


Dokter Hans akan menuju ruangannya, lantas mengemas seluruh barang-barang miliknya.


Di koridor rumah sakit....


"Aku kelihatan banget kalo abis nangis ya Sa?" tanya Chandra.


Rosa lalu mengamati seluruh wajah Chandra dengan teliti. Sebenarnya Rosa ingin berkata yang sejujurnya, namun dirinya takut jika dengan jujur maka Chandra akan mengurungkan niatnya untuk masuk dan malah memilih untuk pergi lagi.


"Enggak kok Chan, kamu gak kelihatan abis nangis. Wajahmu masih tampan seperti biasanya."


Ada semburat kemerahan yang perlahan muncul pada kedua bilah pipi Chandra. Rosa yang mengetahuinya refleks menyimpulkan senyum manisnya.


"Eh ayo masuk." Chandra mengalihkan perhatian.


Chandra lalu menggandeng tangan Rosa untuk masuk ke dalam ruangan tempat Shan berada.


"Papa!" pekik Shan ketika melihat sosok papanya yang akhirnya datang setelah sekian lama menunggu.


Chandra kini telah rapi. Telah berganti pakaian dan tidak basah lagi. Hanya saja kedua matanya sangat bengkak dan hidungnya masih memerah.


"Papa kemana aja sih? Shan nyariin papa tauk."


Chandra segera memeluk tubuh kecil nan menggemaskan itu. Menciuminya tanpa ampun dan menggelitikinya.


Shan tertawa sangat renyah. Sampai-sampai Rosa dan utinya yang menyaksikan ikut tertawa.


"Aduh aduh seneng sekali ya cucunya uti."


Shan lagi-lagi masih mengernyit. Anak kecil itu benar-benar tidak percaya pada siapapun kecuali papanya.


"Sayang jangan gitu, dia itu utimu Shan."


Raut wajah Shan seperti berpikir. Sepertinya anak itu mencoba mengingat-ingat dengan keras.


Namun pelukan yang langsung dieratkan pada tubuh papanya mengisyaratkan bahwa Shan tidak berhasil mengingat-ingat. Shan masih lupa dengan siapapun.


Rosa perlahan mendekat. Mengusap punggung kecil itu dengan lembut.


"Tidak apa-apa Shania. Jangan dipaksakan dulu. Nanti pasti Shania akan teringat dengan sendirinya." ucap Rosa.


Chandra tersenyum kepada Rosa. Kata-kata Rosa menghangatkan perasaannya yang dirundung rasa khawatir terus-menerus.


"Oiya Chandra, dari tadi pagi Shan susah makan. Maunya cuma mimik dot terus." Dewi mengacungkan dot Shan.


Pemberian dot memang sudah tidak diperbolehkan untuk anak seusia Shan. Chandra pun sudah menekankan sejak dahulu jika Shan sudah stop mimik susu melalui dot. Tapi sejak Shan susah makan dan minun akhir-akhir ini, maka Chandra memperbolehkan Shan untuk menyesap dotnya kembali.


Shan sekarang seolah kembali seperti bayi lagi. Pakai pampers dan mimik susu pakai dot.

__ADS_1


Tapi tidak apa-apa, semuanya demi kebaikannya Shan.


"Yaudah gak papa, jangan dipaksa. Kalo Shan cuma maunya mimik susu ya dikasih aja. Iya kan sayang? Kamu maunya cuma mik cucu ya?"


Shan mengangguk dengan riang lalu memeluk tubuh papanya kembali.


Perhatian Shan lalu teralihkan pada benda yang mengandung udara tengah melayang-layang di atas kepala papanya.


"Papa Shan mau pegang balon." pinta Shan sembari mengulurkan satu tangannya pada balon pemberian dokter Hans itu.


Chandra kemudian melepaskan ikatan tali dari balon tersebut agar Shan bisa memegangnya dengan tangannya sendiri.


"Eh..." Balon itu terlepas. Benangnya lepas dari genggaman Shan lalu akhirnya balon tersebut melayang jauh terpentok langit-langit.


"Lah, gak kamu pegang sih." ucap Chandra. Pasalnya Chandra sudah menyerahkan benang dari balon itu pada Shan, tapi anak itu malah melepaskannya.


"Kenapa gak kamu pegang hmmm Shan?"


Shan hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan papanya. Shan hanya fokus pada tangannya. Melihat kedua tangannya sampai tertunduk.


"Hei Shan kenapa?" Chandra pikir Shan menangis karena tidak mau menampilkan wajahnya, tapi ternyata...


"Shan udah gak bisa pegang-pegang lagi pa..."


Deg.


Ucapan Shan seketika membuat Chandra, Rosa, dan Dewi tercekat di tempat.


Atmosfer berubah menjadi sendu saat itu juga. Bahkan Dewi sudah menitihkan air matanya.


"Hei kamu gak boleh ngomong kayak gitu." Chandra segera meraih kedua tangan Shan. Menggenggamnya, menggenggamnya sangat erat. Di dalam genggaman Chandra, tidak dirasakan sedikitpun pergerakan dari jemari-jemari kecil itu disana.


Benar-benar tidak bergerak.


"Ini cuma keram sayang. Nanti—nanti Shan bisa pegang lagi. Shan pasti bisa pegang lagi. Apapun itu papa akan mengusahakannya. Papa akan mengusahakan agar Shan bisa segera pegang-pegang lagi. Jangan takut Shan..."


Chandra menyuruh Shan untuk tidak takut, tetapi dirinya sendiri sedang sangat ketakutan.


Ucapan putus asa Shan benar-benar membuat Chandra terpukul. Chandra tidak mau Shan seperti itu. Shan harus tetap semangat. Shan jangan menyerah. Shan harus percaya bahwa ini semua hanya sementara. Nanti Shan akan sembuh. Semuanya akan kembali seperti sedia kala.


Pintu ruangan terbuka. Sosok bertubuh tegap dengan balutan jas berwarna putih bersih itu datang.


Semuanya menatap kedatangan dokter tersebut.


Tapi, ada yang berbeda...


Dokter Hans melangkah masuk, tangannya yang berkali-kali memperbaiki posisi kaca matanya itu langsung menyiratkan gelagat yang tidak beres.


Semua orang tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, hanya merasakan memang benar ada yang tidak beres.


"Halo Shan." sapaan yang biasanya dokter itu sematkan pun terdengar sangat canggung.


Sebenarnya apa yang terjadi.


Rosa adalah orang pertama yang berani mengulik ketidakberesan ini. "Dokter Hans kenapa, kok tumben... Emm... Maaf maksud saya, dokter kayak gak biasanya."


Rosa hendak menatap kedua mata dokter Hans dengan lekat, namun dokter Hans terkesan mengalihkan pandangan.


Ini benar-benar tidak beres. Apa yang sedang ditutupinya?


Chandra menatap ke arah jam sekilas lalu melemparkan tatapan ke arah dokter Hans. Dokter Hans yang mengetahui maksud Chandra hanya mengembangkan senyuman.


"Emm memang ini bukan jam check up Shan. Saya disini cuma... Emm cuma mau menyapa Shan saja."


Semua orang lantas mengernyit.


Chandra dengan tegasnya kemudian bersuara. "Udah bilang aja sebenarnya ada keperluan apa? Apa hasil tesnya Shan udah keluar?"


Dokter Hans mematung sepersekian detik. Lidahnya seketika kelu.


Katakan


atau


Dengan tangan gemetar sebuah map dia keluarkan dari balik jasnya.


Semua orang antusias, karena map itu pasti berisi hasil tes Shan. Semuanya tidak sabar mendengar hasilnya.


Disamping akan mengetahui apa penyebab dari Shan yang tidak bisa mengenali orang-orang, dari hasil tes tersebut itu nanti juga akan tahu kondisi Shan bagaimana. Apakah Shan bisa mendapatkan jadwal operasinya kembali? Operasi yang sempat ditunda kemarin?


"Maaf..."


Raut antusias Chandra, Rosa dan Dewi dalam sekejap sirna ketika dokter Hans mengatakan kata maaf.


"Ma—maksud dokter apa?" tanya Rosa, tergagap-gagap.


Dokter Hans menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Dok, katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi sebenarnya? Bagaimana hasilnya dok? Tolong..." Rosa mengguncang-guncangkan lengan dokter Hans.


Chandra.... Chandra masih mematung di tempatnya. Bibirnya tidak bisa saling terkatup. Perasaannya campur aduk sekarang. Ketakutannya... Ketakutannya seolah merayapi sekujur tubuh.


"Maaf, hasil tesnya menunjukkan kanker Shan sudah memasuki stadium akhir. Berat untuk mengatakannya... Jika sekarang sudah tidak ada harapan. Sekarang Shan diperbolehkan pulang. Mulai sekarang Shan dirawat di rumah saja. Saya sudah angkat tangan. Maaf, tugas saya selesai. Maafkan saya..."


Tangis di dalam ruangan tersebut seketika pecah.


Rosa menangis histeris setelah mendengar ucapan dokter Hans tersebut. Dewi sampai bersimpuh di atas lantai, menangis tersedu-sedu.


Kenyataan teramat pahit harus diterima. Kenyataan bahwa Shan sudah mencapai titik maksimal untuk berusaha sembuh.


Nanar Chandra seketika kosong. Pandangan Chandra jauh menerawang ke awang-awang. Chandra membisu dan membeku dalam posisinya.


"Papa... Pa..." Shan mengguncang-guncangkan tubuh laki-laki itu sekuat tenaga.


Namun Chandra... Chandra bagaikan sebuah patung tanpa nyawa.


...***...


Dengan langkah gontai Rosa berjalan menyusuri koridor. Rosa bahkan tidak bisa berjalan dengan tegap, dirinya lemah. Sampai-sampai harus berpegangan pada dinding koridor yang dingin dan lembab.


Hanya satu tujuan yang harus dia datangi.


Kegelisahannya memuncak tatkala di atas pintu ruangan yang ditujunya sudah tidak ada papan nama dokter Hans.


"Dok! Dokter Hans! Buka pintunya! Dokter Hans!!! Enggak dok! Dokter gak bisa pergi! Dokter Hans harus sembuhin Shania! Dokter Hans harus sembuhin anak saya! Dokter Hans ayo buka pintunya!" Tangis Rosa semakin deras. Segala upayanya untuk menggedor-gedor pintu tersebut agar dibukakan berakhir sia-sia.


Ruangan tersebut telah gelap. Tidak ada lampu yang dihidupkan di dalam sana. Pemiliknya sudah pergi.


"Enggak dok..." Tubuh Rosa merosot. Rosa jatuh terduduk dan menangis di hadapan pintu itu. Dirinya benar-benar tidak kuasa menghadapi situasi yang menikam relung hatinya ini.


Rosa tidak sanggup...


Chandra melihat dari kejauhan. Chandra dalam diamnya melihat sosok perempuan lemah tidak berdaya itu menangis sendirian.


Hati Chandra seakan diremat. Sakit...


Air mata Chandra meluruh. Dia lantas melenggang pergi karena tidak tega jika harus meratapi Rosa yang seperti itu. Akan tetapi Chandra memiliki sebuah cara...


*Tuttt


tut


tutttt*


Bunyi dering telepon yang tidak kunjung dijawab hampir membuat Chandra frustasi. Chandra nyaris membanting ponsel miliknya sendiri.


"Angkat g*bl*k!" maki Chandra penuh emosi.


Berulangkali Chandra mencoba menelepon nomer itu namun bukannya jawaban yang diterimanya melainkan hanya suara operator.


"Anj*ng!"


Chandra lantas berlari menuju parkiran rumah sakit. Chandra memang tidak mengerti orang itu memakai mobil apa, namun hanya menduga barangkali dia menemukan orang tersebut disana. Barangkali masih memutar stir dan keluar dari parkiran. Chandra akan mencegatnya.


"Woi berhenti!" Dan benar. Setelah Chandra mengintip setiap kaca mobil yang hendak beranjak keluar, akhirnya dirinya menemukan mobil milik dokter Hans.

__ADS_1


Chandra mengetuk kaca tersebut, menyuruh dokter Hans agar keluar.


Pintu mobil akhirnya terbuka.


Kedua mata dokter Hans terlihat sangat sembab, sesekali masih mengusap matanya dengan kasar.


Chandra menatap dokter itu dengan rahang yang mengeras. Dokter Hans pikir Chandra akan meninjunya detik itu juga, dokter Hans telah siap. Dia memasang wajahnya dengan sukarela. Namun ternyata...


dugh...


Chandra malah menghamburkan pelukan pada tubuhnya.


Dengan tatapan berkaca-kaca dokter Hans akhirnya menatap kedua mata Chandra. Saat itu juga, air mata dokter Hans meluruh. Sudah tidak bisa dibendung lagi kristal-kristal bening tersebut.


Dokter Hans menangis di pelukan Chandra. Menangis dengan sangat memilukan dan juga memohon maaf sebesar-besarnya.


"I'ts okay, bukan kamu yang salah. Kamu gak perlu minta maaf seperti ini..."


Ucapan Chandra malah membuat dokter Hans semakin tersedu-sedu.


Pakaian yang dikenakan Chandra pasti sekarang basah kuyup di bagian pundaknya.


"Sa—saya sudah memberikan harapan palsu. Saya berdosa sekali. Saya... Saya payah. Seumur hidup, saya akan menyesal. Seumur hidup, saya pasti tidak akan pernah tenang."


"Husss! Kenapa ngomong seperti itu? Itu gak perlu. Lo gak salah, kenapa lo harus menyesal ha? Lo gak salah sama sekali, dokter Hans..."


Chandra menepuk-nepuk bahu bergetar itu. Berusaha membuat dokter Hans segera tenang dan berhenti menangis.


"Dengerin gue dokter Hans. Semua yang lo lakuin buat anak gue itu gak sia-sia. Lo sangat berpengaruh besar. Gu—gue bener-bener gak tau gimana nasib Shan kalo gak ada lo dok..." Kini bergantian air mata Chandra lah yang tumpah.


Chandra menangis. Di hadapan dokter Hans akhirnya Chandra terisak.


"Memang cuma ada 2 kemungkinan. Antara sembuh atau enggak. Gue tau. Gue juga gak bisa memaksakan hal yang diluar kemampuan gue. Semuanya sudah Tuhan yang nentuin. Memang sayangnya, takdir Shan-gue yang dikasih Tuhan seperti ini. Gue sedih, gue sebenarnya pengen marah. Gue gak terima, gue pengen ngamuk. Tapi ya.... Mau gimana lagi..."


"Dan lo, lo untungnya dateng dok. Terimakasih dok atas semuanya yang lo kasih. Terimakasih udah ngusahain yang terbaik buat Shan-gue. Gue dan Shan gak akan ngelupain semua jasa-jasa lo. Dan Rosa juga, Rosa gak akan ngelupain lo. Dokter terbaik yang pernah kita temuin."


Dokter Hans semakin mengeratkan pelukannya pada Chandra. Hatinya sungguh tersentuh mendengar semua yang Chandra ucapkan.


Chandra bukan orang yang seperti dugaannya. Sosok angkuh, arogan, dan sarkas itu ternyata hanyalah seorang papa yang berhati seluas samudera.


Dokter Hans sekarang tau, jika sejatinya Chandra itu orang yang baik dan tulus. Andai saja waktu pertemuan mereka bisa bertahan lebih lama.


"Dokter Hans!" panggilan dari arah belakang membuat dokter Hans menoleh.


Rosa ternyata datang. Dan dia tidak sendirian.


"Shan..." lirih dokter Hans.


Rosa yang menggendong Shan itu lantas menghampiri dokter Hans.


Ini tidak seperti rencana awal dokter Hans. Dokter itu ingin pergi meninggalkan tempat ini tanpa sepengetahuan keluarga Chandra karena tidak mau membuat semua orang bersedih. Namun ternyata apa... Baru juga sampai di parkiran Chandra mencegatnya, dan kini ada Rosa bersama Shan juga.


"Tega sekali pergi tanpa berpamitan?" ucap Rosa dengan genangan air mata yang mendesak keluar dari pelupuknya.


"M—maaf, saya gak bermaksud—"


Pelukan yang diberikan Shan langsung membuat dokter Hans tidak bisa menyelesaikan kata-katanya.


Shan yang masih berada di atas gendongan Rosa itu langsung memeluk tubuh seberangnya, yaitu tubuh dokter Hans.


Dokter Hans lalu meraih Shan dari gendongan Rosa. Dokter Hans mengambil alih Shan.


"Shan... Maaf." Air mata itu tumpah kembali.


"Eh gak boleh nangis." Menggunakan punggung tangannya Shan menyapu air mata dokter Hans yang membasahi pipinya.


"Kamu dokter yang merawat Shan selama ini ya?"


Dokter Hans mengangguki pertanyaan Shan.


Shan dengan senyuman manisnya menatap dokter itu dengan ceria. "Makasih ya sudah mau merawat Shan dengan baik."


"Hiksss..." Air mata dokter Hans semakin jatuh bertubi-tubi. Dokter Hans memeluk tubuh kecil itu dengan sangat erat. Sangat enggan melepaskan tubuh itu dari dekapannya.


"Dok, nanti ingat Shan terus ya walaupun Shan gak bisa ingat sama dokter."


"Shan..."


"Gak papa dok. Gak papa kalo dokter mau pergi. Shan gak papa kok ditinggal pak dokter. Yang penting dokter jangan lupain Shan ya... Shan sayang banget sama pak dokter...."


Tidak ada yang tidak menangis saat itu juga.


Chandra menundukkan wajahnya dalam-dalam, membiarkan air mata itu langsung terjatuh membasahi aspal. Sedangkan Rosa, Rosa merasakan kesedihan yang sangat hebat sampai-sampai lidahnya terasa kelu melihat perpisahan Shan dengan dokternya.


Waktu seolah berputar sangat cepat, kini saatnya menyudahi segalanya. Dokter Hans menyerahkan tubuh Shan kepada Chandra.


Dokter Hans belum pergi, masih ada sesuatu yang ingin diberikan kepada Shan. Sebuah barang, sebelumnya dokter Hans ingin menyimpan barang itu, namun setelah bertemu dengan Shan saat ini dirinya langsung berubah pikiran.


"Wah boneka unicorn." seru Shan. Shan seolah melihat boneka itu untuk yang pertama kalinya, namun Chandra... Chandra tau benda itu tidak asing.


Dokter Hans yang telah memberikan boneka itu kepada Shan kini tersenyum kepada Chandra.


"Saya menemukannya di mobil anda pak."


Chandra mengernyit tidak paham. "Tapi... Tapi mobilku kan..."


Dokter Hans mengeluarkan sesuatu lagi, kali ini dari kantong kemejanya.


Sebuah kunci mobil. Dan itu adalah kunci mobil Chandra yang telah digadaikan sebulan lalu.


"Dok..." Chandra tercekat ketika dokter Hans menyerahkan kunci tersebut pada genggamannya.


"Tolong diterima ya, kasihanilah saya. Saya sudah capek-capek ngejar bapak sampai ke tempat gadai waktu itu."


Chandra masih tertegun ditempat. Masih benar-benar terkejut.


"Mobilnya saya parkir di parkiran lantai dua pak Chandra."


"Dok..."


"Sttt udah...." Dokter Hans menepuk pundak Chandra lalu mulai berbalik badan untuk menuju pintu mobilnya.


"Terimaksih dokter Hans." ucap Chandra.


Dokter Hans menoleh untuk tersenyum. Tersenyum untuk yang terakhir kalinya.


Namun.... Panggilan Rosa membuatnya menghentikan langkahnya. Lagi.


"Dokter..."


Dokter Hans memutar tubuhnya untuk menatap perempuan yang mengucapkan namanya itu.


"Saya... Saya belum mengucapkan terimakasih sendiri. Terimakasih banyak dokter Hans. Maaf jika ada salah kata atau perbuatan yang pernah kita perbuat pada dokter Hans."


Rosa tidak berani menatap kedua mata dokter Hans. Bukan tanpa alasan, melainkan air mata Rosa telah menggenang kembali dan siap menetes.


"Saya juga minta maaf kalo banyak salah pada kalian. Tapi... Bukan seharusnya kamu yang berterimakasih, tapi seharusnya adalah saya, Rosa Widyatama..."


Rosa refleks mengangkat wajahnya ketika dokter Hans mengucapkan namanya dengan lengkap.


"Ba—bagaimana dokter tau nama saya? Dokter ini sebenarnya siapa?" Pertanyaan yang selalu mengganjal akhirnya berani Rosa tanyakan.


"Tanya ayahmu nona, ayahmu lah yang tau bagaimana ceritanya. Oiya sampaikan salamku padanya ya, dan katakan hutangku masih sangat banyak sekali padanya. Aku akan melunasinya."


Rosa mengernyit tidak paham.


"Sudahlah, sampaikan saja salamku dari anak petani cabai yang akhirnya berhasil berkuliah di fakultas kedokteran berkat dirinya."


Dokter Hans lalu melenggang pergi. Memasuki mobilnya.


Lambaian tangan kecil Shan sematkan untuk dokter itu. Kini perpisahan itu benar-benar terjadi.


Dokter Hans telah meninggalkan rumah sakit dan kembali ke negaranya.


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2