Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Omelet Terus


__ADS_3

"Hihihi geli dok." ucap Shan sembari tertawa kecil ketika dokter Hans mencoba menggelitiki telapak kakinya.


Chandra, Rosa, Dewi, Yolla, dan Ken turut menyimak dengan sangat serius. Mereka berdiri di setiap sisi bed, memperhatikan yang dilakukan dokter Hans untuk merangsang kemampuan pergerakan kaki Shan.


"Gimana Shan? Geli ya? Coba kalo dokter cubit sedikit. Maaf ya Shan."


"Awh sakit dok!" pekik Shan seketika.


Ini membuat dokter Hans menjadi lega. Dokter Hans lantas menjelaskan.


"Shan sepertinya mengalami kebas pada saraf kakinya karena pengaruh pengobatan. Tapi tidak apa-apa kok, Shan akan bisa berjalan kembali nanti. Sepertinya ini cuma efek sementara.".


Seluruh anggota keluarga langsung menghela napas lega. Chandra apalagi, papa dari gadis kecil itu akhirnya berhenti merasa cemas.


Chandra segera memeluk tubuh mungil itu, menciuminya bertubi-tubi. "Sabar dulu ya sayang, bentar lagi Shan pasti bisa lari-lari kayak kemarin lagi."


Shan mengangguk.


Satu hal yang perlu menjadi catatan untuk Chandra, tampilan fisik yang fit belum tentu di dalamnya juga sedang baik-baik saja. Jadi mulai sekarang, Chandra harus lebih memperhatikan lebih dalam lagi, kalau bisa Chandra harus selalu siap sedia setiap waktu.


Shan tidak boleh ditinggal. Jangan jauh dari pengawasannya lagi. Terlebih, anak kecil itu jika terjadi apa-apa selalu bungkam sendiri, dia tidak mau inisiatif mengadu kecuali ditanyai terlebih dahulu.


Jam dinding telah menunjukkan pukul 11 lewat. Rosa sangat tahu jika sekarang ini Shan sudah boleh ditawari makan siang.


"Shania mau makan? Kakak buatin omelet lagi ya?"


"Dihhh kakak..." ucapan julid yang Yola sematkan seketika membuat Rosa merasa tertohok.


Rosa hanya bisa membisu, menatap perempuan itu sekilas lalu menundukkan wajahnya dalam-dalam.


Hanya ini yang bisa dia lakukan. Melawannya? Oh tentu dirinya tidak berani.


"Yoll jangan mulai..." ucap Chandra ketika berlalu melewati Yolla. Hanya Yolla saja yang mendengarnya, yang lainnya sama sekali tidak tahu.


Chandra yang telah berjalan lebih dahulu menuju pantry lalu mengisyaratkan tangannya ke arah Rosa. Dia menyuruh Rosa untuk segera mengikutinya ke ruangan tersebut. Rosa pun bergegas menuruti Chandra. Tenang, Shan sudah bersama utinya. Shan mewarnai gambar ditemani utinya.


"Kali ini ganti menu Sa, persediaan telur habis. Belum sempat beli. Kamu bisa masak apalagi selain omelet hm?" tanya Chandra pada Rosa.


Rosa berpikir sebentar. Tidak ada yang terlintas dipikirannya, pasalnya dirinya tidak pernah memasak di rumah. Pembantunya lah yang mengerjakan semua tugas dapur. Rosa bisa memasak omelet karena itu adalah masakan yang sangat sederhana, disamping itu omelet juga makanan kesukaan Rosa, makanya dia sangat paham akan cara membuatnya.


"Aduhh kamu kelamaan mikir. Ini udah jam makannya anakku Sa!" ucap Chandra yang sedikit geram.


Chandra berjalan ke arah kulkas, membukanya lalu memeriksa bahan makanan apa yang tersedia disana.


"Shania boleh makan nasi goreng enggak?"

__ADS_1


Pertanyaan Rosa langsung membuat Chandra menoleh. "No, terlalu banyak minyak!"


Rosa manggut-manggut tanda paham.


Chandra mencari-cari bahan makanan lagi.


"Kalo mie instan?"


Bleng!


Chandra langsung menutup pintu kulkas dengan keras hingga menimbulkan dentuman. Rosa terkejut bukan main.


"Yang ngotak aja deh lo!" ucap Chandra dengan nada yang meninggi.


"Sebenernya lo mau nguji kesabaran gue apa gimana sih Sa? Ya jelas gak boleh lah mie instan."


"Emm... Maksud aku bumbunya nanti gak dikasih. Mie nya aja."


"GAK BOLEH! Mie itu ada pengawetnya! Lo mau kalo anak gue nanti tambah sakit ha?!"


Tiba-tiba Dewi datang. "Udah-udah apa ini kok ribut-ribut?"


Chandra melihat mamanya sekilas lalu melemparkan tatapan tajam kepada Rosa kembali. Rosa benar-benar ditatap sinis oleh Chandra.


Rosa perlahan melangkah pergi meninggalkan ruangan. Chandra masih bertahan di posisinya.


"Kamu juga Chan, keluar aja sana."


"Lah kok aku ikut diusir sih ma?"


"Iya, kamu nanti ggerecokin mama aja bisanya..."


Chandra mendengus sebal dan akhirnya ikut turut keluar menyusul langkah Rosa.


Waktu berlalu, makanan yang dimasak oleh Dewi akhirnya telah siap. Dewi membuatkan Shan sup ayam dengan bahan-bahan pendamping sederhana seperti wortel, seledri, dan kubis.


"Huekkk!"


"Eh belum juga dicobain loh Shan." Chandra reflek menjauhkan sendok suapan pertama karena Shan langsung menolaknya mentah-mentah.


"Shan gak mau makan itu. Shan maunya makan omelet pa."


"Iya Shan sebenarnya tadi kak Elsa emang mau masak omelet, tapi ternyata telurnya habis jadi ya gak bisa. Sorry Shan, papa mau beli telur juga jauh disini tuh. Udah ya, makan ini aja ya. Enak banget tauk ini tuh, buatan uti. Masih anget Shan. Ayo akk."


Shan perlahan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Lah kok nangis?"


Chandra menurunkan sendok yang berada di tangannya. Dia lalu beralih menyeka air mata Shan yang semakin deras.


"Kenapa sih Shan? Udah dong cup cup, Shan gak boleh nangis."


"Huaaa!!!"


Chandra akhirnya memutuskan untuk menggendong Shan. Menenangkan tangisan gadis kecil itu.


"Gimana dong Shan? Kan papa udah jelasin telurnya abis sayang, belum beli. Nanti malem deh janji pakai lauk omelet. Kalo sekarang belum bisa Shan..."


"Tapi Shan gak doyan itu—apa namanya... Baunya gak enak. Shan mau muntah."


Chandra menghela napas sangat panjang. Jujur saja dirinya sekarang ini juga bingung harus berbuat apa.


Dewi mendekat ke arah anak dan cucunya. "Yaudah kalo Shan gak mau makan gak papa, Shan mik susu aja ya, uti biki—"


"Gak ma! Jangan susu, kebiasaan deh susu mulu. Shan kan harus minum obat juga abis ini. Inget kata dokter Hans, susu tuh bukan pengganti nasi, tapi cuma pelengkap. Jangan dibiasain terus Shan kalo mogok makan diminumin susu!"


Dewi hanya bisa pasrah. Saran yang diberikannya ternyata bukanlah saran yang tepat.


Rosa yang berada di tempat hanya bisa meremas ujung pakaian yang dikenakannya. Melihat Chandra yang bersuara dengan nada tinggi membuatnya merasa tegang. Dia tidak mau memperburuk situasi jika mengambil langkah yang salah. Lebih baik dirinya diam saja.


Setengah jam berlalu akhirnya tangisan Shan mereda. Chandra pikir ketika Shan berhenti menangis berarti tenaga Shan habis dan diperlukannya energi untuk mengisinya kembali. Aha! Ini waktu yang pas untuk menawarinya Shan sesuap nasi.


Pranggg!!


Beling berhamburan. Buliran nasi, sebuah paha ayam, potongan wortel dan sayuran lainnya berserakan di permukaan lantai, bercampur dengan beling. Kini semuanya becek, air kaldu yang beberapa saat lalu sangat menggoda kini hanya berakhir becek.


Shan menangkis mangkuk berisi sup itu dari tangan Chandra. Dan kini semuanya berakhir di atas permukaan lantai.


Dewi, Rosa dan terkhusus-nya Chandra sangat terkejut atas apa yang terjadi.


Chandra menatap ke bawah. Melihat bagaimana makanan yang harusnya sedari disantap itu sekarang menjadi mubazir karena ulah anak yang masih berada dalam gendongannya.


Dewi bertindak cepat. Perempuan paruh baya itu mencoba mencegah hal-hal yang mengerikan. "Gak papa, gak papa. Biar uti yang bersihin nanti. Bentar ya uti ambilin makanan yang baru buat Shan."


Chandra masih terdiam tanpa suara. Pandangannya masih terfokus pada lantai. Ini membuat jantung Dewi semakin berdegup. Begitupun Rosa. Keduanya sangat takut jika Chandra pada detik berikutnya akan mara—


"Biar aku aja ma yang ambil." ucap Chandra yang kemudian berlalu menuju pantry.


Jauh dari yang dibayangkan. Ternyata laki-laki itu tidak marah.


~tbc...

__ADS_1


__ADS_2