
"Papa, papa, ponsel Shan mati."
Baru sampai apartemen aku langsung ditodong oleh Shan. Bocah itu mengadu jika ponselnya mati. Dan ternyata setelah kuepriksa ponselnya itu mati karena disebabkan kehabisan baterai.
"Shan kamu main ponsel terus ya?!" Seketika aku langsung naik pitam. Kujewer telinganya kuat-kuat sampai dia meringis.
"Berapa kali papa udah bilang, jangan main ponsel terus Shan!".
"Ampun papa, telinga Shan sakit." mohonnya.
"Gak peduli! Biarin kuping kamu putus! Lagian percuma banget punya kuping kalo gak pernah dipakek buat dengerin papa!"
"Papa, Shan minta maaf. Hiks..."
Aku akhirnya melepaskannya.
Shan yang hampir menangis itu kini memegangi sebelah telinganya yang telah berubah warna menjadi kemerahan. Aku menghela napas berkali-kali, mencoba menetralisir amarahku terhadap bocah ini.
"Diem disitu, kita belum selesai Shan." ucapku kemudian pergi menuju colokan yang berada disudut ruangan untuk men-charger ponsel Shan dahulu.
"Jadi tadi Shan gak belajar, iya?" tanyaku pada bocah yang masih bertahan di tempat yang sama.
Shan mengunci bibirnya rapat-rapat.
"Shan, kalo papa tanya itu dijawab! Tadi kamu gak belajar membaca sama berhitung ya sama kak Joly???"
"Enggak pa..." lirihnya yang berhasil membuatku menghela napas panjang.
"Kenapa Shan?" tanyaku yang kini dengan nada sudah stabil.
Tatapan Shan beralih pada objek lain. Dia memandang langit-langit yang berada diatasnya. Entahlah, bocah ini sepertinya tengah menerawang-rawang.
Apakah sesulit itukah menjawab pertanyaan yang ku berikan? Kenapa Shan sampai harus berpikir sekeras itu?
"Udah ya kalo besok Shan masih belum mau diajak belajar sama kak Joly, papa gak akan tinggal diam Shan. Papa akan jewer kuping Shan lagi, tapi lebih kenceng. Dua-duanya kuping Shan akan papa jewer, ingat itu!"
Shan langsung mengamankan kedua telinganya. "Jangan pa!" ucapnya yang kemudian berlari menjauh dariku.
Seperginya Shan aku memilih untuk merebahkan diriku di sofa. Mencoba untuk rileks sebentar setelah seharian bekerja.
Aku sebenarnya ingin langsung mandi agar rasa penatku bisa langsung hilang, tapi aku mengurungkan niat itu. Sebentar deh, aku mau chatting dulu dengan Wanda.
C : Nda, gimana udah sampai rumah apa belum?
Tuing.
Pesanku langsung dibalas.
W : Udah Chan, baru aja. Lo sendiri gimana?
__ADS_1
C : Gue juga udah, ini lagi nyantuy rebahan hehehe.
W : Wihh pap dong.
C : [Send picture]
W : Haha, enakin Chan. Bentar ya gue mau mandi dulu.
C : Oh iya oke Nda. Nanti kita lanjut lagi ya.
W : Okay siap, ganteng.
Hahhh? Apa aku dibilang ganteng oleh Wanda? Aduh.... Seketika hatiku rasanya melayang terbang ke awan. Aduhhh....
"Papa kenapa kok senyam-senyum?"
Deg.
Aduhh sial, aku ketahuan oleh Shan. Sejak kapan bocah ini sudah berada di sini? Bukankah dia tadi kabur?
Aku segera memasukkan ponselku ke kantong kemudian cepat-cepat memasang wajah datar.
"Siapa yang senyam-senyum sih Shan? Kamu nih salah liat." Sangkalku, gengsi dong aku ketahuan sama anakku sendiri.
Shan kini menatapku dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Aku sontak mengusirnya agar dia segera menjauh. "Udah sana main sendiri sana! Ish kamu ganggu papa aja deh."
Shan tidak langsung pergi, dia malah berkata. "Papa kok kayak kak Joly."
Shan sudah tidak menanggapiku. Kini dia melangkah menuju kamar, dan mungkin akan menonton televisi saja.
"Papa, tolong hidupkan tv-nya. Shan pengen nonton kartun." ucapnya dari dalam kamar.
Nahkan...
Baiklah, aku pun beranjak dari sofa dan hendak menyusul Shan ke kamar. Akan tetapi saat aku menegakkan tubuhku tiba-tiba ponsel yang berada di kantong bergetar.
Tertera nama mama disana.
Kenapa mama tiba-tiba meneleponku? Tidak tau-taunya seperti ini. Apakah dia tengah kangen kepada Shan?
Tanpa menimbang-nimbang lagi jariku langsung memencet tanda hijau yang berada dilayar.
"Iya, halo ma. Gimana?"
"Chan... Hiks...."
Deg!
Detak jantungku seketika meningkat setelah mendengar suara mama yang menangis dari seberang sana.
__ADS_1
"Heh? Halo mama kenapa sih? Mama kenapa nangis ha?!"
Shan yang mendengar suaraku langsung keluar dari kamar. Dia turut penasaran juga.
"Chan... ssskk... skjkkj."
"Mama ngomong apa sih yang jelas dong ma! Chandra gak bisa denger ini! Ma!!!"
Shan semakin mendekat denganku. Kini dia mendelik, memeluk erat kakiku. Dia takut karena aku mengeraskan suaraku di telepon.
"Uti kenapa pa?" tanyanya. Aku segera menaikkan tubuh Shan ke atas gendonganku, dengan sebelah tangan yang masih menahan ponsel menempel di pipi.
"Papa mu kecelakaan Chan, dia meninggal hiks..."
"APA?!!"
Jantungku rasanya langsung berhenti berdetak.
...^^^***^^^...
Detik berikutnya itu juga aku langsung berkendara pulang ke rumah. Aku bahkan tidak sempat untuk memandikan Shan tadi. Shan kubawa apa adanya.
"Yeay akhirnya kita pulang! Shan gak sabar mau ketemu sama kak Salsa, kak Jimmy, uti, kungkung!"
Shan masih belum kuberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Entahlah, mungkin sebaiknya tidak perlu kuberitahu. Dia tidak akan mengerti.
"Papa, kok rumah kita rame? Kok rumah kita banyak orang-orang baju hitam? Papa itu apa kok kuning-kuning ditancepin di pagar rumah kita? Kok kayak bendera ya pa? Itu apa sih pa?" tanyanya ketika mobil yang kita tumpangi sampai di halaman rumah.
Aku lekas memarkirkannya, lalu menggendong Shan turun dari sana.
Shan awalnya menolak untuk kugendong. Dia bilang ingin berjalan sendiri, tapi aku memaksanya untuk naik ke atas gendonganku saja.
Di dalam rumah kita berdua langsung disambut dengan mama dan Yola yang telah menangis tersedu-sedu.
Aku sekuat tenaga menahan pandangan Shan untuk tetap memandang ke belakang saja. Menutup kedua telinganya agar dia tidak bisa mendengar tangisan pilu utinya itu. Tapi percuma, Shan kini sudah melihatnya.
"Pa... Kungkung kok boboknya kenapa ditutupin kain putih seperti itu?"
Seketika air mataku meluruh. Aku menangis saat itu juga.
Aku memeluk Shan sangat erat. Berbagi tangisku dengannya. Aku tidak seharusnya seperti ini dihadapan putriku.
"Shan, kungkung udah gak ada Shan. Kungkung meninggal, sayang."
"Apa itu meninggal pa? Shan gak ngerti."
Aku semakin mengeratkan pelukanku pada tubuh anak kecil ini.
"Meninggal artinya kita udah gak bisa ketemu sama kungkung lagi selamanya..."
__ADS_1
~tbc....