
Shan membuka matanya di pagi hari dan langsung mencari-cari sosok papanya.
"Papa. Papa. Papa..."
"Iya sayang, papa disini. Ada apa hm?" Chandra segera memeluk putri kecilnya itu lalu menggendongnya.
Sepertinya Shan khawatir akan ditinggal seperti kemarin. Maka dari itu anak ini langsung mencari kebaradaan papanya.
"Papa jangan jauh-jauh. Shan maunya kalo Shan buka mata, disamping Shan itu ada papa."
Chandra tersenyum sejenak lalu mengeratkan pelukannya pada Shan. "Iya Shan iyaa, maaf papa tadi abis dari kamar mandi."
Lega Shan mendengarnya.
"Udah yuk bobok lagi aja sayang, sekarang ini masih subuh. Belum ada yang bangun. Lihat tuh mereka aja masih molor." Chandra menunjuk ke arah Rosa dan mamanya yang masih tertidur pulas di atas sofa.
"Pa, tapi Shan udah gak ngantuk."
Chandra kini memakluminya. Memang semalam Shan tidur dari pukul 7. Masih terbilang lumayan sore tidurnya, makanya sekarang anak ini sudah terbangun lebih awal.
"Yaudah kita lihat youtube aja ya Shan."
Shan pun mengangguk.
Chandra membaringkan kembali tubuh Shan di atas bed. Chandra pun ikut berbaring disana, di samping Shan.
Kini kedua ayah dan anak itu larut dalam keseruan menonton video youtube. Setiap channel kartun ditonton mereka. Hingga akhirnya beberapa menit berselang Shan merasa bosan.
"Ganti pa, yang lain aja Shan bosen itu mulu."
"Oke oke." Telunjuk Chandra bergerak dengan cekatan menyekroll deretan video yang ada. Chandra sebenarnya juga bingung harus menyetel video apalagi yang Shan suka.
"Upin Ipin aja ya Shan." ucap Chandra dan Shan menyetujuinya. "Yang ada opetnya pa."
"Woke siap."
Video telah diputar.
"Loh mana pa opetnya?"
"Itu loh Shan opet. Yang kecil di sebelah Raju tuh kan opet."
"Mana pa? Gak ada opet? Papa salah nyetel videonya."
"Lah Shan bener kok." Chandra mendadak bingung karena memang sudah benar request dari Shan itu.
Chandra lalu mempercepat videonya, mencari momen yang pas.
"Nah itu opet. Itu bener kan opetnya Shan?"
"Mana sih pa? Gak ada opet."
"Itu loh Shan."
"Gak ada paa."
"Yaallah Shan itu loh." Chandra sampai geram, sampai menunjuk-nunjuk ke arah layar ponsel tetapi Shan masih saja tidak melihatnya.
Deg.
Akhirnya Chandra merasa ada kejanggalan. Chandra terdiam beberapa saat.
"Mana sih pa? Orang opetnya gak ada kok." Shan meraih ponsel yang berada di hadapannya lalu mendekatkan layar tersebut sangat dekat dengan penglihatannya. Sangat, sangat dekat, bahkan nyaris menempel dengan matanya.
Dan ternyata benar kan dugaan Chandra...
Shan kian hari kian berkurang kemampuan penglihatannya.
......***......
"Hiks... hiks... hiks..."
Hari ini Shan rewel sekali. Selepas sarapan perut Shan terasa tidak nyaman. Mual, tapi setelah digendong menuju kamar mandi Shan tidak kunjung muntah. Sepertinya hanya mual saja, seperti tempo hari yang lalu.
"Sini sayang, uti pakein minyak kayu putih ya perutnya."
Chandra menggendong Shan menuju sang uti. Dewi dengan penuh kelembutan mengolesi perut Shan dengan minyak kayu putih seperti yang dia katakan.
"Masih sakit hiks hiks..." Tangis Shan tersedu-sedu kembali.
Kini semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut bingung harus melakukan apa agar Shan berhenti menangis.
Segala cara sudah dicoba namun nyatanya tidak ada yang berhasil.
Rosa yang berdiri tidak jauh dari jendela kian cemas. Merasa keberadaannya yang tidak berguna sama sekali. Dia mengaku sebagai mamanya Shan tapi... Kenapa dia tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya membuat Shan membaik. Bagaimana naluri keibuannya?
Tangisan Shan semakin menyayat hati. Air mata anak kecil itu terus mengalir bahkan semakin deras. Chandra sampai kewalahan menimang-nimangnya, karena Chandra rasa semua yang dilakukannya tidak akan berefek menyembuhkan pada Shan.
__ADS_1
"Aku coba panggil dokter Hans aja ya buat periksa Shan lebih awal." ucap Rosa, kemudian Chandra mendongak ke arah jam dinding.
Masih pukul 8 kurang seperempat. Sebenarnya jam check up adalah pukul 8 tepat. Tapi sepertinya Shan memang tidak bisa menunggu.
"Iya panggil saja." Chandra akhirnya menyetujuinya.
Tidak sampai 5 menit Rosa telah datang kembali ke ruangan dengan membawa dokter Hans.
"Shan kenapa menangis? Apa keluhannya Shan?" Dokter Hans langsung menjalankan tugasnya.
"Perut Shan sakit. Sakit banget dok hiks..." ucap Shan yang masih berada di atas gendongan Chandra.
"Emm kenapa ya? Sakitnya sejak kapan Shan? Baru saja atau sudah dari tadi?"
"Dari tadi." Shan dengan kooperatif menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dokter Hans. Anak kecil itu menjawabnya sendiri tanpa bantuan siapapun.
"Coba Shan tiduran dulu, biar saya periksa oke?"
Chandra membaringkan tubuh Shan di atas bed.
Dokter Hans dengan segera menyingkapkan baju Shan ke atas dan mulai menempelkan stetoskopnya pada permukaan perut Shan.
Shan masih merintih kesakitan dengan air mata yang terus-menerus berlinang. Chandra hanya bisa menyeka air mata-air mata tersebut dengan sabar.
"Shan tadi sarapan apa?" Kini dokter Hans bertanya pada semua orang yang berada dalam ruangan tersebut.
Rosa memberikan jawaban. "Omelet dok, sama minum susu."
"Dia sudah minum obatnya?"
"Belum sempat minum obat, Shan sudah mengeluh mual saat akan diminumkan obat dok." jawab Rosa lagi.
Dokter Hans terdiam beberapa saat. Sepandai-pandainya seorang dokter dalam mendiagnosia pasiennya, seorang dokter akan tetap membutuhkan waktu. Tapi Chandra tidak bisa menunggu.
"Kenapa anak saya sebenarnya???" tanya Chandra.
Pandangan dokter Hans langsung terfokus pada Chandra. Akhirnya setelah berhari-hari perang dingin diantara keduanya, baru hari inilah mereka bersedia saling memandang.
"Saya akan resepkan obat sakit perut buat Shan."
Chandra langsung menggertak. "Resepkan obat lagi???"
Chandra merubah bibirnya yang datar menjadi menyeringai. "Lagi-lagi kalo Shan mengeluh sakit langsung diresepkan obat. Dokter gak pernah ngasih tau apa yang sebenarnya terjadi, atau kenapa bisa terjadi, atau apa penyebabnya? Lagi-lagi obat obat obat terussss. Berapa banyak obat yang harus diminum oleh anak saya ha???!"
Perseteruan akhirnya tidak dapat dihindarkan. Chandra sudah mencapai titik kesabarannya. Segalanya yang dia pendam sedari dahulu kini dia luapkan. Segala unek-uneknya telah dia keluarkan sekarang.
"Chandra please..."
"HUAAAAAA!!!!" jerit Shan yang menggelegar ke seluruh ruangan berhasil meredam emosi Chandra.
Chandra seketika kalang kabut. Chandra kaget karena Shan tiba-tiba menjerit. Ini membuat perhatian Chandra teralihkan dan emosinya tidak jadi meledak.
"Kenapa sayang? Kenapa Shan?? Ada apaaa???"
Shan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar pada Chandra. Anak kecil itu ingin didekap oleh sang papa.
"Gendong papa gendong. Peluk Shan, Shan pengen dipeluk papa."
Chandra dengan segera menuruti kemauan anak itu.
"Shan pengen keluar, Shan pengen jalan-jalan lihat miming. Shan gak mau disini isinya berantem mulu. Shan sumpek."
Seluruh manusia yang berada di ruangan tersebut seolah tertampar mendengar ucapan Shan. Memang benar adanya. Anak kecil mana yang akan betah jika ruangan yang ditempatinya hanyalah sebuah tempat yang diisi dengan persitegangan.
"Ayo pa keluar."
Chandra sebagai sumber utama atau biang kerok yang membuat keadaan selalu memanas hanya bisa mengatupkan bibirnya. Dirinya akhirnya tersadar... Dirinya memang tidak bisa menahan amarah.
"Ayoo paa!"
Chandra menggangguk lalu menggendong Shan keluar. Laki-laki itu menuruti keinginan putrinya.
......***......
"Miming ming, kamu dimana ming?" Shan memanggil-manggil sosok kucing liar yang sudah dianggap sebagai peliharaannya itu beberapa saat lalu.
"Papa mimingnya Shan kemana ya? Kok gak kelihatan sama sekali dari tadi?"
"...." Hening, tidak ada tanggapan dari Chandra sama sekali. Chandra masih saja melamun akan kejadian di ruangan tadi. Laki-laki itu masih berpikir.
Shan menggerak-gerakkan tubuhnya yang berada di pangkuan Chandra, berharap Chandra segera membuyarkan lamunannya. Namun...
"Papaa!" Shan akhirnya sedikit meneriaki papanya itu. Dan berhasil. Akhirnya Chandra kembali pada dunia yang sesungguhnya.
"Eh iya—apa sayang? Kamu tanya apa tadi Shan?"
Shan terdiam beberapa saat, dirinya seolah larut dalam menatap kedua sorot mata papanya. Chandra pun juga menatap kedua sorot mata Shan.
__ADS_1
Kenapa mata Shan terlihat sangat sayu sekali? Mata Shan tidak secerah dan berbinar seperti dahulu.
"Papa kok sekarang sedih gitu?" tanya Shan secara tiba-tiba.
Chandra kelabakan bukan main. Laki-laki itu segera mengalihkan perhatian Shan. "Ayo kita pindah Shan, kayaknya bentar lagi hujan turun deh."
"Ih papa, kan mimingnya Shan belum ketemu. Dia belum kelihatan pa, padahal Shan udah dateng nih. Shan kangen sama miming."
Chandra berhenti. Niatnya hendak berpindah akhirnya dia urungkan. Laki-laki itu kembali duduk di bangku yang sudah terasa hangat bekas pantatnya beberapa detik lalu.
"Papa, biarin Shan duduk sendiri." pinta Shan. Chandra pun menurutinya.
Chandra menurunkan tubuh Shan dengan sangat hati-hati. Dia memposisikan Shan di sebelahnya. Kini Shan sudah duduk sendiri dengan kedua kakinya yang menggantung karena tidak mampu menjangkau permukaan rumput sangking pendeknya kaki Shan.
Chandra tidak bisa melihat ayunan kaki yang Shan timbulkan sama sekali. Jadi memang benar... Kedua kaki Shan sekarang ini sudah lumpuh.
Seketika Chandra berkaca-kaca.
Oh putrinya yang malang. Kenapa banyak sekali cobaan yang menimpanya sedari dahulu? Kenapa harus Shan? Kenapa bukan anak lain di luar sana saja?
Kenapa?
Tes tes tesss...
Hujan akhirnya sungguhan turun. Chandra segera meraih tubuh Shan lalu menggendongnya untuk berteduh.
"Yahh mimingku belum kunjung datang." ucap Shan yang begitu menyayat hati.
Tapi Chandra membuat janji kepada Shan.
"Gak papa Shan, masih ada hari esok. Besok kita akan kesini lagi, pasti mimingnya Shan datang kok."
Shan mengangguk sembari mengulas senyumnya yang sangat manis.
......***......
Sore hari menjelang Shan dirundung kesedihan. Entahlah, perubahan mood yang tiba-tiba terjadi pada anak itu benar-benar membuat seluruh penghuni ruangan merasa cemas.
Shan tidak bisa ditanyai. Anak kecil itu diam seribu bahasa. Padahal beberapa jam yang lalu masih bersenda gurau dengan Rosa. Masih asyik bermain boneka barbie dengan Rosa, tapi sekarang... Semuanya berubah.
Shan memiringkan tubuhnya ke arah tembok. Dia enggan memandang siapapun kecuali tembok berwarna putih polos di hadapannya.
Chandra berusaha mendekati Shan untuk ke... Entahlah, sudah ke-banyak kalinya.
"Hei sayang kenapa? Shan kenapa diem aja?"
Shan menyingkirkan tangan Chandra yang membelai pundak kecilnya. Shan tidak mau disentuh.
"Loh kok gitu? Shan kenapa hmm? Shan mau apa? Pengen apa sebenernya? Ayo cerita sama papa sayang."
"Papa minggir. Shan mau sendiri."
Shan akhirnya bersuara, tapi... Kenapa seperti itu perkataannya.
Chandra menoleh ke arah sang mama, berharap Dewi memiliki solusi untuk mengatasi hal ini.
Dewi hanya mengedikkan kedua pundaknya perlahan. Perempuan paruh baya itu juga tidak tau harus melakukan apa untuk Shan.
Rosa akhirnya mendekat ke arah Chandra. Chandra menatap perempuan itu. Rosa mengisyaratkan agar Chandra menjauh seperti yang Shan inginkan saja.
"Oke..." ucap Chandra dengan pasrah.
Ketiga orang dalam ruangan tersebut berpikir jika diamnya Shan akan bertahan dalam waktu yang singkat. Namun ternyata... 3 jam berlalu Shan masih saja mogok bicara. Sudah sangat lama. Aktivitas-aktivitas bocah ini akhirnya terganggu.
"Shan harus mandi sayang, ini sudah mau magrib loh. Nanti Shan kedinginan. Ayo mandi yuk sama papa."
Shan tidak menanggapi sama sekali. Dia masih tetap bertahan dalam posisinya. Menghadap tembok. Benar-benar tidak ada rasa pegal sama sekali pada tubuhnya.
Chandra akhirnya memaksa anak itu untuk mandi.
"Ih papa Shan gak mau mandi." rengek Shan ketika Chandra mulai melucuti pakaian anak itu.
Shan terus berontak, memukul Chandra menggunakan tangannya. Chandra masih terus melepaskan seluruh pakaian Shan tidak peduli dengan serangan Shan yang bertubi-tubi itu.
"Heh ayo Shan, airnya udah mendidih loh. Ayoo nanti gasnya abis."
"Shan gak mau mandi sama papa hiks." Pemaksaan mandi ini akhirnya mengundang tangis. Shan menangis, sembari masih memberontak tanpa berhenti.
"Kalo gak mau sama papa, yaudah sama kak Elsa aja gimana?" Rosa menawarkan diri, namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Shan.
"Gak mau sama kak Elsa juga."
Tumben-tumbenan sosok Rosa ditolak oleh Shan.
"Yaudah yuk sama uti aja. Kita main bebek-bebekan kayak biasanya yuk Shan."
"Gak. Pokoknya Shan gak mau mandi sama siapapun. Shan gak mau mandi. Titik."
__ADS_1
Ketiga orang tersebut hanya bisa melongo mendengar ucapan Shan.
~tbc...