
Beginilah pemandangan pagi hariku di apartemen baru.
"Shan, kecilin volume TV-nya. Papa masih mau tidur nih!" suruhku, tapi bocah ini tidak mendengarkan sama sekali.
Aku akhirnya mengambil alih remote dari tangannya, lalu langsung ku matikan saja tayangan kartunnya itu biar dia kapok.
"Ih papa kan Shan masih mau nonton."
"Berisik Shan!" Aku kembali menenggelamkan tubuhku ke dalam selimut yang hangat. Sekarang ini masih pukul 6 tepat, aku masih bisa tidur selama setengah jam lagi sebelum bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
"Papa, Shan lapar..."
"Aaaarrggghh, please Shan, ngertiin papamu ini!" teriakku.
Aku dengan sangat malas akhirnya melangkah menuju dapur. Membuatkan bocah nakal itu sarapan daripada terus-terusan merengek dan membuat kepalaku semakin pening.
Ya, semalaman jam tidurku benar-benar tersita gara-gara mengurus Shan yang terus rewel karena mengeluh sakit perut sehabis muntah, dan sekarang lihat! Aku harus bangun pagi dan menyiapkannya sarapan lebih awal seperti ini.
Ahhh... Kalau bukan karena badannya masih hangat aku pasti sudah memarahinya habis-habisan.
"Papa hari ini masak apa?" Bocah kecil itu ternyata mengikutiku menuju dapur. Dan tunggu saja, pasti sebentar ini akan banyak sekali pertanyaan yang dia tanyakan kepadaku. TUNGGU SAJA!
"Papa dapurnya bagus ya. Itu apa namanya pa kotak yang tinggi itu?"
"Papa kenapa wastafelnya ada disana?"
"Papa kenapa ada tiga kursi disini padahal hanya kita berdua yang tinggal disini?"
"Papa, papa kenapa lampu dapurnya ada banyak? Kenapa kita tidak berhemat?"
"AHHH KAMU BISA DIAM TIDAK SHAN?"
Anak kecil itu akhirnya mendelik. Pertanyaan-pertanyaan yang terus dia sematkan kepadaku akhirnya kini terhenti.
Huh... Akhirnya aku bisa bernapas lega.
"Tolong ya Shan, kalo papa lagi sibuk begini kamu tuh jangan tanya-tanya mulu. Itu namanya kamu ganggu konsentrasi papa, Shan."
"Kons—konsrenti—konsrentrisasi apa pa?!"
"AAAHHH LUPAIN AJA DEH SHAN!"
...***...
"Halo, apa benar ini dengan mbak Joly? Jasa pengasuh anak?" Aku mencoba menghubungi seseorang lewat telepon. Seseorang yang sangat kubutuhkan saat ini. Yup, jasa pengasuh anak, untuk mengasuh Shan selama kutinggal bekerja. Doakan orang yang tengah kuhubungi ini benar adalah seorang pengasuh...
__ADS_1
"Iya benar. Ek—ekhemm...ekhemm.. Jasa pengasuh anak Ceria Paripurna ada disini. Ini dengan saya sendiri Joly Sulistyawati, founder-nya. Ada yang bisa saya bantu mas—eh pak?"
Seketika aku tersenyum lebar. Syukurlah aku tidak salah nomer.
"Iya mbak Joly, jadi begini, saya membutuhkan jasa anda dalam mengasuh anak saya selama saya tinggal bekerja. Apakah anda berkenan? Apakah slot pada jasa anda masih ada?"
Hening. Tidak ada jawaban dari seberang sana.
"Emm... Anda masih menerima anak asuhan baru atau tidak mbak?"
"Oh... Iya masih... Masih..."
Itu saja? Apakah mbak-mbak ini tidak ingin mengatakan kata lain selain itu?
"Emmm mbak Joly, maaf kalau saya sedikit lancang ataupun mengganggu. Emm saya ingin meminta waktu mbak sebentar. Boleh nggak mbak kalau kita bertemu sebentar untuk mendiskusikan hal ini?"
"*Oh iya boleh... Boleh..."
Tut*.
Panggilan langsung diakhir.
Ini orang bagaimana sih? Kenapa sangat tidak jelas seperti itu? Bahkan aku belum sempat mengatakan alamatku. Dasar orang stress!
"Jadi gimana pa? Papa serius mau nitipin Shan ke pengasuh?" tanya Shan yang masih mengunyah sarapannya.
"Ya mau gimana lagi sayang, kan papa harus pergi kerja. Papa gak bisa ninggalin kamu sendirian di apartemen. Mau di tempat penitipan anak lagi kayak kemarin? Ahh enggak deh Shan, disana nggak higenis. Nanti kalo kamu sakit perut lagi gimana coba?"
"Maafin papa ya, ini cuma sementara kok. Sebentar lagi kan umurnya Shan 4, jadi bisa sekolah. Gak perlu lagi pakek pengasuh-pengasuh kek gini Shan. Shan sabar aja ya... Cup."
Aku mengecupnya sekilas, menyingkapkan anak rambutnya ke daun telinga. Dan karena makannya sangat lama, aku akhirnya memutuskan untuk menyuapinya saja. Biar cepattttt!
Ting tung...
Hingga tiba-tiba ada yang membunyikan bel pintu apartemenku.
Aku bergegas menuju ke arah pintu untuk membukakannya.
Kudapati seorang perempuan tengah berdiri tepat di depan pintu apartemenku. Perempuan dengan dandanan sangat eksentrik, pakaian mencolok, make up-nya pun juga sangat mencolok. Dia kini berdiri menjajariku sembari tersenyum sangat lebar sampai semua giginya terlihat.
"S-siapa ya?" tanyaku.
Perempuan ini langsung menjulurkan tangan kanannya dengan semangat. "Hei kenalin, aku Joly Sulistyawati. Jasa pengasuh anak yang barusan kamu panggil!"
Aku seketika mengernyit. 'Lahh... Bagaimana dia tau alamatku?'
Lagi-lagi aku mengamati kembali perempuan bernama Joly ini dari ujung kepala sampai kaki. Memang sangat sesuai dengan yang berada di telepon tadi. Bagaimana ya mengatakannya? Emmm, maaf dia sedikit aneh...
__ADS_1
Fokus Joly tiba-tiba teralihkan pada Shan yang datang.
"Oh hei anak kecil! Ututututu lutcu nyaaaaa! Kamu ya yang mau dititipin sama aku???"
Shan mendadak takut. Dia langsung bergelayut di balik kakiku, bersembunyi disana.
Joly menjongkokkan tubuhnya, mencoba menjajari tinggi Shan. Perempuan itu lantas mengulurkan tangan kanannya. "Hei sweety, ayo kita kenalan dulu..."
Shan kutarik, kudorong-dorong agar mau menjabat tangan yang sudah sedari tadi menjulur itu. Iya aku tau Shan itu takut dan mungkin sama sepertiku, menganggap orang ini aneh... Tapi ya Shan harus tetap sopan.
"Shan..." ucap Shan memberitahu namanya, ya walaupun dengan suara yang sangat lirih.
"Oh Shan ya namanya. Namanya lucuuuk. Eh namaku juga lucu loh Shan. Namaku kak Joly."
Hah?? Kak??? Apakah aku tidak salah dengar? Bahkan orang itu lebih cocok dengan sebutan tante.
Joly berdiri kembali, kini kedua matanya meneliti masuk ke dalam ruangan. Aku yang sungkan akhirnya mempersilahkannya untuk masuk saja. Dia sudah meng-kode seperti itu soalnya.
Joly langsung duduk di sofa lalu tangannya sibuk merogoh ke dalam tas bawaannya. Beberapa lembar kertas dia keluarkan dari sana.
"Mas..."
Hah siapa yang dipanggilnya itu? Aku kah? Ke-kenapa memanggilku mas?
"Mas silahkan baca-baca ini dulu. Kemudian kalo udah cocok silahkan tanda tangan kontraknya."
Aku langsung disodori surat kontrak dan juga pulpen. Bukankah ini namanya paksaan. Haduhh aku sangat ingin menolak tapi kok tidak bisa... Haduhh aku harus apa ini sekarang???????
"Papa..." Shan yang berada disebelahku memanggilku. Dia seolah juga merasakan kegundahanku sekarang.
Bagaimana ini Shan? Haruskah papa tanda tangan saja? Tapi papa tidak percaya dengan orang itu? Tapi disisi lain papa kasihan jika menolaknya. Rumahnya pasti sangat jauh tadi, lihatlah bedaknya sudah luntur tersapu keringat.
"Yups, oke brarti aku udah bisa kerja mulai hari ini xixixi." Joly membereskan berkas yang baru saja ku tanda tangani itu. Dan setelah itu dia....
"Mas, aku boleh minta air minum gak? Aus banget ini tuh."
"I-iya boleh. Silahkan ambil sendiri di dapur bu."
"Bu???" Perempuan ini mengernyit.
"Panggil aku dek aja dong mas. Aku ini masih muda loh, xixixi..."
Shan langsung memeluk tubuhku, bersembunyi disana.
Tidak tau, mungkin Shan ngeri...
~tbc...
__ADS_1