
Aku cepat-cepat menuju parkiran. Ingin segera menaiki mobilku lalu melajukannya untuk pulang. Aku sangat ingin segera pulang sekarang!
"Chandra!" panggilan Wanda tak kusahuti sama sekali. Maaf Nda aku harus buru-buru sekarang. Aku ingin cepat bertemu Shan.
Ya! Ingin segera bertemu dengan Shan! Karena... emm karena...
Entahlah, aku juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan anak itu. Dia tadi siang tidak menjawab video call ku, utinya juga. Entah kemana mereka sekarang.
Perasaanku benar-benar tidak tenang.
Dan setelah berkendara selama 10 menit akhirnya sampailah aku di rumah.
"Shan!"
"Shan!"
"Shan!" panggilku ketika baru menginjakkan kaki di dalam rumah. Tapi sosok yang kupanggil itu tidak ada sama sekali. Hanya ada Salsa dan Jimmy yang tengah bermain di ruang TV. Kedua bocah itu kini menatapku dengan tatapan...'Kenapa pulang-pulang langsung teriak-teriak?'
Tiba-tiba sosok mama menghambur dari ruangan sebelah. Tapi mama datang dan langsung menyuruhku untuk diam. "Stttt!"
Aku semakin mengernyit. "Mama kenapa nyuruh aku diem? Shan mana ma? Dia ada dimana? Oiya terus-terus mama juga darimana aja aku telfonin gak diangkat ha?" tanyaku, mencercanya dengan berbagai pertanyaan yang sedari tadi sangat menggangguku.
"Tadi itu Shan yang minta."
"Hah?"
Mama menyentuh pundakku, menyuruhku agar sedikit tenang selagi dia menjelaskan. "Jadi gini, suasana hati Shan keliatannya lagi gak bagus Chan. Dia diemin mama dari tadi siang. Makanya mama gak berani buat ganggu dia."
"Ya mama bisa kan nge-wa aku kek tadi, atau gimana gitu."
"Lohh mama tadi siang udah nge-wa kamu kok."
"Mana coba? Gak ada."
"Bentar-bentar..."
Aku berdecih, kemudian berlalu begitu saja dari hadapan perempuan paruh baya itu. Ahh orang itu sudah rabun, gaptek juga. Dia pasti tidak tau caranya mengirim pesan melalui aplikasi whatsapp. Ahh sudahlah, percuma sekali. Aku memilih untuk bergegas menuju kamar dan mencari keberadaan Shan.
Akhirnya ketemu. Bocah itu sedang tiduran di atas ranjang, dan lihat! Dengan ponsel yang berada tepat di tangannya. Jarak ponsel itu dari wajahnya sangat dekat, kurang dari satu jengkal telapak tangan orang dewasa. Sinar dari layar ponsel itu juga sangat terang, hingga membuat wajah Shan tersorot seperti terkena cahaya ilahi. Aku benar-benar sangat geram melihatnya.
"Shan... Papa bilang kalo main ponsel harus gimana hmm?" tanyaku dengan nada yang masih biasa saja.
Ya, aku masih menahan amarahku. Aku masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki dirinya detik ini juga.
"Shan... Kamu dengerin papa ngomong apa enggak?" tanyaku lagi dengan sisa-sisa kesabaran terakhir.
Bocah kecil itu akhirnya meletakkan ponselnya. Tapi... Dia lalu melenggang menuju ke arah meja lipatnya berada.
"Shan, maghrib-maghrib bukan waktunya menggambar!"
Anak kecil ini tidak peduli dan tetap melanjutkan aksinya.
Aku akhirnya menarik lengannya. Membuatnya yang tadinya hampir duduk menjadi berdiri kembali.
"Shan sengaja banget ya kamu. Kamu mau bikin papa marah, iya?"
Shan hanya diam. Dia tidak mau menyahutiku, apalagi menatap mataku. Dia menghindari pertemuan mata kita.
__ADS_1
Aku lalu melepaskan genggaman tanganku yang masih melingkar pada lengannya. "Duduk diem diatas ranjang Shan. Sekarang!"
Bocah keras kepala itu akhirnya menurut. Langkah kecil kakinya kembali menuju ranjang. Dan langsung naik ke atas sana. Dia menuruti perintahku, akan tetapi...
"Aku mau mik cucu! Tapi pakek dot!"
Whattt??
"GAK SHAN!" Langsung kutolak permintaan konyolnya itu.
"Udah berapa kali papa bilang, kamu itu udah gede. Gak ada minum pakek dot lagi Shan!"
"Shan gak peduli! Pokoknya Shan mau mik cucu pakek dot pa! Buatin Shan cucu pakek dot!" rengeknya terus menerus.
Tanganku perlahan mengepal kuat-kuat. Aku menatap bocah ini semakin tajam dengan harapan agar dia segera berhenti merengek.
Ehh, bocah nakal itu malah membalasku. Dia ikut melemparkan tatapan tajam kepadaku juga. Dia melawan!
Kita beradu tatap selama bermenit-menit, sambil mengeraskan rahang masing-masing. Hingga akhirnya pihaknya menyerah. Buliran air mata terjun jatuh dari kedua netranya. Ya, sekarang Shan menangis. Menangis dengan sangat pilu.
Aku hanya bisa mendesah dan mendesah. Lagi-lagi sepulang dari kantor harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Kini tidak ada yang bisa aku lakukan, kecuali hanya terus menatap sosok berlinang itu sampai tangisannya bisa berhenti dengan sendirinya, mungkin saja.
Tapi ternyata tangisannya tidak kunjung berhenti. Jadi aku harus apa? Memeluknya? Menggendongnya? Menenangkannya? Ohh jangan. Dia sudah terlalu besar untuk kuperlakukan seperti itu. Dia yang mengawali tangisannya sendiri, maka dia pula yang harus mengakhirinya sendiri. Itu prinsipku sekarang.
Tangis Shan tidak berhenti-henti. Ini sudah lewat setengah jam aku mengamatinya. Anak itu tidak menyerah, masih bertahan dalam isakan. Bahkan kulihat nafasnya sampai tersengal-sengal sangking sesenggukannya.
Kasihan? Ya aku sebenarnya sangat kasihan, tapi ya kembali lagi pada prinsipku yang tadi.
"Papa mandi dulu." ucapku kemudian melenggang ke arah kamar mandi. Akupun mandi, membersihkan tubuhku yang sangat lelah ini. Didalam kamar mandi aku masih mendengar suara sesenggukan Shan. Benar-benar bebal, aku pikir dia akan berhenti jika kutinggal tapi ternyata tidak. Malah semakin menjadi.
"Belum berhenti juga?" tanyaku pada bocah terisak ini.
"Sebenernya mau kamu itu apa sih Shan? Papa harus ngapain ha?"
Shan malah semakin mengeraskan suara tangisannya. Hingga mengundang mama yang berkali-kali mengetuk pintu dari luar. Menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Gak ma! Semuanya baik-baik aja. Mama istirahat aja. Udah malem." seruku, tanpa membukakan pintu kepada perempuan tua itu.
Ya, sekarang sudah pukul 9 malam. Sudah waktunya orang-orang untuk beristirahat. Dan Shan... Entahlah sudah berapa jam dia tetap menangis seperti itu.
Oke... Oke... Akhirnya akulah yang menyerah. Aku akhirnya menyediakan rengkuhanku untuk anak kecil ini.
Aku memeluknya, mencoba berdamai dengannya dan berharap tangisannya segera tenang.
Tubuh Shan sesenggukan hebat di dalam dadaku. "Udah Shan... Udah... Cup." bisikku tepat ditelinganya. Tanganku pun tidak berhenti mengelus punggung kecil.
Entah apa lagi yang menyakiti perasaannya hingga memaksa Shan akhirnya melampiaskannya dengan cara seperti ini. Pasti terjadi sesuatu tadi ketika aku sedang bekerja. Aku yakin...
Dan tersangka utama yang sangat kucurigai adalah anak-anaknya Yolla. Ya, siapa lagi coba yang akan membuat Shan seperti ini? Tentu mereka. Aku sudah belajar sejak kejadian-kejadian kemarin.
"Shan besok-besok main sendiri aja ya. Di kamar aja, ngegambar atau ngapain gitu. Biar mereka gak bikin Shan sedih lagi, oke?"
"Tapi... tapi... tapi Shan pengen main sama mereka pa. Shan gak suka sendiri, Shan takut kalo sendiri."
"Tapi Shan akhirnya jadi cengeng kayak gini. Suasana hati Shan jadi gak bagus. Pasti abis diapa-apain kan sama mereka. Kalo papa boleh tau Shan abis diapain sama mereka? Cerita aja sama papa Shan, ayo..."
Shan terdiam sangat lama. Dia sepertinya tidak ingin menjawab pertanyaanku itu.
__ADS_1
"Yaudah kalo Shan gak mau cerita sama papa, gak papa. Papa gak akan memaksa Shan kok..." ucapku sembari membelai surai lembut milik Shan.
Oh iya, aku teringat akan sesuatu...
"Shan, papa hari ini gajian. Papa udah punya uang sekarang. Besok kita ke mall yuk, beli baju yang Shan mau itu."
"Oh ya pa?" Anak kecil ini langsung mendongak.
"Iya sayang."
"Horeee!" pekiknya dengan kedua matanya langsung berseri. Senyumannya pun kini mengembang sangat ceria. Dia sudah sangat lebih baik sekarang.
......***......
Aku melangkahkan kaki menuju lantai bawah, hendak ke dapur untuk makan malam. Hari memang telah larut malam, tapi aku tidak bisa tidur karena perutku keroncongan parah. Ya, aku sampai lupa makan karena menenangkan tangisan Shan yang bertahan hingga berjam-jam tadi.
Shan sekarang telah tertidur pulas, jadi aku bisa meninggalkannya seperti ini.
Ditengah perjalananku aku mendengar suara orang yang tengah berdialog. Aku hafal sekali itu suara Yola dan suaminya. Ahh kenapa mereka berbincang di meja makan? Aku jadi enggan untuk mengambil makanan di sana. Bukan apa-apa, hanya malas saja bertemu dengan mereka. Aku sedang tidak mood, sama seperti Shan.
Tapi untuk urusan perutku aku harus melakukannya.
"Eh Chandra, belum tidur ya?" sapa Yola ketika melihat kedatanganku.
"Belom, aku masih mau makan." jawabku yang langsung mendapatkan tanggapan dari Ken. "Whaha jam segini baru makan?"
Terdengar meledek, tapi aku tidak merasa tersinggung sedikitpun. Aku terus melancarkan kegiatanku. Mengambil nasi dari rice cooker dan juga lauk yang berada di panci. Setelah itu aku membawa piringku menuju ruang TV saja. Aku akan makan disana tanpa mengganggu kegiatan bercengkerama tengah malam yang dilakukan oleh Yola bersama suaminya itu.
Makan malamku akhirnya telah selesai. Aku lantas membawa piring kosongku menuju dapur untuk ku cuci di wastafel. Mataku sudah tidak menangkap lagi sosok kakakku dan juga kakak iparku disana. Mungkin mereka telah kembali ke kamarnya dan tidur. Ahh aku tidak peduli.
Hingga saat aku sedang larut dalam kegiatan mencuci piring, ada seseorang tiba-tiba datang dari arah belakang. Dan itu ternyata Yola. Aku sampai terlonjak sedikit karena terkejut. Bayangkan sendiri, saat malam-malam dan tiba-tiba ada yang datang dari belakangmu. Tentu kaget bukan?
"Minggir aku mau cuci tangan." ucap Yola yang langsung membuatku berdecak sebal.
"Lo bisa cuci tangan di kamar mandi Yol, gak liat apa ini wastafelnya lagi gue pakek."
"Yaelah, minggir sebentar aja napa?"
"Elo yang minggir sebentar, gue bentar lagi selesai. Gak sabaran amat."
"Eh kok lo nyolot sih Chan!"
"Elo duluan ya Yol!" Aku sangat sengaja sekali meletakkan piringku ke rak dengan kasar. Hingga menimbulkan suara benturan keras.
"Udah jadi bapak tetep emosian aja ya lo."
"Berisik banget sih lo, ngajak berantem? Ya ayo!"
Yola malah menyunggingkan senyumnya. Seolah meremehkanku. Tanganku seketika terkepal. Oke kalau itu yang dia minta, aku tidak segan-segan memukulnya walaupun dia kakakku sendiri dan walaupun dia perempuan. Aku tidak peduli sama sekali.
Tapi tiba-tiba tanganku merenggang ketika aku teringat jika di rumah ini bukan hanya kita berdua yang tinggal, tetapi ada anak-anak kita masing-masing juga.
Yola melemparkan tatapan layaknya penuh kemenangan. Dia lalu membalik tubuhnya, melangkahkan kakinya untuk melenggang pergi.
"Kasih tau anak-anak lo supaya gak gangguin anak gue." ucapanku sontak menghentikan langkah kakinya.
~tbc...
__ADS_1