
Aku berkutat di depan laptopku. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh bos yang gila itu. Iya gila, bagaimana tidak kusebut gila pria itu memberiku tugas dengan deadline satu jam lagi. Ya! Hanya satu jam lagi! Brengsek, ini aku kerja apa dikerjain sih ya?
Wanda berjalan ke arah meja kerjaku. "Sini gue bantuin." ucapnya kemudian tangannya mengambil tumpukan berkas disamping laptopku.
Aku tidak bisa menolak kemurahan hatinya itu. Ya karena aku itu tadi, aku sedang dikejar deadline. Sangat syukur sekali jika ada seseorang membantuku seperti ini.
Dua puluh menit berselang akhirnya tugasku selesai. Ini berkat Wanda, perempuan itu sangat cepat dan tanggap. Aku benar-benar sangat kagum dengan dirinya. Sumpah.
"Nda, thank you banget ya. Pan-kapan kita hang out yuk, sebagai ucapan terimakasih gue ke elo karena udah dibantuin begini." ucapku.
"Ohh boleh-boleh Chan."
"Enaknya kapan Nda? Dan dimana?"
Wanda terlihat menimbang-nimbang sebentar, dan tak lama kemudian dia langsung menjentikkan jarinya ke udara. "Ahaa gue tau! Gimana kalo besok aja, ada grand opening restaurant sea food di daerah Golden. Gimana Chan?"
"Iya oke disitu aja Nda. Kalo gitu besok gue jemput lo seperti biasanya ya dirumah."
"Siap!"
Aku terkekeh melihat ekspresinya yang sangat antusias itu. Dia benar-benar sangat cantik walaupun dalam ekspresi apapun. Dan aku semakin menyukainya.
"Oiya Chan, kalo boleh gue minta ya. Emmm besok Shan gak usah diajak ikut kita gimana?"
Hah?
Aku kaget dong, kenapa Wanda tiba-tiba ngomong seperti itu. Padahal Shan kan kemana-mana selalu ikut denganku jika pergi, baik itu pergiku dengan Wanda ataupun dengan siapa pun juga. Tapi kenapa...
"Em—emangnya kenapa Nda?"
"Ya gak papa sih Chan, cuma takut ganggu aja hehehe." ucap Wanda.
...***...
Makan siang telah usai, kini aku menuju ke arah tempat ibadah yang tersedia di kantorku. Aku bukan mau beribadah ya. Bukan. Aku disini hanya mau menghubungi Shan. Yups meneleponnya, atau video call. Berhubung waktuku istirahat siang masih lumayan banyak.
Aku masih teringat bagaimana nanar anak kecil itu tadi pagi ketika kupamiti pergi bekerja. Kasihan sekali. Dia seperti tidak ikhlas ku titipkan bersama pengasuh barunya.
Flashback on...
"Papa, Shan belum kenal sama tante itu. Nanti kalo ternyata tantenya jahat gimana. Shan takut pa..."
"Enggak sayang, tante—eh kak Joly itu baik. Liat deh dia." Aku menunjuk ke arah Joly yang tengah menenggak minuman bahkan sampai menjilati sisa-sisa tetesan air di gelasnya. Hingga bersih.
Emm... Memang sangat tidak biasa manusia itu. Tapi aku yakin dia orang baik.
"Sudahlah sayang gak papa. Shan akan baik-baik aja sama kak Joly. Papa janji nanti akan pulang cepet, oke? Dan kalo Shan diapa-apain sama dia, Shan kan pinter, Shan bisa langsung nelpon papa. Shan tau kan gimana caranya nelpon papa? Tau kan mana yang harus dipencet di ponsel?"
Shan akhirnya mengangguk. Dan aku pun akhirnya bisa meninggalkannya bersama Joly dengan tenang....
Flashback off...
__ADS_1
Oke langsung saja ku telepon Shan untuk menanyakan apa kabarnya sekarang.
Tut....
Tuttt...
Tuttttt....
Tuttttttt....
Tut tut tut...
Eh tidak diangkat sama sekali oleh Shan. Kemana sebenarnya anak itu???
Hihhh dasar anak bandel!
Emmm tapi aku baru teringat akan sesuatu....
Flashback on...
"Oiya mbak Joly bisa tau alamat saya dari mana ya?" tanyaku.
"Mbak mbak mbak mbak! Udah dibilangin panggil dek aja. Aku ini masih muda loh mas."
******...
"Iya iya dek..."
Terserahlah...
"Aku tau alamat mas kan dari email. Tadi pagi mas kan udah kirim email."
Oiya ya, bagaimana bisa aku lupa akan hal itu.
"Lagian tadi tuh aku pas lagi ada di dekat sini, jadi langsung cusss ke apartemen bagus milik mas ini. Unch..."
Aku sangat ingin bergidik ngeri. Tapi aku sekuat tenaga menahannya.
"Oiya mas..." Kini perempuan itu memanggilku.
"Iya?"
"Mas tau jasa penitipan anak yang saya founder-in itu dari mana?"
'Dari selebaran jelek yang ditempel di tong sampah parkiran apartemen!'
Tidak, tidak, tidak. Aku tidak boleh mengatakan demikian.
"Oh itu, saya liat iklan kamu dari pe—pengelola apartemen. Ya, pengelola apartemen. Dia yang ngasih tau."
Joly hanya manggut-manggut. Tanda bahwa dirinya paham.
__ADS_1
Aku yang harus segera berangkat bekerja karena waktunya mepet pun akhirnya berpamitan dengannya. Sekaligus menitipkan Shan dan berpesan baik-baik kepada perempuan itu untuk menjaga keutuhan anak semata wayangku.
"Saya titip Shan ya, maaf kalo anak saya nakal dan susah diatur."
"OKEE SIAPPP!. Itu udah tugas aku kok mas. Masnya tenang aja. Kerja yang sungguh-sungguh mas, anaknya aman kok sama saya xixixi..."
"Oiya, satu lagi. Kemarin saya baca di selebaran katanya ada pembelajaran berhitung sama membaca ya? Apa itu masih berlaku?"
"Emm i-iya ma—masih kok, masih..."
"Nah bagus. Shan kan belum bisa membaca, tolong diajarkan mengenal alfabet ya. Terus berhitung dia juga belum bisa, masih bisa berhitung 1 sampai 3 aja. Tolong diajarin ya, nanti saya tambahin gaji kamu."
Wajah Joly seketika langsung berbinar.
Flashback off....
Hmmm kayaknya Shan sekarang ini masih belajar bersama Joly, pantas saja dia tidak sempat menjawab teleponku. Ya sudahlah, biarkan dia belajar dulu. Aku tidak akan menganggunya.
Meanwhile....
Di apartemen.
"Kak Joly, Kak Joly ini gimana kok ponsel Shan gak bisa dipencet? Gelap."
Joly yang lagi berselfi di bawah sorot matahari yang menembus kaca jendela itu langsung menggeram. "Arrrgggh ih Shan. Kamu ganggu aku aja."
"Mana coba liat?" Joly mengambil alih ponsel Shan.
"Ini tuh mati Shan. Batreinya abis. Kamu sih ya dipakek youtube-an terus dari tadi."
"Terus gimana dong kak?" tanya Shan.
"Ya cas sana dong Shan."
"Tapi Shan gak bisa ngecas. Kata papa gak boleh pegang kabel cas nanti kesetrum dret drrreeet. Bahaya."
Joly hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Bisa tolong kak Joly cas-in ponselnya Shan ini?" pinta Shan dengan suara lirih.
"Males Shan."
Joly malah melangkah menjauh menuju arah sofa. Naik ke atas sana lalu berbaring. Tangannya kemudian sibuk bergerilya diatas layar ponselnya. Perempuan itu memilih untuk chatting dengan kekasihnya daripada menyolokkan ponsel Shan pada kabel cas-an yang padahal tidak akan memakan waktu sampai satu menit.
"Oh hello my honey sweety. Aku kangen banget sama kamu babe..."
Shan hanya bisa melihat pengasuhnya itu dari kejauhan. Joly yang sudah berjanji pada papanya bahwa akan mengajarinya membaca dan berhitung kini ternyata malah asyik melakukan video call.
"Udah sana Shan, main aja di kamarmu." suruh Joly pada Shan.
Dan Shan pun mematuhinya.
__ADS_1
~tbc....