Putri Kecil Papa

Putri Kecil Papa
Frozen


__ADS_3

"Hompimpah alaihum gambreng!"


"Yakk! Kak Salsa kena!" pekik Shan lalu memasang jari telunjuknya agar menempel di kening Salsa. Shan kemudian berhitung, 1, 2, 3...Ctak!


Salsa seketika mengaduh kesakitan. Tapi memang seperti ini permainannya, yang kalah hompimpah maka harus dijitak.


"Ayo sekarang giliran kak Jimmy. Cepet jitak dia kak!"


Jimmy menggelengkan kepalanya.


"Loh kenapa?" tanya Shan.


"Dia kuampuni. Udah yuk lanjut hompimpah lagi yuk." ucap Jimmy.


Shan mendengus sebal. Mentang-mentang Salsa sudah mendapat hukuman paling banyak jadi Jimmy kali ini mengampuninya, begitu? Ahh itu namanya tidak adil...


"Hompimpah alaihum gam—breng!"


"HAHA KAK SALSA LAGI!" Shan kembali mengambil ancang-ancangnya dan... Ctakk. Lagi-lagi Salsa terkena hukuman, lihatlah kini keningnya berubah warna menjadi sangat merah.


Jimmy langsung mengelus kening milik sang adik itu. Lalu beralih ke menatap tajam ke arah Shan. "Lain kali aku aja Shan." tegasnya.


"Hah?" Shan mengernyit.


"Iyaa. Kalo Salsa kalah kamu jitaknya ke aku aja."


"Kok gitu sih kak?"


"Kasihan tauk Shan..."


"Ih gak asik. Udahan aja deh, Shan mending nonton frozen."


"Gak gak gak. Jangan udahan dulu." tolak Salsa. Dia tidak mau harga dirinya berakhir sesingkat ini. Apalagi belum sempat balas dendam kepada Shan.


"Kak Jim, kali ini pasti Shan yang kalah. Aku yakin..."


"Gak mung-kin." ucap Shan lalu menyebikkan bibirnya ke arah Salsa.


Harga diri Salsa seolah semakin dijatuhkan. Dia benar-benar sangat geram dengan Shan. Jimmy hanya bisa diam dan pasrah. Jimmy sangat paham, pasti sebentar lagi akan terjadi pertengkaran. Lihat saja!


Ketiga telapak tangan mulai disejajarkan kembali. Ketiganya pun bersiap menyanyi dengan lantang dan membolak-balikkan tangan milik masing-masing.


Shan-lah yang berteriak paling keras.


"Hompimpah alaihum gambreng!!!"


Dan hasilnya....


"YEAYYYYYY!!!" Salsa langsung memekik kegirangan. Berselebrasi dengan memeletkan lidahnya panjang-panjang kepada Shan.

__ADS_1


Shan seketika merengut sembari melipat kedua tangannya di atas dada. Kemenangan yang dia raih berturut-turut kini telah jatuh ke tangan sang rival, Salsa!


Oke, Shan menurut. Dia harus menerima hukumannya, bersifat kooperatif.


Shan menyingkapkan sebentar poninya ke arah samping. Salsa mulai memilih jari telunjuk yang terkuatnya, kanan atau kiri. Dia lalu berlagak, meniupi jarinya itu layaknya pemain pro. Jimmy yang melihatnya mendadak merasa ngeri. Pasalnya serangan Salsa juga lumayan sakit, apalagi jika itu akan ditujukan untuk Shan.


Shan telah menutup matanya rapat-rapat, tangan Salsa dia rasakan telah berada di keningnya dan memasang ancang-ancang. Pasti sebentar lagi....


"Hehh apa itu??!" Seseorang yang memekik seketika menghentikan aksi ketiga bocah ini. Utinya, uti merekalah yang memekik itu. Dewi yang masih membawa kantong kresek berisi sayuran dari supermarket langsung menghampiri mereka.


"Kalian lagi main apa? Jitak-jitakan lagi ya?"


Ketiga anak ini mengangguk.


"Hei jangan. Gak boleh main jitak-jitakan nak. Shan apalagi, kan keningnya masih sakit gara-gara jatuh kemarin. Nanti kalo berdarah lagi gimana hidungnya? Udah yuk udah, main yang lain aja. Yang gak berbahaya."


"Ahh uti..." rengek ketiganya.


Setelah dilarang bermain permainan yang dapat menyakiti fisik mereka, kini ketiganya tengah asyik melihat tayangan di TV. Kali ini bukan film frozen yang mereka tonton, melainkan animasi biasa yang tayang di channel TV swasta.


Jimmy sesekali tertawa melihat tayangan yang berada dihadapannya itu, begitupun dengan Salsa. Hanya Shan, satu-satunya yang tidak tidak tertawa sama sekali. Bahkan kini Shan merasa bosan melihat acara itu. 'Tidak sebagus frozenku...' batinnya.


Tangan Shan bergerak, menyerobot remot yang berada ditangan Jimmy dengan cepat. Aksi Shan ini langsung mendapat teriakan dari Salsa. "Hei jangan diganti! Kalo kamu ganti awas ya!"


Tapi Shan tidak peduli. Dia langsung mengalihkan tayangan TV nya ke tayangan CD. Shan sangat tahu merubahnya, hanya tinggal memencet tombol merah dua kali maka kaset frozen yang selalu berada di dalam CD itu diputar. Dan nahkan... Kini film kesukaan Shan mulai.


"Hei! Aku gak keliatan!" protes Salsa, dan lagi-lagi Shan tidak peduli. Salsa akhirnya juga turun dari sofa. Dia ikut Shan yang tengah berdiri tegak tepat di tengah-tengah depan TV pas. Dengan sekali senggolan tubuh Shan langsung menyingkir.


"Hei itu tempatku!" teriak Shan. Shan lalu mendorong tubuh Salsa agar sedikit menjauh dari tempatnya. "Shan duluan ya yang kesini!" teriaknya lagi.


Salsa tidak mau kalah, dia kembali mendekat ke arah Shan lalu membalas dorongan Shan itu. Shan-pun sama, mendorong tubuh Salsa lagi dan lagi. Aksi dorong-dorongan kini tidak bisa terelakkan.


Jimmy akhirnya turun tangan. Dia segera menengahi aksi perebutan tempat yang dilakukan oleh dua adiknya itu.


"Kalian berdua duduk. Kalo liat TV tuh duduk. Inget kata uti sama kakung gak?"


Tidak ada satupun yang mau mendengarkan perkataan Jimmy itu. Apalagi Shan, lihat anak kecil itu kini malah mengeraskan volume TV nya.


Jimmy hanya bisa menepuk keningnya sendiri.


Jimmy lalu berpikir, kira-kira bagaimana solusi untuk menghentikan kegaduhan ini. Dia harus bertindak apa? Tapi sayangnya setelah sekian lama dia berpikir, tidak ada satu solusi pun yang berhasil dia temukan.


'Ahh lebih baik aku ke kamar saja.' ucapnya dalam hati dengan sangat pasrah.


"Loh loh kak mau kemana?" tanya Salsa ketika mengetahui sang kakak melenggang pergi. Salsa lantas memilih mengejar kepergian Jimmy.


Melihat ruangan yang disekitarnya mendadak lengang, tiba-tiba Shan kebingungan. 'Kemana kakak-kakakku?'


Shan akhirnya mengecilkan suara TV nya, kemudian mencoba memanggil-manggil Salsa dan Jimmy. Tidak ada sahutan sama sekali padahal Shan sudah memanggil mereka dengan suara yang lantang.

__ADS_1


"Ti, liat kak Salsa sama kak Jimmy gak?" tanyanya pada sang nenek yang tengah berkutat di dapur.


"Enggak sayang. Mungkin mereka ada di lantai atas, coba cari kesana."


"Oke, Shan ke atas dulu ya ti."


"Iya nak. Jangan lariii."


Shan malah berlari secepat kilat.


Sampai lantai kedua rumah mereka, lagi-lagi Shan tidak menemukan sosok-sosok yang dia cari. Ruang bersantai di lantai kedua benar-benar sepi, jika mereka memang berada di lantai kedua harusnya mereka tengah bermain disini. Seperti biasanya, Shan sangat yakin.


'Apa jangan-jangan mereka ada di kamarnya ya? Tapi tante Yola bilang jangan main di kamar. Kok mereka di kamar sih?'


Shan akhirnya melangkahkan kaki untuk memastikannya sendiri. Dia menuju ke arah pintu kamar anak-anak itu berada. Kamar mereka memang masih campur menjadi satu dengan kedua orang tuanya. Tapi Shan ingat betul, tadi mama dan papa mereka sedang keluar. Pasti di dalam sana hanya ada Salsa dan Jimmy saja, itu berarti Shan boleh diijinkan masuk kesana.


Tok... tok... tok...


"Kak Salsa, kak Jimmy aku tau kalian ada di dalem. Kalian lagi apa sih? Ayo keluar, Shan bosen pengen main nih. Temenin yuk..."


Pintu tiba-tiba terbuka. Sosok Salsa keluar dari sana, tapi langsung menutup pintu rapat-rapat kembali. Shan sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana. Apakah Shan telah melewatkan sesuatu?


"Kalian lagi main ya?" tanya Shan.


"Iya kita lagi main—eh enggak! Maksudnya kita lagi nonton frozen keluaran terbaru."


"HAH?! FROZEN KELUARAN TERBARU?!" Shan sangat syok mendengarnya.


"Jadi film frozen ada yang terbaru ya kak Sal? Ihh Shan pengen nonton." Shan langsung bertingkah heboh. Dia pengen cepat-cepat menerobos masuk ke dalam kamar Salsa itu.


"Ayo kak Sal. Ayo ayo. Shan pengen nonton. Shan pengen nonton. Shan pengen nonton."


"GAK!" bentakan Salsa seketika membuat Shan terdiam. Gadis kecil itu lantas melirih, "Kenapa?"


"Ini filmnya baru keluar ya. Yang download kak Jimmy. kak Jimmy cuma download buat aku. Jadi yang boleh nonton cuma aku Shan!"


"Sana pergi! Makanya punya kakak dong biar ada yang download-in film!" imbuhnya lagi. Salsa kemudian masuk ke dalam kamarnya, dia juga membanting pintunya hingga menimbulkan suara yang sangat keras. Hingga membuat tubuh Shan sedikit melonjak kaget.


Shan masih membeku ditempat. Pikirannya melayang-layang. Memikirkan film kesukaannya frozen yang ada rilis film terbaru dan satu lagi...


Benar yang dikatakan Salsa, andai saja dia punya kakak sepertinya.


Tes...


Shan mengusap pipinya dengan kasar. Ada satu lelehan air yang mengalir terjun dari sana.


"Kenapa Shan tiba-tiba menangis?" tanyanya pada diri sendiri.


~tbc....

__ADS_1


__ADS_2