
Author's POV
"Papa, Shan udah gak tahan lagi. Shan pengen pipis pa."
"Iya Shan sebentar."
"Pa!"
"IYA SHAN PAPA BILANG BENTAR!"
Keadaan seketika hening. Rengekan Shan pun seketika terhenti juga. Bocah kecil itu sekarang terpaku ditempat setelah mendapat bentakan dari sang papa.
Atmosfir seketika menjadi canggung. Apalagi ada Stevan yang sedari tadi berada di situ juga.
"Shan, ayo pipis sama tante Anda yuk." Wanda akhirnya meraih lengan kecil Shan, dan menuntunnya menuju kamar mandi untuk pipis.
Tapi ternyata sesampainya di kamar mandi Wanda bukannya langsung membantu anak itu untuk pipis, Wanda malah memberinya pelajaran.
"Kamu tuh ya!" Wanda mendorong tubuh Shan agar masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Wanda tidak ikut masuk. Perempuan dewasa itu tidak mau menginjakkan kakinya ke dalam, hanya di ambang pintu saja.
Wanda mulai berkacak pinggang, memasang sorot mata penuh amarah kepada Shan. Dia memelototi Shan habis-habisan.
Shan hanya bisa terdiam. Merekam tatapan mengerikan yang Wanda berikan. Rasanya terngiang di pikiran Shan, dan mungkin akan tetap terngiang-ngiang dalam kenangannya selamanya.
Bibir mungil Shan mulai bergetar, anak kecil itu ingin menangis saat ini juga.
"Diem gak lo!" sentak Wanda.
"Udah cepetan sana kalo mau pipis!" ucap Wanda lagi.
Pandangan Shan malah menunduk, membiarkan semua air matanya meluruh jatuh ke permukaan lantai di bawah sana.
"Cepetan dong Shan!"
"Tapi Shan gak bisa pipis sendiri tante. Tolong bantuin Shan..."
"Manja amat sih lo!"
"Huhuhuhu." Tangisan Shan malah semakin mengeras. Wanda seketika panik bukan main. Panik jika papa bocah ini mendengarnya.
Wanda akhirnya segera ikut masuk ke dalam dan menekan tubuh Shan untuk cepat berjongkok dengan kasar. Shan yang sudah tidak bisa menahan pipisnya lekas menurunkan celananya sendiri, akan tetapi Shan lupa bahwa dia juga memakai ****** *****.
Wussshhh
"Hei bodoh!" pekik Wanda setelah mengetahui ****** ***** bocah itu belum sempat diturunkan. Dan sekarang ****** ******** basah semua karena terkena pipis.
"Lo tuh gimana sih Shan!"
Wanda mulai memarahi Shan habis-habisan.
"Bego bener jadi bocah! Kalo basah gini terus gimana?! Ish kalo gini gue jadi gak enak kan sama Chandra! Dasar bocah goblok lo!"
Shan menangis tersedu-sedu sekarang. Perkataan menyakitkan yang dia terima ternyata benar-benar menghunus perasaannya. Kenapa Wanda mengatakan kata-kata buruk seperti itu? Padahal papanya sendiri tidak pernah berkata demikian sekalipun.
__ADS_1
"DIEM SHAN!" bentak Wanda sangat keras. Hingga tiba-tiba ada sebuah suara ketukan dari luar.
"Shan? Udah belum pipisnya sayang?" Yup! Itu suara dari Chandra.
Wanda seketika kelabakan bukan main. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang. Dan dengan teganya kini perempuan itu menyumpal mulut Shan dengan tisu toilet agar anak itu bisa berhenti menangis. Sangat gila memang.
Shan rasanya sampai ingin muntah saat itu juga merasakan tisu memenuhi mulutnya, bahkan rasanya sampai masuk ke tenggorokan.
"Eh iya Chan. Bentar. Shan-nya ternyata eek Chan, bukan pipis." bohong Wanda.
"Oh ya? Yaampun Nda sorry banget. Emm lo keluar aja Nda, biar gue aja yang masuk."
Wanda seketika membelalak. 'Mati gue!' ucapnya dalam hati. Kini perempuan itu kebingungan harus mencari alibi apa lagi.
"Gak papa kok Chan. Gue bisa handle. Tinggal aja, Shan maunya cuma sama gue, iya kan Shan?" Wanda segera mengeluarkan sumpalan tisu toilet yang memenuhi mulut Shan. Wanda lantas melotot dan mendekte bocah itu untuk mengatakan...
"Iya pa..." lirih Shan.
"Oh oke Shan. Kalo gitu papa tinggal dulu ke depan."
Suara langkah kaki Chandra yang terdengar menjauh membuat Wanda akhirnya bersorak kemenangan. Terpancar raut kelegaan dari wajahnya yang sudah penuh dengan peluh keringat karena rasa panik.
Wanda kini terduduk di dudukan toilet sebentar. Mengistirahatkan tubuhnya. "Sumpah ya gara-gara lo gue hampir kena serangan jantung, bocah." ucapnya lalu menoyor kepala Shan hingga tertoleh ke samping.
Shan hanya diam. Dia sangat pasrah mendapat perlakuan apapun dari perempuan dewasa itu. Wanda benar-benar ikut memberikan memori buruk untuknya.
...***...
Chandra's POV
Oiya perihal Wanda, Wanda sudah kuantarkan untuk pulang ke rumahnya tadi. Dan ternyata apartemenku ini jika dari rumah Wanda hanya berjarak 2 kilometer, jika lewat jalan pintas. Lumayan dekat bukan? Aku sendiri saja tadi juga sedikit syok, kok bisa kebetulan sekali sih apartemen pilihanku ini. Jadi Wanda bisa lebih sering-sering main kesini menemuiku. Oh syahdu sekali hahahaha...
Tubuh Shan ku baringkan ke atas ranjang. Iya, apartemen baruku sudah disediakan beberapa furniture bawaan. Seperti ranjang, sofa, meja, televisi, kitchen set, kulkas, dan lemari pun sudah ada. Tinggal jika mau menambahkan furniture yang lainnya, silahkan membelinya sendiri, itu yang dikatakan Stevan tadi.
Jadi inilah dia tampilan apartemen baruku.
Ini untuk living roomnya. Memang masih sangat kosong, kelak aku akan menambahkan perabotan yang lain disana agar suasananya lebih hidup lagi. Oiya aku juga akan mengubah catnya. Nanti biar aku tanyakan pada Shan lebih baik dirubah warna apa. Eh tapi Shan pasti akan merekomendasikan warna pink. Huhh... Warna menyebalkan. Hmm kalau begitu tidak usah minta rekomendasi warna dari Shan saja.
Ini untuk dapurnya. Aku nanti akan memasak banyak makanan untuk Shan disini.
Dan ini untuk kamar mandinya. Apakah terlalu mewah? Emmm menurutku tidak. Malah apartemen yang blok B, dan blok A lebih mewah lagi. Tapi ya harganya jangan ditanya... Benar-benar sangat fantastis, aku saja sampai ngos-ngosan saat tau harganya.
"Papa...."
Tiba-tiba aku mendengar suara panggilan Shan dari arah kamar. Aku lantas bergegas kesana, sepertinya Shan kebangun.
"Iya sayang?" Aku menghampiri Shan, ikut naik ke atas ranjang juga bersamanya. "Liat Shan kita udah berada di apartemen baru. Shan masih asing ya? Kamu kaget ya eh bangun-bangun ada dimana?"
__ADS_1
Shan mengangguk. Gadis kecilku ini kemudian memelukku. Menyandarkan kepalanya pada bahuku. Entah kenapa jika kulihat-lihat ekspresinya tengah murung sekarang.
"Eh kenapa Shan? Kamu gak suka ya sama apartemen baru kita?"
Shan tidak menjawab sama sekali, dan ini membuatku menjadi sedikit cemas. Dia sebenarnya kenapa?
Alih-alih bertanya kenapa dan ada apa, aku memilih untuk mendekapnya saja. Membiarkannya untuk bertahan di dalam rengkuhanku. Bukankah ini kan yang dia inginkan hm?
"Ayo tidur lagi aja Shan." ajakku kemudian berniat untuk mengeloninya. Tapi-tapi aku seketika tersadar akan sesuatu.
Celananya telah basah. Dan bau pesing.
"Loh Shan mengompol ya?" tanyaku.
"Enggak pa." sangkalnya, padahal sudah sangat jelas-jelas bahwa dia telah mengompol.
Aku malam ini tengah sangat berbahagia karena baru saja membeli apartemen baru, jadi.... Aku tidak akan memarahinya kali ini.
"Kan udah dibilangin Shan kalo pengen pipis itu bilang gak usah ditahan. Kamu udah gede loh Shan." nasehatku. Eh tapi aku tiba-tiba teringat sesuatu. Apa jangan-jangan Shan mengompolnya tadi ya waktu di tempat agen properti. Shan mengeluh pengen pipis dan tidak bisa ditahan. Tapi kan tadi sudah diantar dan dibantu sama Wanda di kamar mandi. Apa jangan-jangan Wanda....
"Ya maaf Shan, tadi pasti tante Anda-nya belum terbiasa bantu anak kecil pipis. Jadi akhirnya celananya Shan kena. Gak papa kok Shan."
"Gak gitu pa." ucap Shan.
"Hah gak gitu gimana Shan?"
"Tante Anda—wluekkkkkkkhhh."
"Astaga Shan!" Aku sontak memekik kaget melihat Shan muntah secara tiba-tiba.
Aku segera menggendongnya ke arah kamar mandi, ya walaupun sudah terlambat tapi aku harus segera membawanya ke kamar mandi untuk menuntaskan muntahannya yang masih ada itu.
Shan muntah sangat banyak. Seluruh makanannya yang telah berada di dalam perut keluar begitu saja. Entahlah kenapa dia malam ini muntah-muntah hebat begini? Apa yang sebenarnya telah dia makan di tempat penitipan anak tadi ha??
"Kamu kebanyakan minum susu Shan. Berapa kali papa bilang, kalo minum susu banyak-banyak itu gak bagus. Liat sekarang kamu jadi muntah-muntah kayak gini kan. Perut kamu sakit kan sekarang. Rasain!" ucapku setelah melihat muntahan Shan yang keluar kebanyakan adalah cairan berwarna putih.
Aku terus memijat tengkuknya. Shan sepertinya belum selesai begitu saja. Dia masih terus mual dan mual. Dan masih terus ada yang dia keluarkan dari dalam mulutnya itu.
Kini tubuh anak itu amat lemas. Dia bahkan tidak berdaya mengangkat kepalanya sendiri.
"Ayo kumur dulu Shan." Aku membantunya untuk kumur. Setelah kumur aku menggendongnya kembali ke dalam kamar.
Shan perlahan mulai menangis menatap ke arah ranjang yang sudah tak luput terkena muntahannya. Entahlah mungkin dia merasa bersalah sekarang.
"Gak papa Shan, papa akan bersihkan nanti. Sekarang ayo ganti baju dulu."
Aku menggantikan bajunya. Bajuku pun juga, aku juga terkena muntahannya tadi.
"Papa gendong." pintanya, dan aku menurutinya.
Tubuh Shan terasa sangat hangat ketika mengenai kulitku. Shan merintih di dalam gendonganku, dan dengan keadaan mata yang terpejam. Sepertinya Shan sakit sekarang.
Aduhh aku besok tidak bisa pergi bekerja lagi berarti. Dalam sebulan aku sudah sangat sering menulis surat ijin, bagaimana ini. Aku tidak enak dengan tempatku bekerja.
__ADS_1
"Please jangan sakit dong sayang..." lirihku.
~tbc...